
Sepanjang malam aku benar-benar menikmati kemesraan ini bersama dengan Lyraen bahkan Lyraen terlihat sangat menyayangiku dan takut kehilanganku. Aku menatap Lyraen dan sesekali mengusap lembut pipinya yang penuh dengan peluh.
"Ada apa sayang?" Ucap Lyraen pelan.
"Tidak ada."
"Mmm aku ingin bertanya sesuatu padamu sayang."
"Bertanya apa?"
"Kan kamu ingin aku tetap bersamamu bukan?"
"Ya pastinya aku ingin terus bersamamu."
"Tapi kan kita organisasi yang berbeda dan juga bagaimana caranya agar aku bisa terus bersamamu kalau kamu tidak bersamaku?" Tanyaku pelan dan Lyraen menghela nafasnya pelan.
"Aku tahu dan itu yang aku takutkan. Target tugasmu Ryraen kan untuk saat ini dan aku takut kamu terperangkap cintanya dan meninggalkanku!" Ucap Lyraen serius dengan tangan yang sangat bergetar.
"Kamu juga target tugasmu seorang wanita dari wilayah bayangan bukan? Lalu kamu kira aku tidak takut?" Tanyaku pelan dan Lyraen langsung menciumku lembut.
"Tenang saja sayang, aku milikmu jadi aku tidak akan..."
"Aku tidak percaya! Kau membunuhku karena wanita lain dan...mmmppphhh..."
"Sayang dengar, aku sudah berjanji padamu bukan dan aku tidak akan menyakitimu istriku.."
"Aku tidak percaya dan aku tidak akan mengijinkanmu melakukannya!" Protesku kesal.
"Tapi kan..."
"Jika kau ingin melakukannya maka aku harus bersamamu!" Ucapku dingin.
"Tapi kan... Hmmm baiklah kamu boleh bersamaku tapi jika aku menyakiti hatimu maka kamu hanya boleh menghukumku setelah semua selesai bagaimana?"
"Apa kamu akan menggoda wanita itu seperti ini?" gumamku menatap Lyraen dingin.
"Hmmm ya benar..." desah Lyraen pelan dan aku hanya menatapnya dingin.
"Tapi... Tapi aku tidak akan meninggalkanmu istriku aku hanya melakukan hanya semata-mata karena tugas dan..."
"Tidak masalah tapi kau juga jangan marah jika aku melakukan hal yang sama."
"Tidak boleh! Kau tidak boleh melakukannya!"
"Kenapa? Asalkan aku tidak memiliki anak dengannya tidak masalah bukan?"
"Tapi kau milikku!!!" Protes Lyraen kesal dan aku hanya menghela nafasku pelan.
"Hmmm aku tahu tapi kamu melakukannya juga jadi anggap saja kesalahan kita impas jadi tidak ada hukuman bagaimana?"
"Tapi kan..."
"Tidak ada tapi! Jadi bagaimana?"
"Hmmm baiklah aku setuju dengan syarat kau setiap malam harus tidur denganku apapun yang terjadi dan ceritakan semuanya padaku bagaimana?" Ucap Lyraen menatap mataku serius.
"Baik aku setuju, tapi jangan kau perlihatkan kalau kau suamiku!" Ucapku menggigit leher Lyraen dan mengucapkan mantra terlarang yang aku pernah pelajari di kehidupan sebelumnya.
__ADS_1
"Uuuggghh s-sakit a-apa yang kau mmmppphhh..." rintih Lyraen pelan tapi aku langsung membungkam bibirnya yang membuat Lyraen merintih kesakitan.
Disaat mantra terlarangku sudah berhasil aku lakukan muncul sebuah tanda di leher Lyraen yang sama dengan tanda yang ada di leherku, aku melepaskan gigitanku dan menatap wajah Lyraen yang penuh dengan air mata, aku mengusap kedua pipinya dan mencium keningnya.
"Maaf aku harus melakukan ini..." gumamku pelan dan Lyraen hanya terdiam sambil memelukku erat.
"Apa kamu marah? Kalau kamu marah maka..."
"T-tidak, tidak apa, aku tidak marah, asalkan kamu tidak meninggalkanku Raelyn..." gumam Lyraen pelan dan menciumku lembut.
"Apa itu sakit?" Tanyaku pelan dan Lyraen menganggukkan kepalanya pelan.
"Maaf ya suamiku..." gumamku pelan dan muncul sebuah kalung yang sama denganku terpasang di leher Lyraen.
"Kamu mengikatku ya?" Tanya Lyraen pelan dan aku menganggukkan kepalaku.
"Apa kamu keberatan?"
"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali..." gumam Lyraen pelan.
"Oh baiklah..." gumamku mempermainkan Lyraen yang membuatnya terkejut.
"Raelyn astaga kau kenapa uuugghhh..."
"Tidak ada aku hanya ingin bermain."
"Jangan mengundang nafsuku dan..."
"Apa aku peduli?" Ucapku dingin dan kembali mempermainkan Lyraen.
"Tapi aku uuuggghhh... Kamu benar-benar nakal sayang!" Gerutu Lyraen mendorongku dan mempermainkanku.
"Biarlah aku uuugghhh s-sakit!!" rintihku pelan dan Lyraen tidak memperdulikannya.
"Lyraen aku... Aku..." gumamku menggenggam erat bahu Lyraen dan Lyraen hanya tersenyum dingin kearahku.
"Kamu benar-benar istriku yang paling cantik, aku tidak sabar untuk menjadi ayah dari anak-anak kita..." desah Lyraen menjatuhkan tubuhnya ke tubuhku dan aku hanya memeluknya sambil mengusap lembut rambutnya yang penuh dengan peluh.
"Kamu capek?"
"Yaahh aku... lelah..." desah Lyraen pelan.
"Benarkah? Padahal hanya beberapa permainan saja loh."
"Kita sudah sepuluh kali bermain dalam semalaman bagaimana aku tidak capek!" Gerutu Lyraen kesal.
"Benarkah? Pantas saja perutku terasa aneh..." gumamku pelan.
"Sebagian jiwaku ada di tubuhmu bagaimana tidak aneh..."
"Bukan maksudku aku merasa kalau aku sedang hamil..." gumamku pelan.
"Benarkah? Setelah pertemuan ini kita harus memeriksakannya!" Ucap Lyraen senang.
"Baiklah, tumben kau terlihat senang?"
"Bagaimana aku tidak senang jika kau mengandung anakku?"
__ADS_1
"Tapi awas saja kalau kau terperangkap ucapan wanita-wanita itu dan membunuh anakmu!" Ucapku dingin.
"Ya sayang aku berjanji padamu. Aku tidak akan menyia-nyiakan anak kita dan juga pertemuan kita adalah pertemuan yang akan inginkan sejak dulu..." gumam Lyraen mencium keningku dan memelukku erat.
"Hmmm oh ya ini pukul berapa?" Tanyaku pelan.
"Ini sudah pukul 10 pagi, kenapa?"
"Eehh pertemuannya akan segera dimulai dan uuggghhh..." rintihku pelan saat Lyraen menggigit lembut leherku.
"Tunggu sebentar, aku sangat haus."
"Oh baiklah..." desahku pelan dan mengusap rambut Lyraen lembut.
Krrriiiiinnnggg
Tiba-tiba ponselku berbunyi dan saat aku membaca tulisan di layar ponselku ternyata Fadil yang meneleponku, aku segera mengangkatnya dan Lyraen langsung merebut ponselku.
"Telepon dari siapa?" Ucap Lyraen menatap ponselku.
"Wakilku..."
"Oh, hidupkan speakernya! Ucap Lyraen dingin dan aku memencet speakernya.
"Halo Sani! Kau dimana?" Tanya Fadil serius.
"Ada apa?"
"Pertemuan sudah di mulai sejam yang lalu tahu!"
"Biarkan, kak Fadil saja yang mengurusnya dulu nanti..."
"Tidak begitu loh! Disini ada musuh yang menyandera kita tahu!" Protes Fadil kesal.
"Menyandera? Bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut.
"Kamu segera... Tuuutt... Tuuuuttt... Tuuuttt..."
"Halo kak Fadil! Haloo!!" Teriakku kencang tapi telepon Fadil langsung mati.
"Ada musuh ya?" Tanya Lyraen pelan.
"Ya, ayo kita kesana nanti... Mmmppphhh.." gumamku pelan dan Lyraen menciumku lembut.
"Kita pikirkan dulu caranya dan jangan terlalu terburu-buru sebelum memiliki rencana."
"Tapi kan..."
"Kita lihat dulu situasinya sebelum bertindak!" Ucap Lyraen memakaikanku pakaian.
"Baiklah..." desahku segera memakai pakaianku dan pergi keluar bersama dengan Lyraen.
Lyraen mengajakku bersembunyi dan kami mengamati sekitarku. Di seluruh bangunan aku melihat banyak orang berjubah yang sedang berlalu lalang di sekitar bangunan ini.
"Hmmm dimana kak Fadil ya..." gumamku menatap sekitar ini.
Aku dan Lyraen mengendap-endap mengamati sekitarku dan di sebuah ruang pertemuan aku melihat Fadil dan beberapa ketua yang sedang meringkukkan badannya dan di sekitarnya ada orang yang sedang mengarahlan senjatanya kearah mereka.
__ADS_1
"Hmmm..." desahku melemparkan beberapa jarum beracunku kembali bersembunyi. Aku menggunakan racun terbaru yang aku racik sendiri dan ingin melihat seberapa berbahayanya racunku ini.