Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 182 : Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Sedikit teringat ingatan itu membuatku benar-benar sakit hingga aku terus saja menangis, aku menghela nafas panjang dan menatap sekitarku yang telah basah karena darah.


"Begitu ya... apa hanya itu?" gumamku menatap pakaian Lyraen penuh dengan darah.


"Hujan... Darah? Bagaimana bisa aku melakukan hal aneh ini?" Gumamku pelan.


"Yaaahh karena pertama kali kita menikah aku mengikatmu dengan ikatan terlarang agar darahmu bisa menjadi obatku jika aku membutuhkannya tapi selama kita melihat aku hanya meminum darahmu sekali dan itulah sebabnya aku bisa mengetahui kamu adalah milikku setelah melihat darahmu."


"Lalu apa hubungannya dengan hujan darah!"


"Hubungannya... tidak ada, aku tidak tahu alasannya hanya saja dengan ini aku tahu apakah kamu sedang marah denganku atau tidak..." gumam Lyraen menciumku lembut.


"Ohh mmm jadi... bagaimana?"


"Ya kita akan melakukan kerja sama tapi untuk saat ini jangan menunjukkan kalau aku bekerja sama denganmu dan juga..."


"Jangan menunjukkan kalau kau suamiku!" Ucapku serius.


"Heeii!! Itu tidak bisa! Kenapa tidak boleh?" Protes Lyraen kesal.


"Jika semua tahu hubungan kita pasti akan sulit untukku atau untukmu melakukan urusan kita masing-masing!"


"Kalau aku ingin berdua denganmu bagaimana?"


"Dengan sembunyi-sembunyi kan bisa!"


"Oh mmm benar juga, mmm baiklah... sesuai janjimu kau harus datang jika bulan berwarna merah!"


"Heeii tapi kan kau bisa mengendalikan bulan agar berwarna merah dan..." Lyraen mengangkat daguku dan menatapku dingin.


"Dan kau tidak bisa membantah ucapan suamimu sendiri istriku yang bandel, walaupun kau melakukan urusanmu dan jauh dariku tapi aku mengawasimu, jika kau melakukan kesalahan maka... aku akan menghukummu dengan hukuman khususku... apa kau mengerti?"


"Dan kau juga sama!" Protesku kesal.


"Baiklah kau boleh menghukumku dengan..."

__ADS_1


"Hukuman Lembah Kematian! Kau akan melakukan hukuman lembah kematian jika kau melakukan kesalahan fatal denganku!" Ucapku dingin yang membuat Lyraen terkejut.


"Tunggu dulu! Mana bisa seperti itu!" Protes Lyraen kesal.


"Kau kira kau hanya membunuhku? Kau juga membunuh anakmu! Dia anakmu dan kau membiarkan dua wanita itu membunuh anakmu dan menuduhku membunuhnya agar aku bisa kau bunuh? Apa kau kira aku akan... uuhhhuukkk...uuhhhuukkk..." Protesku kesal dan tiba-tiba hujan darah kembali turun dengan deras yang membuat ingatanku di sebelum aku dibunuh saat itu teringat di pikiranku tapi tidak bisa teringat dengan jelas.


"Sayang... aku tahu... dan aku mengakuinya... aku bersalah kepadamu dan kepada anak kita, tapi kalau kau ingin menghukumku di lembah kematian maka aku akan menerimanya jika hal itu bisa kau anggap sebagai penebus dosaku..." gumam Lyraen memelukku erat dan hujan darah semakin deras ketika aku teringat semua kejadian di masa lalu, aku memang teringat tapi diingatanku hanya berupa bayangan yang samar saja yang membuatku tidak bisa mengingatnya dengan jelas tapi aku terus berusaha untuk lebih mengingatnya.


"Sayang sudah cukup! Kau tidak bisa memaksa mengingat kejadian di masa lalu itu!" Ucap Lyraen menyadarkanku dan air mata darah langsung menetes dari sudut mataku.


"Itu sudah lama sekali, ingatanmu sudah bercampur dengan kehidupan kedua jadi kau akan sulit mengingatnya, jangan paksa dirimu!" Ucap Lyraen pelan dan tiba-tiba aku mendengar Fadil terus menerus berteriak memanggil namaku dengan kencang tapi aku hanya terdiam.


"Sani!! Aku ada informasi yang... Astaga Sani, apa yang terjadi?" Teriak Fadil berlari kearahku khawatir sedangkan Lyraen hanya terdiam mengusap pipiku lembut.


"Sani! Kau tidak boleh memaksa berpikir! Nanti penyakitmu bertambah parah!!" Ucap Fadil mencari sesuatu di dalam tasnya.


"Ada apa Fadil?" Tanya Raelan berjalan kearahku.


"I-ini tuan, penyakit Raelyn kambuh..."


"Ya tuan, kalau Raelyn berpikir dengan keras pasti dia akan seperti itu apalagi dia beberapa hari tidak beristirahat jadi penyakitnya akan kambuh."


"Lalu, apa obat yang biasa dia minum?" tanya Ravaro serius


"Obat... aduuhh astaga, pasti akan susah memiliki obat itu... saya akan pergi ke tuan Shin..." Ucap Fadil beranjak pergi tapi Raelan langsung menghentikan langkah kakinya.


"Tenang saja, ada Lyraen... darahnya bisa menjadi obat untuk Raelyn..." gumam Raelan pelan sedangkan Lyraen melukai lengannya dan mengarahkannya padaku.


"Sayang Minumlah..." gumam Lyraen pelan tapi aku langsung menepis tangannya.


"Tidak!"


"Sedikit saja."


"Sudah aku bilang tidak ya tidak! Tinggalkan aku!" Gerutuku kesal, aku mencoba pergi tapi Lyraen menahan tanganku dengan genggamannya yang erat.

__ADS_1


"Aku tahu aku bersalah padamu tapi aku mohon maafkan aku sayang, aku dulu sangat bodoh sehingga membunuhmu dan juga anak kita... maafkan aku..." gumam Lyraen memelukku erat dan aku hanya terdiam.


"Jika kau ingin aku mendapatkan hukuman di Lembah kematian maka aku akan melakukannya..."


"Lyraen, apa kau gila? Hukuman di lembah kematian sangat menyakitkan dan..."


"Dan jika itu yang bisa membuat istriku bersedia memaafkanku maka aku tidak masalah, aku juga bersalah padanya.. " gumam Lyraen memotong pembicaraan Raelan.


"Tapi sebelum itu... minumlah darahku istriku..." gumam Lyraen pelan dan aku langsung meminumnya.


"Apa kau merasa bersalah padanya?" Tanya Raelan pelan.


"Ya, karenaku dia mengalami penderitaan di kehidupan keduanya bahkan... karena sumpahku dia tidak pernah merasakan kebahagiaan..." gumam Lyraen pelan.


"Sumpah? Sumpah apa yang kau katakan?" Tanya Ravaro terkejut.


"Aku tidak mau mengatakannya lagi, aku tidak mau istriku menderita lagi..." gumam Lyraen memelukku erat.


"Bagaimana anda tahu penderitaannya?" Tanya Fadil penasaran.


"Aku tahu saat aku memberikan tanda padanya... ingatan menyakitkan di kehidupan kedua yang dialami Raelyn begitu jelas aku lihat dan sangat menyakitkan, pantas saja dia sering berniat untuk mengakhiri hidupnya... penderitaannya sangat menyakitkannya..." gumam Lyraen pelan.


"Yaahh memang benar tuan muda, penderitaan yang dia alami selalu dia rasakan seorang diri, apapun yang terjadi dia tidak mau menceritakannya pada saya ataupun mengijinkan agar saya merasakannya juga dan saya tahu dia tidak kuat dengan penderitaannya itu dengan tiba-tiba dia selalu koma dan tidak sadarkan diri, jiwa, raga dan mentalnya sangat amat rapuh terkena tekanan penderitaan yang menyakitkan itu. Walau saya kadang kasihan dengannya tapi saya sudah berjanji pada Tuan Shin untuk menjaganya sehingga saya terus berusaha menjaga dia agar tidak bunuh diri."


"Aku... tidak perlu di kasihani... sudah takdirku seperti itu..." gumamku menepis tangan Lyraen dan berjalan pelan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Fadil terkejut.


"Aku hanya ingin istirahat..." gumamku pelan, aku melangkahkan kakiku dengan langkah pelan.


Tiba-tiba dadaku terasa sesak, kepalaku terasa sangat pusing dan penglihatanku berkunang-kunang seakan-akan aku ingin pingsan. Saat aku kembali melangkahkan kakiku, keseimbangan tubuhku mulai menghilang dan aku terjatuh ke tanah. Hampir saja tubuhku terhempas tanah Lyraen menangkap tubuhku dan memelukku erat.


"Wajahmu sangat pucat, kamu harus istirahat dahulu..." gumam Lyraen pelan dan menggendongku pergi dari hutan.


"A-aku tidak apa, aku bisa melakukannya sendiri... aku..."

__ADS_1


"Husst sudah jangan protes..." gumam Lyraen pelan dan melangkahkan kakinya sedangkan aku memejamkan kedua mataku dan tertidur di pelukan Lyraen.


__ADS_2