Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 167 : Mencari Wilayah Utama


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri lorong gelap dan hanya sesekali bertemu bawahanlu yang menundukkan badannya kearahku sedangkan aku hanya terdiam memikirkan ucapan Samuel yang membuat kepalaku benar-benar pusing.


"Sani!!!" Teriak Fadil di belakangku tapi tidak aku pedulikan sama sekali.


"Sani!!" Teriak Fadil menepuk bahuku kuat.


"Ya."


"Astaga, kenapa kau melepaskan seorang tahanan yang merusak markasmu!!" protes Fadil kesal.


"Hanya ingin."


"Hanya ingin? Astaga, dia orang yang kejam dan..."


"Dia tidak terlalu menyeramkan dan kak Fadil tenang saja."


"Astaga, apa yang kau pikirkan sebenarnya?" Tanya Fadil kesal.


"Aku tidak memikirkan apapun kok, hanya..."


"Hanya apa?" Tanya Fadil serius.


"Hanya... aku ingin bisa masuk ke wilayah utama saja."


"Masuk wilayah utama tidak semudah yang kau kira dan kau pikir melepaskan tahanan kau bisa masuk ke wilayah utama?"


"Ya, aku ingin mencari kakak kandungku."


"Kakak kandung yang mana?"


"Aku ingin mencari... Ravaro!" Ucapku dingin dan kembali berjalan pergi.


"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu tentang dia?"


"Tahanan itu yang memberitahukanku."


"Jangan, kau jangan pernah mencarinya!"


"Kenapa? Apa itu salah?"


"Astaga Sani, dia orang kepercayaannya Raelan nanti kau yang..."

__ADS_1


"Tidak masalah, aku tahu resikonya. Kak Fadil jangan khawatir."


"Tapi kan..."


"Kak Fadil percaya saja padaku, aku tahu kesalahanku dimasa lalu jadi aku tidak akan melakukannya lagi apalagi... pasti kak Fadil ingat apa yang terjadi di masa lalu!" Gumamku menatap Fadil dingin, aku yakin Fadil juga tahu kalau kata Samuel siapapun tahu masalah ritual terlarang yang tidak sempurna itu.


Tiba-tiba ponselku berbunyi dan aku membaca sebuah pesan dari nomor yang tidak aku kenal, aku membaca pesan itu dan ternyata sebuah pesan dari Raelan. "Kalau ingin bertemu denganku, nanti saat pesta kelulusan akademimu kau akan bertemu denganku..." gumamku dalam hati.


"Pesta kelulusan? Ciihh untuk apa dia ingin bertemu denganku saat pesta kelulusan akademi? Aku saja tidak pernah datang ke pesta kelulusan!" Gerutuku dalam hati.


"Aku tidak ingat apapun dan..."


"Ya kan mana tahu kak Fadil ingat gitu kan, dan juga aku ingin bertemu dengan Raelan itu..."


"Untuk apa kau ingin bertemu dengannya?"


"Hanya ada sesuatu hal yang harus aku bicarakan dengannya, mmm ngomong-ngomong... kapan pesta kelulusan akademi kak Fadil?"


"Pasta kelulusan? Eeh tumben kau bertanya tentang itu?"


"Ya aku ingin ikut pesta kelulusan saja kak Fadil."


"Yaahh hanya ingin merasakan pesta saja kak Fadil..." gumamku memberikan secarik kertas pada Fadil.


"Berikan kepada tetua organisasi dan beritahu aku apa yang harus aku lakukan..." gumamku pelan dan berjalan pergi.


Aku berjalan menuju ke dalam kamarku dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Berpikir, hanya itu yang bisa aku lakukan apalagi kehidupan ini sangat berbeda dengan kehidupanku yang sebelumnya.


"Apa aku bisa melakukannya ya? Membalas dendam kepada mereka semua, apa aku mampu?" gumamku pelan.


"Sani!! Sani!!!" Teriak Fadil yang membuatku terkejut.


"Sani, kata tetua apapun yang kau lakukan tidak akan menjadi masalah asalkan semua tugasmu selesai!" Gumam Fadil membaca sebuah pesan di ponselnya.


"Oh oke, masalah tugas kak Fadil atur saja. Kalau masalahku aku akan mengurusnya."


"Masalah apa?"


"Masalah mengenai wilayah utama."


"Kau mau mencari tahu wilayah utama sendirian? Apa kau gila?"

__ADS_1


"Kau wakilku jadi kau juga ikut kak Fadil astaga!"


"Oalah aku kira kau akan melakukannya sendiri."


"Tidaklah, cuma kak Fadil berfokus tugas yang tetua berikan saja. Biar aku yang berpikir strategi mengatasi masalah di wilayah utama."


"Oh baiklah, lagi pula ada banyak tugas di wilayah utama..." gumam Fadil memberikan ponselnya padaku, aku menghela nafas pelan dan mengembalikan ponsel itu kembali.


"Kenapa wajahmu kesal?" Tanya Fadil bingung.


"Yaah itu tugas yang menjerumuskanku di kehidupan yang kelam sebelum bertemu Han."


"Benarkah? Tapi kenapa kau di beri tugas setelah bertemu Han?"


"Entah aku tidak tahu..." gumamku menulis sesuatu di sebuah kertas.


"Barang-barang itu berada di tempat ini, kak Fadil bisa meminta siapapun mengambilnya tapi harus berhati-hati."


"Eehh kalau berubah tempat bagaimana?" Tanya Fadil serius.


"Tidak, tenang saja. Aku yakin pasti ada di tempat itu..." gumamku kembali berjalan pergi.


"Kau mau kemana Sani?"


"Mau menenangkan diri."


"Ini sudah malam, kata kamu besok kau mau ke pesta!"


"Ya aku tahu, besok aku akan datang menyusul di akademi. Kak Fadil berangkat saja dengan ayah...." gumamku berjalan keluar markas dan melewati lorong pendek yang ada di salah satu terowongan markas ini.


Takut? Ya, hanya ketakutan yang aku rasakan. Aku takut kalau aku kembali terjerumus di kehidupan yang menyakitkan kembali, tapi di kehidupan ini sama sekali aku tidak memiliki naungan dari orang-orang yang jahat, walaupun aku bertemu dengan keluarga kandungku dan aku dari beberapa keluarga elite tapi bagiku hal itu tidak bisa menjadikannya sebagai naunganku dari hal-hal yang jahat di kehidupanku ini.


Melamun, hanya itu yang selalu aku lakukan untuk menjalani kehidupan yang pahit ini. Seperti di telan dinginnya malam ini aku hanya terduduk di bawah pohon dengan memainkan senjata milikku. Raelyn? Sani? Apa itu arti sebuah nama kalau kehidupannya sama-sama kelam dan menyakitkan.


Bulan purnama merah yang sangat terang menyinari sekelilingku, aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam dan melihat jarak ke wilayah utama yang tidak jauh dari akademi membuatku memutuskan pergi ke akademi dengan segera di malam ini. Mandi di sungai yang sepi berarus tenang sedikit membuat beban di pikiranku mereda. Aku membawa gaun dengan panjang rok diatas lutut untuk mengikuti pesta esok hari, sehingga untuk malam ini aku tetap memakai gaun yang aku bawa itu agar aku tidak membawa pakaian terlalu banyak untuk mengikuti pesta besok.


Aku berjalan melangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak yang di tunjukkan aplikasi peta yang ada di ponselku, bulan purnama merah hari ini bersinar dengan terang yang membuatku tidak kesusahan mencari jalan setapak di tengah hutan yang rindang. Walaupun aku sudah terbiasa jalan jauh tapi medan yang aku lalui saat ini sangat berat sehingga aku sesekali harus istirahat dan meminum darahku sendiri untuk mengurangi sakit yang aku derita selama ini.


"Astaga... huuuhh memang gila medannya, tidak aku sangka ada medan dan kontur tanah yang sangat menyulitkanku..." desahku terduduk di bawah pohon besar.


Di depanku aku melihat sebuah papan tulisan yang bertuliskan wilayah utama dan tidak jauh dari itu aku melihat papan tulisan yang bertuliskan wilayah barat. Aku menghela nafas panjang dan kembali berfikir, bagaimana aku bisa memasuki wilayah utama yang pintu masuknya di jaga ketat dan tidak ada celah sama sekali itu

__ADS_1


__ADS_2