
Setelah aku selesai mempersiapkan semuanya, aku berusaha melemaskan tubuhku yang masih sedikit kaku, walaupun tidak sekaku sebelumnya tapi rasa sakit dan sulit digerakkan masih terasa hingga saat ini.
"Siapa dia?" tanyaku menatap Ray di sampingku.
"Dia adalah wanita yang dari dulu mengejarku, namanya adalah Riana, dia anak dari tetua Asia. Dia beberapa kali hampir meniduriku, kalau saja Soni tidak menyelamatku diam-diam pasti aku akan..."
"Oh begitu ya, lalu...kau takut dengannya?" tanyaku dingin.
"Dia sangat kuat dan licik, dia juga pengguna racun dan banyak wanita yang kalah melawannya dan membuatku harus..."
"Sudahlah tidak perlu di teruskan aku tahu kok..." gumamku meletakkan nampanku dan meminum obat penawar di depanku yang sudah disiapkan Fadil di antara beberapa gelas di depanku itu. Aku meminum anti racun karena takut kalau aku terluka lagi oleh racun milik Samuel seperti dahulu.
"Hahaha benarkan, aku yang paling hebat tiada siapapun yang berani melawanku!" tawa wanita itu kencang.
"Heeh sombong kali kau Riana!" gerutu Ray terduduk di kursi belakangnya sedangkan aku berdiri tepat membelakangi Ray.
"Ya lah, malam ini kau milikku dan aku tidak akan membiarkanmu lari lagi Ray Khun!" ucap wanita itu dingin.
"Benarkah? Tapi sudah aku katakan kan, aku memiliki istri jadi buat apa aku meladenimu!" gumam Ray dingin.
"Istri!! Hahaha aku tidak takut dengan istrimu! Dia tidak sehebat aku, dia bukan tandinganku lagi pula kau milikku Ray Khun!" gerutu wanita itu kesal.
"HAHAHA!!" tawaku kencang yang membuat semua orang terkejut.
"AKU BUKAN TANDINGANMU YA? APA KAU BERCANDA?" ucapku kencang dan melepas jubahku yang membuat semua tamu terkejut dan mundur perlahan.
"Di...dia..." ucap tetua Asia terkejut melihatku.
"Merebut suamiku ya? Apa kau kira semudah itu ya?" gumamku tersenyum dingin, aku merangkul Ray dari belakang dan mengusap lembut pipi Ray yang membuat wanita itu kesal.
"Jauhkan tangan kotormu dari wajah suamiku!" teriak wanita itu kesal.
"Suamimu ya? Hahaha kau sangat lucu ya adik kecil, kau bilang aku bukan tandinganmu kan? Jadi buktikan kalau kau bisa melukaiku.." gumamku dingin sambil terduduk di paha Ray.
"Riana mundurlah dia bukan...." teriak tetua Asia kencang tapi wanita itu mengayunkan pedangnya kesal.
"Diam kau si tua! Ray Khun adalah milikku, aku akan memilikinya apapun yang terjadi!" teriak wanita itu berlari kearahku, dengan santai aku beranjak dari paha Ray dan mengambil senjataku melawan wanita itu.
"Dia hebat juga ternyata..." gumamku dalam hati, walaupun aku sudah meminum obat penawar dan meminum obat dari Ray tapi tangan dan kakiku belum sembuh seutuhnya. "Hmmm sedikit menyebalkan juga.." gumamku dalam hati, dikarenakan tubuhku sedikit sakit dan sesekali hampir terjatuh tapi aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Hahaha hanya ini kemampuan wanita ini? Apa kau bercanda! Aku bisa mengalahkannya dengan mudah!!" teriak wanita itu bangga, teknik pedangnya mengikuti teknik pedangku jadi dia dengan mudah membaca gerakanku yang membuatku tidak bisa melukainya.
"Haish benar-benar menyebalkan, kalau terus menerus seperti ini aku akan kalah. Aku harus menggunakan teknik itu..." gumamku dalam hati, aku menghentikan langkah kaki kananku, aku memutar badanku dan melukai punggungnya yang membuatnya terjatuh seketika.
"A...APA!!" teriak wanita itu terkejut.
"Huuhh..hhuuhh..." desahku mencoba mengatur nafasku, aku mengambil obat milikku dan diam-diam meminumnya.
__ADS_1
"Riana!!" teriak tetua Asia berdiri di sebelah wanita itu.
"Ke..kenapa tubuhku tidak bisa bergerak!" teriak wanita itu kesakitan.
"Oh benarkah? Kasihan sekali kamu ya..." gumamku tersenyum dingin.
"Apa yang kau lakukan kepadanya?" ucap tetua Asia terkejut.
"Entahlah, apa peduliku. Yang penting Ray adalah milikku dan selamanya milikku!" gumamku tersenyum dingin dan membalikkan badanku.
Belum saja aku melangkahkan tubuhku, tiba-tiba aku merasa ada sebuah pisau kecil yang mengenai punggungku lagi, bisa dibilang sama saat aku keracunan beberapa minggu karena racun di pisau kecil itu.
"Sani!!" teriak Ray terkejut, aku menggelengkan kepalaku yang membuat Ray terdiam sambil terus menatapku.
"Kau sangat menyebalkan ya sekarang Sani!" gerutu seorang pria di belakangku. Aku menarik pisau itu dan menatap darahku yang menetes di pisau itu.
"Ahh menyebalkan ya..." desahku melemparkan jarum racunku dan mengenai mereka bahkan Samuel tanpa mereka ketahui.
"Kau masih saja melakukan hal yang sama seperti dulu ya Samuel..." gumamku tersenyum dingin, sakit sih sebenarnya tapi aku harus berusaha aku terlihat baik-baik saja.
"Tumben kau tidak keracunan terkena racunku..." gumam Samuel dingin.
"APA!!" teriak guru Rendi dan Ray terkejut.
"Apa kau kira aku selemah itu heeh dasar mantan sama saja semuanya..." gumamku tersenyum dingin.
"Oh benarkah? Aku tidak butuh kak Ray kok, lagi pula aku memang memancingmu menemuiku. Urusan kita belum selesai Samuel!" ucapku menjentikkan tanganku yang membuat tetua Asia dan Samuel merintih kesakitan.
"Ja...jangan bilang kau melemparkan racunmu!" ucap Samuel terkejut.
"Ya...bisa dikatakan seperti itu, apa kau kira aku akan membiarkan kau melarikan diri lagi Samuel," gumamku berjalan kearah Samuel.
"Kau sudah beberapa kali membuatku dan kak Fadil menderita dan apa kau tahu kau benar-benar membuatku muak!" gerutuku menggenggam erat pedangku.
"Heeh aku? Seharusnya Alan lah yang kau bunuh!"
"Alan ya? Dia memiliki waktunya sendiri untuk mati, lagi pula membunuhmu adalah caraku membalaskan dendam atas kematian ayahku..." gumamku berdiri di depan Samuel, rasa pusing kembali menyerang seperti dulu, aku tidak bisa melakukan apapun selain mencoba mencari tahu dimana ayahku berada saat ini dari Samuel sebelum aku benar-benar pingsan lagi.
"Mati ya, ayahmu belum mati."
"Benarkah? Apa kau kira aku akan percaya?"
"Terserah padamu kalau kau tidak percaya."
"Kalau memang ayahku hidup, katakan padaku...dimana ayahku!" gumamku dingin.
"Apa kau kira aku akan memberitahukanmu!"
__ADS_1
"Katakan! Dimana ayahku!!" teriakku menarik kerah kemejanya dengan kuat.
"A...aku tidak akan mengatakannya!"
"KATAKAN !!" teriakku kesal.
"U...untuk apa kau ingin tahu..."
"Beritahu aku, aku akan membantumu terlepas dari jeratan Alan."
"Terlepas? Jeratan Alan..." gumam Samuel pelan.
"Cepat katakan!!" teriakku mengangkat pedangku dan menatapnya dingin.
"Di bawah tanah biru yang berkilauan..." gumam Samuel sedikit ketakutan.
"Oh..." desahku menurunkan kedua tanganku, dibawah tanah biru hang berkilauan adalah sebuah perumpamaan untuk menggambarkan kalau yang Samuel maksud adalah bawah laut.
"Kamu tidak membunuhku?" tanya Samuel terkejut.
"Tidak, sudah aku katakan kan aku akan melepaskanmu dari jeratan Alan..." gumamku menjentikkan tanganku yang membuat bawahanku berdiri di belakang Samuel dan tetua Asia beserta wanita tadi.
"Tapi...kau menjadi tahanan bagi mafia penguasa, ya anggap saja itu sebagai tempat untukmu berlindung dari Alan..." gumamku memasukkan kembali pedangku dan bawahanku langsung membawa mereka bertiga pergi dari aula ini.
"Sani...kau berhasil!!" teriak Ray berlari ke arahku dan memelukku erat.
"Be...benarkah...." desahku pelan.
"Ya, terimakasih istriku..." gumam Ray pelan.
"Yaaahh..." desahku pelan, tubuhku yang semula kaku kini berubah menjadi lemas kembali sama seperti dahulu saat terkena racun milik Samuel.
"Sani! Kau terkena racun Samuel lagi!!" teriak Fadil menatapku terkejut.
"Tidak juga kok..." gumamku melepaskan pelukan Ray dan berusaha berdiri sendiri.
"Kau selalu saja sok kuat, bentar aku ambil obat penawarnya!!" gumam Fadil berlari keluar aula.
"Waah tidak aku sangka kau sangat hebat adikku!" teriak Xiao Min bangga.
"Tidak juga..." desahku mengatur nafasku.
"Sani apa kau sudah mendapatkan teka tekinya?" tanya Viu menatapku dingin
"Yaaah, tempat itu adalah..." desahku terjatuh di lantai tapi Ray langsung menangkap tubuhku yang membuat kepalaku tidak terbentur lantai.
"Sani...Sani... bertahanlah!!" teriak semua orang terkejut.
__ADS_1
Dengan menahan rasa sakit di punggungku, aku hanya terdiam, nafasku benar-benar berat yang membuatku tidak bisa melakukan apapun selain menutup mataku dan kembali pingsan seperti dulu. Mendapatkan jawaban Samuel membuatku sedikit tenang, aku yakin ayah masih hidup walaupun aku sendiri tidak tahu apakah aku masih bisa hidup setelah ini.