
"Jadi... apa kau yakin mau bertaruh dengan suamimu sendiri?" Tanya Vincent mengusap pipiku lembut sambil tersenyum dingin.
"Tunggu dulu!! Bertaruh apa yang kau maksudkan??" Tanyaku serius.
"Jawab dulu, kau jadi bersedia atau tidak?" Ucap Vincent tersenyum dingin kearahku melihat senyumannya membuatku sangat penasaran dengan seberapa kelicikannya.
"Baiklah aku terima taruhanmu, jadi taruhan apa yang kau maksud?" Tanyaku serius.
"Sebelum itu aku ingin bertanya padamu, kenapa penampilanmu bahkan umurmu kau tambah beberapa tahun jika orang lain bertanya umurmu?" Tanya Vincent menatapku serius.
"Eehh umur? Emang kau tahu umurku berapa?" Tanyaku menggenggam erat kerah pakaian vincent.
"Kau berumur dua puluh tahun sekarang tapi kau kenapa mengatakan kau berumur dua puluh dua saat kau memiliki anak pertama?" Tanya Vincent menatapku serius, aku melepaskan genggamanku dan meneteskan air mataku.
"Kenapa kau menangis? Kau mau bermain licik denganku Sani?" Tanya Vincent dingin tapi aku hanya terdiam.
"Hei jawablah! Kenapa kau hanya..."
"Sudah aku katakan kan... hidupku benar-benar hancur dan menderita sejak kecil, dipermainkan pria, disiksa keluarga, bahkan dijadikan alat pembunuh bagi seluruh mafia. Aku mengatakan umurku lebih tua beberapa tahun dari umur asliku karena... aku tidak tahu umur asliku! Aku sejak kecil bersama dengan saudara ayahku dan ayah mengatakan kalau aku umur dua puluh tepat sebelum kematiannya, lalu apa menurutmu aku salah?" Teriakku kesal.
"Apa saudara ayahmu itu... ayah dari Soni?" Tanya Vincent pelan dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Oh begitu ya..." desah Vincent terbangun dan berdiri di depanku.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak ada, hanya sekedar bertanya."
"Hanya bertanya? Kau membuatku menangis karena itu?"
"Siapa yang menyuruhmu menangis?" Tanya Vincent menatapku dingin.
__ADS_1
"Sumpah, kau pria paling menyebalkan daripada pria lain yang aku kenal Vincent!!" Protesku kesal.
"Kenapa? Kau ingin aku iba denganmu gitu kalau kamu menangis? Tidak, kau salah. Kau menyakiti hati dan perasaanku sejak kanak-kanak dan kau tidak pernah iba denganku jadi buat apa aku merasa iba denganmu?" Ucap Vincent menatapku dingin.
"Jadi kau mau balas dendam atas penderitaanmu itu?" Tanyaku serius.
"Sudah sering kali aku katakan kan, aku lebih suka kau menderita daripada harus membunuhmu. Walaupun aku mencintaimu dan tidak bisa membunuhmu tapi aku masih tega untuk membuatmu lebih menderita..." gumam Vincent membuka pakaiannya dan terlihat dada bidang dan perut sixpack terlihat di depan kedua mataku.
"Menderita? Kau tega membuat seorang wanita menderita Vincent?" Tanyaku dingin, Vincent menurunkan sedikit pakaiannya dan berbalik membelakangiku, di punggung Vincent terlihat banyak bekas luka yang sangat banyak bahkan bekas pedangpun ada di punggungnya.
"Kau tidak hanya menyakiti hati dan perasaanku, kau juga menyakiti jiwa dan ragaku bahkan kau menyia-nyiakan perjuanganku, hanya membuatmu menderita tapi masih membuatmu tetap hidup apa aku terlihat sangat jahat?" Tanya Vincent menatapku dingin.
"B-bekas luka? Kenapa kau bisa memilikinya?"
"Ini hukuman karena tidak bisa menjaga istrinya sendiri, bahkan ada juga bekas luka karena menyelamatkanmu. Aku sangat menderita tapi aku lakukan semua demi kamu tapi kamu... kamu dengan mudahnya bermain dengan beberapa pria dan malah memiliki anak! Kakak kembar perempuanku yang geram menyiksaku tanpa memperdulikan betapa sakitnya luka yang dia berikan kepada adiknya, apa kau mengerti penderitaanku!!" Protes Vincent kesal dan aku hanya terdiam karena terkejut dengan penjelasan Vincent.
"Ka...kakak kembar?"
"Wanita yang datang tadi pagi adalah kakak kembarku, kami berbeda gender. Tapi dia lebih kejam dari pada aku..." gumam Vincent memakai pakaiannya kembali.
"Vincent... aku... minta maaf..." gumamku pelan.
"Apa? kamu bilang apa?" Tanya Vincent dingin.
"Maaf!! Aku minta maaf karena membuatmu sangat menderita dan aku minta maaf karena menyakitimu sejak kecil..." gumamku pelan tapi Vincent hanya terdiam meminum wine di depannya.
"Vincent aku benar-benar minta maaf, aku tidak tahu apapun bahkan perjodohan kita. Aku benar-benar tidak tahu!" Ucapku kencang tapi Vincent hanya terdiam meminum winenya.
"Aku minta maaf padamu tapi kenapa kau hanya diam saja!" Protesku kesal , Vincent menghela nafas panjang dan menatap keluar jendela.
"Kau kira hanya dengan meminta maaf bisa memperbaiki semuanya?" Tanya Vincent dingin.
__ADS_1
"Lalu kau mau apa? Kalau kau ingin membuatku menderita maka buatlah aku menderita jika kau menginginkan hal itu!"
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja, aku bersalah padamu. Aku memintamu membunuhku tapi kau hanya ingin aku menderita jadi buatlah aku menderita seperti yang kau inginkan!" Ucapku serius, Vincent meletakkan botol winenya dan tersenyum dingin kearahku.
"Baiklah, mulai sekarang... kau harus ikut bersamaku di wilayah terlarang dan kau menjadi asisten pribadiku seumur hidupmu, bagaimana?"
"Tu-tunggu dulu! Apa maksudmu?" Tanyaku terkejut.
"Kau kalah bertaruh denganku, jadi kau mengikuti semua keinginanku."
"Tunggu dulu! Emang kita bertaruh tentang apa?" Tanyaku serius.
"Kau berbohong dengan jawabanmu, bukan karena kau tidak tahu tapi kau memang sengaja membuat umurmu terlihat sangat tua agar kau tidak dibully orang lain dan menghilang jauh dari kehidupan mafia agar kau bisa dianggap mati karena umur yang sudah tua. Benarkan?" Ucap Vincent yang membuatku terdiam.
"Saat kematian ibu dan ayahmu, kamu sebenarnya bisa saja langsung melindungi mereka dan membalas dendam kematian mereka apalagi kau alat pembunuh mafia tertinggi tapi karena sebuah pekerjaan mafia yang sangat sulit dan hanya saja dengan alasan ingin menjadi gadis normal pada umumnya kau terlihat sangat lemah dan dapat dengan mudah dimanfaatkan pria lain padahal niatmu adalah ingin masuk ke dalam keluarga Li dan mencari sesuatu yang sampai sekarang belum kau temukan tapi malah kau terkena jeratan keluarga Li dan kau harus melahirkan anak dari keluarga Li yang seharusnya tidak ada di dalam rencanamu, benarkan?" tanya Vincent serius yang membuatku menatap Vincent serius.
"Benar, siapa kau benarnya?" gumamku menatap Vincent dingin.
"Kau mafia terkuat dan tertinggi dari dulu dan tidak mengenal aku siapa?" Tanya Vincent mengangkat alisnya tinggi.
"Tidak, jadi kau siapa?"
"Aku tetua dewan keadilan dan sekaligus ketua mafia bawah tanah yang menjadi target utamamu dari dulu, benarkan?" Ucap Vincent menatapku dingin.
"Tunggu bukannya ketua mafianya... keluarga Li?" Tanyaku terkejut.
"Keluarga Li? Mereka sangat lemah bagaimana mereka memiliki mafia terkuat dan terkejam seperti itu?"
"Jadi... jadi? Aaahhh!! Kenapa bisa jadi gini!!" Teriakku kesal dna Vincent mengangkat daguku tinggi.
__ADS_1
"Kau kalah bertaruh denganku jadi kau harus mengikuti kemauanku istriku yang menyebalkan..." gumam Vincent dingin.
"Ciihh menyebalkan!" gerutuku kesal dan terus menggertakan gigiku, aku tidak menyangka pertaruhan kami benar-benar diluar dugaan, jadi pertaruhan yang dimaksud Fadil seperti ini? Aku benar-benar mengakui kelicikannya benar-benar melebihiku dan aku tidak bisa melakukan perlawanan karena aku kalah pertaruhan yang tidak masuk akal itu.