Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 112 : Bertemu Sania


__ADS_3

Tubuhku sangat lemas dan kepalaku sangat pusing, angin sepoi-sepoi menghembus tubuhku dengan lembut. Aku membuka kedua mataku dan melihat langit cerah di depan mataku, aku menghembuskan nafas pelan dan tertawa kencang.


"Hahahahaha... haaahhh..." tawaku kencang.


"Kenapa kamu tertawa kencang?" Ucap seorang wanita di sebelahku, aku melihat wanita itu membuatku terkejut.


"AAAA... S-siapa kamu?" Tanyaku terkejut.


"Apa kau melihatku membuatmu sangat terkejut Sani Shin?" Ucap wanita itu mengangkat alisnya.


"B-bagaimana kamu bisa tahu namaku?" Tanyaku terkejut.


"Astaga hmmm... ya mungkin karena kau tidak pernah bertemu denganku jadi kau terkejut seperti itu, hmmm baiklah namaku Sania Putri Shin ya bisa dibilang aku adik kandung Soni Shin."


"Sa... Sania? Apa kamu kekasih Ray?"


"Yups benar bahkan benang jodoh kami masih terhubung..." gumam Sania menunjukkan sebuah benang merah ditangannya.


"Benang jodoh?" gumamku menatap sebuah benang merah di tangan kananku.


"Ya benar, walaupun aku mati benang jodoh kami masih terhubung dan aku saat ini menunggu Ray agar kami bisa ke surga bersama-sama..." gumam Sania tersenyum manis disebelahku.


"Ohhh mmm bagaimana kalian berdua bisa bertemu?"


"Kami dijodohkan ibu dan kamu juga sama Sani."


"Heehh? Aku? Dengan siapa?"Tanyaku terkejut.


"Masa kamu tidak ingat?"


"Tidak, aku malah tidak tahu kalau aku...."


"Jodohmu bernama Vincent, aku lupa dari keluarga mana."


"Vincent? Seperti apa pria itu?"


"Aku sedikit lupa tapi dia memiliki warna mata merah darah dan memakai anting panjang di sebelah kanan, tatapan dia tajam dan menakutkan."


"Mata merah? Anting panjang?" Tanyaku terkejut. "Apa jangan-jangan pria yang di pertemuan itu ya?" Gumamku dalam hati.


"Yaah seingatku begitu, dia memiliki mafia misterius dan dia terkenal sangat kejam tapi walaupun begitu di hadapanmu dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun dan ya benar-benar luluh seperti seekor anak anjing..." jelas Sania santai.


"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu akan hal itu?"


"Apa ibu dan ayahmu tidak menceritakannya padamu?"


"Tidak, aku selama ini hidup dengan ayahmu dan kak Soni membunuh ibu saat itu."


"Aaahh begitu ya, mungkin kak Soni sangat dendam dengan ibu karena ibu yang menyuruh kakak kandungmu membunuhku."


"Ibu? Kenapa?"


"Karena kesalahanku, dulu aku terkena obat perangsang dan ya kesalahanku hampir melakukannya dengan Elvaro tapi belum sampai melakukannya malam ketahuan oleh Alvaro dan yaaah begitulah..."


"Apa kak Ray tahu akan hal itu?"


"Tahu, saat Alvaro marah besar kepadaku sedangkan Ray hanya terdiam di sebelahnya. Mungkin Ray sangat kecewa padaku saat itu."


"Lalu bagaimana ceritanya ibu yang menyuruh kakak membunuhmu?"


"Karena... saat itu ibu juga tahu dan tanpa basa basi menyuruh kakakmu membunuhku."


"Membunuhmu kenapa?"


"Karena... aku telah menyakiti perasaan pria yang dijodohkan denganku dan pantas untuk dihukum mati."


"Benarkah? Apa itu berlaku padaku juga?"


"Benar, kesalahanmu dengan beberapa pria pasti membuat Vincent sakit hati dan menginginkanmmu mati."


"K-kamu tahu apa yang aku lakukan?" Tanyaku menatap Sania terkejut.


"Benar, apa yang tidak aku ketahui. Aku sudah mati Sani jadi aku tahu apa yang terjadi pada kalian."


"Mmm m-maaf jika aku... Mmm aku..."

__ADS_1


"Tidak apa, aku tidak menyalahkanmu. Aku senang melihat Ray senang bisa memilikimu."


"Apa kamu tidak marah?"


"Tidak, aku juga yang salah andai saja aku dulu tidak terkena obat perangsang pasti aku tidak akan menyakiti hati Ray saat itu."


"Tapi... aku juga melakukan hal yang sama, apa harus Alvaro yang membunuhku?"


"Bukan, tapi Vincent sendiri yang harus memutuskannya untuk membunuhmu atau memaafkanmu."


"Memaafkanku?"


"Ya, semua itu tergantung pada keputusan Vincent."


"Oh hmmm..." desahku menghela nafas panjang.


"Ada apa? Kenapa wajahmu sedih?"


"Tidak ada sih, hanya saja... aku... sangat sedih."


"Sedih kenapa?"


"Ya aku pernah bertemu dengan dia dan dia mengatakan kalau dia ingin melihatku menderita, aku awalnya tidak tahu kalau dia pria yang dijodohkan ibu kepadaku tapi dia..."


"Kalau dia mengatakan itu pasti dia hanya ingin melihatmu menderita, lebih baik kamu minta maaf saja padanya mana tahu dia luluh padamu..."


"Oh mmm tapi Sania, kenapa saat aku bertemu dengan ayahku... eeehh maksudku ayahmu terlihat senang saat aku bersama dengan Ray?" Tanyaku penasaran.


"Karena ayah masih tidak percaya kalau aku sudah mati dan karena wajahmu mirip denganku yang membuat ayah menganggap kalau kamu itu aku dan yaaahh ayah senang melihat anaknya bisa bahagia dengan jodoh yang di jodohkannya."


"Jadi selama ini ayah menganggapku itu Sania bukan Sani?" tanyaku terkejut.


"Yups benar sekali."


"Oh begitu ya..." desahku menatap langit di atasku dan memejamkan kedua mataku pelan.


"Ada apa Sani?"


"Aku sangat rindu anakku, dia dibunuh ayahnya disaat tidak denganku... aku ingin mengobrol dengannya walaupun hanya sebentar..."


"Benar! Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanyaku serius,


"Tuh dia ada disana, dia berkata ingin bertemu dengan ayah dan ibunya." Sania menunjuk ke arah depannya dan aku melihat seorang pria tampan di depanku yang membuatku terkejut.


"Ibuuuu?"


"S-Satria! Apakah itu kamu?" Tanyaku tidak percaya.


"Ibuuuu!!!" Teriak Satria kencang dan langsung memelukku erat. Air mata bahagia benar-benar tidak bisa aku tahan lagi, aku memeluk erat Satria dan menangis di pelukannya.


"Satria, ibu sangat rindu padamu..." rengekku pelan.


"Satria juga merindukan ibu, bagaimana keadaan ibu? Ibu baik-baik saja kan?"


"Mmm yah ibu baik-baik saja."


"Oh ya ibu, aku ingin bercerita padamu ibu..." gumam Satria mulai menceritakan semua yang dia alami sebelum dibunuh dan perlakuan Han yang setiap saat datang kemakamnya dan mendoakan Satria.


"Oh mmm benarkah?"


"Benar ibu, ayah selalu melakukannya dan Satria sangat senang sekali!!!" ucap Satria senang dan aku hanya tersenyum pelan, melihat senyum tawa Satria benar-benar membuatku senang.


"Ibu, Satria disini baik-baik saja dan Satria bisa menjaga diri Satria jadi ibu jangan khawatir."


"Tapi nak...."


"Ibu, Satria tidak berbohong. Satria baik-baik saja, kalau ibu senang Satria senang tapi kalau ibu sedih maka Satria juga ikut sedih ibu..."


"Hmmm Satria maaf ya kalau ibu tidak bisa menjagamu dengan baik, ibu selalu meninggalkanmu dan ibu selalu membuat Satria menderita... maafkan ibu nak..."


"Tidak ibu, ibu tidak salah apapun. Satria bahagia dan Satria tidak menyesal menjadi anakmu ibu!" Ucap Satria senang.


"Mmm benarkah?"


"Tentu saja, nanti kalau Satria bisa berinkarnasi pasti Satria akan meminta kepada malaikat untuk bisa menjaga dan melindungi ibu, Satria tahu banyak yang menginginkan ibu mati jadi tidak akan Satria biarkan hal itu terjadi ibu!"

__ADS_1


"Satria, ibu tidak melakukan apapun untuk apa kamu melakukan hal itu?"


"Karena Satria anakmu ibu, Satria juga anaknya ayah, jadi Satria akan melakukannya ibu!" Ucap Satria senang.


"Benarkah? Hmmm ibu bangga denganmu nak, baik-baik ya di surga dan tunggulah ibu ya nak..." gumamku mencoba tersenyum dan mencium lembut pipi Satria.


"Baik ibu, Satria senang bisa bertemu ibu!" Ucap Satria senang dan Satriapun menghilang.


"Ibu juga senang bertemu denganmu Satria...." gumamku pelan dan aku menangis kencang, Sania mengusap lembut bahuku dan mencoba menenangkanku.


"Udah tenang saja... Satria sudah senang di Surga."


"Aku tahu tapi..."


"Sani dengar keinginan Satria sudah terpenuhi jadi dia bisa dengan mudah ke surga, sedangkan kamu sebentar lagi siuman."


"Aku siuman? Memang aku belum mati?" Tanyaku terkejut.


"Tidak, Vincent tidak mungkin membunuhmu. Dia sangat mencintaimu."


"Aku menyakiti hatinya tidak mungkin dia masih mencintaiku!"


"Aku akan mwmbuktikannya padamu Sani, mari ikut aku..." gumam Sania berjalan mendahuluiku.


"Ikut kemana?"


"Ke portal yang menghubungkan ruangan Vincent..." gumam Sania berhenti di sebuah danau.


"Basuhlah wajahmu dengan air itu dan berpikirlah tentang Vincent, pasti akan berhasil."


"Apa kau melakukan hal ini?"


"Ya benar, aku tahu apa yang dilakukan Ray ataupun kamu dari danau ini."


"Oh baiklah..." desahku membasuh wajahku dan mencoba memikirkan Vincent.


Tiba-tiba air danau berubah menjadi hitam dan lama kelamaan terlihat Vincent yang sedang menatap sebuah foto, aku sangat terkejut saat tahu kalau foto itu fotoku waktu kecil dulu.


"Sani... aku yang terikat dengan janji pernikahan awal bahkan janji suci denganmu, tapi kebapa kau dengan mudahnya bermain dengan pria seenakmu seperti itu sedangkan aku merana dan kesepian seperti ini!!" Teriak Vincent keras.


"Aku harus melakukan apa agar kau sadar! Katakan Sani! Katakan! Teriak Vincent memukul meja keras dan menangis kencang yang membuatku terkejut.


"Benarkan perkataanku, dia masih mencintaimu Sani..." ucap Sania serius.


"Tapi aku tidak tahu dimana dia dan bagaimana aku bisa bertemu dengannya?" Tanyaku serius.


"Mmmm... tuh lihat surat hitam di sebelahnya!" Ucap Sania serius, aku membaca surat itu dan ternyata sebuah undangan pertemuan rahasia di tanggal 10.


"Kau bisa melakukannya dengan itu."


"Mmmm ide bagus...." gumamku pelan.


"Ya sudah, kamu sudah waktunya sadar Sani. Oh ya jangan katakan apapun tentang aku dan pertemuan kita kali ini kepada siapapun..." ucap Sania menatapku serius, aku menatap kedua tanganku yang bercahaya dan dengan perlahan menghilang.


"Oohh mmm baiklah, senang bertemu denganmu Sania..." gumamku pelan dan pandanganku kembali menghitam. Aku membuka kedua mataku dan melihat semua orang bahkan Ray terlihat sangat khawatir.


"Akhirmya kau sadar juga istriku..." ucap Ray senang dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.


"Aaahhh syukurlah, aku takut kehilanganmu adikku!" ucap Alvaro senang.


"A-aku baik-baik saja..." gumamku menatap kalender di dinding kamar.


"Tenang saja, kau hanya tiga hari tidak sadar..." gumam Fadil memberiku teh hangat.


"Sekarang tanggal berapa?"


"Tanggal 7."


"Tanggal 7?" Tanyaku pelan, "Masih ada waktu tiga hari lagi..." gumamku dalam hati pelan.


"Ya, ada apa Sani?" tanya Fadil menatapku terkejut.


"Eeehh mmm tidak ada, aku ingin istirahat..." gumamku memberikan gelas kosong kepada Fadil dan memejamkan mataku.


Menyaksikan dan mengetahui kalau Vincentlah yang menjadi jodohku membuatku terkejut, tapi jika benar begitu aku harus bertemu dengannya dan mencari tahu tentang perjodohan kami secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2