
Selama semalaman Ray benar-benar menyiksaku yang membuat tubuhku terasa sangat sakit, aku membelakangi Ray dan menutupi mukaku dengan bantal.
"Kenapa kamu membelakangiku? Kamu marah?" tanya Ray dingin.
"Menurutmu? Kau menggigitku membuatku sakit tahu!" protesku kesal.
"Kan sudah aku bilang aku cemburu, itu hukuman yang biasa dari pada hukumanku untuk bawahanku."
"Kau menyamakanku dengan bawahanmu!" protesku kesal Ray menarik bahuku dan menatapku serius.
"Sudah aku katakan kan, aku akan memberikanmu hukuman kalau kamu bermain pria walaupun di belakangku istriku yang nakal!"
"Tapi kan aku tidak..."
"Aku tidak peduli, kamu istriku seharusnya kamu tidak membiarkan pria itu menciummu!" protes Ray kesal, menatap wajah Ray yang menakutkan membuatku menundukkan kepalaku aku benar-benar tidak berani menatap wajahnya.
"Ma...maaf aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun...cekikan Bintang sangat kuat, kalau aku bergerak pasti aku benar-benar mati. Leherku sampai sekarang masih terasa sakit..." gumamku pelan, Ray mengangkat daguku dan melihat leherku.
"Lehermu ternyata benar-benar membiru..." gumam Ray terduduk di sampingku dan mengambilkan obat untukku.
"Aku obati ya sayang..." gumam Ray mengoleskan obat gel itu di leherku.
"Gak mau sakit!"
"Nanti tambah parah loh sayang!"
"Gak mau ya gak mau!" protesku menutupi leherku dengan tanganku.
"Sayang... nanti peredaran darahmu tidak lancar loh!"
"Aku gak mau ya enggak! Kalau mau nyiksa aku siksa aja!" teriakku terus menutupi leherku.
"Kamu ini!!! Hmmm..." desah Ray mengatur nafasnya dan memelukku erat.
"Maaf sayang kalau aku terlalu kasar kepadamu, aku benar-benar cemburu melihatmu dicium pria itu, Ma...maafkan aku sayang..." gumam Ray mengusap lembut rambutku tapi aku hanya terdiam.
"Aku obati ya sayang..." gumam Ray menatapku dan aku hanya diam sambil menggelengkan kepalaku.
"Aku obati tubuhmu juga sayang, kalau tidak nanti membekas."
"Gak apa, kalau aku semakin tua dan semakin jelek kamu juga akan membuangku!" gerutuku pelan.
"Hmmm tidak lah sayang, kamu milikku...setua apapun dan sejelek apapun kamu, kamu tetap istriku apa kamu mengerti?"
"Aku tidak...uuhhhuukkk...uuhhuukkk.."
"Sayang aku obati ya, lehermu benar-benar membiru! Nanti tambah sakit loh! Aku obati ya..."
"Enggak mau!"
"Aku beliin eskrim deh."
"Aku bukan anak kecil tau!" protesku kesal.
"Aku ajak jalan-jalan mau?"
"Gak mau!"
"Kamu maunya apa?" tanya Ray bingung. Aku memeluk Ray erat dan Ray hanya menghela nafasnya.
__ADS_1
"Ya aku tetap milikmu kok sayang, aku tidak akan marah atau menghukummu lagi kecuali kamu benar-benar melakukan dengan kesadaranmu sendiri, bagaimana?" gumam Ray meyakinkanku, aku melepaskan pelukanku dan terduduk di samping Ray.
"Baiklah, kalau begitu kamu boleh mengobatiku..." gumamku pelan dan Ray mengoleskan obat gelnya.
"A...aduh sakit..." rintihku pelan.
"Tunggu sebentar, sedikit lagi selesai kok sayang..." gumam Ray membalut tubuhku dengan perban, saat aku menatap ke kaca aku benar-benar menjadi seperti mumi.
"Sudah, apa masih sakit?" tanya Ray menatapku khawatir.
"Ya...masih terasa sakit."
"Mmm ya sudah tahan saja dulu ya sayang. Sebentar lagi sembuh kok..." gumam Ray kembali memakaikan pakaianku.
"Oh ya apa kamu akan bekerjasama dengan pria itu?" tanya Ray serius.
"Aku tidak tahu, aku belum memikirkannya. Tubuhku sangat sakit sampai aku tidak bisa berfikir..."
"Kalau begitu tidak perlu memikirkannya, kamu sedang hamil anak kita jadi kamu harus menjaga kesehatan untuk anak kita sayang..." gumam Ray mencium keningku lembut.
"Hmmm kamu sangat bermuka dua kak Ray, tadi menyiksaku habis-habisan sekarang kau menyuruhku untuk menjaga kesehatan!" gerutuku kesal.
"Maaf istriku, aku kalau cemburu dan kesal seperti itu. Bahkan aku dulu sering membunuh wanita yang menyakitiku..."
"Tapi aku akan hamil kak Ray seharusnya kamu..." protesku kesal, Ray segera memelukku erat dan menatapku serius.
"Aku kan tadi sudah minta maaf, aku benar-benar cemburu sampai aku lupa kalau kamu akan mengandung anakku nantinya. Maafkan aku sayang..." gumam Ray pelan.
"Hmmm...baiklah..." desahku mengalah.
"Apa kamu masih marah?" tanya Ray pelan.
"Sedikit..." gumamku pelan.
"Memasakkan apa?" tanyaku terkejut.
"Makanan untukmu, dari kemarin kamu belum makan kan. Ini sudah siang hari jadi aku akan memasakanmu sarapan..." gumam Ray berjalan ke dapur yang ada di dalam kamar dan benar-benar memasakanku sesuatu. Tubuhku yang dipenuhi perban membuatku tidak bisa membantu apapun.
Selama masak aku mencium aroma makanan yang sangat lezat bahkan membuatku terasa sangat lapar.
"Kamu masak apa?" tanya terduduk di kursi makan.
"Aku masak sayur, kentang rebus dan ikan salmon pedas..." gumam Ray meletakkan satu piring yang berisi makanan lezat.
"Oh baiklah." aku segera memakannya walaupun sangat kesulitan dengan tubuh terperban seperti ini aku tetap berusaha memakannya, dan seperti dugaanku kalau makanan yang di buat Ray sangat enak dan nikmat berbeda dengan masakanku. Setelah makan satu suapan aku meletakkan sendokku karena leherku sangat sakit yang membuat tanganku kaku.
"Apa masakanku tidak enak sayang?" tanya Ray menatapku sedih.
"Ti...tidak, makananmu sangat enak kak Ray. Tapi...aku kesusahan untuk makan sendiri, leherku sangat sakit..." gumamku pelan.
"Aku suapin mau?" tanya Ray serius, aku menganggukkan kepalaku dan Ray langsung menyuapiku.
"Bagaimana sayang?"
"Masakanmu sangat enak kak Ray."
"Oh benarkah? Aku senang mendengarnya..." gumam Ray mencium keningku dan menyuapiku lagi sampai habis.
"Bagaimana kamu bisa masak makanan dengan rasa yang sempurna seperti ini?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Aku sudah terbiasa hidup sendiri dengan Soni. Dimanapun aku harus bertahan hidup sendiri, lagi pula setelah seluruh keluargaku menghilang aku hanya bersama dengan Soni dan adikku saja."
"Menghilang?" tanyaku terkejut.
"Ya, waktu aku kecil disaat aku bangun tidur aku terkejut tidak menemukan siapapun kecuali dua adik kembarku dan adikku perempuan yang sedang tertidur di kamar, awalnya aku mencurigai adikku tapi saat aku pikir-pikir tidak mungkin bayi umur 7 tahun dan 5 tahun yang bisa menghilangkan penghuni satu rumah dalam sekejab..."
"...Aku mencoba mencari mereka tidak menemukan sama sekali bekas darah atau perlawanan di rumah bahkan sampai sekarang aku tidak ketemu sama sekali." gumam Ray meletakkan piring di tangannya.
"Selama hidup dengan adikku, aku sangat kesal dengan ketiga adikku sangat manja dan sangat lemah, apapun tidak bisa dikerjakan sendiri dan apapun meminta tolong aku yang membuatku kesal, itulah kenapa aku tidak mau kalau nantinya aku punya istri yang lemah," gumam Ray mencium pipiku lembut.
"Oh mmm apa kamu tidak mendapatkan informasi keluargamu sama sekali?" tanyaku penasaran.
"Tidak, mereka menghilang tanpa jejak."
"Lalu adik perempuanmu sekarang dimana?" tanyaku penasaran.
"Tidak tahu."
"Tidak tahu?" tanyaku terkejut.
"Ya dia menghilang setelah aku marah besar kepadanya."
"Marah besar? Kenapa?" tanyaku terkejut.
"Dia suka bermain pria yang membuatku kesal melihatnya, apalagi dia benar-benar tergila-gila dengan mantan suamimu...Han!" gerutu Ray kesal.
"Tergila-gila dengan Han? Siapa nama adikmu?" tanyaku terkejut.
"Namanya Nana Khun."
"Tunggu dulu...Nana? Dia...adikmu?" tanyaku terkejut.
"Ya Nana adik perempuanku, apa kamu mengenalnya?"
"Bisa dibilang seperti itu, dia suka banget bermain dengan pria. Saat aku masih dengan Han, Nana selalu merebutnya. Seingatku aku pernah melukainya deh entah dia masih hidup atau enggak..." gumamku pelan.
"Oh..." desah Ray beranjak dari kursinya dan mencuci piring.
"Mmm apa kamu marah sayang?" gumamku pelan, Ray menghela nafas panjang dan meletakkan piring di tempatnya.
"Tidak, walaupun dia adikku tapi aku tidak akan menganggapnya sebagai adik."
"Kenapa" tanyaku terkejut.
"Dulu dia melakukan satu kesalahan yang membuatku sangat marah, hampir saja aku membunuhnya tapi kedua adik bodohku menyelamatkannya dan menghilang sampai sekarang."
"Kesalahan? Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Kenapa kamu sangat ingin tahu istriku?" gumam Ray menatapku serius.
"Aku istrimu jadi kamu harus memberitahukanku!"
"Misimu di kapal pesiar saja tidak kau ceritakan."
"Eeeh mmm baiklah aku akan menceritakannya, jadi di kapal itu...." gumamku dan Ray langsung membungkam mulutku sambil menatapku serius.
"Nanti dulu ceritanya, aku ingin ke kamar mandi sebentar..." gumam Ray segera berlalu ke kamar mandi.
"Heii... haish astaga.." desahku membuang mukaku.
__ADS_1
"Nana itu adiknya Ray ya? Apa Nana tau kalau aku dijodohkan dengan Ray ya?" gumamku penasaran.
Banyak kenyataan yang baru aku ketahui, selama hidupku aku benar-benar tidak mengerti tentang kenyataan di luar dunia mafia, mungkin dengan cerita dari Ray aku bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi.