Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 184 : Undangan Pertemuan


__ADS_3

Aku menatap langit-langit kamar dan berpikir seperti apa wilayah bayangan itu. Lyraen masuk ke dalam kamar membawa semangkuk sup dan terduduk di sebelahku bersiap menyuapiku.


"Makan ya..."


"Makan? Nanti aku tidak..."


"Mana Raelyn!" teriak seorang pria di luar kamar dan aku melihat Raelan dan Ravaro masuk ke dalam kamar.


"Anaakku!! Kamu tidak apa?" Tanya Raelan memelukku erat.


"Aku baik-baik saja ayah..." gumamku pelan.


"Ohh syukurlah, ayah kira kamu masih belum sadar."


"Aku hanya lelah kok ayah."


"Lelah? Kau pingsan seminggu dan bilang kalau kamu lelah?"


"Yaah aku memang lelah ayah."


"Haish kamu selalu mengkhawatirkan ayah."


"Tenang saja ayah, aku gadis yang kuat jadi pasti akan baik-baik saja kecuali..."


"Kecuali apa nak?" Tanya Raelan mengerutkan dahinya.


"Eehh mmm t-tidak ada ayah."


"Baiklah, sekarang makanlah..." gunam Raelan menyuapiku.


"Ayah bolehkah aku bertanya?" Tanyaku pelan.


"Tanya apa?"


"Apa ayah pernah mendengar wilayah bayangan?"


"Wilayah bayangan? Apa itu?" Tanya Raelan bingung.


"Ayah tidak pernah mendengarnya?" Tanyaku serius.


"Tidak, mungkin Lyraen pernah mendengarnya."


"Lyraen kamu pernah mendengarnya tidak?" Tanyaku menatap Lyraen serius.


"Pernah."


"Benarkah? Dimana lokasinya?" Tanyaku serius.


"Aku tidak bisa memberitahukanmu."


"Kenapa?" Tanyaku serius.


"Kau ada tugas di wilayah bayangan kan? Jadi aku tidak akan memberitahukanmu."


"Haish kenapa kamu tahu sih!" Gerutuku kesal.


"Dengar ya istriku, aku itu suamimu dan kau tidak bisa membohongiku apa kamu tidak mengerti!"


"Tapi ingat perjanjian kita Lyraen!" protesku menatap Lyraen dingin.


"Tapi wilayah bayangan sangat misterius, hanya aku orang wilayah utama yang tahu tentang wilayah bayangan."


"Kalau gitu temani aku."


"Tunggu!! Temanimu? Astaga tidak mungkin bisa."


"Kenapa?" Tanyaku dingin.


"Haish urusanku juga ada di wilayah bayangan jadi..."


"Kau kira aku akan menjadi pengganggumu!" Ucapku menarik kerah pakaian Lyraen dengan kesal.


"Aku berbicara dengan wanita saja kamu cemburu bagaimana jika kau tahu tugasku dan..."


"Dan aku tidak peduli! Tugasku adalah hal utama bagiku!" Ucapku dingin.

__ADS_1


"Tugasmu akan berhubungan dengan para laki-laki menyebalkan itu dan aku tidak akan mengijinkanmu melakukannya!" ucap Lyraen dingin.


"Kau juga tugasmu dengan beberapa wanita cantik benarkan? Dan kau kira aku akan mengijinkanmu melakukannya?" Ucapku dingin


"Tunggu dulu! Kesepakatan kita kan..."


"Lalu kenapa? Kau juga melanggar kesepakatan denganku untuk tidak mencampuri urusanku bukan!" Ucapku dingin dan Lyraen hanya menghela nafas panjangnya.


"Baiklah aku akan mengantarkanmu ke wilayah bayangan."


"Kapan?"


"Kalau kau sudah sembuh!" Ucap Lyraen menepis tanganku dan kembali menyuapiku.


"Aku ingin besok ke wilayah bayangan!" ucapku dingin.


"Tidak bisa!"


"Haish tidak bisa kenapa lagi sih!" Gerutuku kesal.


"Aku lagi tidak ingin kemana-mana besok."


"Lalu kau inginnya kapan?" Tanyaku kesal.


"Entahlah, kita lihat saja nanti..." gumam Lyraen dingin dan aku hanya menghela nafas panjang, aku mengambil buku catatanku dan menulis sesuatu di buku catatanku.


"Hmm kamu mau nambah lagi?" Tanya Lyraen serius dan aku hanya menggelengkan kepalaku lalu menatap Raelan serius.


"Ayah aku ingin minta ijin kepada ayah."


"Minta ijin untuk apa?" Tanya Raelan bingung.


"Untuk beberapa waktu menjalankan tugasku dengan kak Fadil."


"Lalu kenapa harus meminta ijin ayah?"


"Mungkin Raelyn tidak bisa menemani ayah dan..."


"Tidak bisa! Ayah tidak mengijinkanmu meninggalkan ayah!" Protes Raelan dingin yang membuatku terkejut.


"Kau berjanji untuk menemani ayah bukan!"


"Tapi aku hanya membutuhkan..."


"Ayahmu banyak yang mengincarnya, jika kamu tidak menemaninya pasti dia akan dibunuh musuh!" Ucap Lyraen serius.


"Benarkah? Apa ada banyak musuh yang menginginkan ayah mati?"


"Ada banyak alasan Ravaro selalu di samping Raelan karena tanpa Ravaro pasti Raelan hilang arah. Jika musuh berusaha mengecoh Ravaro tapi ada kamu yang bisa menjaganya."


"Oh begitu ya... Kalau begitu aku akan memberikan penjagaan ketat untuk ayah."


"Penjagaan ketat tidak akan mampu menjaga ayahmu!" Ucap Ravaro serius.


"Aku akan tinggal di kerajaan ayah tapi aku tetap melakukan tugasku."


"Kamu akan tinggal bersama ayah?"


"Ya tentu saja ayah..."


"Baiklah kalau itu ayah mengijinkanmu melakukan tugasmu."


"Terimakasih ayah!" Ucapku senang dan kembali menulis beberapa rencana di buku catatan.


"Ngomong-ngomong kalian berdua tidak bekerjasama?" Tanya Ravaro serius.


"Kami be..."


"Entahlah, organisasi kami berbeda bahkan tujuan kami juga beda kak pasti akan sulit untuk bekerja sama!" Ucapku memotong ucapan Lyraen.


"Benarkah? Apa memangnya organisasimu Raelyn?" Tanya Ravaro serius.


"Apa kakak tidak tahu?" Tanyaku serius.


"Tidak, mungkin Lyraen juga tidak tahu."

__ADS_1


"Benarkah? Kamu tidak tahu?" Tanyaku menatap Lyraen terkejut


"Aku tidak tahu, yang aku tahu hanya kau organisasi tersembunyi saja dan aku tidak tahu apa itu organisasi tersembunyi."


"Organisasi tersembunyi? Apa itu?" Tanya Raelan dan Ravaro bingung.


"Hanya organisasi kecil saja kok..." gumamku pelan dan menutup kembali buku catatanku.


"Organisasi kecil? Apa kamu serius?" Tanya Lyraen menatapku serius.


"Ya serius."


"Tidak mungkin, kau dipercaya semua dewan sampai-sampai kau dewan keadilan percaya denganmu anakku. Sebenarnya siapa kamu sebenarnya?" Tanya Raelan serius.


"Aku hanya gadis kecilmu dari kerajaan Arsy saja ayah dan tidak lebih."


"Kamu tidak bisa membohongi ayah Raelyn!" Ucap Raelan menatapku serius.


"Serius ayah, untuk apa aku berbohong?"


"Sebentar!" Ucap Lyraen mengambil buku yang diberikannya tadi dan mencoba mencari sesuatu di buku itu.


"Tidak ada... Sama sekali tidak ada namamu! Bagaimana bisa?" Tanya Lyraen menatapku bingung sedangkan aku hanya tersenyum dingin dan mengangkat bahuku berpura-pura tidak tahu.


"Entahlah, aku tidak tahu..." gumamku pelan dan merebut buku itu kembali.


"Kau membuatku penasaran, kau dari organisasi mana istriku?" Tanya Lyraen dingin.


"Hanya ketua mafia kegelapan dan tidak lebih..." gumamku kembali berbaring di tempat tidurku sedangkan ketiga orang pria ini menatapku dengan tatapan ragu.


"Sani!! Kau mendapat surat!!" Ucap Fadil masuk ke dalam kamar dan memberikanku sebuah surat yang berwarna emas itu, aku langsung membaca surat itu dengan terkejut


"Fadil aku ingin bertanya sesuatu kepadamu!" Ucap Lyraen menatap Fadil serius.


"Ya tuan? Ada apa?"


"Sebenarnya apa itu organisasi tersembunyi? Dan seperti apa organisasi itu?" Tanya Lyraen serius.


"Ohh itu. Hanya organisasi kecil saja tuan dan masih besar organisasi misterius anda..." gumam Fadil pelan.


"Apa kau yakin?"


"Ya tanyakan kepada ketuanya kalau anda tidak percaya."


"Tapi kenapa dia tidak takut dengan Naechan dan..."


"Dia hanya mafia kegelapan utama dan apa yang ditakutkan?" Ucapku dingin dan menyobek surat itu, ternyata itu surat pemberitahuan pertemuan seluruh organisasi dan aku diwajibkan hadir karena aku ketua organisasi tersembunyi.


"Heeeii mafia kegelapan utama sangat ditakuti dan..."


"Dan aku tidak peduli sama sekali."


"Astaga kamu ini memang misterius ya anakku."


"Tidak juga, nantinya kalian akan tahu organisasiku seperti apa."


"Bagaimana caranya kami tahu?" Tanya Lyraen serius.


"Yaahh... Mmm oohhh ya katanya kalian ada rapat penting? Jadi pergilah!" Ucapku mengalihkan pembicaraan mereka.


"Rapat penting? Tunggu bagaimana kamu tahu kalau..." gumam Lyraen bingung dan aku menunjukkan sebuah kertas di pakaian Lyraen yang membuatnya menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya.


"Haish baiklah... Fadil jaga istriku baik-baik!" Ucap Lyraen dingin dan Lyraen pergi bersama dengan Raelan dan Ravaro.


"Huufftt..." desahku kembali membaringkan tubuhku ke tempat tidur.


"Mereka tidak tahu ya Sani?" Tanya Fadil serius.


"Tidak, entahlah kalau mereka tahu mungkin akan sangat terkejut."


"Apa itu surat pertemuan juga?"


"Ya begitulah, mungkin pertemuan karena para tetua mendengar kericuhan di pertemuan seminggu yang lalu kak Fadil..." desahku pelan dan memejamkan kedua mataku.


"Ya sudahlah mending kamu bersiap-siap kita pergi sekarang!" Ucap Fadil mempersiapkan semua barang yang aku butuhkan di pertemuan dan aku segera mandi.

__ADS_1


__ADS_2