
Hari tanpa badai salju saat ini membuatku memutuskan cepat-cepat pergi ke markas organisasi mafia pusat, dengan berjalan kaki kami sangat waspada di setiap langkah kami melewati tumpukan salju.
Rayan terus menggandeng tanganku sedangkan Ray dan Fadil berjalan mendahului kami, sesekali Ray sangat manja kepada Rayan yang membuatku sangat iri. Dengan kejadian yang lalu membuatku bingung, apakah aku harus dendam kepada Raesya dan Raetya setelah mereka juga bersekongkol dengan Valentino? Hanya itu yang aku pikirkan.
"Baiklah kita sampai Sani!" Ucap Fadil dingin, aku menarik Rayan mendahului Fadil dan Ray masuk ke dalam markas.
Di dalam sebuah ruangan aku melihat para tetua agung sedang menatap kami dingin. Aku terduduk dan menekuk kakiku menghadap tetua agung.
"Hormat tetua agung..." gumamku pelan.
"Sani Shin! Kenapa kau mengajak organisasi musuh kita kemari!" Teriak tetua agung marah.
"Eemmm tetua agung mohon maafkan saya, saya hanya ingin memperkenalkan anda dengan mereka, ini namanya Rayan dan ini Ray."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Mmm tetua mohon ijin agar saya mengangkat Ray sebagai wakil ketua mafia dan jika untuk Rayan...." gumamku pelan.
"Lalu?"
"Mmm karena Rayan memiliki mafia tersendiri saya sudah memutuskan untuk bekerjasama dengannya."
"Kau organisasi mana?" Tanya tetua agung dingin.
"Ijin menjawab, saya termasuk tetua agung organisasi mafia Sentral."
"Organisasi mafia Sentral? Dan kamu tetua agungnya?" Tanya tetua agung terkejut, Rayan menunjukkan lencana perak yang membuat tetua agung menghela nafas pelan.
"Oh hmmm baiklah, lalu kenapa anda ingin bekerjasama dengan ketua mafia kepercayaanku ini?" Tanya tetua agung pelan.
"Saya ingin melindunginya jadi saya ingin menikahinya."
"T-tunggu mana bisa kami menikahkan ketua mafia kepercayaan kami kepada..."
"Anggap saja ini hubungan diplomatik, lagi pula jika saya menikah dengannya maka hubungan organisasi kita akan harmonis, benarkan?" Ucap Rayan dingin.
"Mmm benar juga, tapi aku tidak mungkin membiarkan ketua kepercayaanku untuk..."
"Lagi pula jika kita memiliki hubungan yang baik maka kami organisasi mafia Sentral akan membantu organisasi mafia Pusat dalam perang yang lainnya, dan ini kali pertama saya mengajak organisasi musuh bekerjasama."
"Mmm b-baiklah aku ijinkan anda untuk menikahinya..." gumam tetua agung pelan, Rayan menjentikkan tangannya dan masuk beberapa orang membawa beberapa barang yang membuatku terkejut.
"Rayan, sejak kapan bawahanmu datang? Disini keamanannya tinggi tahu!" Ucapku pelan tapi Rayan tidak menjawabnya.
"Baiklah ini beberapa seserahan dari kami untuk kalian dan sebagai rasa terimakasih sudah mengijinkanku menikah dengan istriku..." gumam Rayan pelan.
__ADS_1
"B-baiklah kapan kamu ingin melangsungkan pernikahan?"
"Hari ini! Aku ingin hari ini menikah dengannya! Dan kalian menjadi saksi pernikahan kami..." Ucap Rayan dingin.
"Baiklah..." desah tetua agung menepukkan tangan tiga kali dan muncul seorang pendeta ke dalam ruangan.
"Hormat tetua agung..." ucap pendeta itu pelan.
"Aku akan menikahkan Sani jadi pimpin upacara pernikahannya!" Ucap tetua agung dingin dan pendeta langsung menanyakan nama lengkap kami.
"Baiklah, Tuan Kim Rayan Valentine apakah anda bersedia susah senang, sakit sehat, miskin kaya dan seumur hidup menjadi suami dari Kim Raelyn Valentine Shin?" Ucap pendeta serius.
"Ya saya bersedia."
"Nona Kim Raelyn Valentine Shin, apakah anda bersedia susah senang, sakit sehat, miskin kaya dan seumur hidup menjadi istri Kim Rayan Valentine?"
"Aku... Aku bersedia."
"Baiklah, pasang cincin pernikahan di jari manis kalian..." gumam pendeta dan Rayan memakaikan cincin ketanganku lalu aku memakaikan cincin ke tangannya.
"Dengan ini aku nyatakan kalian sah sebagai suami dan istri! Silahkan mencium satu sama lain!" Ucap pendeta senang dan Rayan langsung menciumku lembut disertai tepukan tangan yang meriah.
"Mulai sekarang kau menjadi milikku Raelyn..." bisik Rayan kembali menciumku.
"Eheemm... Baiklah karena kau menikah dengan anggota organisasi kami maka kau sekarang juga termasuk organisasi kami!" Ucap tetua agung melemparkan sebuah lencana emas dan Rayan langsung menangkapnya.
"Aku harap kedepannya kau tidak menyakiti gadis yang sudah aku anggap anakku sendiri itu, jika kau menyakitinya maka kami tidak segan-segan melakukan perang kepada organisasi mafia Sentral!" Ucap tetua agung dingin.
"Baiklah tidak masalah..." gumam Rayan pelan.
"Untuk saat ini hanya itu, kalian berdua istirahatlah sedangkan Fadil dan Ray tetap disini!" Ucap tetua agung dingin dan Rayan langsung menarikku keluar ruangan.
"Raelyn kamu pasti lelah jadi kita istirahat saja dulu ya..." gumam Rayan pelan.
"Baiklah aku tunjukkan kamarku..." gumamku pelan, disebuah pintu berwarna hitam aku dan Rayan masuk ke dalam kamar, aku terduduk di sofa membuka buku catatanku.
"Di kamarmu sangat hangat ya Raelyn..." desah Rayan pelan, aku membalikkan satu persatu kertas sambil membaca catatanku dengan serius. Rayan menurunkan bukuku dan menatapku dekat.
"Ada apa?" Tanyaku pelan.
"Suamimu sedang berbicara denganmu, kenapa tidak memperdulikannya?" Ucap Rayan dingin.
"Aku sedang membaca, memang kamu bertanya apa?" Tanyaku dingin.
"Tidak ada, lupakan saja. Oh ya aku ingin memberikanmu ini..." desah Rayan memberikanku sebuah buku di tangannya.
__ADS_1
"Apa ini?" Aku mengambil buku itu dan membacanya satu persatu.
"Ini rahasia organisasi mafia Sentral."
"Kamu memberikannya padaku?"
"Tentu, kamu istri resmiku."
"Oh mmm kamu tetua agung di organisasi mafia Sentral ya?"
"Ya begitulah."
"Diusia muda?"
"Umurku 20 tahun, menurutmu aku masih muda?"
"Tentu, 20 tahun masih muda untuk menjadi seorang tetua agung."
"Tidak juga.." gumam Rayan memakaikan kalung permata ke leherku.
"Kalung ini bisa menjadi tanda kamu milikku Raelyn."
"Oh mmm baiklah, terimakasih, wajahmu terlihat lelah lebih baik istirahatlah dulu."
"Temani aku..." gumam Rayan pelan dan berbaring di pangkuanku sedangkan aku hanya mengusap lembut rambutnya dan membaca buku catatanku.
"Raelyn apa yang kamu baca?" Tanya Rayan pelan.
"Tidak ada."
"Apa kamu memikirkan sesuatu?"
"Bisa dibilang begitu."
"Masalah rencana?"
"Tidak juga. Aku belum mendapatkan tugas..." gumamku pelan dan Rayan menarik bukuku sambil menatapku dingin.
"Kamu juga lelah jadi kamu harus tidur juga!"
"Aku jarang bisa tidur Rayan!" Ucapku pelan.
"Kalau begitu aku mau mandi dulu habis itu kamu juga mandi biar bisa tidur!" Ucap Rayan serius dan pergi ke kamar mandi sedangkan aku menatap cincin di tanganku, menikah di usia muda? Sudah pernah aku lalui dahulu bahkan menikah dengan banyak pria juga sudah pernah aku lakukan tapi dikehidupan ini aku hanya ingin menikah dengan satu pria saja dan aku tidak mau ada pria lain yang mempermainkanku sama seperti kehidupan sebelumnya.
Rasa rindu kepada Satria benar-benar tidak bisa aku tahan lagi tapi sekarang dia berada di surga sedangkan aku harus membalaskan dendam atas kematian kami di kehidupan yang lalu.
__ADS_1