
Selama perjalanan Fadil menjelaskan padaku kejadian mafia selama aku menghilang. Tiga tahun merupakan waktu yang panjang bagi seorang mafia. Kejadian yang sebelumnya aku prediksi benar-benar terjadi dan aku tidak kaget mengenai hal itu. Di depan kerajaan Kim aku melihat suasana kerajaan yang sangat berbeda, untuk masuk ke dalam Han harus memberikan uang agar para penjaga mau membukakan pintu.
"Benarkan? Aku tidak berbohong padamu Sani!" Ucap Fadil menekan gas mobil kembali dan memarkirkan mobil itu.
Di dalam kerajaan aku melihat Ravaro dan Valentino diikat di sebuah papan dengan tubuh telanjang sedangkan kedua kembarku dikat telanjang dengan dikerumuni beberapa pria di sekitarnya.
"Wanita berambut pirang itu bernama Rina dan sebelahnya bernama Rani. Anak Ravaro bernama Rani itu sedangkan Rina adalah anak Revaro. Kondisi ini pernah terjadi di kehidupan kedua..." bisik Fadil pelan, aku melangkahkan kakiku dan melipat kedua tanganku.
"Ckckck astaga sejak kapan kerajaan Kim berubah menjadi tempat prostitusi seperti ini ya? Jika ayah tahu bagaimana ya?" gumamku dingin yang membuat semua orang terkejut.
"R-Raelyn!" Teriak kedua kembarku, Ravaro dan Valentino terkejut.
"Oohhh kau ternyata masih hidup ya? Aku kira sudah lama mati loh!"
"Mati ya? Siapa yang berani membunuhku? Memang kau kira aku bisa mati dengan mudah?" Ucapku dingin.
"Kalian tangkap wanita itu!" Teriak dua wnaita itu bersamaan dan Satria langsung berdiri di depanku.
"Aku tidak akan membiarkan ibuku terluka!" Teriak Satria dingin dan aku langsung menepuk bahunya sambil menggelengkan kepalaku.
"Kamu dibelakang saja. Kak Fadil jaga dia!" Ucapku dingin dan Fadil langsung menarik Satria disaat para pria itu berlari kearahku dengan senjata digenggamnya. Aku langsung melukai mereka yang membuat pria-pria itu tersungkur ke lantai.
"Haish hanya segitu? Tidak menarik!" Ucapku dingin tapi kedua wanita itu tertawa kencang.
"Kami belum memulainya loh, tapi mumpung kau ada disini lihatlah pertunjukan malam ini..." gumam Rina mulai mempermainkan Valentino, aku menyobek tirai dan menutupi kedua mata Satria.
"Anak kecil dilarang melihat..." gumamku pelan dan Satria hanya terdiam tanpa melawan, aku menarik sebuah kursi dan sebuah botol wine di atas meja sambil menikmati pertunjukkan di depanku.
"Kau ternyata sangat menikmati ya saat seorang wanita asing bermain dengan suamimu?" sindir Rani dingin.
"Lalu aku harus marah gitu? Ada pertunjukan menarik ya harus di tonton bukan."
"Kau tidak marah dan..."
"Kau kira aku marah? Aku sudah pernah melihatnya langsung apa aku akan terpancing dengan jebakanmu yang kekanak-kanakan ini?" Ucapku dingin dan meminum wine milikku.
"Dan kalian tidak memberitahukan apa kelemahanku? Cih kau tetap saja bodoh ya Alan!" Ucapku menatap Alan dan Revaro di lantai atas.
"Untuk apa? Mereka yang ingin, empat orang itu bukan target kami jadi kami tidak akan ikut campur!" Ucap Alan dingin.
"Lalu jika aku melukai mereka apa kau akan lebih dendam padaku?"
"Aku tidak dendam padamu hanya ingin menyiksamu saja. Ya sudah ya aku ada urusan yang lain jadi nikmatilah jangan mati cepat ya!" Ucap Alan dingin dan mereka berdua menghilang.
"Kak Fadil dimana kamar ayah?" Tanyaku pelan.
"Di kamarnya!" Ucap Fadil pelan dan aku berjalan pergi saat kedua wanita itu lengah. Aku masuk ke dalam kamar dan melihat tubuh Raelan membiru, Raelan membuka kedua matanya dan sedikit tersenyum kearahku.
"R-Raelyn a-anakku..." gumam Raelan pelan dan aku langsung mengecek tubuhnya yang sangat dingin itu, aku mengambil obat penawaeku dan meminumkannya dengan pelan.
"Ayah tahan sebentar ya, pasti akan snagat menyakitkan..." bisikku menggenggam tangan Raelan.
Tidak lama tubuh Raelan terasa sangat panas dan Raelan terus merintih kesakitan, Raelan terus menggenggam erat tanganku.
"R-Raelyn s-sakit..." rintih Raelan pelan.
"Tahan dulu ayah..." gumamku pelan dan Raelan terus merintih kesakitan.
__ADS_1
Tidak lama tubuh Raelan yang kaku berubah perlahan melemas dan nafasnya sedikit mulai teratur, Raelan menangis kenvang yang membuatku bingung.
"Eeehh kenapa ayah menangis?" Tanyaku pelan.
"Raelyn ayah merindukanmu, ayah merasa bersalah padamu, seharusnya ayang mengikuti keinginanmu tapi... Ayah tetap merawat anak Ravaro karena dia anak kandung Ravaro tapi...tapi..."
"Sudahlah ayah, aku tidak menyalahkan ayah."
"Kamu kemana saja Raelyn? Ayah mencarimu!"
"Mmm tidak kemanapun kok ayah, Raelyn bisa menjaga diriku sendiri ayah."
"Tapi kau anakku! Ayah tidak ingin kamu menderita anakku!"
"Ya ayah Raelyn mengerti kok, pokok ayah jaga kesehatannya jangan sakit lagi ya."
"Selama Raelyn hidup bersama ayah, ayah akan menjaga kesehatan ayah. Mmm ngomong-ngomong kenapa cucuku matanya tertutup? Apa matanya sakit?"
"Tidak ayah, ada pemandangan yang tidak baik dilihat anak kecil."
"Apa maksudmu?" Tanya Raelan bingung.
"Ayah jika aku melukai wanita itu atau bahkan membunuhnya kalau ayah mencintainya maka ayah bisa mengusirku sebagai anakmu..." gumamku pelan.
"Tidak! Selamanya kau tetap anakku Raelyn! Kenapa kamu mengatakan hal itu?" Tanya Raelan bingung.
"Aku akan memberitahukan ayah tapi ayah janji jangan marah ya..." gumamku pelan dan Raelan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah." Aku memapah Raelan keluar dari kamar, saat melihat ruang tengah Raelan terkejut melihat enam orang yang sednag telanjang.
"Ciihh bagaimana dia bisa sembuh?" Gerutu Rina kesal, Raelan mengambil senjatanya dan aku langsung menahannya.
"Ayah ingat janji ayah untuk tidak marah..." gumamku pelan.
"Huuffttt, baiklah lakukan apa yang ingin kau lakukan anakku..." desah Raelan pelan dan aku langsung mengambil senjataku, tanpa mengatakan apapun aku melulai Rina dan Rani yang membuat mereka kesakitan.
"Sudah ayah..."
"Kamu tidak jadi membunuhnya?"
"Tidak, biar ayah saja, moodku sedang tidak baik."
"Haish, kalian lepaskan mereka berempat..." gumam Raelan kencang dan bawahan Raelan langsung membuka tali-tali itu.
"Mmm oh ya Raelyn ada sesuatu yang harus bicarakan denganmu..." desah Raelan pelan.
"Apa itu?"
"Ikutlah denganku..." gumam Raelan membuka pintu sebuah kamar dan di dalam ada beberapa anak kecil dan dua diantaranya anak laki-laki yang aku lahirkan.
"Ini adalah anak Raesya dengan Cakra dan Valentino sedangkan yang ini adalah anak Raetya dengan Cakra dan Valentino, sedangkan anak ini anak Raesya dengan Fadil dan dua anak ini anakmu dengan Fadil dan Cakra sedangkan dua anak ini anakmu dengan Valentino..." gumam Raelan terkejut dan aku menghela nafas pelan.
"Kenapa ayah memberitahukanku hal ini?" Tanyaku pelan.
"Kenapa bisa kamu memiliki anak dengan Fadil dan Cakra?" Tanya Raelan serius.
"Kalau Fadil memang salahku karena aku terkena obat perangsang tapi kalau Cakra dia melakukannya saat aku melihat kembarku melakukan itu dengan Valentino ayah..." gumamku pelan.
__ADS_1
"Kenapa bisa terkena obat itu?"
"Aku yang meminumnya."
"Kenapa kamu lakukan itu?" Tanya Raelan serius.
"Aku bertemu dengan suamiku di kehidupan kedua dan yaahh kami bermain ayah tapi dia tidak bisa memiliki anak lagi setelah dia membunuh anak kami Satria."
"Bagaimana bisa?"
"Musuh memberikannya racun langka yang membuatnya tidak bisa memiliki anak ayah."
"Apa dia bernama Han Li?"
"Ya ayah, dia ayah kandung Satria."
"Lalu kenapa kamu bermain dengannya?"
"Tanpa disadari aku masih terikat kawin kontrak dnegannya sejak kehidupan lalu bahkan untuk membatalkan tidak akan bisa."
"Tapi kalian tidak bisa bersama!"
"Aku tahu ayah, hanya dengan itu dia melepaskan rindu apalagi aku merasa bersalah padanya jadi untuk menebus kesalahanku untuknya."
"Lalu bagaimana dengan anak-anak ini?" Tanya Raelan serius.
"Biar kembarku yang mengurusnya, lagi pula walaupun dua anak ini anakku tapi aku tidak akan mau mengakuinya."
"Tapi kamu tidak bisa seperti itu Raelyn!"
"Maaf ayah aku tidak bisa."
"Hmmm baiklah aku akan memikirkan cara lainnya, intinya kamu mulai hari ini tidak boleh jauh dari ayah dan tidak boleh tiba-tiba menghilang.
"Tapi ayah..."
"Ini permintaan ayah anakku..." gumam Raelan pelan dan aku menghela nafas pelan.
"Ya baiklah! Aku mau istirahat, tolong jaga Satria ayah..." Ucapku pelan dan berjalan pergi menuju ke kamarku, aku menutup kamar dan melihat Fadil yang memberikanku sebuah senjata.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kenapa?"
"Aku melakukan kesalahan besar dan ketua mafiaku membenciku dan tidak membutuhkanku lagi, dari pada aku tidak berguna lebih baik bunuh aku!" Ucap Fadil serius, aku mengambil senjata itu dan meletakkannya di atas lemari.
"Aku mau istirahat." aku merebahkan tubuhku dan membelakangi Fadil.
"Bunuh aku Sani! Aku bersalah padamu! Harusnya aku..."
"Aku yang mengijinkannya kenapa kamu merasa bersalah!"
"Tapi kan..."
"Aku tidak membencimu hanya saja aku tidak akan menganggap anakmu sebagai anakku hanya itu! Jaga Satria, aku mau istirahat..." gumamku pelan.
"Mmm baiklah terimakasih Sani!" Ucap Fadil pelan dan pergi dari kamarku, aku menghela nafas panjang dan tertidur di tempat tidurku malam ini.
__ADS_1