Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 176 : Penjelasan Lyraen


__ADS_3

Dengan tubuh yang lemas dan terasa ingin jatuh, aku terus mencoba menjaga keseimbanganku dengan memegang kedua lututku. Tidak lama aku merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangku dengan tatapan dingin.


"Ku kira kau sudah pergi, kenapa kau kembali?" Tanyaku dingin tapi pria itu hanya berdiri di belakangku tanpa mengatakan apapun lagi.


"Haish terserahlah..." desahku pelan dan tubuhku tiba-tiba melemas yang membuat tubuhku hampir terjatuh tapi pria itu langsung menangkap tubuhku dan mendudukkanku di lantai sambil memelukku erat.


"Uuuhhhuukkk.. uuhhhuukkk...uuhhuukkk" aku terus terbatuk-batuk tanpa henti di tambah rasa sakit bekas gigitan pria itu yang merupakan suamiku dimasa lalu membuatku terasa tersiksa.


"Apa itu menyakitkan?" Tanya Lyraen pelan dan aku hanya mengangguk pelan.


"Oh benarkah? Maaf ya..." gumam Lyraen melukai lengannya dan memberikanku sedikit darahnya yang tidak lama kemudian batukku dan juga sakit di leher langsung menghilang.


"Kamu... bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut.


"Apa kau ingin tahu alasannya?"


"Tentu saja!"


"Ucapan Raesya adalah jawabannya."


"Benarkah?"


"Ya... maaf telah membunuhmu di saat itu istriku, aku tidak bermaksud untuk membunuhmu tapi... karena hasutan wanita itu aku membunuhmu."


"Wanita itu? Maksudmu Raesya?"


"Bukan, wanita lainnya... dia bernama Bunga Cantika, seorang ketua mafia terkejam di wilayah utama dan yaah Bunga ingin merebutku darimu makanya dia menghasutku dan aku membunuhmu."


"Oh begitu ya..." desahku menadahkan tanganku ke langit.


"Apa keinginan matiku karena itu?"


"Ya, kamu tidak tahan dengan siksaanku dan terus menerus ingin mati, yaah akhirnya aku tanpa sadar membunuhmu."


"Benarkah? Kalau begitu... lakukan sekali lagi..." gumamku pelan.


"Kenapa?"


"Yaaah aku sudah bosan hidup dan hidupku terus saja menyakitkan. Kehidupan pertama aku di sakiti suamiku, di kehidupan kedua aku di permainkan banyak pria dan di kehidupan ketiga ini... apa yang akan menungguku? Kesakitan? Siksaan? Membosankan..." gumamku pelan.


"Tidak istriku, ini kehidupan yang berbeda. Kita hidup karena ritual terlarang jadi pastinya kehidupan ini akan berbeda."


"Aku tidak peduli, aku ingin mmmppphhh..."


"Sayang dengar, kamu tidak boleh seperti itu. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi dan aku... maafkan aku istriku, aku berjanji aku akan menjagamu aku janji..." ucap Lyraen memelukku erat.


"Tapi kan aku bukan istrimu saat ini dan..."


"Kita sama sekali belum cerai, cincin pernikahan kita masih ada walaupun sudah tiga kali berinkarnasi..." gumam Lyraen membaca sesuatu di bibirnya dan muncul sebuah cincin di kedua jari kami berdua.


"Ini? Bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut.


"Cincin pernikahan ini aku desain khusus sehingga akan tetap ada di jari manismu, walaupun sudah banyak cincin yang melingkar di jari manismu tapi cincin pernikahan kita akan tetap ada dan tidak akan pernah hilang sampai kapanpun!" Ucap Lyraen pelan.


"Oh mmm ngomong-ngomong bisakah aku memanggilmu Lyraen?"


"Tentu, hanya kamu yang boleh memanggilku Lyraen karena itu nama asliku."


"Apa ada yang tahu masalah namamu itu?"


"Tidak, hanya kamu dan kedua kembarmu saja yang tahu."


"Mmmm Lyraen boleh aku meminta sesuatu?"


"Meminta apa sayang?" Tanya Lyraen mengusap lembut rambutku.


"Aku ingin melakukan balas dendam, kehidupanku kali ini aku anggap sebagai cara balas dendam jadi aku ingin balas dendam."

__ADS_1


"Balas dendam ya..." gumam Lyraen menekan kedua pipiku.


"Kenapa? Apa kamu tidak percaya denganku?"


"Tidak kok, aku percaya denganmu istriku malah aku akan mendukungmu... apa yang bisa aku bantu?"


"Tidak ada, aku ingin melakukannya sendiri..."


"Melakukannya sendiri? Kamu hanya memiliki mafia kecil yang..."


"Jadi kamu percaya denganku tidak!" Ucapku dingin yang membuat Lyraen terdiam menatapku.


"Hmmm buktikan padaku sehebat apa kamu..." gumam Lyraen membantuku berdiri dan menatapku dingin.


"Kalau kamu mampu meyakinkanku, aku akan mengijinkanmu melakukan sendiri!" Ucap Lyraen menatapku dingin.


"Baiklah, perhatikan baik-baik..." gumamku mengambil jarum racun yang diberikan Ravaro padaku dan melemparkannya kearah musuh yang ada di tengah-tengah pesta topeng itu, saat mengenai musuh itu yang membuat Lyraen terkejut.


"Waaaw kamu ternyata sangat hebat, tapi apa kau bisa mengenai... dia?" Ucap Lyraen menunjuk seorang wanita di pesta itu.


"Bisa saja..." gumamku dingin dan mengarahkan jarumku ke wanita itu.


"Ternyata kamu hebat juga ya istriku setelah kematianmu dulu..." desah Lyraen memutar bahuku dan menatapku dengan tatapan dingin.


"Baiklah aku akan mengijinkanmu melakukannya sendiri tapi aku akan tetap mengawasimu di setiap perilakumu, apa kamu mengerti?" Ucap Lyraen menatapku dingin.


"Ya aku mengerti kok..." ucapku pelan. "Idih sok ngatur!" gerutuku dalam hati.


"Apa kau bilang? Aku sok ngatur?" ucap Lyraen dingin yang membuatku terkejut.


"Eehh mmm e-enggak kok, aku hanya..."


"Dengar ya gadis kecil, aku suamimu jadi aku tahu apa yang ada di hatimu, mengerti!" Ucap Lyraen menunjuk dadaku dengan kesal.


"Mmm ya aku mengerti kok, oh ya aku hampir lupa..." gumamku mengambil lencana yang ada di sakuku dan menatapnya.


"Ya benar."


"Jadi tidak ada yang tahu tentangmu?"


"Ya, tapi hanya kamu dan kembaranmu yang tahu."


"Lalu nama mafiamu apa?" Tanyaku pelan.


"Mafia kegelapan."


"Tunggu itukan nama mafiaku!"


"Kau kira yang memberikan nama mafiamu siapa? Kau dulu memohon-mohon agar mafiamu diberi nama yang sama dengan mafiaku, awalnya aku menolak tapi saat terjadi mafiamu sedikit berguna, banyak yang menyangka mafia kegelapan milikmulah itu milikku sehingga keberadaan mafiaku tidak diketahui dan aku bisa melakukan apapun..."


"Lalu kau kira mafia kegelapan milikku tidak berguna?" Tanyaku dingin dan Lyraen menghela nafas panjang.


"Di kehidupan awal memang tidak berguna tapi di kehidupan kedua tidak aku sangka mafiamu sangat hebat, kau bisa menaklukkan seluruh mafia dan organisasi di wilayah utama bahkan sampai sekarang."


"Oh benarkah? tapi aku tidak tertarik untuk di takuti..." gumamku melepaskan topeng di wajah Lyraen dan terlihat wajah yang sangat tampan dengan tatapan dingin dan tajam terlihat dengan jelas di mataku.


"Kenapa?"


"Mmmm tidak ada hanya ingin tahu saja..." gumamku memasang kembali topeng itu di wajahnya.


"Apa ada yang tahu wajahmu?"


"Tidak ada."


"Apa hanya aku yang tahu?"


"Tidak, hanya kamu dan wakilku saja."

__ADS_1


"Apa wanita yang bernama Bunga Cantika tahu?"


"Tidak, bahkan bawahanku tidak ada yang tahu."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak ingin siapapun tahu kecuali kamu dan wakilku."


"Oh begitu ya... mmm dimana markas mafiamu?"


"Kenapa? Apa kamu ingin kesana?" Tanya Lyraen serius.


"Tentu, apa itu salah?"


"Tidak masalah, tanyakan Raelan dimana kerajaan terkutuk pasti dia tahu."


"Ayah? Apa ayah tahu tentangmu?"


"Tentu saja, Raelan teman baikku sejak kehidupan pertama tapi entah dia masih ingat denganku atau tidak..."


"Apa kau kira aku melupakanmu Lyraen?" Ucap seorang pria di kiriku, aku menoleh dan melihat Ravaro dan Raelan berjalan kearah kami.


"Aaahh tidak aku sangka bisa bertemu denganmu teman lama, bagaimana kau tahu aku ada disini?" ucap Lyraen merangkulku erat.


"Yaahh dengan keonaran yang dibuat Raelyn bagaimana aku tidak bisa tahu?"


"Oh benarkah? Apa dia sehebat itu?"


"Tentu, malah dia lebih hebat darimu saat ini."


"Oh benarkah? Aku bangga mendengarnya." Ucap Lyraen senang.


"Oh ya, untuk apa kau ingin bertemu dengan anakku? Apa kau ingin membunuhnya lagi?"


"Tentu saja tidak, sudah aku katakan berulang kali kan kalau aku merasa bersalah dengannya malah jika dia ingin menghukumku maka aku bersedia dihukum olehnya sama sepertimu Raelan."


"Hukum ya? Apa kau kira Raelyn akan menghukummu?" Tanya Raelan dingin.


"Aku akan menghukumnya ayah tapi hukuman khusus dariku..." ucapku dingin.


"Hukuman apa yang akan kau berikan? Dia raja sama seperti ayah bahkan semua wilayah utama takut dengannya?"


"Kalau itu... aku yang akan memikirkannya, dia juga menjadi targetku balas dendam kok ayah..." gumamku menatap Lyraen sambil tersenyum dingin.


"Lakukanlah kalau kau ingin istriku, apapun hukumannya aku akan menerimanya."


"Baik, di setiap bulan merah aku akan datang ke markasmu dan aku akan menghukummu!" Ucapku dingin.


"Eehh? Hukuman apa itu?" Tanya Lyraen terkekut.


"Kamu akan tahu sendiri."


"Oh mmm baiklah, tapi aku juga akan menghukummu istriku!"


"Tunggu, kenapa kau menghukumku?" Tanyaku terkejut.


"Kau bermain dengan banyak pria setelah inkarnasi dan itu sangat melukai hatiku, apa kau kira aku tidak akan menghukummu?" Tanya Lyraen dingin.


"Mmm baiklah... lakukan saja asalkan kamu tidak mengganggu urusanku..." Ucapku melepaskan rangkulan Lyraen dan berjalan pergi tapi Lyraen langsung menarik tanganku dan kembali menggigit leherku kembali.


"Uugghh a-apa yang kamu lakukan?" Tanyaku pelan.


"Aku hanya ingin menandaimu saja, dengan tanda itu kamu adalah permaisuri kerajaanku jadi kamu bisa keluar masuk wilayahku dan juga aku bisa lebih mudah mengawasimu."


"Haish terserahlah..." desahku pelan dan berjalan pergi.


"Aku ada urusanku yang belum selesai, aku akan menemuimu di pertemuan ayah..." gumamku pelan dan pergi menuju ke pesta topeng yang ramai karena ada dua orang yang terbunuh saat pesta berlangsung itu.

__ADS_1


__ADS_2