
Disaat pertemuan berlangsung banyak pria yang terus menggodaku yang membuatku sangat kesal tapi sekesal apapun aku harus bisa menahan diriku. Aku menulis kelemahan ibu kandungku dan ayah kandungku dari keluarga Viu itu, mereka sangat hebat tapi aku harus waspada dengan ayah kandungku dari keluarga Viu apalagi dia ahli senjata beracun sama sepertiku.
"Aku dengar, dulu tuan Han pernah menikah dengan ketua organisasi tersembunyi dan membunuh anaknya yang bernama Satria itu ya?" Ucap seorang pria dingin yang membuatku terkejut, aku menatap pria itu dan ternyata dia adalah Samuel.
"Lalu? Apa urusannya denganmu?" Ucapku dingin dan Samuel menatapku santai.
"Tidak ada hanya saja... Han memang membunuh Satria tanpa perintah dari siapapun!" Ucap Samuel serius yang membuatku terkejut.
"B-benarkah? Tapi kata dia..."
"Dia berbohong padamu!" Ucap Samuel dingin yang membuat ingatanku akan Satria teringat kembali.
"Kau tidak berbohong kan?" Tanyaku dingin.
"Tanyakan langsung padanya..." gumam Samuel santai dan Han menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya, yang dia katakan benar..." ucap Han pelan yang membuatku sangat kesal, aku mengambil senjataku dan melawan Han dengan perasaan kesal.
"T-tunggu Sani... Aku bisa menjelaskannya!"
"Aku tidak perlu penjelasanmu!"
"A-aku memang membunuh Satria tapi..."
"Sudah aku katakan! Aku tidak butuh penjelasanmu!" Teriakku kencang dan terdengar suara petir diluar bangunan yang terus menggelegarkan telinga.
"Dengarkan aku Sani!"
"Tidak ada yang perlu di jelaskan!" Protesku kesal dan aku kembali melawan Han dengan kesal.
"Kau ingin benar-benar bertarung melawanku Sani?" Ucap Han serius.
"Menurutmu?" Ucapku kesal dan Han hanya menghela nafasnya pelan.
"Baiklah, tapi jika aku membunuhmu maka... Jangan salahkan aku..." gumam Han pelan dan melawanku dengan serius.
Pertarunganku dengan Han benar-benar sangat sengit, beberapa kali aku hampir terkena senjatannya sedangkan dia juga hampir beberapa kali terkena senjataku.
"Ciiihh kenapa tidak kena mulu sih!" Gerutuku kesal dan terus melawan Han dengan sekuat semampuku.
Aku terus mencari cara agar bisa melawan Han dengan mudah tapi disaat posisiku dan posisi Han siap untuk saling membunuh, tiba-tiba muncul dua senjata yang menahan kami berdua. Aku dan Han benar-benar terkejut melihat seorang pria berdiri di tengah kami dengan dua senjata di tangannya.
"Ckckck... Padahal sudah aku bilang dan berpesan kalau ayah dan ibu jangan saling membunuh tapi tetap saja seperti itu..." ucap pria itu dingin yang membuatku dan Han terkejut.
__ADS_1
"Dan paman Fadil... Sudah aku minta kan untuk menjaga mereka agar tidak bertarung tapi kenapa tetap bertarung?" Ucap pria itu menatap Fadil dingin.
"Kamu Satria ya? Mmm yaah kau tahu sendirilah bagaimana ayah dan ibumu sangat keras kepala!" Ucap Fadil santai yang membuatku sangat terkejut. Aku membuang senjataku dan memeluk erat pria itu.
"Kamu Satria? Benarkah? Kamu Satria? Kamu Satria Li anak ibu?" Ucapku senang dan pria itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Aaaaahhhh ibu senang sekali bisa bertemu denganmu Satria... Ibu sangat..."
"Heeii dia juga anakku!" Protes Han kesal dan aku langsung mengambil senjata Satria untuk menghalangi Han dan menatapnya dingin.
"Tidak aku ijinkan kau menyentuh anakku!" Ucapku dingin.
"Sudahlah ibu... Kalian ayah dan ibuku! Sampai kapanpun akan sampai begitu..." gumam Satria melepaskan pelukanku dan memeluk Han erat.
"Astaga akhirnya aku bisa bertemu denganmu Satria, maafkan ayah ya kalau ayah membunuhmu dan..."
"Tidak apa ayah... itu bukan kesalahan ayah dan Satria sudah memaafkan ayah kok."
"Benarkah? Ayah senang mendengarnya..." gumam Han pelan dan aku langsung menarik Satria ke dalam pelukanku.
"Sudah! Kau tidak boleh lama-lama memeluknya nanti kau membunuhnya lagi!" Ucapku dingin dan membawa Satria ke tempat dudukku, selama pertemuan kembali dimulai Satria dan Fadil bercerita bersama sedangkan aku hanya menatap Han dengan tatapan dingin.
"Mmm baiklah karena waktu menunjukkan tengah malam maka kita tunda pertemuan ini sampai siang!" Ucap tetua serius dan semua orang langsung keluar dari ruangan, aku menarik tangan Satria keluar ruangan dan berjalan menjauhi Han.
"Sani kamarmu di lantai 8..." ucap Fadil pelan dan aku terus menarik tangan Satria sampai ke dalam kamar yang aku tempati selama pertemuan ini.
"Sudah malam, istirahatlah!" Ucapku dingin dan mendudukkan Satria di atas tempat tidur.
"Tapi ibu Satria ingin bertemu ayah dan..."
"Tidak boleh! Kau sudah pernah dibunuh olehnya! Ibu tidak ingin kau terluka lagi!" Ucapku menatap Satria dingin.
"Tapi ibu..."
"Satria, sudah ikuti saja perkataan ibumu. Dia hari ini sangat kesal dari pada nanti ibumu melarangmu melakukan apapun..." gumam Fadil masuk ke dalam kamar.
"Tapi paman Fadil!" Ucap Satria pelan dan Fadil terus memberikan kode pada Satria.
"Mmm b-baiklah..." desah Satria pelan dan berbaring di tempat tidur.
"Kak Fadil tidurlah dengannya..." gumamku mengambil segelas wine dan berjalan kearah balkon.
"Lalu kamu sendiri mau ngapain?"
__ADS_1
"Aku ada urusan, kak Fadil tidur saja dulu..." gumamku pelan dan menutup pintu balkon, aku terduduk di pagar balkon dan melihat Fadil dan Satria yang sedang bercerita bersama.
"Satria hidup di kehidupan ini? Bagaimana bisa? Padahal kan dia tidak bisa berinkarnasi tapi kenapa bisa dia hidup di kehidupan ini..." gumamku pelan dan menulis beberapa tulisan di buku catatanku.
"Huft..." desahku meminum wine dan menatap Valentino berjalan kearahku.
"Kamu tidak tidur?" Tanyaku pelan dan Valentino langsung mendekap tubuhku erat.
"Aku ingin kau menemaniku..." gumam Valentino pelan dan aku membalas pelukannya.
"Benarkah? Maaf ya hari ini aku mengacaukan pertemuan ini." Gumamku pelan.
"Tidak, kamu tidak perlu minta maaf."
"Tapi kan..."
"Jika kau tidak berani seperti itu pasti kamu tidak akan bisa mengetahui siapa dalang dibalik ini semua, benarkan?" Ucap Valentino pelan dan aku menganggukkan kepalaku pelan.
"Ya benar."
"Oh ya... Jadi dia yang namanya Satria?" Tanya Valentino pelan.
"Ya, tapi entahlah bagaimana bisa dia hidup di dunia ini padahal dia berkata tidak bisa berinkarnasi."
"Dia kan berkata kalau dia tidak ingin kau dengan mantan suamimu itu bertarung bukan?"
"Jadi dia datang karena aku mencoba membunuh Han?"
"Mmm mungkin saja... Dan aku sangat cemburu melihatnya..." gumam Valentino pelan.
"Cemburu? Kenapa?" Tanyaku pelan.
"Kau milikku Raelyn dan aku... mmmpphhh..." aku langsung mencium Valentino dan memeluknya erat
"Kamu suamiku jadi aku akan tetap setia padamu jadi jangan khawatir."
"Tapi kan..."
"Aku mencintamu Valentino.." gumamku pelan dan Valentino memelukku erat.
"Aku juga mencintaimu Raelyn..." gumam Valentino pelan dan kami berdua kembali berciuman.
Bisa bertemu Satria lagi adalah suatu hal yang sangat aku inginkan apalagi Satria adalah darah dagingku sendiri, di kehidupan ini aku berjanji pada diriku kalau aku akan menjaga Satria, Valentino, Raelan, Ravaro, dan kedua kembaranku.
__ADS_1