
Hampir sehari aku merasakan sakit yang menyakitkan karena hukuman cambuk ini, rasa perih di punggung benar-benar bisa aku rasakan saat ini. Aku sangat menahan rasa sakit ini sampai akhirnya hukumanku selesai.
"Tiga ribu!!" Teriak pria itu kencang dan aku langsung terjatuh di lantai dengan darah yang sedikit menggenang di lantai, dengan sisa tenaga yang ada aku berusaha bangkit dan sedikit membungkukkan tubuhku.
"Terimakasih..." gumamku pelan dan pria itu membungkukkan badannya kearahku, aku berjalan pergi dengan tertatih-tatih keluar dari ruang hukuman bawah tanah ini.
Di depan ruang hukuman bawah tanah Ray dan Fadil menungguku dengan perasaan khawatir. Saat mengetahui aku keluar Ray dan Fadil langsung berlari kearahku.
"Sani!! Astaga bisa-bisanya kamu bertahan seharian dengan keadaan seperti ini!!" Protes Ray kesal tapi aku hanya tersenyum pelan karena tubuhku yang lemas dan terasa sakit membuatku terjatuh kelantai tapi Ray langsung menangkap tubuhku.
"Fadil ambilkan obat-obatan ke kamar!" Ucap Ray dingin dan Fadil langsung pergi.
"Sudah aku katakan kan kamu tidak akan kuat! Jangan mati dulu sebelum kau milikku seutuhnya Raelyn!" Gerutu Ray dingin dan menggendongku di bahunya.
"Haahh masih saja kamu seperti itu Ray..." desahku pelan.
"Kau milikku sampai kapanpun akan seperti itu kau tahu!" gerutu Ray dingin, Ray terduduk di sofa dan memelukku erat.
"Ini obatnya Ray!" Ucap Fadil memberikan kotak obat pada Ray dan Ray langsung membuka pakaianku yang membuatku tidak memakai pakaian sama sekali.
"Fadil buatlah racikan obat ini dan ini lalu campurkan dengan ini!" Ucap Ray menyiapkan beberapa obat dan Fadil langsung meraciknya.
"Ini Ray!" Ucap Fadil memberikan mangkok berisi racikan obat itu dan Ray mengolesi obat di punggungku yang membuatku sangat kesakitan, aku meremas punggung Ray dan menggigit bawah bibirku menahan sakit.
"Tahan sebentar, ini obat khusus jadi punggungmu yang berdarah akan kering dengan cepat..." gumam Ray pelan, rasa sakit yang sangat menyakitkan lebih sakit dari rasa sakit saat di cambuk benar-benar membuatku sangat menderita, tanpa berkata apapun aku terus meremas punggung Ray kuat.
"Sudah selesai... Fadil istirahatlah dulu."
"Tapi Sani bagaimana?" Tanya Fadil pelan.
"Tenang saja, dia sudah tertidur mungkin dia kelelahan menahan sakit itu. Nanti kalau kamu sudah bangun bawakan makanan untuknya!" Ucap Ray pelan.
"Oh baiklah, kau juga harus tidur Ray sudah semalaman juga tidak tidur..." desah Fadil menguap berkali-kali dan keluar kamar meninggalkan kami berdua.
"Ke-kenapa kamu berkata aku tidur?" gumamku pelan.
"Yaah kamu dari tadi diam aku kira kamu tertidur."
"Aku tidak bisa tidur..." desahku pelan, Ray mengusap rambutku lembut dan sedikit menoleh ke leher Ray yang beraroma sangat wangi itu.
"Ada apa Sani?"
"Tidak ada, hanya lelah."
"Benarkah? Istirahatlah."
"Bagaimana aku istirahat kalau punggungku masih penuh obat dan aku tidak bisa memakai pakaian sama sekali seperti ini!"
"Ya sudah seperti ini saja tidak masalah."
"Memang kamu tidak nafsu?"
"Menurutmu?" bisik Ray pelan, Ray sedikit mendorong bahuku dan menciumku lembut.
__ADS_1
"Walaupun ini bukan pertama kalinya aku melihat tubuhmu tapi aku akui tubuhmu masih sangat bagus Raelyn..." bisik Ray pelan kembali menciumku dan meraba tubuhku lembut.
"R-Ray jangan kau mmpphhh..."
"Aku hanya ingin menciummu saja."
"Bohongmu sangat buruk loh R-Ray."
"Benarkah?" Gumam Ray melepas kancing pakaiannya dan terlihat roti sobek milik Ray di depan mataku.
"Ray tubuhmu masih saja indah ya, aku kira akan ada lemak yang menempel di sini..." gumamku mengusap perut sixpacknya itu.
"Menjadi milikmu aku harus menjaga tubuhku."
"Benarkah?"
"Tentu saja, tubuhmu sangat indah jadi aku harus memberikan tubuh yang indah untukmu juga..." gumam Ray pelan dan kembali meraba tubuhku.
"Benarkah?"
"Tentu saja, sampai kapanpun kau tetap milikku Raelyn..." bisik Ray sedikit mengangkat tubuhku dan tersenyum kearahku.
"Kenapa kamu uugghhh..." rintihku pelan saat Ray kembali menurunkan tubuhku.
"R-Ray kamu mmmpphhh..."
"Ada apa wanitaku?" Bisik Ray pelan dan aku terdiam meremas bahu Ray kuat.
"R-Ray aku uugghhh..." rintihku pelan tapi Ray terus menciumi tubuhku yang membuatku meremas tubuh Ray kuat.
"Aku akan menjagamu dan menjadi priamu di seumur hidupku Raelyn Valentina..." bisik Ray pelan, aku memeluk Ray erat dan Ray membalas pelukanku.
"Haaahh... Haaahh..." desahku pelan dan Ray kembali menciumku lembut sambil terus mengusap rambutku.
"K-kau masih saja suka mengambil kesempatan untuk bercinta denganku Ray!" Gerutuku kesal.
"Kenapa pula? Fadil sudah pernah merasakan tubuhmu sedangkan aku yang terikat kawin kontrak denganmu tidak boleh merasakan tubuhmu? Itu sangat tidak adil dan mmmppphh..." aku mencium Ray dan menatapnya serius.
"Baik-baik jangan bawel mulu!" Gumamku mencium Ray lagi dan Ray tersenyum senang. Ray mengecek punggungku dan mengambil kain kassa khusus untuk menutupi luka di tubuhku.
"Lukamu sudah kering jadi aku akan menutupnya agar biaa kering sepenuhnya..." gumam Ray membalutkan kain kassa itu di tubuhku.
"Sudah kamu bisa memakai pakaianmu." Ray mengambil pakaian di dalam lemari dan menatapku serius.
"Ada apa?"
"Pakaianmu sudah bertahun-tahun tidak kamu pakai apakah akan muat?"
"Entahlah, muat mungkin..." gumamku pelan Ray memakaikanku pakaian itu dan terkejut ternyata pakaian itu muat untukku.
"Muat kan?"
"Iya benar, ksmu harus makan yang banyak agar semakin berisi dan menggemaskan..." bisik Ray menaikan resleting pakaianku pelan, Ray menghentikan tangannya dan mencium leherku lembut sambil meraba tubuhku kembali.
__ADS_1
"Ray, aku... Aku geli Ray...." bisikku pelan. Ray kembali melepaskan pakaianku dan mendorongku ke tempat tidur.
"Raelyn kau harus berjanji tetap menjadi milikku sampai kapanpun!" Ucap Ray menekan tubuhku kuat.
"Ada apa Ray? Ada apa denganmu?" Tanyaku bingung, Ray melebarkan salah satu kakiku dan memelukku erat.
"Uuuugghhh.." rintihku pelan.
"Berjanjilah padaku Raelyn!"
"I-iya aku berjanji padamu tapi aakkhh... Aku..."
"Kau harus terus menjadi milikku Raelyn, kau harus menjadi wanitaku apapun yang terjadi!" Ucap Ray serius.
"I-iya aku berjanji padamu Ray!"
"Bagus kau harus menjadi ibu dari anak-anakku nantinya Raelyn..." bisik Ray pelan.
"Eehh tu-tunggu jang... uuugghhh...." rintihku pelan dan Ray terjatuh di atas tubuhku sambil tersenyum.
"Kau sudah berjanji padaku jadi kamu harus melakukan janjimu Raelyn..." bisik Ray pelan dan menciumku lembut.
"Tapi Ray, jika aku hamil anakmu nanti tetua agung pasti akan..."
"Kawin kontrak kita diketahui tetua agung dan kamu tahu Raelyn... Aku telah diangkat sebagai tetua agung yang baru jadi keputusanku mutlak..." bisik Ray yang membuatku terkejut.
"Tunggu be... Mmpphhh...."
"Hanya kau yang tahu apa kau mengerti..." bisik Ray kembali menciumku.
"Haish kalau begitu kau saja yang menjadi ketua mafia dan..."
"Tidak, itu mafia milikmu aku akan setia menjadi wakilmu!"
"Tapi kamu tetua agung yang..."
"Lalu apa masalahnya? Tidak ada yang tahu, kami menyembunyikan ini semua agar aku bisa menjagamu dam jika ada yang menyakitimu maka dengan wewenangku akan aku hukum siapapun yang menyakitimu!" Ucap Ray dingin dan aku menghela nafas panjang.
"Ohh begitu ya..." desahku pelan dan Ray kembali menciumku.
"Yah jadi janjiku untuk membantumu mengembalikan jati dirimu dan membantu membalaskan musuh-musuhmu akan aku lakukan wanitaku."
"Baiklah, terimakasih tetua agung." Ray mengarahkan jarinya ke bibirku dan memainkan bibirku dengan jarinya.
"Jangan panggil aku tetua agung, panggil saja aku Ray..." gumam Ray terus mempermainkan bibirku dengan jarinya.
"Tapi kan..."
"Keputusanku mutlak!" Ucap Ray dingin.
"Haish baiklah, pantas saat tetua agung menarik telingaku kamu memegang tangan tetua agung, tangannya langsung melepaskan telingaku."
"Yaaahh begitulah, sudah tahu kan jadi tetaplah menjadi milikku di seluruh hidupmu istriku..." bisik Ray kembali menciumku lembut dan Ray kembali mempermainkanku sampai aku benar-benar lelah dan tertidur di pelukan Ray.
__ADS_1