
Selama perjalanan aku menatap keluar jendela mobil, kejadian pembunuhan ayah di depan mataku membuatku masih terus teringat dipikiranku yang membuatku sangat sedih. Ray yang dari tadi membahas sesuatu kepada Viu, Xiao Min, Fadil dan Soni terlihat terkejut saat mengetahui aku sedang menangis pelan.
"Eehh sayang... ada apa?" tanya Ray terkejut.
"Mmm tidak ada kok..." gumamku menyembunyikan wajahku di pelukan Ray dan Ray mendekapku erat.
"Mungkin dia teringat tuan Shin apa lagi Sani sangat dekat dengan tuan Shin..." ucap Fadil pelan.
"Yaah mungkin saja sih..." desah Ray mengusap lembut rambutku.
"Hmmm kau masih saja menyayangi adik kami ya Ray, padahal banyak yang menyukaimu loh!" Ucap Xiao Min pelan.
"Ya dia gadis yang dijodohkan denganku, bagaimana aku tidak menyanyainya."
"Padahal dia gadis berpenyakitan dan kamu bisa mencari wanita lain loh!"
"Aku juga berpenyakitan, aku tidak bisa dengan gadis lain selain Sani."
"Eehh kenapa memang?" tanya Fadil bingung.
"Kau tahu sendiri kan banyak wanita yang terbunuh karena racunnya, dan Ray bertahun-tahun mencari Sani setelah kelulusan akademi dulu. Yaah karena aku takut dia menyakiti Sani jadi aku menyembunyikan Sani dari Ray..." gumam Soni santai.
"Jadi alasanmu untuk tidak mengikutkan Sani di seluruh pertemuan internasional karena itu?" tanya Fadil serius.
"Yups benar sekali. Aku takut adikku terluka jadi aku melakukan apapun caranya agar Ray tidak bertemu dengan Sani!" ucap Soni serius, mendengar pernyataan Soni membuatku menatap Soni dingin.
"Kakak kenapa jahat banget sama Sani?" tanyaku dingin.
"Eehh b-bukan begitu, aku hanya ingin menjaga keselamatanmu saja."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri jadi kakak tidak perlu melakukan itu!" ucapku serius.
"Ya, baiklah. maaf kakak salah adikku..." gumam Soni pelan.
"Ya sudah kita sudah sampai, oh ya sayang kamu harus terus denganku ya..." gumam Ray pelan dan aku hanya menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
Di sebuah gedung yang besar, aku melihat banyak pengawal yang menjaga gedung ini. Untuk masuk saja benar-benar di jaga sangat ketat bahkan pengecekannya juga benar-benar detail.
"Silahkan masuk tuan dan nona..." ucap seorang pengawal membukakan pintu untuk kami, aku melangkahkan kaki mengikuti Ray, Fadil dan kakak-kakakku menuju ke sebuah ruangan yang berada di ujung lorong yang gelap dan sempit.
"Ada apa Sani?" tanya Fadil menatapku bingung.
"Tidak ada, hanya aku merasa kalau aku pernah berada disini."
"Yah kau memang pernah kemari saat kecil dengan Tuan Shin."
"Oh pantas aku merasa pernah kemari..." gumamku melangkahkan kakiku di sebuah ruangan di depanku.
Di dalam pertemuan aku melihat sebuah meja yang berbentuk bulat dan kursi yang tertata di pinggir meja itu. Di suatu kursi aku melihat beberapa pria yang aku rasa pernah bertemu dimasa lalu tapi aku benar-benar lupa siapa nama mereka dan kapan aku bertemu dengan mereka.
"Duduklah sayang.." gumam Ray menarik kursi untukku dan aku terduduk di sebelah Ray, Ray menggenggam erat tanganku sampai tanganku sangat memerah.
"Apa kak Ray haus?" tanyaku pelan.
"Mmm tidak juga sih."
"Tapi kan... mmm baiklah..." desah Ray mendekatkan tanganku dan menggigitnya pelan.
Selama pertemuan ini aku menatap orang-orang yang ada disekitarku dan ada beberapa orang yang menatapku dengan tatapan aneh, tapi aku pribadi tidak mengerti kenapa mereka menatapku seperti itu.
"Sayang, ada apa?" tanya Ray pelan.
"Tidak ada kok kak Ray..." gumamku pelan, tidak lama kemudian datang beberapa orang berjalan masuk ke dalam ruangan yang membuat orang-orang di sekitarku terdiam ketakutan.
"Selamat malam, selamat datang di pertemuan perdana mafia internasional setelah beberapa tahun yang lalu di tiadakan..." ucap seorang pria tua dengan dingin. Walaupun pria di depanku ini sudah memulai pertemuan kali ini tapi Ray dengan santai meminum darahku sambil menelepon seseorang dengan ponselnya.
"Sebelum dimulai pembahasan kita kali ini... dimohon kepada wanita asing di sebelah tuan muda Ray untuk meninggalkan ruangan!" ucap seorang pria menatapku dingin.
"Heeh? Aku?" gumamku terkejut.
"Benar, anda bisa keluar dahulu nona."
__ADS_1
"Oh mmm baiklah..." desahku beranjak dari tempat dudukku tapi Ray tidak mau melepaskan tanganku. Sambil melepaskan gigitannya dan meletakkan ponselnya, Ray menggenggam erat tanganku dan menatap pria itu dengan dingin.
"Untuk apa kau mengusir istriku?" ucap Ray dingin.
"Pembahasan ini akan dimulai jadi tidak diperbolehkan orang asing masuk mengikuti pertemuan ini!" ucap pria tua di depanku dengan dingin, belum sempat Ray menjawabnya tiba-tiba Fadil duduk di sebelahku dan Soni duduk di sebelah Ray.
"Oh ya ini hasil pertemuan sebelumnya Sani, baca aja dulu..." gumam Fadil meletakkan setumpuk kertas di depanku tapi aku hanya terdiam.
"Hei Ray, ada apa?" tanya Soni menatap Ray bingung tapi Ray hanya terdiam dengan tatapan yang kesal.
"Kalau begitu... aku juga akan pergi!" ucap Ray dingin.
"Tapi tuan muda..."
"Heeii tunggu dulu! Ada apa ini?" tanya Soni bingung.
"Mmm ini loh tuan muda Soni, pembahasan akan segera dimulai jadi kami meminta nona itu keluar apalagi kan ini..."
"Dia adikku dan dia istri Ray, buat apa kalian mengusirnya?" ucap Soni dingin yang membuat semua orang terkejut.
"A-adik tuan muda? Jangan bilang dia..."
"Dia Sani... adikku..." gumam Soni dingin.
"Tunggu... dia... dia anak dari Tuan shin?" tanya seorang pria tua dengan terkejut.
"Ya benar..." ucap Soni dingin, tiba-tiba berdiri seorang pria yang memakai topeng wajah tepat di kursi depanku, aku menatap pria itu bingung apalagi tatapannya terlihat sangat dingin dan menyebalkan. Pria bertopeng itu berjalan kearahku dan dengan cepat Fadil serta Soni berdiri di depanku seakan-akan melindungiku.
"Mau apa kau?" tanya Soni dingin.
"Minggir kalian!" gerutu pria itu mendorong Soni dan Fadil yang membuatku terkejut, dengan sekali hempasan mereka berdua terjatuh ke tanah. "Waah hebat!!" gumamku dalam hati.
Pria itu berdiri di depan Ray dan menatapnya dengan dingin, aku kira pria itu akan berjalan kearahku tapi ternyata pria itu terus menerus menatap Ray tanpa bersuara sama sekali. Walaupun aku bingung tapi ada rasa penasaran yang muncul di hatiku saat melihat gelang yang dipakainya, gelang yang dipakainya benar-benar mirip dengan gelang yang aku pakai sejak kecil.
"Eehh tuan-tuan bisakah kita..." ucap pria di tengah ruang pertemuan dengan ketakutan tapi pria itu dan Ray hanya terdiam sambil saling menatap. Bingung? ya benar aku sangat bingung apalagi saat Ray bertatapan dengan pria itu tangannya menggenggam kuat tanganku yang membuatku penasaran, Ray seperti menaruh dendam dan kesal secara diam-diam tapi nampaknya Ray tidak bisa melawan pria di depannya itu.
__ADS_1