
Setelah mendapatkan informasi dari sesepuh organisasi tertinggi membuatku merasa bersalah kepada Rhys apalagi dia harus menjalani hukumanku yang berat selama delapan tahun lamanya dan bahkan masa mudanya sangat tersiksa seperti itu hanya karena aku.
Sebelum kembali ke kamar, aku pergi ke dalam toilet, melukai lenganku dan memasukkan darahku ke dalam sebuah kantong darah khusus yang berbentuk kapsul. Setelah memasukkannya ke dalam beberapa kapsul itu aku segera menyembunyikannya dan kembali ke dalam kamar tapi belum sampai di dalam kamar aku dikejutkan suara langkah kaki yang mengikutiku sedari tadi.
"Kamu... kemana saja?" Tanya Rhys di belakangku, aku menghentikan langkahku dan menghela nafas panjang.
"Tidak kemanapun kok."
"Kenapa tanganmu berdarah?" Tanya Rhys menggenggam erat tanganku.
"Tidak kenapa-napa kok."
"Haish apa kamu mencoba bunuh diri lagi?"
"Tidak kok.."
"Haish..." desah Rhys menarikku pergi.
"Eeehg kamu mau membawaku kemana?" Tanyaku terkejut.
"Udah ikut aja!" Ucap Rhys mesuk ke dalam sebuah kamar dan mengambil kotak obat untukku.
"Kita sembuhin dulu lukamu itu..." gumam Rhys mengobati lukaku dengan hati-hati, aku menatap wajah Rhys serius dan terlihat kalau wajah Rhys sanagt pucat.
"Hmmm Sebastian... kenapa kamu sangat khawatir sepertj itu? Padahal kau dulu sama sekali tidak peduli denganku saat tahu aku mencintaimu..." gumamku pelan.
"Aku ya... hanya ingin."
"Hanya ingin? Masa kau karena pernikahan kontrak itu saja bisa melakukan apapun kepadaku bahkan kau mau menggantikanku menerima hukumanku?"
"Apa sesepuh organisasi tertinggi yang menceritakannya padamu?" Ucap Rhys menatapku dingin.
"Ya, aku terkejut mendengar hal itu padahal kamu pria yang tidak peduli sama sekali padaku saat kita kecil."
"Hanya kebetulan saja..."
"Kebetulan? Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini Rhys!" Ucapku menatap Rhys dingin tapi Rhys hanya menghela nafas dalam.
"Sudah selesai, istirahatlah nanti aku ajak ke markasku..." ucpa Rhys berjalan pergi, aku langsung menariknya dan mendorongnya ke tampat tidur.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rhys terkejut.
"Hanya bertanya padamu..." gumamku terduduk di perut Rhys dan menatapnya serius.
"Kenapa kau bisa sangat berubah karena pernikahan kontrak ini? Apa yang kau rencanakan sebenarnya?"
"Aku tidak merencanakan apapun, aku hanya..."
"Hanya apa?" Tanyaku dingin.
"Aku hanya mencintaimu, hanya itu!"
"Mencintaiku? Sejak kapan kau mencintaiku padahal kau menolakku berulang kali!" Ucapku dingin.
"Sejak... terakhir kali melihatmu."
"Melihatku?"
"Ya, melihatmu di danau alam sana... aku benar-benar jatuh cinta melihat wajahmu yang cantik itu ditambah saat aku tahu kita di ikat kontrak perjodohan ini."
"Benarkah?"
"Ya, buat apa aku membohongimu."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu mau menggantikan hukumanku?"
"Karena... aku tidak ingin kamu menderita saja."
"Tapi kan kau ingin aku menderita bukan?"
Memang tapi aku lebih suka kau menderita karena hukumanku lagi pula... mungkin kamu tidak akan sanggung menahan hukuman penjara bawah tanah dan diasingkan di hutan terlarang yang sama sekali tidak ada makanan yang bisa dimakan."
"Lalu kau makan apa?" Tanyaku serius.
"Aku sama sekali tidak makan, aku dulu bertubuh gemuk tapi setelah hukuman itu beratku turun berkilo-kilo."
"Astaga apa kau gila tidak makan sama sekali! Lalu kalau kamu lapar apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya merebus batu saja."
"Merebus batu? Lalu kamu apakan batu itu?
"Aku menganggap batu itu adalah makanan dan ya setelah mendidih aku membuang batu itu dan hanya meminum air itu..." gumam Rhys tersenyum kepadaku sedangkan aku hanya menatap Rhys dengan tatapan terkejut.
"Tapi tidak apa-apa kok aku senang karena..." aku langsung memeluk Rhys erat yang membuatku terdiam membalas pelukanku.
"Kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau siksa dirimu? Kenapa kau lakukan itu!!!" Teriakku kencang.
"Aku hanya senang melakukannya demi kamu, aku tidak ingin kamu merasakan penderitaan yang seperti itu, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai suamimu saja."
"Tapi dengan melakukan hal gila itu? Kau punya penyakit Rhys! Kau harus memikirkan keadaanmu! Kau tidak bisa sok kuat seperti itu terus!"
"Aku tidak apa kok, aku merasa baik-baik saja."
"Baik-baik saja? Kau sama sekali tidak meminum darahku kan? Kau tidak ingin darahku kan? Kenapa kau tidak ingin?"
"Bagaimana kamu tahu aku tidak meminum darahmu?"
"Aku tahu dan sekarang kau harus meminum darahku!"
"Kenapa tidak mau? Nanti penyakitmu parah tahu!"
Yang membutuhkan darah itu kamu bukan aku jadi minumlah darahku!"
"Aku tidak mau! Aku sudah meminum banyak darahmu semalam!" Protesku menepis tangan Rhys tapi Rhys hanya menghela nafasnya panjang.
"Hmmm jangan berikan darahmu padaku, aku tidak apa-apa sungguh!"
"Kau bohong!"
"Aku tidak berbohong Sani! Aku tidak ingin!" Ucap Rhys menatapku serius, aku segera mengambil kapsul tadi dan memasukkannya ke dalam mulutku.
"Hei apa yang kau masukkan di... mmmppphhh..." aku langsung mencium Rhys yang membuat kapsul tadi di telan semua oleh Rhys.
"Uuhhhuukk..uuhhhuukkk... Apa yang kau berikan padaku tadi!" Protes Rhys menatapku kesal.
"Hanya beberapa butir kapsul khusua yang berisi darahku saja!" Ucapku dingin. Tiba-tiba mata Rhys berubah warna menjadi merah darah dan Rhys langsung mendorongku dan menekan tubuhku dengan kuat.
"Sudah aku katakan... jangan berikan darahmu padaku, kenapa kau benar-benar bandel!" Ucap Rhys dingin, suaranya benar-benar berbeda dengan Rhys yang aku kenal selama ini. Sebenarnya aku takut dengan Rhys yang sekarang tapi aku hanya terdiam mencoba bersikap biasa saja.
"Aku hanya ingin."
"Ingin? Kau ingin terbunuh karena kehabisan darah apa!!"
"Kehabisan darah tidak ada apa-apanya bagiku dari pada penderitaanmu melakukan hukumanku itu..." gumamku membuka perban di tanganku dan darahku mengalir dengan yang membuat Rhys terdiam sambil meneguk ludahnya.
"Kamu mau atau tidak? Kalau tidak... uugghhhh..." rintihku pelan saat Rhys menggigit leherku kuat.
__ADS_1
"Hmmm minumlah kak Sebastian, aku tidak masalah kok..." desahku memeluk erat Rhys dan Rhys hanya terdiam menggenggam erat tanganku.
Tiba-tiba ada seorang pasangan yang lewat dan tidak sengaja melihat kami dan Rhys memnunuh mereka berdua hanya menggunakan beberapa barang yang ada di kotak obat.
"Waah hebat! Padahal dia sama sekali tidak melihat targetnya loh, kenapa dia bisa melakukannya?" Gumamku dalam hati.
"Ciihh dasar pengganggu!!" gerutu Rhys kesal dan kembali meminum darahku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi keras, aku segera mengambil ponselku dan mengangkat telepon itu.
"Halo Sani!" Ucap seorang pria dingin.
"Oh mmm ada apa kak?" Tanyaku pelan.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, kamu baik-baik saja kan?"
"Yaah aku baik-baik saja kok."
"Oh hmmm syukurlah, kami snagat mengkhawatirkanmu!"
"Aku tidak apa kakak, oh ya dimana ayah?"
"Ada, kamu mau meneleponnya?" Tanya Alvaro serius.
"Ya, sebentar saja."
"Oh baiklah..." desah Alvaro pelan dan terdiam beberapa menit.
"Halo anakku, ada apa?" Tanya ayah pelan.
"Ayah... boleh aku bertanya sesuatu."
"Boleh, bertanya apa?"
"Ayah... kenapa ayah menjodohkanku dengan dua pria?" Tanyaku pelan.
"Dua pria? Maksudmu Sebastian dan Sanjaya?"
"Ya, kenapa ayah menjadohkanku dengan mereka?" Tanyaku serius.
"Hmmm sebenarnya ayah memang menjodohkanmu dengan Sebastian karena kau mencintai Sebastian di saat kamu kecil tapi Sebastian tetap sajae mnolak yang membuat ayah bersepakat dengan ayahnya untuk menjodohkan kalian, kalau Sanjaya... hanya perjodohan karena balas budi saja.
"Jadi ayah sebenarnya menjodohkanku dengan siapa!" Tanyaku serius.
"Itu... tergantung padamu, kamu ingin memilih siapa."
"Apa ayah tidak..."
"Nak, ayah hanya melakukan semampu ayah. Untuk pilihan, kamu yang harus memilihnya."
"Mmm baiklah aku mengerti, mmm ayah boleh bertanya sesuatu?"
"Bertanya apa anakku?"
"Ayah jika suatu hari nanti aku membunuh Rani apa ayah akan membenci iku?" Tanyaku pelan.
"Kalau itu... kamu yang akan melakukannya, kamu pasti memiliki dendam pada Rani karena terbunuhnya Lani tapi ya itu tergantunh kamu, ayah tidak akan membencimu paling ayah uang akan sedih karena tidak bisa mendidik anak ayah..." gumam ayah pelan.
"Kalau begitu maaf aku jika melakukannya ayah."
"Ya tidak apa, oh ya kalau senggang pulang kerumah ya."
"Baik ayah aku akan segera pulang..." gumamku pelan dan dan telepon kamipun berakhir.
__ADS_1
"Siapa itu?"
"Hanya ayah saja...".desahku memejamkan kedua mataku dan terdiam memikirkan rencana apa yang harus aku lakukan untuk mencari Rani walaupun begitu apa akan berhasil nantinya aku tidak yakin.