Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 163 : Dendam Apa Sebenarnya?


__ADS_3

"Fadil.. dimana Sani?" Tanya ayah yang berlari kearah kami.


"Mmm itu tuan, dia sedang bersama pangeran ke tujuh."


"Pangeran ketujuh?" gumam ayah bingung, ayah menatap kami dan menghela nafasnya panjang.


"Huufftt syukurlah, aku kira dia benar-benar akan pergi menghilang..." desah ayah mengatur nafasnya pelan


"Oh ya tuan kemana si kembar itu dan Revaro?"


"Tuh mereka bertarung."


"Bertarung?" Tanyaku terkejut.


"Ya gara-gara melihatmu seperti itu membuat mereka bertarung dengan menakutkan."


"Bertarung!!" Ucapku pelan dan berusaha berdiri.


"Sayang... kamu mau kemana?" Ucap Saputra memegang tubuhku.


"Aku... aku ingin melerai mereka Saputra... aku..." gumamku serius, tanpa basa basi Saputra menggendongku di belakang punggungnya dan berjalan pergi.


"Aku akan mengantarkanmu sayang..." gumam Saputra berjalan melewati jalan setapak tanpa menggunakan alas kaki sama sekali."


"Saputra... kenapa kamu tidak memakai sepatu?"


"Aku ya..." gumam saputra menghentikan langkah kakinya sambil menatap kedua kakinya.


"Ya aku sudah bertahun-tahun tidak menggunakan alas kaki, jadi aku kemarin tidak sempat memakainya..." gumam Saputra tersenyum manis kearahku dan kembali melangkahkan kakinya.


"Oh mmm Saputra... maaf ya... maaf kalau aku..."


"Hmmm untuk apa kamu minta maaf Raelyn, kamu tidak bersalah!"


"Tapi Saputra..."


"Yang seharusnya minta maaf aku, kalau saja aku tidak punya kutukan ini pasti aku bisa memenangkan perang mafia di masa lalu. Tapi... aku terlalu lemah sehingga aku tidak bisa melindungimu. Mendengar masa lalumu yang kelam membuatku sangat sedih Raelyn, aku sangat ingin melindungimu."


"Oh mmm tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri."


"Tidak bisa! Aku suamimu jadi aku.. "


"Kita belum menikah Saputra!!!" Teriakku kesal, Saputra menurunkanku dan memasangkan sebuah cincin berwarna emas ke jari manisku.


"Sekarang... kamu istriku dan itu kenyataannya..." gumam Saputra tersenyum kearahku dan kembali menggendongku.


"Tapi kan..."


"Tidak ada tapi, kamu tidak bisa membantah Raelyn!" Ucap Saputra dingin dan kembali melangkahkan kakinya.


"Hmmm terserahlah!" Desahku memeluk Saputra dari belakang dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Tidak lama kami sampai di halaman kerajaan dan aku melihat sebuah pertarungan sengit antara kedua kembaranku dengan Revaro. Aku langsung turun dari gendongan Saputra dan berusaha berlari ditengah mereka.


"Kakak hentikan!" Teriakku kencang dan senjata Revaro dan Raesya berhenti tepat di leherku.


"Raelyn?" Ucap Raesya terkejut.


"Sani?" Ucap Revaro terkejut.


"Kakak... hentikan bertarungan kalian tahu... nanti... uuhhhuukk...uuhhuukkk..." gumamku kembali terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Adikku? Kau kenapa?" Tanya Revaro dan Raesya bersamaan.


"Minggir kalian!" Teriak Saputra langsung memelukku erat sedangkan aku terus saja terbatuk-batuk.


"Minumlah darahku lagi Raelyn!"


"Tidak."


"Kenapa kamu menolak?"


"Aku tidak bisa meminum darah sembarangan!"


"Tapi kan... aku mohon padamu, darahku akan membantumu kok... percayalah padaku..." gumam Saputra memelukku erat.


"Haish terserahlah..." desahku kembali meminumnya.


"Heeei Raelyn kenapa kamu..." teriak Revaro berusaha memisahkanku dengan Saputra


"Sudahlah Revaro, tidak apa."


"Tapi kau seorang..." gerutu Revaro terus berusaha memisahkanku dengan Saputra tapi Saputra terus menahan tubuhku.


"Revaro! Sudah aku bilang kan tidak apa!" Protes Saputra memelukku erat.


"Tapi kan..."


"Dia istriku dan aku mengijinkan untuk melakukannya!" Ucap Saputra dingin.


"Istri? Kau saja baru bertemu dengan dia dan kau sebut adik kecilku istrimu?"


"Aku sudah pernah bertemu dengannya bahkan... jika saat itu kembarannya tidak melakukan ritual terlarang pasti aku sudah memiliki anak saat itu!" gerutu Saputra menatap Raesya dingin.


"Aku sudah melalui masa kelamku bertahun-tahun, setelah aku terbebas dari masa kelamku dan bertemu dengan Raelyn tapi kalian berdua malah memisahkanku dengan Raelyn yang membuatku kesal!" Gerutu Saputra kesal, Saputra bersiap untuk memukul Raesya tapi dengan cepat aku menarik pakaiannya dan menggelengkan kepalaku.


"Jangan... mereka kembaranku..." gumamku pelan.


"Hmmm baiklah..." desah Saputra pelan dan memelukku erat.


"Haish untung tidak ada yang terluka, kalian bertiga ini masih saja suka bertengkar!" gerutu ayah kesal.


"Ciihh..." gerutu ketiga saudaraku membalikkan badan mereka bersamaan.


"Kalian masih marah karena masa lalu?" Tanya ayah pelan tetapi ketiga saudaraku hanya terdiam.


"Kenapa diam? Jawablah!" Ucap ayah serius.


"Tidak ada yang perlu di jawab..." Ucap Raesya melirik ayah dengan tatapan dingin.


"Itu perlu dan..."


"Dan ucapan kami... tidak akan pernah kami tarik kembali!" Ucap ketiga saudaraku bersamaan dan kembali menghilang.


"Hmmm..." desah ayah pelan.


"Eehh... kemana mereka?" Tanyaku menatap Saputra serius.


"Yaah mereka kembali bersembunyi."


"Bersembunyi? Kenapa mereka melakukan itu?" Tanyaku terkejut, aku melihat wajah ayah yang sedih dan ayah berjalan pergi.

__ADS_1


"Ya karena masalah namamu di ganti menjadi Sani dan karena masalah lainnya yang tidak dimaafkan ketiga saudaramu."


"Tapi kan pasti ada alasan ayah melakukan itu Saputra!"


"Memang tapi mereka bertiga tidak memaafkannya apalagi Raesya, dia benar-benar dendam dengan keluarga kalian. Kau lihat kan bagaimana lirikannya tadi?"


"Ya... sedikit menakutkan..."


"Memang, dia yang sangat dendam karena perubahan nama itu tapi kalau Revaro dendam karena hal yang lain."


"Emang kak Revaro membenci ayah karena apa?"


"Karena masa kecilnya saja."


"Ya masalah apa?" tanyaku penasaran.


"Nanti kamu akan tahu sendiri..." gumam Saputra kembali menggendongku.


"Sudah hampir pagi dan kamu harus tidur!"


"Tapi... acaranya?"


"Acaranya sudah selesai!" Ucap Saputra dingin sambil terus menggendongku.


"Mmm Saputra, bisakah aku mencari saudaraku?"


"Tidak!"


"Kenapa tidak?" Tanyaku serius.


"Untuk apa kau ingin mencari mereka?"


"Mereka kembaranku! Aku hanya ingin bertemu kembaranku! Apa itu salah?" Tnyaku dingin.


"Tidak, tapi dengar sayang...mereka bertiga itu hebat dan sejak kehidupan sebelumnya bahkan kehidupan sekarang tidak ada yang bisa mengalahkan mereka!"


"Lalu kalau mereka hebat. kenapa kamu..."


"Walaupun begitu mereka sangat kejam, mereka berada di wilayah musuh yang terkenal misterius, licik dan kejam. Jadi aku tidak mau kamu dilukai mereka."


"Tapi tadi mereka terlihat sangat menyayangiku?" Tanyaku pelan.


"Kalau mereka menyayangimu pasti mereka akan membawamu dan mengajakmu sekalian tapi mereka pergi sendiri kan? Dan lagi mereka sangat licik, kelicikan mereka melebihimu mana tahu mereka ada maksud tersembunyi?"


"Kau jangan berprasangka buruk Saputra!" Protesku kesal, Saputra menurunkanku di atas sofa dan memberikanku sebuah artikel di atas meja, aku membaca artikel tersebut dan terkejut dengan isinya.


"I-ini..."


"Apa kau masih berkata aku berprasangka buruk kepada mereka?" Tanya Saputra menatapku dingin, aku menghela nafas panjang dan meletakkan artikel itu di meja.


"Baiklah... aku percaya perkataanmu..." gumamku memejamkan kedua mataku dan kembali berpikir. "Jadi mereka sudah berulang kali ingin membunuh ayah tapi karena mereka berbeda organisasi membuat mereka tidak bisa melakukan tujuan mereka ya, hmmm apa yang harus aku lakukan?" gumamku dalam hati.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Hanya sedikit pikiran yang menggangguku."


"Sudah jangan kamu pikirkan, lebih baik kamu tidur saja..." gumam Saputra menarik tanganku dan aku terjatuh di atas tempat tidur. Saputra memelukku erat dan tertidur di sampingku dengan imutnya.


"Hmmm... apa dendam yang di miliki ketiga saudaraku itu ya?" desahku dalam hati pelan. Aku memainkan kancing pakaian Saputra dan terdiam memikirkan hal itu saat ini.

__ADS_1


__ADS_2