
Aku terus menundukkan kepalaku dan memainkan selimut dengan kedua tanganku. Elvaro terduduk di sebelahku dan menatapku serius, aku mencoba menatap kedua matanya tapi aku sama sekali tidak mengerti.
"Sani..."
"Iya kak..."
"Coba ceritakan kepada kak bagaimana masa depanmu?" Tanya Elvaro pelan, aku menghela nafas panjang dan menceritakan semua detail kejadian yang aku alami. Mendengar ceritaku ayah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan sesekali menghela nafas panjang.
".... jadi begitu ceritanya."
"Itu sudah semua?" Tanya Elvaro serius.
"Ya kakak, itu sudah semua yang aku ingat."
"Oh jadi kamu di perebutkan beberapa pria karena kehebatanmu? Yaaah sebenarnya tidak salah sih tapi... kamunya yang terlalu mendalami tugasmu anakku."
"Aku memang mengutamakan tugas dari pada apapun ayah, pelarianku hanya tugas sejak kecil. Kalau aku tidak ada tugas pasti aku menderita dan..."
"Ayah tahu tapi keselamatanmu yang terpenting!"
"Sani mengerti ayah, mmm ayah... apa benar aku di jodohkan dengan pria-pria itu?"
"Ya benar, tapi mendengar ceritamu membuat ayah tidak merestuinya lagi."
"Lalu kalau dengan Saputra?"
"Saputra ya? Ayah tidak yakin, kerajaan Arre sangat tertutup dan ayah tidak tahu siapa raja yang sekarang. Ayah tidak yakin saja apalagi persaingan menjadi raja sangat ketat."
"Kalau begitu biar Sani yang mencari tahu ayah!"
"Kalau masalah itu agak susah, kerajaan Arre sangat tertutup. Untukmu bisa menyusuppun akan sangat sulit."
"Tapi ayah... aku tadi di televisi melihat berita yang mengatakan kalau kerajaan Arre membutuhkan seorang guru untuk pangeran ke tujuh."
"Dan kau mau menjadi gurunya?" Tanya Alvaro menatapku serius.
"Ya, aku ingin."
"Kalau kamu ingin ayah akan mendaftarkanmu."
"Eehh seriusan ayah?" Tanyaku terkejut.
"Ya, raja sebelumnya adalah teman ayah dan ya bisa dibilang sekarang sudah menjadi tetua organisasi mafia sekaligus tetua kerajaan Arre, aku akan mendaftarkanmu tapi kamu harus pulihkan dulu tubuhmu!" Ucap ayah tersenyum padaku.
"Benarkah? Terimakasih ayah."
"Ayah hanya memberikan apapun yang gadis kecil ayah inginkan..." gumam ayah mengacak lembut rambutku.
"Tapi... kau tidak boleh berhubungan dengan keluarga Li!" Ucap ayah menatapku serius.
"Mmm ayah, apa benar aku masih ada darah keluarga Li?" Tanyaku pelan.
"Ya, kamu memiliki beberapa darah keturunan dari keluarga tertinggi dan..."
"Kenapa bisa ayah? Siapa kembarku sesungguhnya? Kenapa... kenapa kembarku banyak? Siapa kembarku sesungguhnya? Jelaskan padaku ayah!!" Teriakku menggenggam erat tangan ayah dan ayah hanya menghela nafas pelan.
"Hmmm kamu anak ketujuh ayah, kembaranmu bernama Rani Shin dan Lani Shin tapi Lani mati dibunuh Sebastian dan Rani pergi saat tahu kamu datang tepat dimana Lani dibunuh."
"Tapi kenapa di kertas DNA di rumah lama mengatakan aku mempunyai kembaran yang bernama Rina dan yang benar yang mana?" Tanyaku serius.
"Silsilah keluargamu memang sangat rumit anakku, yang jelas kembaranmu adalah Rani dan Lani. Tapi untuk tes DNA itu dilakukan karena hanya kamu yang memiliki darah keluarga Shin, Li, Kim, Min dan keluarga tertinggi lainnya."
"Lalu kenapa di kertas itu tertulis kalau aku kembaran Rina?" Tanyaku serius.
"Rani dan Rina itu... sama..."
"Eeehh tunggu... apa?" Tanyaku terkejut.
"Ya, Rina dan Rani itu sama anakku."
"Jadi selama ini Rina itu Rani?" tanyku terkejut.
__ADS_1
"Bukan, mereka berbeda orang!" Ucap Elvaro serius.
"T-tunggu, aku tidak mengerti kakak!" Ucapku bingung.
"Haish bagaimana ya jelasin ke kamu... silsilahmu sangat rumit anakku dan ibumu yang bisa menjelaskannya... tapi bentar..." gumam ayah mengambil secarik kertas dan membuat beberapa lingkaran.
"Jadi begini... ini kamu... ini Rina... ini Rani... ini Lani..."
"Tunggu kenapa aku berada jauh dari mereka dan kenapa ada beberapa lingkaran kosong?" Tanyaku terkejut.
"Sebentar, ayah belum selesai menulis anakku..."
"Ohh mmm baiklah..." desahku pelan dan ayah kembali menulis.
"Ini Revaro... ini Alvaro... ini Elvaro... dan ini Ravaro..."
"Ravaro?"
"Ravaro itu kakak kembar Revaro..." ucap Alvaro pelan.
"Oh mmm lalu dua lingkaran ini?"
"Ini Yani dan ini Fani..."
"Yani? Fani? Mereka siapa lagi?" Tanyaku bingung.
"Mereka juga saudaramu lebih tepatnya kembar."
"Tunggu! Kembar? Mana ada sekali melahirkan kembar enam!" Protesku kesal.
"Bukan kembar enam tapi tujuh..." gumam Alvaro pelan.
"Tujuh? Astaga apa lagi itu! Tidak ada di dunia ini yang..."
"Nak, ayah belum menjelaskannya!" Ucap ayah menatapku serius dan aku langsung terdiam.
"Lihat lingkran yang ayah warna merah ini..." gumam ayah membentuk lingkaran dengan bolpon merah tepat di lingkaran yang ayah buat.
"Tunggu!! Apa!!! kalau tidak kembar kenapa bisa disebut kembar!!!" protesku kesal.
"Kalian memiliki kembaran kalian masing-masing kecuali Sani dan Lani, Rani dan Rina itu kembar... Sani dan Lani tidak memiliki kembar... sedangkan Yani dan Fani ini kembar."
"Kalau begitu... aku?"
"Kamu iya anakku."
"Iya? Aku memiliki kembar juga? Kan aku sani?"
"Tapi kamu memiliki kembar."
"Aku? Siapa kembaranku? Beri tahu aku ayah!" Ucapku serius.
"Mmmm apa kamu yakin ingin tahu?" tanya ayah menatapku serius.
"Ya aku ingin tahu! Ayah beri tahu aku, siapa kembaranku?" Ucapku terus memohon kepada ayah.
"Hmmm tapi ayah tidak bisa memberitahukanmu."
"Kenapa? Kenapa ayah tidak bisa memberitahukanku?" Tanyaku kesal.
"Karena... ayah tidak bisa, ayah tidak mau kehilangan kamu anakku."
"Tunggu, kenapa? Apa alasannya ayah? Beritahu aku!!" Ucapku serius.
"Biarkan aku saja yang bercerita.." gumam Elvaro memberikanku sebuah kertas lebar dan terdapat sebuah nama yang tertulis Raelyn di antara nama-nama saudaraku.
"Jadi... namamu aslinya itu Raelyn Valentina Shin, sebenarnya saudara kita ada yang bernama Sani tapi dia memilih melepaskan marganya dan menjadi mafia bayangan tapi dia mati dibunuh saat kamu masih bayi. Ayah sangat menyayangi Sani karena dia satu-satunya adik kami yang sangat hebat di masa lalu tapi dia sering bermain pria sama seperti mimpimu dan dibunuh sebagai hukuman untuknya karena bermain banyak pria...." ucap Elvaro serius.
"Karena ayah masih tidak terima Sani mati membuat ayah merubah namamu menjadi Sani Shin dan ibu setuju akan hal itu, tapi ayah dan ibu bertengkar hebat yang membuatmu pergi bersama ibu dan..."
"Dan... sebenarnya aku anak siapa? Katakan!" Teriakku menatap kakakku sambil mengeluarkan air mataku.
__ADS_1
"Kamu anakku, kamu tetap anakku! Kamu anakku!! Kamu tetap gadis kecil ayah..." Ucap ayah memelukku erat.
"Kamu tetap adik kecil kami, tapi nama asli kamu Raelyn Valentina dan kami memanggilmu Sani karena..."
"Aku tidak mau! Aku tidak mau!"
"Nak maafkan ayah, ayah tidak bermaksud menyamakanmu dengan Sani, Hanya saja... ayah masih tidak terima kematian Sani yang membuat ayah gila selama bertahun-tahun... ayah tidak bermaksud apa-apa anakku!!!"
"Lalu... Lalu siapa kembaranku?" Tanyaku pelan.
"Kamu kembar tiga... kakak kembarmu bernama Valentina Raesya Shin sedangkan adik kembarmu bernama Valentina Raetya Shin, nama kalian bertiga sama hanya namamu yang ayah buat terbalik karena kamu anak tengah."
"Kedua kembarmu adalah seorang mafia yang sangat hebat sama sepertimu tapi mereka sama sekali tidak mengakui ayah setelah ayah mengganti namamu menjadi Sani, alasan ayah tidak ingin kamu mengetahuinya karena ayah tidak mau kehilangan anak ayah lagi..." ucap ayah pelan sedangkan aku hanya terdiam sambil sesenggukan.
"Mendengar ceritamu sepertinya Sani ingin memberitahukanmu apa yang dia alami selama ini dan ceritamu sama persis dengan kejadian yang dialami Sani hanya saja ada beberapa kejadian yang berbeda dan mungkin itu tercampur dengan kejadian yang kamu alami anakku..." ucap ayah pelan tapi aku hanya terdiam, tiba-tiba datang tetua organisasi tersembunyi bersama dengan Frey.
"Raelyn aku ada tugas untuk... eeehh kau disini juga Valo?" ucap tetua terkejut.
"Oh mmm ya aku langsung kesini mendengar anakku sakit."
"Oh dia sakit ya, kalau begitu biar tugasnya aku berikan pada..."
"Aku tidak apa tetua, apa tugas untukku?" gumamku pelan, tetua memberiku sebuah kertas dan aku langsung membacanya.
"Tugas ini sangat berat untuk masuk ke kerajaan Arre akan sangat susah jadi akan sangat kesulitan kamu menjangkaunya."
"Tetua apa ada informasi lainnya?"
"Ada... ini beberapa informasi tentang mereka..." ucap tetua memberiku selembar kertas.
"Tapi tugas ini sangat berat, banyak yang tidak sanggup tapi kalau kamu tidak sanggup ya..."
"Aku akan mengambilnya tetua."
"Tapi kamu masih sakit Raelyn!"
"Tidak kok, aku sudah sehat..." gumamku serius.
"Bagaimana kamu masuk ke sana?" tanya tetua menatapku serius.
"Aku akan menyamar sebagai guru pangeran ke tujuh tetua."
"Pangeran ke tujuh? Heeiii apa kau serius? Dia dikenal pria yang tidak berperasaan, dia tidak pernah peduli apapun dan dia..."
"Tetua, hanya itu yang bisa membuatku masuk ke dalam kerajaan Arre dengan mudah. Mana tahu aku bertemu dengan kembaranku disana."
"Kembaran? Mmm apa kau menceritakannya Valo?" Tanya tetua menatap ayah serius.
"Ya, dia ingin mengetahui semuanya dan..."
"Oh begitu ya.. lalu Raelyn aku ada pertanyaan untukmu..." tanya tetua menatapku serius.
"Tanya apa tetua?"
"Kau lebih suka di panggil Sani atau Raelyn?"
"Aku... aku tidak tahu, aku tidak peduli dengan panggilan."
"Lalu apa kau membenci ayahmu karena membohongimu?" Tanya tetua serius, aku menatap wajah ayah yang terlihat sangat sedih yang membuatku tidak tega untuk membencinya.
"Tidak, tidak ada alasanku membenci ayah..." gumamku pelan dan ayah langsung memelukku erat.
"Terimakasih anakku..." gumam ayah pelan dan aku hanya terdiam.
"Oh baiklah, pulihkan dulu dirimu. Masalah pendaftaran biar ayahmu yang menanganinya, intinya kamu harus berhati-hati jika berada di kerajaan Arre..." gumam tetua memberikanku lencana khusus sama seperti di mimpiku.
"Gunakan lencana itu jika kamu terdesak, lencana itu melindungimu dari berbagai hukuman."
"Baik, terimakasih tetua..." gumamku pelan.
Yaah walaupun aku terkejut dengan diriku yang sebenarnya tapi aku terbiasa di panggil Sani dan nama panggilan mafiaku Raelyn, aku kira itu nama samaranku saja tapi ternyata nama asliku yang membuatku sangat terkejut, tapi mau bagaimanapun aku tetap memprioritaskan tugasku dari pada masalah pribadiku.
__ADS_1