
Walaupun beban tubuh Ray sangat berat terasa di tubuhku tapi merasakan darahku dihisap Ray membuat tubuh Ray tidak terasa berat hanya saja leherku terasa sangat sakit. Aku menatap langit-langit kamar dan menahan rasa sakit itu.
"Kenapa kamu hanya terdiam sayang?" tanya Ray menatapku terkejut.
"Eee tidak ada, oh ya memangnya darahku terasa sangat manis ya?"
"Mungkin bagimu sama seperti darah pada umumnya tapi bagiku terasa manis, setiap orang memiliki berbeda-beda rasa darah, ada yang pahit, masam, dan juga manis. Yang membuatku muntah kalau darah terasa pahit dan kebanyakan orang memiliki darah pahit."
"Oh benarkah? Pernah meminum kak Soni?"
"Pernah, rasanya pahit membuatku terus mual rasanya."
"Oh benarkah?" tanyaku pelan.
Toookkk..Ttoookkk...
Terdengar suara pintu kamar yang terketuk keras, tiba-tiba kakakku Soni masuk ke dalam kamar, walaupun Soni datangpun Ray tidak memundurkan niatnya meminum darahku.
"Ada apa?" tanya Ray dingin. Melihat Soni masuk ke dalam kamar, Ray mempermainkanku yang membuat wajah Soni memerah melihatnya.
"Ini data yang kamu inginkan, didepan ada beberapa ketua mafia yang ingin bertemu denganmu...Astaga kau masih saja sempat bermesraan dengan adikku?" gerutu Soni kesal.
"Bilang saja kamu ingin kan Soni?" gumam Ray menggoda Soni.
"Aku pria normal pastinya aku ingin."
"Tapi hebat juga ya kamu tidak tergoda melihat adik tirimu," gumam Ray mempermainkanku di depan Soni.
"Memang kau kira aku pria seperti apa!" gerutu Soni kesal.
"Ya mana tahu kan..." gumam Ray menutup kembali pakaianku dan menarik tanganku, dengan cepat Ray menggunakan topeng miliknya dan kembali menggigitku.
"Suruh mereka masuk..." guman Ray merangkulku, tidak lama datang beberapa ketua mafia yang salah satunya ketua mafia yang aku kenal.
"Sa...Sani?" gumam beberapa ketua mafia tertinggi menatapku terkejut.
"Kamu mengenal mereka istriku?" gumam Ray melepaskan gigitannya. Mendengar Ray memanggilku istri mereka semua terkejut.
"Ya, mereka mafia di organisasiku..." gumamku dingin.
"Benarkah? Padahal kamu ketuanya loh? Bisa-bisanya bawahanmu diam-diam bekerjasama denganku."
"Oh...terserah mereka lah, aku tidak peduli juga..." gumamku beranjak pergi tapi Ray kembali menarik tanganku dan memelukku erat.
"Sudahlah kamu disini saja."
"Haish terserah deh."
"Ada apa kalian ingin bertemu denganku?" tanya Ray dingin.
"Ta...tapi tuan muda..."
"Kalian takut dengan Sani?" tanya Ray dan mereka mengangguk pelan.
"Buat apa kalian takut kepadaku? Aku tidak sekejam pria ini yang akan menghukum bawahannya dengan kejam. Lagi pula itu urusan kalian dengan dia dan bukan urusanku..." gumamku mengambil handphone Ray dan memainkan handphonenya.
" Jadi ada apa" tanya Ray serius.
"Mohon maaf tuan muda, apa anda bersekutu dengan nona muda?" tanya pria di depanku serius.
"Tidak, organisasi kami bermusuhan. Sudah aku katakan kan...jangan pedulikan aku!" gerutuku kesal.
"Sudah di jawab kan, lalu kenapa kalian bertanya seperti itu?" tanya Ray penasaran.
"Kami mendapatkan informasi tentang kelemahan mafia misterius tuan muda," ucap pria di depanku memberikan file kepada Ray.
"Kamu tidak ingin tahu isinya istriku?"
"Tidak perlu."
"Ini juga dari bawahanmu loh..."
"Peraturan mafia kalau bawahan meninggalkan ketua umumnya ke ketua umum yang baru maka hak dan kewenangan pada ketua umum yang baru, lagi pula aku tidak pernah mendapatkan informasi apapun dari bawahanku malah aku mendapatkan informasi dengan penyamaranku sendiri dan apapun aku lakukan sendiri.." gumamku pelan.
"Mantan ketua kalian sangat baik padahal, tapi ya sudahlah itu keputusan kalian."
"No...nona muda..."
__ADS_1
Krriiinnggg...krrriiinnggg
Terdengar bunyi telpon berdering kencang di handphoneku, aku mengambil handphoneku dan beranjak pergi.
"Panggil saja aku Sani, tidak perlu memanggilku nona muda..." gumamku mengangkat telepon itu.
"Halo..." gumamku pelan.
"Ohh ku kira kau sudah mati setelah tinggal dengan ketua umum yang kejam itu Sani.." sindir Victory dingin.
"Tidaklah, ngomong-ngomong benar perkataanmu Victory, banyak bawahanku yang pergi ke organisasi bayangan."
"Kan sudah aku bilang, kau tidak percaya. Sekarang kau saja lah yang menjadi ketua umumnya, aku takut anggotamu tambah menghilang semua."
"Tidak masalah, kamu aja yang..."
"Sani dengar, malam ini ada pertemuan antar organisasi mafia. Kalau aku jadi ketua umumnya apa yang harus aku katakan jadi kau harus ikut."
"Pertemuan untuk apa?" tanyaku terkejut.
"Nasib perang nantinya, apalagi organisasi milik Hans melanggar peraturan permulaan perang."
"Oh... baiklah, kalau begitu cari informasi masalah itu dan segera cari bukti-bukti untuk menyudutkan mereka."
"Tanpa aku beritahu kau sudah menebak kalau organisasi Hans akan mendapatkan hukuman ya?"
"Ya begitulah, sebelum mereka memojokkan kita. Jadi tolong dengan sangat ya Victory..."
"Baiklah, aku akan meminta mata-mataku dulu..." gumam Victory menutup teleponnya.
"Siapa yang meneleponmu Sani?"
"Victory, dia memintaku memegang organisasi lagi."
"Memegang organisasi lagi?" gumam ketua mafia di depanku terkejut.
"Oh ya, bisa tidak aku keluar sebentar, mau ketaman gitu."
"Tidak perlu, gunakan saja tempat ini kalau hanya berdua dengan Fadil. Apa Victory bilang kalau ada pertemuan antar organisasi?"
"Kak Fadil ke kamarku segera!" ucapku serius.
"Baiklah..." desah Fadil menutup teleponnya.
"Ya kau ketua umumnya istriku pasti Victory tidak akan sanggup melakukannya, bahkan selama Victory yang memegang bawahanmu semakin sedikit kan?" sindir Ray yang membuatku sedikit kesal.
"Biarlah, mereka tidak nyaman berada di organisasiku, buat apa aku memaksakannya..." gumamku pelan.
"Sani... eeehh kenapa mereka ada disini? Bukannya mereka..." gumam Fadil terkejut.
"Mereka bawahan kak Ray. Kemarilah kak Fadil aku ada sesuatu yang ingin di bahas..." gumamku berjalan menuju ke balkon.
"Oh benarkah? Pantas saja apapun itu kamu yang melakukannya."
"Biarlah..." gumamku memberikan informasi tentang organisasi Wili dan perjanjian organisasi Wili dengan Hans kepada Fadil.
"Ternyata, nona muda yang telah membawanya.." gumam ketua mafia di depan Ray terkejut.
"Memang apa itu?" tanya Ray bingung.
"Ini ya? Mmm bisa dibilang dokumen rahasia yang aku ambil dari kapal mewah itu. Dan lihatlah nasib kapal mewah itu..." gumamku menghidupkan televisi.
"Kalian membakarnya, tanpa aku ketahui?" tanya Ray terkejut.
"Ya bisa dikatakan seperti itu."
"Kamu tidak sadar sudah membunuh berapa ratus orang di kapal itu?"
"Lalu kenapa?" tanyaku dingin.
"Apa kamu tidak tahu Ray kalau apapun kegiatan yang dilakukan Sani pasti tidak akan meninggalkan jejak sama sekali?"
"Oh jadi seperti itu...memang pantas kau menjadi istriku..." gumam Ray menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa kamu melakukan itu semua Sani?" tanya Soni terkejut.
"Menurutmu bawahanku berada di tangan musuh membuatku tidak bisa melakukan apapun? Sudah banyak bawahanku yang pergi karena selama ini Victory yang menjadi ketua umum sementara, lagi pula dengan begitu aku bisa tahu siapa yang serius dan siap mengabdi kepadaku atau tidak, lagi pula aku tidak menerima mafia yang kekanak-kanakan..." gumamku dingin. Aku menarik pakaian Fadil dan berbisik kepada Fadil.
__ADS_1
"Kak Fadil... cari semua kelemahan Wili dan Hans dari berkas ini..." bisikku pelan.
"Oh baiklah..." gumam Fadil terduduk di kursi balkon dan membuka satu persatu lembar sedangkan aku hanya berdiri sambil meminum wiski yang aku pegang dari tadi.
"Kamu masih saja meminum wiski istriku, sudah habis tiga botol kamu..." gumam Ray merebut gelas di tanganku dan memelukku erat.
"Biarlah, gara-gara kamu juga membuatku menyukai minumanmu."
"Tapi kamu tidak boleh kebanyakan istriku!"
"Ya aku tahu..." desahku pelan.
"Sudah selesai Sani..." gumam Fadil menutup kembali berkas itu.
"Baguslah...bersiaplah dulu kak Fadil..." gumamku dan Fadil segera pergi.
"Kamu mau pergi sekarang?" tanya Ray dingin.
"Tidak, aku menunggu kamu pergi dahulu."
"Heeeh, menungguku pergi dahulu. Kamu kira aku akan lengah dan kamu akan membakar rumahku?" gumam Ray dingin.
"Membakar rumahmu? Aku tidak ada niatan untuk melakukannya. Memangnya kamu ingin aku bersamamu?"
"Ya pastilah, jadi kamu..."
"Ray, kalian berdua ketua umum organisasi yang berbeda. Mana bisa kalian bersamaan!" protes Soni dingin.
"Oh ya... aku lupa akan hal itu, kalau begitu kita berangkat bersama dengan kendaraan yang berbeda bagaimana?"
"Apa kamu takut aku merencanakan sesuatu?" tanyaku serius.
"Pastilah, kita musuh apalagi kamu seperti belum serius menerima ajakan Viu," gumam Ray kembali menggigit leherku.
"Kau terus menerus meminum darah adikku nanti dia mati menjadi mayat kering bagaimana?" protes Soni kesal
"Heeeh, aku juga manusia jadi aku juga memiliki batasku sendiri... oh ya bacakan inti data temuanmu Soni."
"Di depan Sani?" tanya Soni serius.
"Garis besarnya saja."
"Oh, intinya sama seperti dugaanmu Ray bahkan yang membuatmu kecewa adalah...kita kehilangan bukti yang kuat!" ucap Soni serius, mendengarkan perkataan Soni, Ray mengigitku kuat yang membuatku merasakan kesakitan.
"Uuuggghhhh..." rintihku kesakitan.
"Heei kau mau membunuh adikku apa!" protes Soni kesal.
"Lakukan rencana itu dan bawa mereka hidup-hidup kepadaku!" gerutu Ray dingin.
"Baiklah, awas saja kalau adikku mati karena kehabisan darah Ray!" gerutu Soni kesal.
"Tidak, tenang saja. Dia milikku. Oh ya sekalian periksa wanita itu!" ucap Ray dingin.
"Ya aku tahu..." desah Soni memberikan beberapa tumpukan data di di atas meja.
"Kamu pasti capek kan Soni? Tuh para wanitamu menunggu belaian kamu tuh!" sindir Ray tertawa jahat.
"Tidak perlu bongkar-bongkar di depan adikku Ray!" gerutu Soni keluar dari kamar bersama dengan ketua mafia bawahan Ray saat ini.
"Wanita siapa?" tanyaku penasaran.
"Menurutmu Soni orang yang baik? Heeh dia sama saja seperti pria umumnya yang menggunakan wanita untuk kesenangan duniawinya tapi disisi lain Soni juga harus mencari informasi dari mereka."
"Oh tidak aku duga..." desahku pelan.
"Baiklah kamu bersiap-siaplah, oh ya nanti kalau ada banyak wanita yang menggodaku kamu jangan marah ya."
"Kenapa kamu mengatakannya kepadaku? Padahal kalau kamu tidak mengatakannya...."
"Kamu bisa membunuhku dengan alasan itu kan? Kita sama-sama licik Sani jadi aku tahu apa yang kamu pikirkan."
"Aaahh tidak seru bermain dengan orang yang lebih licik dari pada aku..." desahku berjalan ke arah kamar mandi.
"Oh ya kak Ray, nanti akan ada pertunjukan bagus loh. Jangan sampai kelewatan ya!" gumamku tersenyum dingin dan menutup pintu kamar mandi.
Aku membuka handphoneku dan ternyata Victory mengirimiku pesan kalau semua sudah aman dan dugaanku akan ada pertarungan awal akan dimulai malam nanti, setelah mengirim pesan singkat kepada Victory aku segera membersihkan diriku di kamar amndi mewah ini.
__ADS_1