Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 93 : Cerita Dari Ketiga Kakakku


__ADS_3

Saat aku tertidur pulas, aku mendengarkan suara ketikan dari handphone seseorang yang terdengar keras di telingaku. Aku membuka mataku dan melihat Ray yang sedang mengetik sebuah pesan dengan serius, aku menarik handphonenya dan membaca pesan di sebuah grup.


"Eeh ada apa sayang?" tanya Ray terkejut.


"Handphonemu sangat berisik..." gumamku sedikit membaca isi pesan yang membahas masalah pertemuan nantinya.


"Oh benarkah? Maaf membuatmu terbangun."


"Tidak apa," gumamku mengembalikan handphone itu dan bersandar di kaca jendela mobil sambil melihat keluar jendela.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Ray mengusap rambutku.


"Aku tidak memikirkan apapun,"


"Tapi wajahmu terlihat memikirkan sesuatu, apa yang kamu pikirkan?"


"Aku...memikirkanmu..hehe!" tawaku pelan sambil mengedipkan mata kiriku.


"Hmmm kamu sangat genit ya sayang..." gumam Ray mengacak rambutku.


"Genit denganmu apa itu salah?" tanyaku menarik kerah pakaian Ray dan menciumnya lembut.


"Tentu saja boleh, aku sangat menyukainya..." gumam Ray menggigit leherku.


"Kamu...hauskah?"


"Ya, sangat haus."


"Oh mmm ngomong-ngomong,kamu akan mengajak kami ke pertemuan apa?"


"Pertemuannya belum tahu, tapi nanti kita ke pesta dulu."


"Pesta? Pesta apa?"


"Pesta tahunan mafia wilayahku saja."


"Maksudnya?" tanyaku terkejut.


"Ya mafia wilayah kekuasaanku."


"Mafia wilayah kekuasaan? Apa maksudnya?" tanyaku bingung.


"Haih masa kamu tidak mengerti artinya mafia wilayah kekuasaan?"


"Tidak, coba jelaskan..."


"Mmm ya seperti Fiyoni yang menguasai wilayah Amerika, Sino yang sekarang menguasai Inggris dan aku yang menguasai sebagian Asia. Ya pasti kamu memiliki wilayah kekuasaanmu sendiri."


"Wilayah kekuasaan yang seperti itu ya? Aku dulu punya, tapi sekarang...tidak..." gumamku pelan.


"Eeh kenapa?"


"Aku yang menguasai seluruh wilayah di berbagai benua sekarang,"


"Beberapa benua? Dulu kamu menguasai wilayah mana?" tanya Ray terkejut.


"Dulu sih wilayah Inggris karena aku mafia pusat di Inggris sekaligus ketua mafia tertinggi di seluruh dunia terus aku menjadi wakil mafia pusat tertinggi dan sekarang... aku menjadi mafia elite level S lagi..." gumamku pelan.


"Level S? Serius?" tanya Ray menatapku terkejut.


"Ya, guru Rendi yang memberikanku saat itu. Jadi wilayahku... Amerika, Asia, dan Eropa."

__ADS_1


"Itu kan tiga wilayah yang selalu bersengketa sayang!"


"Emang dan itu wilayah kekuasaan keluarga Khun, benarkan?" gumamku pelan.


"Ya...walaupun dikuasai keluarga Khun tapi wilayah kami selalu bersengketa apalagi...aku sama sekali tidak pernah akur dengan dua adik kembarku itu."


"Ya aku tahu kok masalah itu..." desahku mengusap lembut punggung Ray.


"Kenapa aku baru tahu kamu mafia elite level S?"


"Yaah, tidak ada siapapun yang memberitahu kok dan level bagiku tidak penting."


"Level sangat penting! Dengan level kita bisa melihat..."


"Ya itu bagi kalian, bagiku..tidak. Aku tidak tertarik dengan LEVEL!" gerutuku dingin.


"Apa sih berisik!" gerutu Soni dingin sambil menguap lebar.


"Adikmu...dia level S?" tanya Ray yang membuat Soni terkejut.


"Tunggu...apa? Lalu jangan bilang dia yang memegang wilayah Khun?" gumam Soni terkejut.


"Memang, wilayah dia adalah seluruh keluarga Khun...jadi, bersiap-siaplah kalau kalian membuat kesalahan...HAHAHA!" tawa Fadil kencang.


"Kalau kau level S, jangan menyalahgunakaan kekuasaan Sani!" ucap Soni menatapku dingin.


"Sudah aku katakan kan, aku tidak tertarik dengan level. Yang tertarik dari dulu tuh si Fadil..."


"Dia hanya wakil ketuamu aja, aku berbicara bersungguh- sungguh!" ucap Soni dingin.


"Walaupun begitu, dia juga level S. Dia memiliki mafianya sendiri, walaupun mafianya juga termasuk mafiaku tapi dia memiliki levelnya sendiri untuk mafianya sendiri jadi dia juga level S..." gumamku mengusap rambut Ray.


"Ehehehe..." tawa Fadil sinis.


"Kalau Fadil masih bisa ku atasi tapi kalau kamu... walaupun adikku sendiri tapi susah untuk melakukannya."


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Karena, Soni benar-benar menganggapmu adik kandungnya. Nama Sani itu Sonilah yang memberi nama untukmu..." gumam Viu memakan kripik kentang di genggamannya.


"Oh ya benar, aku ingat dulu aku selalu bertengkar dengan Soni cuma karena ingin menggendongmu saja Hahaha..." tawa Xiao Min kencang.


"Hei jangan ingat masalah itu!" gerutu Soni kesal tapi Xiao Min masih saja mengejek Soni yang membuatnya terlihat jengkel.


"Huusstt diamlah, Ray tertidur tuh!" gumam Fadil menambil tubuh Satria dari pangkuan Ray.


"Haish kebiasaan, kalau dapat darah dia selalu tertidur kayak bayi yang dapat susu hangat saja!" gerutu Soni dingin.


"Biarlah, dia ketuamu dari dulu Soni dan kau masib bertahan saja dengannya..." gumam Viu dingin.


"Aku bertahan dengannya karena aku kasihan dengannya, dia pria yang kesepian. Karena penyakitnya dia selalu berkelana dan hidup sendirian di hutan, siapapun yang bertemu dengan dia dan melihat wajah aslinya membuat semua orang selalu takut."


"Eeh dia masih menggunakan topeng wajahnya?" tanya Viu terkejut.


"Menurutmu? Wajah aslinya sangat putih, mulus, halus bercahaya seperti seorang wanita sedangkan kalau dia memakai topeng wajahnya pasti ada tahi lalat di sekitar mata. Mungkin dia memberitahukan wajahnya kepada Sani tapi ya entahlah."


"Eeh apa Sani tidak takut?" tanya Viu mengangkat alisnya.


"Tidak, aku biasa saja. Aku sudah melihat wajah aslinya dan wajahnya benar-benar tampan..." gumamku pelan.


"Benarkah? Ya mungkin kamu belum tahu dia mengamuk seperti apa, untung kemarin Soni bisa memendam kemarahan Ray kalau tidak...pasti seluruh hutan di babat habis olehnya..." gumam Viu dingin.

__ADS_1


"Walaupun dia sangat kuat kalau marah tapi sebenarnya dia sangat cengeng, menggendong Sani saja dia terus menangis. Kalau ditanya kenapa jawabnya...gak papa...seperti wanita saja..." sindir Soni kesal, mendengar sindiran Soni yang membuat tubuh Ray sedikit bergerak dan tangannya sesekali menggenggam tanganku erat. Walaupun dia terpejam tapi sepertinya dia tidak benar-benar tertidur.


"Benar juga sih, dia membunuh hanya untuk meluapkan kekecewaan dia selama bertahun-tahun yang tidak dianggap keluarga besarnya sebelum keluarga besarnya menghilang secara misterius."


"Tapi aku heran loh, kenapa bisa langsung menghilang ya? Kalau di keluarga kita jelas mereka di bantai tapi keluarga Khun? Tanpa adanya jejak atau bekas darah secara ajaib mereka menghilang, aku pikir...mungkin mereka memang sengaja meninggalkan keempat anak kecil itu hidup sendirian apalagi setelah Nana bermain dengan ayah kandungnya yang membuat seluruh mafia terkejut dan menjadi berita hangat dimasa itu..." gumam Xiao Min serius.


"Mmm mungkin saja, Ray saja yang tidak di rumah sampai syok padahal Nana saat itu seumuran dengan Sani kan?"


"Ya benar, saat Ray disuruh pulang kan mereka langsung menghilang bahkan karena kepulangan Ray itu yang membuat dia kembali di cap sebagai orang yang membawa bencana dan kesialan apalagi semua orang menganggap kalau Raylah yang menyebabkan semua keluarga Khun menghilang!" ucap Xiao Min dingin.


"Memang, itulah kenapa Ray sangat benci ketiga adiknya dan dia juga sangat benci orang lemah, karena dia yang dulu pria yang sangat lemah selalu dibully, dihina, dicaci maki oleh orang-orang, sudah berapa tahun coba dia hidup di hutan sendirian dan kalau aku temani dia selalu menolaknya dan berkata kalau dia tidak ingin aku mengalami nasib yang sama dengannya, padahal kan aku wakilnya jadi wajar saja aku mengikuti kemanapun dia pergi dong!" ucap Soni dingin.


"Ya untungnya sekarang dia kuat, tidak masalah bagiku dia cengeng asalkan dia bisa menjaga Sani saja..." gumam Viu pelan.


"Waah tumben perhatian dengan Sani, padahal kan kau bodo amat dengan dia!" sinidr Soni tertawa keras.


"Eeeh bu...bukan gitu maksudku!"


"Halah bohong! Hahaha."


"Aku gak bohong lah!" gerutu Viu kesal.


"Jadi, itu awal mulanya seluruh keluarga besar Khun menghilang ya? Kalau di lihat-lihat sih mereka tidak dibunuh tapi memang sengaja pergi untuk menghindari kasus yang dilakukan Nana dan sekaligus menyalahkan Ray dengan kasus berbeda, astaga betapa kasihannya dia..." gumamku dalam hati sambil mengusap rambut Ray


"Udah ah jangan berisik, kita sudah sampai tuh. Pestanya masih lama jadi bisa istirahat..." gumam Fadil turun dari mobil sambil menggendong Pangeran.


"Hoaammm kok aku males ya." gerutu Viu berjalan turun dan disusul Xiao Min turun dari mobil.


"Kamu tidak turun Sani?" tanya Soni menatapku.


"Kakak turun saja dulu, kasihan kak Ray baru saja tidur kalau dibangunin."


"Tidak apa dia sudah biasa untuk..."


"Kakak...kalau kakak tidur diganggu marah kan? Jadi jangan ganggu orang lain tidur!" gerutuku dingin.


"Haish baik-baik terserah padamu saja..." gumam Soni turun dari mobil.


Saat semua orang turun aku melihat Ray yang mengusap wajahnya di pakaianku dan kembali menghisap darahku.


"Oh ya maaf ya kak Ray kalau perkataan ketiga kakakku sangat pedas..." gumamku mengusap rambut Ray pelan tapi Ray kembali berpura-pura tertidur kembali.


"Astaga gak dipedulikan dong aku! Ya udah deh aku turun aja!" gumamku beranjak dari tempat dudukku tapi Ray langsung menarikku dan melingkarkan kaki kananku dengan kakinya yang membuatku tidak bisa bergerak.


"Hmmm baik-baik aku enggak kemana-mana kok..." desahku mengusap rambut Ray dan lingkaran kakinya sedikit longgar.


"Ada apa sayang?" tanyaku pelan tapi Ray hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa perkataan kakakku membuatmu sedih?" tanyaku pelan tapi Ray kembali menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa?"


"Gak papa."


"Gak papa?" tanyaku terkejut, "Astaga beneran kayak wanita kalau lagi ngambek..." desahku dalam hati.


"Hmmm apa yang kamu pikirkan sayang?"


"Tidak ada."


"Kamu gak mau cerita nih?" gumamku dingin tapi Ray hanya terdiam.

__ADS_1


"Hmmm ya udah deh terserah kamu..." gumamku mengambil handphoneku dan bermain game dengan handphoneku.


Ya walaupun sedikit menyebalkan tapi ya sudahlah aku juga tidak mau memaksa dia untuk berbicara dari pada membuatku kesal mending aku bermain game saja.


__ADS_2