
Telingaku mendengar suara anak kecil yang sedang membaca sesuatu di dekatku, aku membuka kedua mataku dan melihat Pangeran yang sedang belajar membaca dengan Ray di sofa kamar. Aku terduduk dan terkejut melihat pakaianku sudah berganti, mungkin Ray yang mengganti pakaianku saat aku tertidur semalam.
"Ibu sudah bangun?" tanya Pangeran berlari ke arahku.
"I..iya anakku..." gumamku dengan suara serak.
"Suara ibu kenapa serak? dan kenapa kedua mata ibu bentol? Apa ibu sakit?" tanya Pangeran menatapku sedih.
"Ehheem ti...tidak kok hanya capek saja..." gumamku berbohong.
"Benarkah? Mau Pangeran pijitin?" tanya Pangeran pelan.
"Mmm ti...tidak perlu, nanti kamu capek anakku. Mending kamu belajar, sudah waktunya berlatih dengan paman Soni kan?"
"Oh ya...Pangeran lupa. Pangeran pergi dulu ayah ibu!" teriak Pangeran keluar dari kamar.
"Hmmm..." desahku memejamkan mataku lagi.
"Kamu masih tidak enak badan?"
"Tidak, oh ya kak Ray...boleh bertanya sesuatu?" tanyaku pelan, aku membuka kedua mataku dan menatap Ray yang sedang menatapku juga.
"Tanya apa?"
"Kemarilah..."
"Kau mau menghukumku?" tanya Ray mengangkat alisnya.
"Aku juga salah kepadamu, memangnya aku pantas menghukummu?"
"Tidak masalah. Walaupun begitu, kamu sudah mendapatkan informasi yang sangat langka loh..." gumam Ray mendorongku dan menatapku dari atas.
"Informasi apa?" tanyaku pelan.
"Keberadaan ayahmu bukan?" gumam Ray menciumku lembut.
"Oh mmm tapi kan...mmm memang kamu tidak menghukumku?"
"Menghukummu ya? Benar, aku sangat ingin menghukummu istri nakalku..." gumam Ray menggigitku.
"Uuugghhh...ka...kamu mau menggigitku lagi?" tanyaku pelan.
"Tidak kok aku punya hukuman yang terbaik untukmu, oh ya aku bersalah juga padamu...apa hukuman yang akan kamu berikan?"
"Aku belum memikirkannya."
__ADS_1
"Benarkah? Oh ya Sani, apa kamu tidak mencintai Han?"
"Tidak."
"Benarkah? Apa kamu kira aku percaya dengan perkataanmu? Kamu diam-diam bertemu dengannya bahkan menciumnya loh!"
"Aku memang tidak mencintainya lagi, aku tahu dia masih mencintaiku dan akan merebutku darimu tapi...aku benar-benar tidak mencintainya. Aku menciumnya agar dia mengatakan identitas pria di belakang Bintang dan mengatakan semuanya kepadaku, udah hanya itu tidak ada yang lain."
"Benarkah? Apa kamu kira aku percaya?"
"Kamu boleh membunuhku kalau aku mencintai Han!" ucapku serius.
"Hmmm... lalu kenapa kamu bisa bertemu dengan Alan itu?"
"Aku tidak tahu, setelah bertemu Han. Tiba-tiba Alan muncul dengan Bintang di balik kegelapan, aku ingin melarikan diri tapi kekuatannya...sama sepertimu. Saat kamu genggam waktu di kapal dulu...aku juga tidak bisa melepaskan diri darimu kan, apa kamu ingat?" tanyaku pelan.
"Ya, kekuatannya memang setara denganku tapi masih hebat aku dari pada dia. Dia ingin menguasai keluarga Khun sama seperti keluarga Li, tapi karena dia selama kalah melawanku akhirnya ya keluarga Khun dan kamu selamanya akan menjadi milikku."
"Ma...maksudnya?" tanyaku terkejut.
"Alan itu keturunan Khun dan Li yang sangat membenci keluarga Shin. Ibunya adalah ibuku dan ayahnya adalah tuan Li yang merupakan ayah dari Hans dan Han. Karena terlahir dari keluarga yang berseteru yang membuat Alan tidak dianggap oleh keluarga Li atau keluarga Khun. Saat itu demi mendapatkan pengakuan Alan menantang aku dan Hans untuk bertarung jika dia kalah maka dia tidak akan mengganggu urusan keluarga kami tapi kalau kami kalah maka dia akan mendapatkan pengakuan dan kami sendiri akan menjadi budaknya. Itulah alasannya..." jelas Alan terus mempermainkanku.
"Tapi tunggu...kenapa Alan membenci keluarga Shin?"
"Ya...dia bilang kalau ayah belum membalas budi kepada Alan, jadi maksudnya membalas budi itu..."
"Benar membalas budi itu adalah menyerahkanmu untuk Alan tapi ayahmu menolak dan akhirnya Alan selalu memerintahkan Hans dan Han untuk melakukan apapun agar membuat hidupmu hancur Sani, itulah kenapa kamu selalu menderita di keluarga Li. Apalagi Hans kalah bertarung jauh sebelum Soni membunuh ibu tirimu!" ucap Ray serius.
"Tapi kenapa dia kemarin hampir memperkosaku?" tanyaku terkejut.
"Dia tahu kalau kamu sekarang bersamaku, dia ingin menghamilimu dan menjadikanmu serta anaknya nanti menjadi alat lagi sama seperti di keluarga Li. Kalau aku semalam kalah bertarung dengannya pasti aku akan stres melihatmu diperkosa dia dengan mata kepalaku sendiri. Itulah kenapa aku sangat kesal semalam!" gerutu Ray kesal.
"Uuugghh ba...baiklah aku mengerti sayang. Maafkan aku sayang..." gumamku pelan.
"Aku akan memaafkanmu tapi sebelum kamu menghukumku, aku akan menghukummu terlebih dahulu..." gumam Ray mengangkat kedua tanganku ke atas kepala.
"Hu...Hukuman? Hukuman apa?" tanyaku terkejut.
"Menurutmu..."
"Uuugghhh...ba...baiklah aku mengerti, terserah kamu saja mau menghukummu dengan apapun..." gumamku pelan.
"Baguslah, oh ya Sani... ternyata rencanamu menggabungkan racunmu dengan racun yang ada di tubuhku benar-benar ampuh ya."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya, semalam kamu melihat dia terluka parah kan?"
"Oh mmm ya aku melihatnya kok..." gumamku pelan.
"Wajahmu kenapa terlihat sedih?" tanya Ray menatapku bingung.
"Hanya...aku merasa bersalah padamu..."
"Selama kamu ada bersamaku dan kamu melahirkan anak yang hebat seperti Pangeran...aku tidak akan menghukummu dengan kejam... kita terikat kontrak dan aku sangat mencintaimu jadi aku akan selalu menjagamu istriku yang bandel..." gumam ray menjatuhkan tubuhnya di sampingku.
"Yaa.. aku mengerti kok suamiku..." desahku mengusap rambut Ray.
"Aku sudah menghukummu, lalu...apa hukuman yang aku dapatkan?"
"Tidak ada."
"Apa kamu serius? Aku sudah membuatmu marah dan kamu tidak menghukumku?" tanya Ray terkejut.
"Ya, aku memang tidak ingin menghukummu dengan hukuman apapun. Menghukum itu bagiku hanya untuk bawahan yang melanggar sumpah setianya saja."
"Jadi beneran kamu tidak menghukumku?"
"Tidak."
"Hmmm kamu benar-benar istri yang baik sayang, aku takut kamu hukum tahu... Fadil bercerita kalau kamu pernah menghukum bawahanmu dengan sangat kejam yang membuat sampai sekarang bawahanmu takut untuk membuatmu marah."
"Aku hanya menghukum bawahanku saja tidak menghukum siapapun...walaupun Han melakukan kesalahan tapi aku sendiri tidak bisa menghukumnya, membunuhnya saja aku tidak bisa..." gumamku pelan.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu, dulu Han sering menyiksa Satria juga aku tidak bisa menghukumnya... mungkin karena dulu setiap aku ingin menghukumnya Satria selalu menghadang aku dan memintaku untuk tidak menghukum Han yang membuatku jika ingin menghukumnya aku selalu teringat Satria..." gumamku memejamkan kedua mataku.
"Mmm kamu mau berziarah ke makan Satria?"
"Apakah boleh?" tanyaku pelan.
"Boleh, aku juga ingin mengajak Pangeran mengenal kakaknya dan sekalian mau jalan-jalan."
"Oh mmm lalu kapan akan berangkat?"
"Kamu mau sekarang?"
"Mmm baiklah, aku mau bersiap-siap dulu..." gumamku segera beranjak pergi ke kamar mandi.
Mendapatkan izin berziarah ke makam Satria membuatku senang, aku memang ingin datang kesana tapi aku takut untuk meminta izin Ray karena Satria bukan anakku dengan Ray jadi aku tidak ingin membuat Ray marah, tapi ternyata Ray malah mengajakku yang membuatku senang mendengarnya.
__ADS_1