
Selama beberapa minggu aku dirawat ayah di rumah sakit ini akhirnya ayah membawaku pulang ke rumah, aku kira ayah akan lupa dengan janjinya tapi ternyata ayah benar-benar mengajakku ke wilayah terlarang.
"Ayah aku mengajak kak Fadil boleh?" tanyaku pelan.
"Untuk saat ini jangan dulu, wakilmu sedang ada tugas bersama dengan Alvaro dan Elvaro lagi pula Sanjaya belum mengijinkan kamu membawa wakilmu."
"Jadi aku pergi sendiri?" Tanyaku serius.
"Ya benar. Tapi tenang saja, ayah memiliki kunci menuju ke wilayah terlarang, oh ya ini lencanamu... kemarin Vincent menemukannya di hutan..." gumam ayah memberikanku lencanaku yang hilang.
"Ohh mmm terimakasih ayah..." gumamku pelan.
"Baiklah mari kita pergi anakku" gumam ayah masuk ke dalam mobil.
"Eehh kak Evaro ikut?" Gumamku menatap Elvaro duduk di depan.
"Ya, wilayah terlarang sangat berbahaya jadi Alvaro menyuruhku mengantar kalian dan juga menjaga ayah."
"Oh begitu ya..."
"Jangan khawatir, wilayah terlarang tidak seberbahaya itu..." gumam ayah pelan, mendengar ucapan ayah membuat Elvaro terdiam mengemudikan mobil dengan pelan.
Selama perjalanan aku menatap keluar jendela, di luar jendela aku melihat banyak pohon-pohon yang berdiri di kiri dan kanan kami. Tidak lama kemudian kami sampai di sebuah hutan yang lebat dan sepi bahkan sinar matahari samar-samar menembus ke tanah, aku berpikir apa ini wilayah terlarang yang dimaksud.
"Kita sudah sampai anakku.." ucap ayah mengagetkanku, aku segera turun mengikuti ayah dan berjala ke sebuah gerbang di depanku.
Saat kami akan mencapai gerbang itu, tiba-tiba datang dua orang pria di depanku dengan pakaian yang sangat rapi dan beberapa orang berjubah di belakangnya.
"Oh Tuan Shin, senang bertemu dengan anda..." ucap dua pria itu bersamaan.
"Senang bertemu dengan kalian, dimana Sanjaya?"
"Ada, kakak sedang pemulihan di kamarnya tuan Shin..." ucap salah satu pria itu pelan. "Pumulihan? Jangan bilang pria yang aku kira Vincent itu benar-benar Sanjaya..." gumamku dalam hati.
"Oh begitu ya, mmmm anakku berkata dia kalah bertaruh dengan Sanjaya jadi anakku ingin melakukan taruhannya dengan Sanjaya..." gumam ayah merangkulku senang.
"Benarkah? Apa anda tidak keberatan?"
"Mau keberatan atau tidak anakku telah kalah lagi pula dia harus menebus kesalahannya dengan Sanjaya..." gumam ayah memberi kode, aku melangkah ke depan dan menundukkan kepakaku pelan,
"Oh mmm aku Sani Shin... Salam kenal tuan..." gumamku pelan.
"Sani? Oh kamu yang bernama Sani ya... salam kenal aku Stafan dan dia Stafano kami adik dari Sanjaya..." ucap pria di depanku pelan dan aku hanya menundukkan kepalaku pelan.
"Titip anakku ya, kalau wakilnya selesai mengerjakan tugasnya nanti dia akan datang."
"Fadil ya? Oh mmm baik tuan, ztuan Shin jangan khawatir."
__ADS_1
"Baiklah aku pulang dulu..." gumam ayahmasuk ke dalam mobil bersama dengan Elvaro dan mobil itu pergi meninggalkanku sendiri.
"Baiklah, silahkan masuk... kakak sudah menunggu kedatanganmu..." gumam dua pria itu bersamaan, aku menganggukkan kepalaku dan berjalan mengikuti dua pria itu.
Saat aku berjalan menuju sebuah rumah di depanku, di balkon lantai paling atas aku melihat seorang pria bermata merah darah berdiri menatapku dengan tatapan dinginnya.
"Oh ya terimakasih ya sudah merawat kakak kami..." ucap seorang pria pelan.
"Bagaimana kau bisa menemukannya?" tanya pria disebelahnya dengan serius.
"Mmm aku hanya kebetulan saja bertemu dengannya."
"Oh mmm ya untungnya kau mau merawatnya padahal kau kalah taruhan dengannya, penyakit kakak kambuh jadi dia saat itu salah strategi yang membuatnyabterluka parah, kami mencoba mencarinya tapi kami tidak menemukannya..." gumam pria itu pelan.
"Begitu ya, ngomong-ngomong bagaimana aku membedakan kalian?"
"Yaaahh aku Stevan dan dia Stevano, kami memang sangat mirip jadi hanya rambut yang membedakan kami. Stevano di kuncir kebelakang kalau aku tidak memikiki kuncir..." gumam pria itu pelan.
"Oh begitu ya..."
"Baiklah kakak ada di dalam, kami akan membawa barangmu ke dalam kamarmu... baiklah kami permisi dulu..." gumam dua pria itu pergi meninggalkanku.
"Huufffttt..." desahku menatap benang merah di tanganku dan ternyata benang itu menembus pintu di balik pintu ini yang membuatku terkejut. "Jadi pria dimalam itu benar-benar Sanjaya ya..." gumamku dalam hati.
Aku mengetuk pintu perlahan dan membuka pintu dengan pelan, aku menatap sekitarku yang sepi tidak ada orang aama sekali dan bahkan lampu kamarpun tidak dihidupkan.
"Oh mmm orangnya pergi ya..." gumamku pelan, aku berjalan kembali ke pintu. bepum sempat membuka pintu kamar tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang dengan erat, aku menatap benang merah di tanganku dan ternyata benar-benar terhubung dengan benang merah di tangan orang di belakangku.
"Emang tidak boleh aku kemari? Kalau tidak boleh ya sudah aku pulang saja..." gumamku membuka pintu itu, pria itu membalikkan tubuhku dan mendorong tubuhku ke pintu kuat.
"Siapa yang mengijinkanmu pergi dariku?"
"Lalu kenapa kau bertanya untuk apa aku kemari?" protesku serius.
"Aku hanya bertanya... kenapa kau datang ke kamarku, tidak ada yang boleh mendatangi kamarku tanpa seijinku bahkan kedua adikku!" Ucap pria di depanku dengan tatapan dinginnya.
"Oh mmm m-maaf aku tidak tahu, aku kira adikmu menyuruhku menemuimu di kamar dan aku..."
"Kau tahu apa hukumannya melanggar peraturan rumah ini..."
"Kan aku tidak tahu apapun tentang peraturan rumah ini apalagi aku baru datang!" Protesku kesal.
"Mau baru datang atau tidak, kau harusnya tahu etika dan aturan yang berlaku di masing-masing tempat. Apa kau mengerti?"
"B-baiklah aku mengerti... aku... mmmppphhh..." pria itu menciumku dengan cepat yang membuatku tidak bisa melakukan apapun selain terdiam membalas ciumannya apalagi kedua tanganku benar-benar digenggam erat olehnya. Wajahnya terlihat begitu memerah saat menatapku saat ini benar-benar berbeda dengan wajah yang aku lihat biasanya.
"Sanjaya... maaf kalau aku salah mengenalmu.. aku kira jodohku itu Vincent ternyata kamu yang ayah jodohkan padaku..."
__ADS_1
"Apa Tuan Valo menceritakan detailnya padamu?"
"Ya, ayah menceritakannya saat aku di rumah sakit kemarin dan maaf aku tidak tahu sebelumnya..." gumamku mengusap bekas luka di dada bidangnya.
"Apa kau mencintai Vincent?"
"Tidak, aku sama sekali tidak mencintainya atau bahkan aku hanya mengenalnya sesaat saja."
"Benarkah? Apa kau kira aku bisa dibohongi olehmu!" Ucap Sanjaya dingin, aku mendorong sanjaya dan menatapnya serius.
"Apa wajahku terlihat berbohong padamu... suamiku?" gumamku menatap Sanjaya dingin.
"Kau sudah berani memanggilku dengan sebutan itu ya?"
"Kalau faktanya kau memang jodohku apa aku salah menyebutmu suamiku... lagi pula... aku juga kalah taruhan denganmu seperti taruhan awal kita kan... aku akan menikahimu..." gumamku mengusap pipi Sanjaya pelan.
"Kau kira kita akan mudah untuk menikah?"
"Aku tahu, kembaranmu masih belum menerimaku menjadi istrimu."
"Memang dan jika diluar kau tidak mungkin bisa menyentuhku seperti ini."
"Kenapa memangnya?" Tanyaku bingung.
"Kau melakukan kesalahan dan kau belum menebusnya jadi semua orang akan menganggapmu tahananku jadi akan aneh jika kau menyentuhku seperti ini."
"Jadi alasan kamu memberi taruhan agar aku jadi asisten pribadimu karena itu?"
"Ya benar sekali."
"Oh baiklah kalau begitu tidak masalah aku tidak akan menyentuhmu sama sekali..." gumamku melepaskan ganggamanku, tiba-tiba Sanjaya menarikku dan mendorongku ke tempat tidur.
"Kau kira dengan masalah itu bisa menjadilanmu alasan istriku yang menyebalkan..." gumam Sanjaya dingin.
"Lalu apa yang kau inginkan..."
"Walaupun di luar kau terlihat seperti tahananku tapi disaat aku berdua denganmu... kau harus menjalankan tanggung jawabmu sebagai istriku..." bisik Sanjaya pelan.
"A-apa kau yakin? Aku kan..."
"Aku tidak peduli, intinya adalah... kau milikku Sani..." gumam Sanjaya menggenggam erat tanganku dan menciumku lembut. Digenggaman tangannya aku melihat sebuah cincin yang diberikan anak kecil di mimpiku, aku kira anak kecil itu Vincent ternyata jika aku pikir-pikir ternyata anak kecil itu Sanjaya apalagi wajahnya benar-benar mirip dengan anak kecil di mimpiku.
"Apa yang kau lamunkan?" Tanya Sanjaya membuatku terkejut.
"Eemmm t-tidak ada, apa kamu haus?" Tanyaku pelan dan Sanjaya langsung mengigit leherku pelan.
"Kamu kenapa tahu aku haus?"
__ADS_1
"Aku istrimu jadi bagaimana tidak tahu..." gumamku pelan dan menggenggam erat tangan Sanjaya.
Rasa sakit benar-benar tidak aku rasakan, aku hanya merasa rasa nyaman saat dengan Sanjaya apalagi ini kali pertamanya aku merasakan rasa nyaman yang luar biasa seperti ini tapi aku sendiri tidak mau terlalu senang untuk saat ini karena aku harus berjaga-jaga agar tidak terluka lagi hatiku ini.