
Aku terus menundukkan kepalaku sambil seraya berpikir, kalau dibelakang Bintang ada orang lain jadi bukan hanya Bintang saja yang menjadi targetku kali ini dan pastinya pria itu juga akan muncul bersama dengan Bintang.
Aku baru pertama kali mendengar nama Alan dan aku juga tidak tahu Alan itu orang yang bagaimana. Kalau Bintang tidak masalah bagiku karena aku tahu Bintang seperti apa. kalau Alan? Aku sama sekali tidak tahu.
"Oh astaga... betapa bodohnya kau Sani kau hanya membawa jarum saja sih!" gumamku membenturkan kepalaku ke pohon.
"Lalu...rencana apa yang akan aku rencanakan ya? Ray tidak segera datang lagi...aaah payah!" gerutuku mengangkat wajahku ke atas sambil memejamkan kedua mataku.
Saat aku menikmati keheningan hutan di malam ini, aku mendengar suara langkah kaki di dalam kegelapan. Aku membuka mataku dan melihat dua pria yang berjalan ke arahku. Diantara pria itu aku melihat Bintang yang sedang berjalan di samping pria bertopeng di sebelahnya.
"Lama tidak berjumpa Sani Shin..." ucap Bintang menatapku dingin.
"Jadi dia yang bernama Sani itu?" ucap pria itu dingin.
"Maaf aku tidak mengenal kalian..." gumamku beranjak pergi tapi tanganku digenggam oleh pria itu dan menahanku di bawah pohon kembali.
"Kau sama saja dengan ayahmu yang menyebalkan ya...Sani Shin..." ucap pria itu dingin.
"Ayah? Apa kau yang menahannya?" tanyaku terkejut.
"Menurutmu, siapa lagi yang bisa menahan si tua bangka itu! Sebenarnya, ingin sekali aku bunuh tapi sebelum itu...aku ingin bermain-main denganmu cantik!" ucap pria itu dingin.
"Bermain-main ya? Heeh...siapa kamu?"
"Untuk apa kamu ingin tahu siapa aku?"
"Hanya penasaran saja, katanya ingin bermain denganku?"
"Baiklah...aku akan memberitahukanmu..." gumam pria itu menciumku yang membuatku terkejut.
"Ka...kamu menciumku?" protesku terkejut.
"Kalau aku menciummu kenapa?"
"Aku hanya ingin tahu kamu apa hubungannya dengan menciumku!" protesku kesal, aku berusaha melepaskan diriku tapi ternyata kekuatannya sama seperti kekuatan Ray saat menekanku di dinding waktu dulu.
"Tidak ada, hanya ingin menciummu saja tidak lebih..." desah pria itu pelan dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Aku akan memberitahukanmu identitasku khusus padamu..." gumam pria itu membuka topeng wajahnya di depanku, aku melihat wajah putih dan tampan benar-benar sama tampannya dengan Ray. Pria itu mendekatkan wajahnya di telingaku yang membuat nafasnya terasa di leherku.
"Aku...Alan Khun, kau bisa memanggilku Alan Li. Aku... ketua tertinggi mafia misterius."
"Ka...kamu Alan ?" tanyaku terkejut.
"Yups...apa Han yang menceritakannya padamu?"
"Kalau iya kenapa kalau tidak kenapa?"
__ADS_1
"Kalau iya sih gak masalah palingan aku akan menghukumnya saja."
"Dia tidak melakukan apapun untuk apa kau hukum!"
"Kau masih saja membela Han yang sudah menyakitimu bahkan membunuh anakmu? Apa kamu gila? Hahaha" gumam Bintang tertawa kencang.
"Membelanya? Tidak, aku sama sekali tidak membelanya!" gerutuku kesal.
"Kalau begitu... apa yang kamu bicarakan dengan Han itu?" tanya Alan serius.
"Itu tidak penting, yang terpenting...jawab dimana kau mengurung ayah!" teriakku kencang.
"Jaaauuuhhhh di suatu tempat yang siapapun tidak akan ada yang tahu."
"Lepaskan ayahku!" protesku kesal.
"Melepaskan ayahmu? Heh ayahmu punya hutang budi padaku jadi dia harus menjadi tahananku."
"Hutang budi? Hutang budi apa!!!" protesku kesal.
"Dari pada kau protes lebih baik kau temani aku bermain saja..." gumam Alan kembali menciumku.
"Mmmpphh... lepasin!" protesku berusaha melepaskan diri.
"Aku sudah menunjukkan identitasku kan, jadi... temani aku bermain gadis cantik..." gumam Alan terus menekanku sambil berusaha melepaskan pakaianku.
"Ka..kau...apa kau gila! Kenapa kau...mmpphhh..."
Melihat Alan mencoba mempermainkanku dan aku tidak bisa melakukan apapun membuatku benar-benar tertekan, aku berulang kali menangis dan berteriak tapi Alan tidak mau melepaskanku. Saat ini kejadian tidak terduga yang benar-benar keluar dari rencanaku.
"Lepasin!!" teeiakku kencang.
"Sudah aku katakan kan, diamlah!" gerutu Alan kesal. Aku sesekali melirik jam ditanganku yang ternyata sudah hampir pagi dan tidak ada siapapun yang datang bahkan Ray juga tidak datang membuatku benar-benar sedih.
"KAAAKK RAAAAYYY TOLONG AKU!!" teriakku kencang dan Alan kembali membungkam bibirku dengan tangannya yang membuatku tidak melakukan apapun.
Tidak berapa lama, aku melihat Alan melepaskanku dan melompat mundur menjauhiku, dengan terus menangis aku hanya terjatuh di tanah.
"Sani...Sani kamu tidak apa-apa?" tanya seorang pria di sebelahku, aku meliriknya dan melihat Xiao Min yang menatapku khawatir. Di depanku, aku melihat Ray, Viu serta Soni yang bertarung dengan Alan dan Bintang.
"Ka...kakak aku takut...." gumamku memeluk Xiao Min erat.
"Hmmm...tenang saja, kakak ada disini. Kamu tidak diapa-apakan kan?" tanya Xiao Min pelan.
"Ti...tidak, tapi...dia sangat kasar membuat badanku sakit kakak!" tangisku keras.
"Hmmmm..." desah Xiao Min terduduk di sampingku sambil terus menenangkanku.
__ADS_1
Di pelukan Xiao Min, aku menatap Ray dan Soni yang terus melawan Alan dan Bintang, benar-benar pertarungan yang sangat sengit dan sangat imbang. Melihat Ray bertarung membuatku sangat terkejut ternyata kekuatan Ray benar-benar hebat bahkan sesekali membuat Alan terluka karena pedang milik Ray.
Aku berusaha mendengar apa yang di katakan mereka berempat tapi suara pedang membuat suara mereka tenggelam dan terdengar samar di telingaku.
"Heeeyy kembali kau!!" teriak Ray mencoba mengejar Alan dan Bintang tapi ditahan Soni.
"SUDAHLAH RAY!" teriak Soni menahan Ray.
"Tidak bisa! Dia sudah...."
"Dia sudah terluka parah jadi jangan khawatir masalah perang nantinya..."
"Haish...menyebalkan!" gerutu Ray kesal.
"Sani...kamu tidak apa-apa kan?" tanya Fadil disebelahku dan aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Haish, sudah aku bilang kan kalau Sani hampir di culik kalian tidak percaya dan lebih memilih urusan mafia elite!" gerutu Fadil kesal.
"Sudahlah Fadil, tadi memang..."
"Memang apa? Untung Sani tidak sempat diapa-apakan oleh pria itu kalau tidak, apa kalian sebagai kakak akan membiarkan Sani kembali menderita!!" teriak Fadil kesal.
"Hmmm..." desah Ray berlutut di depanku dan menarikku di pelukannya.
"Maaf sayang, aku terlambat menjemputmu. Maaf tidak menepati janjiku menjemputmu lebih awal..." desah Ray memelukku erat dan aku hanya menangis pelan.
"Sayang...kita pulang ya...aku akan membalaskan kelakuan Alan itu kepadamu!" gerutu Ray kesal dan langsung menggendongku pergi dari tempat itu.
"Mmmm..." desahku menyembunyikan wajahku.
"Ada apa sayang?" tanya Ray serius tapi aku hanya terdiam sambil menggelengkan kepalaku.
"Hmmm kamu tidak apa kan?" tanya Ray serius tapi aku menggelengkan kepalaku dan terus terdiam.
"Hmmm...aku tahu apa yang kamu lakukan, aku tidak akan memarahimu kok..." gumam Ray yang membuatku terkejut.
"A...apa?"
"Kamu kira aku tidak tahu kalau kamu memiliki rencanamu sendiri? Apa kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dengan Han? Apa kamu tidak tahu apa yang..."
"Maaf..." desahku pelan.
"Hmmm..." gumam Ray menurunkanku dan menarikku masuk ke dalam mobil lalu diikuti kakakku yang lain beserta Fadil.
"Mmmm..." desahku kembali menyembunyikan wajahku di pelukan Ray sedangkan Ray berusaha memperbaiki pakaianku yang terlihat lusuh.
Tidak lama kami berkendara, mobil yang kami kendarai terhenti dan Ray langsung kembali menggendongku masuk ke dalam rumah. Karena waktu masih menunjukkan waktu pagi buta jadi tidak akan mengganggu apalagi Pangeran yang sedang tertidur di rumah.
__ADS_1
Ray menggendongku sampai di dalam kamar dan merebahkanku di atas tempat tidur, dengan wajah yang seperti sangat lelah... Ray hanya menatapku dan berbaring disebelahku sambil memelukku erat. Aku menatap Ray dan ternyata Ray sudah tertidur pulas, aku berusaha bergerak pelan dan mencium Ray lembut.
"Selamat tidur sayang, aku menyayangimu dan aku...mmm... aku minta maaf..." gumamku kembali berbaring dan tidur di sebelah Ray