
Selama beberapa menit Sanjaya terus menerus meminum darahku yang membuat nafasku sedikit terengah-engah, Sanjaya melepaskan gigitannya dan menatapku serius.
"Kenapa nafasmu seperti sangat berat?" Tanya Sanjaya pelan.
"Tidak ada, kalau mau lagi minumlah."
"Tidak aku sudah kenyang..." gumam Sanjaya mengusap pipiku lembut.
"Ada apa?"
"Tidak ada, aku hanya senang."
"Senang? Kenapa?"
"Ya akhirnya aku bisa memilikimu saat ini..."
"Benarkah?"
"Ya, tapi... bisakah aku memilikimu seutuhnya..." gumam Sanjaya pelan.
"Emang kau mau menikah denganku sekarang?" Tanyaku terkejut.
"Kita sudah menikah sejak kecil jadi buat apa kita menikah lagi?"
"Be...benarkah? Lalu kenapa kau bilang kita akan susah menikah?"
"Bukan susah menikah tapi tepatnya susah mendapatkan pengakuan kalau kamu istriku saja kecuali kamu menebus semua kesalahanmu."
"Oh begitu ya..." gumamku mendorong Sanjaya dan menatapnya serius.
"Lalu apa yang kau maksud memiliki seutuhnya?" Tanyaku pelan, aku menatapnya dan membuka pakaian Sanjaya pelan.
"Aku ingin... eehh a-apa yang kau lakukan?" tanya Sanjaya terkejut.
"Aku ya... aku hanya melakukan sesuatu saja.." gumamku pelan.
"Jangan... nanti... mmmppphhh..." gumam Sanjaya terkejut, aku langsung menciumnya yang membuatnya terdiam.
"Diam dan nikmati saja..." gumamku mempermainkan Sanjaya.
"Kau memang istriku yang nakal ya..." gumam Sanjaya mendorongku dan menciumku lembut.
"Nakal ya? Apa aku terlihat nakal di matamu?"
"Ya begitulah."
"Ohh mmmm Sanjaya aku ingin bertanya padamu."
"Bertanya apa?"
"Kau mengenal kakak kandungku?"
"Ya, kami bermusuhan."
"Kenapa?" tanyaku pelan.
"Karena dia tidak merestui perjodohan kita berdua."
"Sama seperti kakakmu?" tanyaku pelan.
"Ya benar sekali."
"La...aahh... lalu apa yang membuat mereka menolak perjodohan kita?"
"Karena Vica dan Alvaro menjalin hubungan sejak kecil."
"Be...benarkah?"
"Ya, mereka takut jika kita menikah nantinya mereka tidak bisa menikah."
"Dan apa itu benar-benar terjadi?"
"Ya, mereka tidak bisa menikah karena aku menikah denganmu."
"Lalu kamu tidak merasa kasihan dengan mereka?" tanyaku pelan.
"Untuk apa kasihan... Alvaro dan Vica sering bertemu dan berhubungan, yaah kau tahulah kalau Alvaro dan Elvaro jarang bersama karena di waktu itulah Alvaro dan Vica sedang berkencan bersama."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Aku kembarannya bagaimana aku tidak tahu akan hal itu uuugghhh..." rintih Sanjaya pelan.
"Huuuhh... mmm tapi kan aku juga memiliki kembaran, kenapa kau memilihku daripada kembaranku?" Tanyaku pelan.
"Si Rina? Tidak mau."
"Kenapa? Dia kan juga cantik dan uuugghhh..."
"Tapi dia sering bermain sama seperti ibumu tanpa kau ketahui."
"Be...benarkah?" tanyaku terkejut, Sanjaya menjatuhkan tubuhnya diatasku dan menciumku lembut.
"Yah apa kau tidak mendengar berita kalau Rina bermain dengan beberapa ketua mafia di club? Berita itu sudah lama menyebar dari dulu loh!"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak tahu apapun..." gumamku menyebunyikan wajahku di dada bidang Sanjaya.
"Ada apa sayang?"
"Mmm aku hanya takut..."
"Takut apa?"
"Setelah kau bermain denganku seperti ini, apa kau akan membuangku dan menganggapku wanita murahan seperti yang lain?" Tanyaku pelan, Sanjaya menciumku lembut dan menatapku manis.
"Kau istriku asli, untuk apa aku melakukan hal itu..."
"Benarkah? Nanti kalau ada wanita yang mendekatimu bagaimana?"
"Apa kau khawatir?"
"Tentu saja! Aku sangat khawatir... aku... mmmpphhh..." Sanjaya menciumku lembut dan menggenggam erat tanganku.
"Sayang, aku tidak seperti pria lain. Seperti janji suciku dulu kan... aku akan mencintaimu sampai mati dan aku benar-benar mencintaimu."
"Padahal aku menyakitimu, apa kamu tidak dendam padaku?"
"Aku sama sekali tidak bisa dendam padamu, aku hanya berusaha membuatmu sadar kalau aku suamimu saja..."
"Benarkah?"
"Tentu."
"Lalu saat aku mati dan bertemu Sania kemarin dia mengatakan kalau akan ada orang yang ingin membuatku menderita?"
"Apa kau bertemu Sania?"
"Ya dia berkata kalau akan ada seseorang yang ingin membuatku menderita dan..."
"Dan memang aku yang ingin membuatmu menderita."
"Benarkah dan apa kau akan melalukannya padaku?"
"Tentu saja, sudah aku katakan kan aku lebih suka melihatmu menderita daripada harus membunuhmu..." guman Sanjaya kembali mempermainkanku.
"Me...menderita seperti apa... uuugghh..."
"Kau harus melakukan tugasmu sebagai istriku setiap harinya."
"Tu...tugas apa?" tanyaku pelan dan Sanjaya membisikkan secara detail tugas untukku.
"A-apa? Kau itu sama saja kau membunuhku tahu!" protesku kesal, Sanjaya menekan tanganku erat dan yang membuatku kesakitan.
"Kau istriku dan kau harus menjalankan tugasmu sebagai istriku setiap malam apa itu akan membunuhmu?"
"Kau kalah taruhan denganku Sani dan kau harus melakukan hukuman atas kesalahanmu Sani jadi mau tidak mau kau harus melakukannya, apa kau mengerti?"
"Ba... baik aku... mengerti..." desahku mengatur nafasku dan berbaring di sebelah Sanjaya.
"Apa kamu lelah?"
"Yaah aku lelah, kau meminum banyak darahku dan itu membuatku sangat lelah..." desahku pelan.
"Kalau begitu minumlah darahku..."
"Eeehh darah?"
"Darahku dan darahmu bisa menjadi obat satu sama lain, itu kenapa aku dijodohkan denganmu."
"Oh hmm nanti saja aku sedang tidak ingin..." gumamku meraih tas di mejaku dan mengambil beberapa kertas di tasku.
"Apa itu?"
"Hanya kertas tugasku saja."
"Tugas? Tugas apa?" tanya Sanjaya merebut kertas itu.
"Tugas dari dewan keadilan, bukannya kau tahu akan hal itu?"
"Yaaah aku tahu, apa tugas itu berat bagimu?"
"Lumayan, oh ya makasih udah memberiku kekuasaan istimewa."
"Kamu tahu kalau aku yang memberimu kekuasaan istimewa itu?"
"Ya kau tetua dewan pasti kau yang memutuskan semuanya jadi terimakasih..." gumamku mencium Sanjaya lembut dan Sanjaya membalas ciumanku.
"Hmmm tidak masalah asalkan kamu senang istriku.." gumam Sanjaya pelan.
"Haaahh..." desahku memejamkan kedua mataku pelan.
"Ada apa sayang?"
"Tidak ada, aku hanya senang saja. Andaikan aku tahu tentangmu dari dulu pastinya aku sangat bahagia dari dulu..." desahku pelan.
"Apa kau bahagia denganku?"
"Tentu saja, aku bahagia dengan sifatmu yang saat ini suamiku..."
__ADS_1
"Begitu ya, kalau begitu... aku akan bersikap seperti ini jika bersamamu saja tapi jika diluar jangan terkejut melihat sifat asliku."
"Memangnya kamu seperti apa?"
"Yaaah kamu akan tahu sendiri..." gumam Sanjaya mengambil selimut dan menyelimutkannya ke tubuh kami. Tiba-tiba pintu kamar terketuk dengan keras lalu pintu itu terbuka dengan lebar, aku melihat Vica masuk ke dalam dan menatap Sanjaya kesal.
"Astaga kau lebih gila sekarang ya!" Gerutu Vica kesal.
"Tidak juga..." gumam Sanjaya mengusap rambutku lembut.
"Kan sudah aku suruh kau membunuhnya tapi kenapa kau..."
"Sudahlah ini pilihanku, jadi kenapa kau tiba-tiba datang? Apa kau mendapatkan sesuatu?" Ucap Sanjaya dingin, aku sedikit mengangkat wajahku dan menatap wajah sanjaya yang benar-benar berubah bahkan lebih menyeramkan dari pada malam itu.
"Haish tuh Alvaro mendapatkan buruanmu..." gumam Vica dingin, "Ka...kakak?" gumamku terkejut, aku menyembunyikan wajahku karena ketakutan melihatku yang berusaha bersembunyi membuat Sanjaya menarik selimutnya sampai ke bahuku.
"Sanjaya! Astaga kau apakan adik kecilku!" Protes Alvaro dengan nada kencang.
"Hanya melakukan sesuatu yang biasa kau lakukan dengan kembaranku."
"Kau! Seharusnya kau tidak melakukan itu dan..."
"Dia istriku dan kau tahu akan hal itu... jadi apa yang kau dapatkan?" tanya Sanjaya dingin.
"Ciiihh awas saja kalau kau menyakiti adik kecilku!" gerutu Alvaro kesal dan melemparkan sebuah gulungan kearahku, Sanjaya dengan cepat menangkapnya sebelum mengenai kepalaku.
"Lain kali kau harus berlatih lebih lagi Alvaro."
"Ciihh diam kau!" gerutu Alvaro kesal.
"Oh begitu ya... mmm sayang kau bisa tidak mengambilnya?" tanya Sanjaya menunjukkan sebuah tugas kepadaku, aku membacanya dan kembali menyembunyikan wajahku.
"Hei!!" Protes Alvaro dingin.
"Bagaimana?"
"Tidak masalah..." gumamku mengambil ponsel di tas milikku dan menelepon Fadil.
"Heei dia hanya gadis biasa dan..."
"Permisi nona muda..." gumam bawahanku pelan.
"Apa kalian menemukannya?"
"Iya kami menemukannya."
"Berikan pada kakakku..." gumamku pelan.
"Ini tuan muda, saya permisi dulu..." gumam bawahanku memberikan sebuah barang dan langsung pergi dengan cepat.
"Lihatlah bagaimana seorang gadis kecil yang sangat hebat ini, apa kau meragukannya?"
"Tapi kan... haish itu masih tidak berbahaya, tapi bagaimana dengan yang ini?" Tanya Alvaro memberikan gulungan yang lain pada Sanjaya.
"Jadi bagaimana menurutmu sayang?" Tanya Sanjaya menunjukkan foto Fiyoni dan Sino padaku
"Ini kan... kenapa mereka harus di tangkap?" tanyaku terkejut.
"Kamu akan tahu nantinya, tapi kau sanggup menangkap mereka?"
"Menangkap mereka agak sulit dan..."
"Hei bukan yang itu, gambar di belakangnya!" Ucap Alvaro dingin, Sanjaya membuka kertas dibelakangnya terlihat wajah pria yang tidak pernah aku temui.
"Apa kau mengenalinya sayang?"
"Tidak, siapa dia?" Tanyaku pelan.
"Pria yang mengatur dua orang tadi untuk mempermainkanmu."
"Dia? Benarkah?" Tanyaku terkejut.
"Ya, jadi... apa kau bisa menangkapnya?"
"Tergantung, dimana aku harus menangkapnya?"
"Besok di kapal pesiar, kau akan bersamaku disana dan kau harus menangkapnya."
"Baiklah, tapi aku mau Fadil ikut juga."
"Fadil ya? Apa dia masih wakilmu?"
"Ya."
"Baiklah tidak masalah..." gumam Sanjaya kembali mencium keningku lembut dan kembali memelukku.
"Sudah kan... nanti biar istriku yang mengurusnya, kau urus yang lain saja."
"Tapi itu berbahaya!"
"Tenang saja, istriku sangat hebat. Lebih baik kalian nikmati waktu berdua sana biar istriku istirahat, kasihan dia lelah bermain denganku..." ucap Sanjaya tersenyum dingin yang membuat Alvaro kesal dan pergi bersama Vica.
"Kenapa kau mengatakannya pada mereka?" Tanyaku pelan.
__ADS_1
"Biar mereka tidak mengganggu saja, ya sudahlah kamu tidurlah..." gumam Sanjaya memelukku erat dan aku tertidur di pelukan Sanjaya seperti saat itu.