Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 200 : Bertemu Ibu Kandung dan Ayah Kandung Yang Lain


__ADS_3

Aku menatap Alan dengan kesal sedangkan Alan tertawa kencang yang membuatku sedikit kesal. Aku mengambil senjataku dan mengarahkannya ke arah Alan tapi Alan langsung menepisnya dan menatapku dingin.


"Apa itu lucu bagimu?" Ucapku dingin dan Alan kembali tertawa.


"Ciiih kau membuatku muak Alan!" Gerutuku kesal tapi Fadil langsung menahan tanganku.


"Sabar..." bisik Fadil pelan.


"Ciihh katakan padaku! Siapa bosmu?" Tanyaku melempar beberapa pisau kecilku ke arahnya tapi tiba-tiba muncul angin besar yang membuat pisau-pisauku berjatuhan ke lantai dan aku memejamkan kedua mataku melindungi kedua mataku dari angin yang kencang itu.


"Apa itu tadi?" Ucap semua orang terkejut,


Disaat aku membuka kedua mataku, aku melihat dua orang wanita dan pria yang berdiri di depanku. Seorang pria memegang sebuah pedang yang sangat tajam dan seorang wanita yang memegang sebuah kipas besar di tangannya, melihat dua orang itu membuat Valentino dan Raelan berdiri di depanku dengan senjata di tangannya.


"Ckckck lihatlah ini... Dua kembar yang menyebalkan ini muncul dengan akur!" Ucap seorang wanita dingin dengan tatapan mengejek tetapi tatapannya aneh, terlihat kalau dia sangat menyukai Valentino dan Raelan.


"Ciiiihh kenapa kalian tidak mati saja sih!" Gerutu Raelan kesal.


"Kami mati? Heehh kau tidak tahu apa kalau kami akan mati di tangan keturunan tujuh keluarga yang dibenci oleh keluarganya sendiri?" Ucap pria itu serius.


"Keturunan tujuh keluarga? Apa yang mereka maksud itu aku?" gumamku bingung.


"Yaaahh tapi membunuhnya sangat sulit sih apalagi mereka berdua!" Ucap pria itu menatap kesal Raesya dan Raetya kesal.


"Jadi benar... Aku lah yang dimaksud oleh mereka!" ucapku pelan.


"Ciiihh kau kira kami akan mudah kalian bunuh walaupun kalian orang tua kami!" Ucap Raesya kesal yang membuatku terkejut.


"Tunggu dulu... Jadi mereka... Ayah dan Ibu kandungku?" Ucapku terkejut, aku menatap mereka berdua dengan tatapan benar-benar terkejut. "Mereka dari keluarga mana? Astaga aku tidak tahu sama sekali!" Ucapku dalam hati bingung. Aku hanya tahu kalau aku keturunan dari 6 keluarga saja tapi ternyata aku dari 7 keluarga? Aku tidak tahu yang satu itu keluarga dari keluarga mana.

__ADS_1


"Kak Fadil tolong jelaskan padaku..." bisikku pelan dan Fadil memberikanku sebuah catatan kepadaku. Aku membaca catatan itu dan ternyata wanita itu adalah ibuku dan yang laki-laki itu dari keluarga Viu.


"Jadi... Ibu menyukai mereka berdua?" Tanyaku serius dan Fadil menganggukkan kepalanya pelan.


"Tidak hanya itu... Tapi semua wanita ketua mafia memang menyukai mereka berdua..." gumam Fadil pelan dan aku melihat beberapa wanita terlihat menatap Raelan dan Valentino dengan genit. Di depanku aku melihat wanita itu terus menggoda Raelan dan Valentino yang membuatku kesal, walaupun dia ibuku sendiri tapi tetap saja aku sangat kesal.


"Kau harus hati-hati Sani, mereka termasuk ke dalam orang-orang yang hebat... Pedang itu adalah pedang beracun dan kipas besar yang di bawa ibumu adalah kipas yang disetiap lipatannya ada senjata yang tersembunyi di tambah angin yang di hasilkan sangat besar!" Ucap Fadil serius yang membuatku mengangguk mengerti.


"Oohh aku mengerti..." desahku pelan dan melihat wanita itu berdebat dengan kedua kembaranku, mereka terlihat bertarung bersama dengan kembaranku dan terus menanyakan dimana keberadaanku.


Aku dikenal dengan nama Sani Shin dan bukan Raelyn itulah kenapa mereka tidak menyadari keberadaanku. Aku menarik tangan Valentino dan menggigitnya yang membuat Valentino terkejut tapi Valentino dan Raelan berusaha menutupiku dari dua orang itu. Di depan aku melihat kedua kembaranku yang terjatuh dan pria itu mengarahkan senjatanya ke arah kembaranku.


"Ciihh ternyata kalian masih saja lemah ya? Heeh lebih baik matilah!" Ucap pria itu dingin dan mengayunkan pedangnya tapi dengan cepat aku melepaskan tangan Valentino dan berlari menahan pedang itu.


"Raelyn?" Ucap kedua kembaranku terkejut.


"Kau!! Kau tidak usah ikut campur urusanku!" Ucap pria itu kesal mendorong senjataku dan aku langsung melompat kebelakang.


"Aaahh akhirnya ya kan... Aku bisa bertemu dengan kalian setelah tiga kehidupan loh... Ayah... Ibu..." Ucapku dingin yang membuat mereka berdua terkejut.


"Tunggu... K-kau Raelyn?" Ucap wanita itu serius sedangkan aku hanya tersenyum dingin menatap wanita itu.


"Aaahh akhirnya... Tidak sabar aku ingin membunuhmu!" Ucap wanita itu dingin.


"Membunuhku ya? Mmm menarik..." gumamku santai dan wanita itu tiba-tiba menyerangku tapi karena kelambatan ayunan kipasnya membuatku lebih mudah menghindar.


"Hoooaammm... Hanya segitu?" Ucapku dingin dan melempar jarum beracunku ke arah wanita itu yang membuat wanita itu tidak bisa bergerak sama sekali.


"A-apa? Bagaimana bisa?" Ucap wanita itu terkejut yang membuat pria di sebelahnya mengambil racun itu dan mengeceknya.

__ADS_1


"Racun langka ya... Jadi kau bisa membuat racun langka ya? Hmmm menarik..." gumam pria itu mematahkan jarumku dan menatapku dingin.


"Apa Raelan yang mengajarimu?"


"Tidak juga, tidak ada yang mengajariku sama sekali kok lagi pula... Aku sudah biasa hidup sendiri jadi siapa juga yang mau mengajari anak hasil hubungan gelap antara tujuh keluarga elite yang semua keluarga elite ingin sekali membunuhku... Sungguh sadis bukan?" Ucapku memainkan senjataku.


"Kau bermain dengan senjatamu? Hmmm menarik..." gumam pria itu pelan dan memberikan sebuah penawar racun untuk wanita di sampingnya.


"Oh ya... Racunku itu tidak memiliki obat penawarnya loh jadi akan sedikit membantu saja jika kau menggunakan penawar racun itu..." gumamku santai.


"Ciiihh kau! Kau memang menyebalkan Raelyn!" Protes wanita itu kesal tapi aku hanya berjalan kearah Valentino dan berdiri di tengah-tengah Valentino dan Raelan.


"Walaupun kalian orang tuaku tapi entah kenapa aku sama sekali tidak takut akan namanya durhaka apalagi jika mengingat kesakitan yang aku alami selama hidupku dan juga..." gumamku mengusap lembut pipi Valentino yang membuat wanita itu kesal.


"Target jebakan ibu saat itu adalah Valentino tapi malah yang terjebak adalah Raelan, benarkan?" Ucapku mencium Valentino lembut yang membuat Valentino langsung memelukku erat.


"Asal ibu tahu saja ya... Valentino adalah milikku jadi... Aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuh milikku bahkan kamu... Ibu..." ucapku tersenyum dingin yang membuat dua orang itu menghilang bersama dengan Alan dan beberapa orang lainnya.


"Mereka... Menghilang?" Ucap Raelan terkejut.


"Istriku... Tidak aku sangka kamu sangat berani ya..." gumam Valentino pelan dan memelukku dengan erat.


"Aku hanya tidak ingin milikku di miliki orang lain saja..." gumamku pelan dan kembali terduduk di tempat dudukku.


"Oh aku mengerti..." gumam Valentino pelan dan kembali ke tempat duduknya.


"Eehh mmm b-baiklah mari kita lanjutkan pertemuan ini..." ucap tetua di depanku dengan serius sedangkan aku kembali menulis beberapa catatan di bukuku.


Aku tidak menyangka aku menemukan satu keluarga yang selama ini tidak aku kenal dan walaupun aku terkejut kalau aku target sasaran mereka tapi sejujurnya aku senang bisa mengetahui semua ayah kandungku sendiri dan wajah ibu kandungku sendiri yang semua keluarga mengatakan kalau ibu kandungku sudah mati tapi ternyata masih hidup.

__ADS_1


__ADS_2