Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 199 : Pertemuan Dengan Musuh


__ADS_3

Pesta pernikahan kami dilakukan selama dua hari dan dihadiri banyak orang bahkan warga biasa juga dapat hadir di acara pernikahan kami, awalnya sedikit aneh karena mengundang warga biasa tapi karena Valentino dikenal sebagai orang yang sangat berjasa bagi warga biasa oleh sebab itu banyak warga biasa yang datang ke pesta pernikahan kami.


Dua hari menyambut ribuan tamu benar-benar membuatku lelah ditambah hari ini aku dan Valentino menghadiri rapat dengan para ketua organisasi di seluruh wilayah, awalnya aku menolak untuk ikut tapi Fadil memaksaku untuk ikut karena takut keselamatan Raelan.


"Kenapa wajahmu kesal sayang?" Tanya Valentino menatapku bingung


Sore ini aku pergi bersama Valentino ke pertemuan itu, tubuh yang lelah dan malas bertemu banyak orang membuatku memilih untuk istirahat tapi demi keselamatan Raelan aku mengikuti pertemuan itu.


"Tidak ada."


"Tidak ada?" Tanya Valentino bingung.


"Aku malas..." gumamku dingin.


"Maksudnya?" Tanya Valentino bingung.


"Itu tuan muda, Raelyn memang tidak suka ikut pertemuan jadi dia malas!" Ucap Fadil pelan.


"Benarkah? Pantas aku tidak pernah menemukannya di setiap pertemuan."


"Karena aku malas, pertemuan sangat membosankan Valentino!" Protesku kesal.


"Tapi pertemuan ini akan berbeda."


"Berbeda? Apa ada pertunjukan yang menarik?" Tanyaku penasaran.


"Ada."


"Tentang apa?" Tanyaku serius.


"Nanti kamu akan tahu sendiri apa lagi pernikahan kita membuat heboh seluruh wilayah."


"Benarkah? Kalau ada pertunjukan yang menarik pasti aku akan sangat senang!" Ucapku senang.


"Tapi nona muda harus siap sakit hati!" Ucap Cakra serius.


"Aku? Kenapa?"


"Ada wanita yang sangat mencintai tuan muda tapi tidak bisa mendapatkan cintanya!" Ucap Cakra serius.


"Lalu?"


"Ya takutnya anda sakit hati terus meninggalkan tuan muda."


"Mmm siapa wanita itu?" Tanyaku penasaran.


"Rycha."


"Oohh hmmm..." desahku pelan.


"Ada apa sayang?" Tanya Valentino serius.

__ADS_1


"Tidak ada kok, mmm apa ada yang lain?" Tanyaku pelan.


"Entahlah kami belum mendapatkan informasi lebih jauh nona muda tapi emang banyak wanita yang menyukai tuan muda bahkan mengejar tuan muda..." gumam Cakra pelan.


"Oh mmm, kak Fadil apa ada sesuatu yang menyenangkan?" Tanyaku pelan dan Fadil menganggukkan kepalanya.


"Ada... Semua mantan suamimu ada di pertemuan itu bahkan Alan juga ada."


"Alan? Semuanya? Serius?" Tanyaku terkejut.


"Ya begitulah."


"Apa tetua juga datang?"


"Ya semua pejabat tertinggi datang."


"Oh astaga...sangat menarik..." gumamku pelan.


"Apa kau khawatir Sani?" Tanya Fadil pelan.


"Tidak, hanya ingin sedikit balas dendam saja..." gumamku pelan.


"Balas dendam? Kepada siapa?" tanya Valentino serius.


"Nanti kamu akan tahu sendiri..." gumamku pelan dan berjalan keluar dari mobil menuju ke gedung di depanku.


Bertemu orang-orang dimasa lalu membuat dendamku kembali muncul, perasaan yang kesal dan amarah benar-benar kembali muncul di dalam diriku. Tiba-tiba Valentino menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku lembut.


"Tenang saja istriku, ada aku... Jangan khawatir..." gumam Valentino pelan dan aku hanya menghela nafasku pelas sambil menganggukkan kepalaku pelan.


Di dalam gedung pertemuan aku melihat banyak orang yang berlalu lalang di sekitar gedung, aku kira kalau tidak ada pesta tapi ternyata ada pesta kecil di dalam gedung. Di depanku aku melihat Alan yang sedang berbincang dengan seorang wanita, melihat wajahnya teringat Satria yang membuatku sangat sedih. Aku melepaskan genggaman Valentino dan berjalan menjauhi pesta sambil membawa gelas wine.


"Satria... Dimana kau anakku?" gumamku pelan dan air mata yang menetes membasahi pipiku.


"Raelyn..." gumam Valentino memelukku dari belakang yang membuat tangisku menjadi-jadi.


"Kenapa kamu menangis? Siapa Satria?" Tanya Valentino pelan.


"Satria itu anakku yang dibunuh ayahnya dan aku... Aku merindukannya..." gumamku pelan.


"Anakmu dengan Alan?" Tanya Valentino pelan.


"Bukan, anakku dengan Han. Aku sudah kehilangan banyak anak di kehidupan keduaku dan juga kehidupan ini... Aku tidak cocok sebagai ibu, Valentino bunuh aku!" Ucapku serius tapi Valentino menghela nafas dan menciumku lembut.


"Tidak istriku, kamu sudah siap menjadi ibu hanya saja musuh ingin menghancurkanmu saja jadi..."


"Beritahu aku siapa musuhnya? Beritahu aku Valentino!" Teriakku kesal dan Valentino mengusap pipiku lembut.


"Kamu akan tahu nanti istriku saat di pertemuan untuk saat ini mari masuk ke dalam..." gumam Valentino pelan dan kembali menarikku masuk ke dalam gedung.


Di sebuah ruangan aku melihat banyak orang yang sudah duduk di tempat duduknya, aku melepaskan tanganku dari genggaman Valentino dan terduduk di samping Fadil.

__ADS_1


"Ku kira kau menghilang lagi Sani..." desah Fadil pelan.


"Tidak, Valentino yang membawaku kembali."


"Huft syukurlah.. Baiklah, jika salah satu ketua organisasi tidak datang maka wakilnya harus menggantikannya dan aku tidak mau!"


"Walaupun begitu tetep saja kak Fadil yang berbicara."


"Tapi kan... Haish asalkan beritahu aku apa yang harus aku lakukan!" Ucap Fadil serius dan pertemuanpun di mulai.


"Baiklah pertemuan akan dimulai!" Ucap seorang tetua pelan, aku menatap sekitarku dan melihat semua orang-orang di kehidupan keduaku berada di pertemuan ini bahkan Raesya dan Raetya juga ada di pertemuan ini.


"Kak Fadil... Ini pertemuan apa? Tanyaku pelan.


"Pertemuan dengan musuh."


"Benarkah? Lalu membahas apa?"


"Para tetua ingin mengajak musuh bersandiwara agar perang berhenti dan mafia hidup dengan aman dan damai lagi."


"Ciihh memangnya bisa? Mereka tidak akan pernah bersedia melakukannya!" Ucapku dingin dan menulis di buku catatanku yang dibawa Fadil.


"Baiklah bagaimana penawaran kami tuan Alan?" Tanya tetua serius.


"Heeeh hanya itu? Tidak tertarik!" Ucap Alan dingin.


"Tapi hanya itu yang bisa kami para tetua lakukan!" Ucap tetua dingin.


"Mmm..." desah Alan menatapku dingin dengan senyuman menyebalkannya yang membuatku sangat kesal.


"Kalau begitu... Bunuh Sani Shin agar aku membatalkan semua peperangan ini!" Ucap Alan dingin.


"Sani Shin? Siapa Sani Shin?" Tanya tetua bingung.


"Tidak ada nama Sani Shin di kehidupan ini tuan Alan!" Ucapku menutup buku catatanku dan menatap Alan dingin.


"Oh benarkah? Ternyata kau merubah namamu ya Sani Shin!" Ucap Alan dingin dan terduduk di meja sebelahnya.


"Tidak juga... Sani Shin sudah mati lagi pula untuk apa kau mencarinya?"


"Tidak ada, hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya saja..."


"Oh begitu ya... Aku juga ingin mengucapkan pada tuan Alan, tuan Han, tuan Ray, tuan Sino, tuan Sanjaya dan tuan Vincent atas terlahirnya kembali ke neraka yang menyebalkan ini..." gumamku tersenyum dingin yang membuat mereka semua terkejut.


"Ciiihh kau sekarang jadi sangat sombong ya!" Gerutu Alan kesal.


"Lalu kau kira kamu tidak sombong lagi ya tuan Alan, lagi pula dendamku masih sama seperti dulu!" Ucapku dingin dan terduduk di meja.


"Oh benarkah? Padahal ayahmu masih hidup loh."


"Ayah ya? Ayahku ada banyak dan pria yang kau sandera kehidupan lalu itu bukan ayahku."

__ADS_1


"Oohh jadi kamu menyadarinya ya."


"Menurutmu aku anak kecil yang berpikiran polos ya? Beritahu aku Alan... Siapa bosmu sesungguhnya?" Tanyaku dingin dan menatap Alan kesal, melihat perilaku Alan di pertemuan ini membuatku yakin bukan dia dalang dibalik semuanya dan juga pasti ada orang lain yang bersembunyi untuk menghancurkan hidupku.


__ADS_2