
Walaupun aku lupa akan segalanya tapi aku masih teringat malam itu, malam dimana Lani dibunuh Rhys di depan mataku dan saudara-saudaraku. Rhys dari kecil di kenal pria yang aneh dan terkutuk tapi tidak denganku, aku mencintainya disaat aku tahu penyakitnya. Aku dari kecil terus melindunginya bahkan selalu mengatakan aku mencintainya karena aku memang sangat mencintainya
Sejak malam kematian Lani aku bersumpah untuk membenci Rhys di seumur hidupku dan aku sama sekali tidak mempercayai siapapun. Lambat laun waktu berlalu, saudara-saudaraku pergi entah kemana yang membuatku hanya tinggal dengan ayah tiri dan ibu kandungku. Seperti seorang gadis yang hilang arah, aku mengikuti berbagai organisasi mafia agar aku bisa menikmati rasa tenang dalam hidupku.
Disaat aku masih berumur 10 tahun, aku pernah mencintai seorang pria yang bernama Raivyes tapi aku sama sekali tidak tahu nama aslinya. Raivyes adalah pria yang hebat dan sangat tampan, aku menyukainya karena dia sangat baik padaku dan aku mencoba membuka hati untuknya. Bertahun-tahun kami berteman yang membuatku mengatakan perasaanku tapi Raivyes berkata kalau suatu saat kami akan bertemu kembali dan dia menghilang sebelum aku diangkat sebagai ketua organisasi tersembunyi.
Patah hati karena pria membuatku sangat depresi dan akupun sama sekali tidak tertarik dengan pria sampai akhirnya aku memiliki tugas yang membuatku malah terjerumus perangkap keluarga Li dan memiliki anak bersama dengan Han, kesalahanku itu malah membuatku di bully orang lain bahkan saudara kembarku untuk menjatuhkanku. Beban yang aku punya sampai saat ini benar-benar membuatku depresi dan aku hanya seperti boneka yang mudah di kendalikan oleh orang lain, aku ingin merubah keadaan tapi percuma saja bagiku.
"Sani! Sani!!!" Teriak Rhys mengagetkanku.
"Eehh mmm.." desahku mengusap air mataku.
"Kenapa kamu menangis?"
"Tidak ada kok, hanya aku kelilipan."
"Hmmm, apa kamu masih tidak memaafkanku karena kematian Lani?"
"Aku memaafkanmu kok."
"Tapi kenapa kamu menangis?"
"Aku hanya me... eehh mmm tidak apa-apa kok."
"Hmmm ada apa sayang? Ceritalah padaku?"
"Aku bingung mau cerita bagaimana dan aku..."
"Ceritalah tidak apa, aku suamimu sayang..." gumam Rhys menggenggam tanganku erat.
"Aku lagi tidak ingin bercerita, nanti saja kalau aku ingin..." gumamku pelan.
"Hmmm kalau begitu mari pergi ke markasku saja..." gumam Rhys menarikku kembali.
"Dimana markasmu?"
__ADS_1
"Itu di bangunan itu..." ucap Rhys menunjuk bangunan besar di depan kami dan kembali menarik tanganku pergi.
Di tengah-tengah kerumunan terlihat berbagai macam pengunjung yang berlalu lalang di sebuah pertunjukan, Rhys berusaha menerobos sekumpulan orang itu dan mencoba membawaku pergi dari perkumpulan orang-orang yang sedang asik menonton pertunjukan.
Saat di tengah-tengah kumpulan orang-orang ini, aku beberapa kali melihat seorang pria yang wajahnya mirip dengan Raivyes yang membuatku terkejut. Aku berusaha menatapnya dan meyakinkan hatiku kalau pria itu Raivyes tapi selalu menghilang saat ada orang yang berjalan di depanku. Sampai saat tidak ada siapapun yang melewati depanku, aku segera menatap dia dan sangat terkejut kalau pria itu Raivyes. aku melepaskan genggaman Rhys dan berlari mengejar pria itu ke hutan yang ada di sekitar pertunjukan tadi.
"Heeeiii tunggu!!" teriakku terus berusaha mengejar pria itu.
"Hey kau tunggu!" Gerutuku berlari secepat mungkin dan berhenti tepat di depannya.
"Berhenti kau!" Ucapku menatap pria itu dingin, wajahnya benar-benar mirip dengan Raivyes kecil bahkan sama sekali tidak berubah.
"K-kau...kau Raivyes?" Tanyaku terkejut, pria itu tersenyum dingin dan mendorongku ke salah satu pohon.
"Oh... lama tidak jumpa Sani..." ucap Raivyes mendekatkan wajahnya di depanku.
"K-kau menghilang kemana saja?"
"Aku ya, aku hanya ke sebuah tempat saja."
"Benarkah? Lalu kenapa kau dengan Rani? Dimana dia?" Tanyaku dingin.
"Tentu saja, dimana dia? Kenapa kau bersamanya?"
"Dia ya... aku tidak pernah bersamanya."
"Tapi kau tadi meneleponku dengan suara Rani di belakangmu!"
"Meneleponmu? Aku saja tidak punya nomormu."
"Tidak punya... eeehh! Lalu siapa yang meneleponku tadi? Aku kira kau soalnya tadi Rhys bilang..."
"Yang aku maksud bukan Raivyes tapi Sinoni Khun..." ucap seorang pria di tengah kegelapan, aku menatap pria itu dan ternyata dia Rhys.
"Rhys?" ucapku terkejut.
__ADS_1
"Kau memang sangat bandel ya istriku yang menyebalkan! Kau milikku beraninya kau menggoda kakakku!" gerutu Rhys kesal.
"Kakak? Eehh kenapa bisa dia ka... uugghhh..." rintihku pelan saat Rhys menggigit leherku.
"Aku memang kakak kandung Sebastian. Namaku Ryhan atau nama mafiaku Raivyes."
"Kau memang nakal ya istriku, menggoda kakakku..."
"A-aku tidak tahu, dia... dia menghilang waktu itu dan aku..."
"Dan kamu mencintainya, benarkan?" Ucap Rhys menggenggam erat tanganku.
"Aku... dulu memang mencintainya dan mencintaimu tapi aku sadar kok kalian berdua tidak mencintaiku."
"Siapa bilang aku tidak mencintaimu? Aku mencintaimu tapi aku sadar kalau kamu milik adikku."
"Jadi alasan kamu menghilanh karena..."
"Karena aku berusaha agar kau tidak mencintaiku, itu alasannya."
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Kenapa? Apa kau sedih Raivyes tidak mencintaimu?" Tanya Rhys dingin.
"Tidak juga, aku sudah biasa tidak dicintai kok."
"Aku suamimu jadi aku mencintaimu!" Protes Rhys menatapku dingin.
"Walaupun begitu aku masih membencimu! Aku bersumpah membencimu seumur hidupku! Aku tahu kau punya alasan membunuh Lani tapi... jika kau jadi kakak dan saudara kau dibunuh orang yang kau cintai apa yang kau lakukan?" Teriakku kencang, Rhys melepaskan genggamannya dan berjalan pergi.
"Walau begitu kau tetap tahanan organisasi tertinggi dan kau... tetap tidak akan terlepas dari genggamanku Raelyn!" Ucap Rhys berjalan pergi.
"Haish kau malah membuatnya marah Sani..." gumam Raiyves pelan.
"Marah?"
__ADS_1
"Yaahh walaupun kamu melakukan kesalahan dan kamu tahanan organisasi tertinggi tapi dia berusaha menganggapmu istrinya tapi nampaknya setelah ini kau akan benar-benar dianggap tahanan organisasi olehnya..." gumam Raivyes dingin dan berjalan pergi meninggalkanku.
"Dianggap tahanan ya, memang aku tahanan kok..." desahku pelan, aku terduduk di bawah pohon dan memainkan pasir di tanganku. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan status istri atau tahanan, yang aku pikirkan saat ini... apa aku benar-benar bisa jatuh cinta kepada Rhys setelah kejadian malam kematian kembaranku Lani? Aku sama sekali tidak yakim akan hal itu.