Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 177 : Pertemuan Organisasi


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri pesta yang masih berlangsung, meskipun ada dua orang yang mati karenaku tapi pesta terus kembali berlangsung. Di tengah pesta aku mengambil segelas wine dan meminumnya sambil menatap keluar jendela melihat cahaya bulan yang kembali ke cahaya normalnya.


"Aneh, kenapa bisa secepat itu berubahnya?" gumamku pelan.


Seharian aku hanya berdiri menatap keluar jendela sambil meminum wine yang tersedia, Aku menunggu Fadil tentang tugas yang dia lakukan sampai aku tidak mandi seharian demi menunggu Fadil di pojok ruangan ini.


Di sebuah kaca di depanku, aku melihat bayangan diriku, aku membuka topengku dan melihat wajahku yang terlihat jelas perbedaannya dari yang sebelumnya. Terasa aku nampak bisa dibilang Sani yang lain atau mungkin ini adalah Raelyn di kehidupan yang lalu.


"Sani!" Ucap seorang pria di belakangku, aku memakai topengku kembali dan melihat Fadil memberikanku setumpuk kertas.


"Oh mmm sudah selesai?" Tanyaku pelan.


"Ya begitulah, sedikit sulit sih tadi aku menggunakan rencana B darimu."


"Apa itu berhasil?"


"Ya begitulah, kau nampak berbeda Sani? Apa kau melakukan sesuatu?"


"Aku hanya mendapatkan sesuatu."


"Mendapatkan apa?" Tanya Fadil penasaran, aku menunjukkan lencana milik Lyraen yang membuat Fadil terkejut.


"T-tunggu, dia raja kerajaan terkutuk! Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?"


"Mudah saja sih."


"Mudah? Jangan bilang kamu melakukan perjanjian Sani!" Ucap Fadil mengangkat tanganku dan menatap cincin di jariku dengan dingin.


"Tidak, aku tidak akan melakukan itu."


"Lalu, cincin ini?"


"Cincin pernikahanku dengannya."


"Hei! Kata kau kalau kau tidak..."


"Dia suamiku di kehidupan yang lalu kak Fadil."


"Haaah? Suami? Sejak kapan kau memiliki suami pria itu?"


"Aku... pernah hidup tiga kali dan kehidupanku saat ini adalah ketiga kalinya, dia suamiku di kehidupanku yang pertama."


"Tunggu-tunggu! Bagaimana? Coba jelaskan secara terperinci!" Ucap Fadil dingin dan aku menceritakan semuanya yang membuat Fadil terkejut.

__ADS_1


"Tunggu! Serius?"


"Kembaranku bahkan ayahku sendiri mengiyakan masalah itu."


"Jadi sejak dulu ayahmu Raelan dan kembaranmu Rasya dan Ratya?"


"Kalau mereka tahu pasti jawabannya iya, dan mungkin di kehidupan ini sama seperti di kehidupanku yang pertama dan... aku sama sekali tidak ingat."


"Tapi kan aku tidak ada di kehidupanmu yang pertama Sani!"


"Yah mungkin karena kita bertemu di kehidupanku kedua makanya aku bertemu denganmu kak Fadil."


"Oh astaga kenapa dunia ini semakin aneh sih."


"Entahlah, aku sudah meminta kau membunuhku tapi kau tetap saja menolak kak Fadil!" Ucapku pelan dan berjalan pergi.


"Kau sudah aku anggap adikku sendiri jadi tidak mungkin aku membunuh adikku sendiri."


"Jawabanmu masih saja seperti itu kak Fadil..." gumamku menatap jam tangamku dan menghela nafas panjangku.


"Kapan pertemuannya?"


"Sudah di mulai semenjak kemarin."


"Mandi? apa kau belum mandi?"


"Belum, aku menunggumu sejak semalam."


"Astaga ya sudah ini pakaianmu dan cepat mandi..." gumam Fadil memberikanku pakaian dan aku segera pergi ke dalam toilet wanita, aku langsung mandi dan menatap sebuah kalung yang ada di leherku, entah sejak kapan ada kalung di leherku tapi yang menjadi perhatianku adalah wajahku sedikit berubah dari wajahku yang sebelumnya, aku menghela nafas panjang dan bergegas keluar dari toilet.


"Eehh sudah selesai? Tumben cepat sekali."


"Yaah lagi tidak berselera saja..." gumamku pelan.


"Kamu tidak menguncir rambutmu?"


"Tidak, hanya ingin tampil beda saja..." gumamku menata rambutku dan berjalan cepat menuju ruang pertemuan.


Di depan sebuah pintu aku melihat dua pria bertubuh besar menghalangi perjalananku dan saat aku menunjukkan lencana milik Lyraen dengan cepat mereka berdua membuka pintu ruang pertemuan itu dengan ketakutan.


Di dalam ruangan pertemuan itu aku melihat banyak orang yang hadir bahkan orang-orang di masa lalu juga ikut hadir di tempat itu.


"Astaga siapa lagi yang datang terlambat ini!" Ucap seorang pria tua menatapku kesal.

__ADS_1


"Halah biasalah pria yang jadi ketua organisasi tersembunyi selalu terlambat!" Sindir seorang pria dengan dingin, tapi tanpa Fadil pedulikan Fadil langsung menarik kursi kosong itu dan aku langsung terduduk di kursi itu.


"Ehh tunggu, sejak kapan organisasi tersembunyi memiliki ketua perempuan?" Ucap beberapa orang terkejut.


"Ciihh berisik kali! Pertemuan yang membosankan!" Gerutuku kesal, di depanku aku melihat Lyraen yang sibuk dengan kertas di tangannya.


"Heeiiii!! Kau sudah terlambat protes saja!" Protes seorang wanita dingin, dengan cepat aku melempar senjataku di sampingnya dan menariknya kembali dengan tali yang aku ikatkan di senjataku.


"Astaga... huuffttt... selamat aku!" Desah wanita itu ketakutan


"Aku orang sibuk, bersyukurlah kalian aku datang ke pertemuan yang membosankan ini biasanya wakilku yang menggantikanku jadi... lakukan cepat sebelum aku bunuh kalian semua!" ucapku dingin.


"Haah? Hahaha kau ingin membunuh kami? Apa aku takut untuk..." tawa seorang pria kencang dan dengan cepat aku melukainya dengan senjataku yang membuat pria itu kesakitan.


"Hanya segitu saja menangis? Ciihh dasar lemah!" Ucapku dingin.


"Kau sombong sekali nona, disini ada raja Kerajaan Terkutuk pastinya kau akan mati di tangannya! Benar kan tuan muda!" Ucap seorang wanita serius, Lyraen menghela nafas panjangnya dan menatapku dingin.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya."


"Tunggu... apa?" Ucap semua orang terkejut.


"Heei sudahlah lanjutkan pertemuan ini! Tuan muda sangat sibuk!" Ucap seorang pria di samping Lyraen dan pertemuan kembali di mulai.


Selama pertemuan berlangsung dua orang wanita yang ada di sekitar Lyraen selalu mengajak berbicara Lyraen dan Lyraen terus menanggapinya yang membuatku sangat terganggu. Entah kenapa tapi melihat hal itu membuatku kesal. Aku melempar senjataku dan dengan cepat Lyraen menangkap senjataku tanpa menatap senjataku.


"Apa sebegitu bencinya kau denganku?" Ucap Lyraen pelan.


"Tentu saja, aku sangat membencimu sampai aku ingin membunuhmu!" Ucapku dingin.


"Kenapa?"


"Apa aku harus menjelaskannya?" Ucapku berdiri di depan tempat dudukku.


"Tenanglah, kau juga masih saja menanggapi wanita-wanita itu sedangkan dia itu..." ucap Raelan serius dan aku menghentikan ucapan Raelan.


"Tidak perlu di jelaskan, itu tidak penting..." gumamku menarik senjataku dan memasukkan kembali senjataku.


Entah kenapa aku bisa setersinggung itu dengan Lyraen padahal sebelumnya aku dengan pria-pria menyebalkan itu aku sama sekali tidak tersinggung bahkan aku selalu mengalah dengan mereka.


"Sani, kamu kenapa?" Tanya Fadil pelan.


"Tidak ada, lupakan saja..." gumamku pelan dan menulis sesuatu di selembar kertas dan di buku catatanku, saat aku menulis buku catatanku aku melihat Lyraen menatapku sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Baiklah bagaimana pendapat organisasi tersembunyi?" Ucap seorang pria serius dan aku langsung memberikan kertas yang aku tulis kepada Fadil dan kembali menulis di buku catatanku. Aku datang kepertemuan ini hanya karena tugas tetua organisasi dan sekalian menjaga ayah dari orang-orang jahat yang ingin melukainya saja dan tidak lebih dari itu.


__ADS_2