
Kepala berat dan pusing terasa sangat menyiksaku yang membuatku susah membuka kedua mataku, di telingaku terdengar suara seseorang yang sedang membaca sesuatu. Saat aku membuka kedua mataku, aku melihat Lyraen sedang membaca suatu buku di tangannya sambil terduduk di sebelahku, aku mencoba terduduk dan membaca buku itu serius.
"Kamu sudah sadar?" Ucap Lyraen pelan.
"Yaahh begitulah..." gumamku merebut buku itu dan membacanya.
"Kau baru sadar loh sudah membaca hal yang membuat pikiranmu berat saja."
"Dari mana kau dapatkan buku ini? Ini buku tentang seluruh ketua mafia!" Ucapku serius.
"Aku raja kerajaan terkutuk, apapun yang aku inginkan jadi kenyataan dan ini hanya sebuah buku yang tidak ada gunanya bagiku."
"Kalau begitu buat aku saja!"
"Pakai saja."
"Eehhh serius?" Tanyaku terkejut.
"Ya, itu hanya salinan. Buku yang asli ada tersimpan rapi."
"Salinan? Berarti berbeda dengan yang asli?"
"Sama kok, hanya saja itu salinan saja. Karena yang asli ada tanda tanganku."
"Eeehh tanda tanganmu untuk apa?"
"Kau tidak membaca lencanaku?" Tanya Lyraen menatapku serius, aku langsung mengambil lencana dijubah dan terkejut kalau Lyraen juga merupakan dewan pengawas tertinggi organisasi.
"Jadi selama ini dewan pengawasnya kamu?"
"Ya benar."
"Di kehidupan sebelumnya?"
"Ya, tapi di kehidupan pertama aku hanya seorang raja saja. Aku menjadi dewan pengawas di kehidupan kedua hanya untuk mencoba mencarimu. Tapi ternyata mencarimu selama bertahun-tahun itu sangat sulit ya, kamu benar-benar pintar bersembunyi sampai aku sering kehilangan jejakmu."
"Yaah aku tidak pernah bertahan lama di suatu tempat hanya jika aku tidak sadarkan diri saja aku selalu lama menempati tempat itu."
"Benarkah? Lalu apa ada yang mencoba melukaimu disaat kamu gak sadar?" tanya Lyraen serius, aku menutup buku itu dan menghela nafas panjang.
"Yaah... Ada dan kebanyakan mencoba membunuhku tapi entah apa yang dilakukan Fadil sehingga aku selalu baik-baik saja dan Fadil nampak bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apapun."
"Benarkah? Kenapa dia sangat menyayangimu?"
"Katanya tanda terimakasih dia kepada ayah karena sudah menyelamatkannya di tengah pembantaian keluarganya tapi entahlah tanyakan sendiri kepadanya..." gumamku kembali berbaring dan memejamkan kedua mataku.
__ADS_1
"Kamu masih ngantuk?"
"Tidak, hanya ingin seperti ini saja..." gumamku menatap dinding di depanku dengan tatapan kosong.
"Apa kamu masih marah?"
"Entahlah, aku tidak tau apakah aku marah denganmu atau enggak hanya saja... aku merasa ada yang hilang di dalam jiwaku saja..." gumamku pelan.
"Hilang? Mungkin itu perasaanmu belum pulih setelah tidak sadar selama seminggu."
"Eehh tunggu? Seminggu?" Tanyaku terkejut.
"Yaah kau pingsan tapi seperti orang yang sedang tertidur, walaupun aku khawatir tapi kamu masih bernafas membuatku sangat tenang disisimu."
"Apa kau tetap disini selama seminggu?" Tanyaku terkejut.
"Ya tentu saja, aku menjagamu."
"Apa kamu tidak lelah?"
"Tidak, hanya berbaring dan duduk disini apa itu membuat lelah?"
"Ya kan hanya... haish terserahlah..." desahku pelan, aku mengambil buku catatanku dan menulis sesuatu di bukuku.
"Apa yang kamu tulis?"
"Daftar target? Target apa?"
"Target balas dendam tentunya."
"Balas dendam? Oh ya kalau butuh informasi pakai saja buku yang kamu pegang itu, ada banyak informasi di dalamnya tapi hanya dua orang dan mafianya yang tidak terdaftar."
"Dua orang? Siapa?" Tanyaku terkejut tapi Lyraen memghela nafas pelan.
"Aku dan satu orang lagi, dia orang yang dulu adalah teman dekatku di kehidupan yang lalu dan menjadi musuh di kehidupanku yang kedua."
"Kenapa bisa temen dekat bisa menjadi musuh?" Tanyaku menatap Layraen terkejut.
"Yaahh... kamu dulu adalah seorang wanita yang menjadi incaran seluruh mafia karena kecantikanmu dan kepintaranmu. Suatu hari kamu menjadi perebutan antara aku dan orang itu sampai kami berdua bertarung demi mendapatkanmu."
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Yaaah saat itu penyakitnya kembuh yang membuatnya mengalah memberikanmu untukku dan akhirnya kita menikah."
"Lalu. kenapa kalian menjadi musuh?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Karena aku membunuhmu, itu alasannya."
"Karena itu?" Tanyaku bingung.
"Ya, dia merasa bersalah padamu karena mengikhlaskan kamu menikah denganku sehingga kamu mati di tanganku. Orang itu sangat mencintaimu dan di saat kita sudah menikahpun dia sering mengawasimu. Mungkin dia tahu saat aku membunuhmu walaupun aku juga mati setelahmu tapi mungkin saja kebencian itu kembali muncul di kehidupan kedua."
"Benarkah? Kenapa dia bisa hidup kembali di kehidupan kedua?" Tanyaku penasaran.
"Aku tidak tahu, cuma saat aku mencarimu kehidupan kedua aku bertemu dengan dia dan dia terlihat sangat benci padaku. Dia bilang kalau dia menyesal memberikanmu padaku, dia ingin membunuhku karena kesalahanku sendiri tapi aku menolak dan aku mengatakan kalau aku bersedia mati kalau yang membunuhku adalah kamu."
"Oh benarkah? siapa namanya?"
"Kalau itu... aku tidak bisa memberitahukanmu."
"Eehh kenapa? Aku hanya..."
"Apa kau kira aku akan membiarkanmu mencari keberadaannya dan aku kehilanganmu di kehidupanku saat ini? Tidak mungkin aku membiarkan hal itu terjadi!!" Ucap Lyraen dingin.
"Aku tidak akan melakukan hal itu dan..."
"Kau tidak bisa membodohiku! Aku mengerti tentangmu, aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkanku!" Protes Lyraen kesal.
"Yaaah terserah kalau tidak percaya..." desahku memejamkan kedua mataku dan berbaring di sebelahku.
"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, jika aku kehilanganmu di kehidupanku kali ini maka aku akan benar-benar merasa bersalah padamu..." gumam Lyraen pelan.
"Kenapa? Padahal kau bisa mencari wanita lain yang..."
"Tidak! Aku tidak bisa mencari wanita yang lain... aku terikat denganmu... cincin pernikahan kita saja tidak hilang walaupun kita sudah berbeda kehidupan!" Ucap Lyraen serius sedangkan aku hanya terdiam.
Tiba-tiba datang seorang pria dengan Fadil masuk ke dalam kamar dan Fadil menatapku terkejut sedangkan Lyraen berjalan ke balkon bersama dengan wakilnya.
"Sani? Syukurlah kamu sudah sadar!" Ucap Fadil senang.
"Ya begitulah, kau nampak memiliki masalah?" Tanyaku bingung.
"Bukan masalah sih, lebih dari masalah..." Gumam Fadil memberikanku secarik kertas, aku membaca tulisan di kertas itu dan terkejut dengan tulisan itu.
"Wilayah Bayangan? Wilayah apa itu?" Tanyaku bingung.
"Entahlah, aku juga baru mendengarnya."
"Coba cari tahu kak Fadil tapi jangan kau beritahu siapapun masalah ini dan juga... cari orang yang dulu pernah menjadi teman dekat Lyraen."
"Teman dekat? Siapa itu?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, dulu dia adalah teman dekat Lyraen tapi sekarang menjadi musuh Lyraen!"
"Oh mmm baiklah. aku akan akan mencari tahu masalah itu..." gumam Fadil berjalan pergi sedangkan aku hanya terdiam dan kembali memejamkan kedua mataku. penasaran, hanya itu yang ada di pikiranku, memang Lyraen melarang aku mengetahuinya tapi aku harus mengetahui semua rahasia di kehidupan aneh ini.