Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 37 : Janji Setia Ke Dua


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri lorong yang sepi itu, rasa kesal terasa di hatiku saat mengetahui suami dan anakku tersiksa seperti itu. Aku terus melangkahkan kakiku menuju ke ruangan Victory


"Victooooryyyy!!!" teriakku kencang


"Ada apa?" gumam Victory yang sedang rapat dengan dewan pengawas


"Aku dapat beberapa bukti" gumamku menunjukkan sebuah chip dan kartu memori


"I... Ini!!" teriak semua dewan pengawas terkejut


"Ya... Ini alat pengintai yang di pasang di tubuh Han" gumamku terduduk di kursi dekat Victory


"Alat pengintai? Untuk apa?" tanya salah satu dewan pengawas bingung


"Ya sebagai jaminan agar Han mau membantu mereka saja"


"Membantu musuh bukankah itu dilarang!!!" protes salah satu anggota dewan


"Ya benar, tapi sepertinya dia melakukan dengan terpaksa" gumam Victory menunjukkan sebuah video lainnya yang memperdengarkan suara Han yang sedih


"Terpaksa kenapa?" tanya salah satu anggota dewan bingung


"Karena ini..." desah Victory menunjukkan video Satria yang disiksa


"Siapa anak kecil itu?"


"Dia anakku dengan Han..." desahku pelan


"A... Anak bukannya kalian hanya ..."


"Ya kami kawin kontrak dan ya begitulah" desahku mengangkat kedua bahuku


"Oh sebentar aku mengerti... Jadi dia melakukan itu takut anak kalian terbunuh tapi disisi lain Han takut kamu meninggalkannya?" tanya salah satu dewan di depanku


"Ya bisa dibilang begitu... Dia sedang menangis di kamar" gumamku pelan


"Aku yang sekarang menjadi ayah kalau mengalami hal itu juga pasti akan menderita seperti Han" gumam salah satu dewan pengawas sedih


"Mmm ya benar apalagi di hadapkan oleh dua pilihan antara anak dan istri"


"Mmm ya benar" gumam seluruh anggota dewan pengawas serius


"Jadi mereka sebenarnya ingin menyingkirkan kamu?" gumam Victory menatapku


"Ya begitulah"


"Jadi rencanamu?"


"Ya aku dan Fadil akan menghilanglah" desahku pelan


"Kalau ikut rencanaku ini bagaimana?" gumam Victory menunjukkan sebuah lembar kertas dan aku langsung membacanya


"Jadi aku hanya mengubah diriku saja?"


"Ya jadi kamu bisa melakukan penyamaran dan mendapatkan informasi saja"


"Oh tapi bukannya akan ketahuan?"


"Tidak, Han sering berganti wanita jadi tidak akan ketahuan"


"Oh baiklah aku mengerti" desahku pelan


"Oh ya ketua, untuk ketiga wanita yang aku lukai itu bagaimana?"


"Hanya ada satu orang yang tertangkap"


"Kenapa yang lain tidak?" tanyaku terkejut


"Mereka berhasil melarikan diri..."


"Siapa yang tertangkap?"


"Nana..."


"Ohhh..." desahku beranjak dari tempat dudukku


"Aku akan mencari informasi lebih banyak lagi sambil mempersiapkan mafiaku dalam perang mafia" gumamku berjalan pelan


"Jangan melakukan hal yang gegabah Sani!!"


"Ya aku tahu" desahku menutup pintu ruangan Victory dan kembali ke kamar Han


Di depan ruangan Victory aku terkejut melihat Han yang bersandar di dinding sambil memegang lehernya yang terluka

__ADS_1


"Ka... Kamu kenapa disini Han?" tanyaku terkejut


"Aku hanya mengkhawatirkanmu"


"Hmmm kan aku tidak melakukan apapun Han..." desahku pelan


"Ya aku hanya ingin memastikannya saja" gumam Han berjalan di sampingku. Saat Han berjalan, jalannya terlihat pincang padahal sebelumnya dia berjalan biasa saja


"Han kamu kenapa?" tanyaku bingung


"Mmm tidak ada sayang"


"Jujur Han!!"


"Hmmm baiklah nanti di kamar saja ya" desah Han pelan


"Aku bantu ya" desahku membantu Han berjalan sampai di kamar Han


"Hati - hati Han" desahku membantu Han terduduk


"Jadi kenapa?" tanyaku penasaran, Han mengangkat celana panjangnya dan terlihat luka di kedua kakinya


"Ke... Kenapa bisa terluka?" tanyaku terkejut


"Ya ini bekas siksaan mereka setelah mereka tahu aku gagal menangkapmu, aku belum sempat mengobatinya soalnya aku sibuk menjalankan tugas untuk mencarimu itu" desah Han pelan


"Hmmm kalau kamu mengatakannya dari awal pasti aku tidak akan melarikan diri Han" desahku mengobati luka Han


"Bahkan kamu membunuhku juga tidak masalah" gumamku pelan


"Membunuhmu? Tidak ... Aku tidak akan melakukan itu!!" protes Han


"Kenapa Han? Kenapa kamu tidak mau?" tanyaku terkejut


"Sani.... Aku hanya punya kamu seorang apalagi janji setia kita berdua tidak bisa hilang padahal aku sering menyakitimu dan melanggar janji setia kita" gumam Han menunjukkan bekas gigitanku di lehernya


"Ya mungkin aku tidak sengaja mengigitmu kuat Han" desahku terduduk di sebelah Han


"Tidak, gigitanku juga masih membekas di lehermu Sani. Kita terikat sayang, Satria adalah pengikat janji setia kita mungkin karena itulah janji setia kita tidak hilang sayang" gumam Han membuka kerah pakaianku dan menunjukkan bekas gigitan di leherku


"Ooh... Mmm ya mungkin saja" desahku pelan


"Sayang jangan tinggalkan aku lagi ya, jangan membenciku, dan jangan bersama dengan pria lain lagi Sayang ... Membuatku sangat sakit" desah Han menundukkan wajahnya yang sedih


"Tapi kamu selalu bersama dengan wanita lain Han? Apa kamu kira aku..."


"Aku juga sama Han, aku juga..." protesku memotong pembicaraan Han


"Berbeda sayang, aku ketua dewan tertinggi sedangkan kamu wakil ketua dewan pengawas. Tugasku lebih banyak dari pada kamu apalagi aku lebih lemah dari pada kamu"


"Tidak juga kamu lebih hebat dariku Han.... Ya udah lah tidak perlu di bahas, aku tidak ingin berdebat denganmu" desahku pelan


"Aku juga, aku ingin memilikimu seutuhnya seperti dulu" desah Han mendorongku dan menciumku lembut


"Memilikiku seutuhnya?" gumamku terkejut


"Ya, aku ingin memilikimu seutuhnya Sani" gumam Han mengusap pipiku lembut


"Aku benar - benar jatuh hati kepadamu, bukan karena kesalahanku sehingga kita memiliki anak sekarang tapi aku mencintamu Sani... Aku benar - benar ingin memilikimu seutuhnya" desah Han menggigit leherku kuat


"Uuukkhhh ... Ke.. Kenapa kamu menggigigku?" rintihku kesakitan


"Aku hanya ingin mempertegas janji setiaku saja, aku tidak ingin kehilanganmu apapun yang terjadi, kamu akan selalu menjadi milikku apapun yang terjadi dan seluruh tubuhmu dari ujung kaki sampai ujung rambutmu adalah milikku siapapun yang menyentuhnya walaupun seorang penguasa sekalipun aku akan membunuhnya. Ini adalah janji setiaku dan tidak akan aku tarik sampai kapanpun" desah Han mengigitku kuat


"Sa... Sakit!!!!" teriakku kesakitan, gigitan Han kali ini lebih kuat dari pada gigitannya yang dulu dia seperti benar - benar tidak ingin melepaskanku. Melihatku kesakitan Han malah tersenyum senang


"Kamu kenapa malah tersenyum?" desahku pelan


"Aku senang bisa mengucapkan janji setiaku yang ingin sekali aku ucapkan dari dulu bahkan baru sekarang aku bisa melakukannya" desah Han memanjakanku


"Hmmm kamu ini kayak anak kecil saja Han"


"Tidak apa asalkan hanya bersamamu, aku hanya memiliki kamu seorang sayang.Walaupun banyak wanita di sekitarku bahkan banyak orang yang menganggapku laki - laki buaya tapi sebenarnya di hatiku ada kamu seorang saja"


"Oh ya? Apa aku bisa mempercayai perkataanmu Han Li?" gumamku dingin


"Apa janji setiaku belum bisa menjadi bukti untukmu?" gumam Han menggigit kembali leherku


"Aaakkhh baik - baik aku percaya!!" rintihku kesakitan


"Hmmm baguslah kalau kamu mengerti sayang" desah Han tersenyum manis kepadaku dan memelukku erat


"Sampai kapan kamu akan bermain - main Han?" gumamku pelan

__ADS_1


"Sampai aku mendapatkan hatimu seutuhnya" bisik Han pelan


"Apa kamu masih belum merasa kalau hatiku belum seutuhnya buatmu?" gumamku terkejut


"Ya, di hatimu masih ada pria lain Sani dan aku tahu itu. Walaupun kamu menyembunyikannya tapi kamu tidak bisa membohongiku Sani" gerutu Han mengigit telingaku


"Pria lain siapa maksudmu?" tenyaku terkejut


"Ade, Arthur, Lan bahkan Fiyoni" ucap Han menatapku dengan dingin


"Mereka? Sejak kapan hatiku. Untuk mereka!!!" protesku kesal


"Itu yang aku rasakan Sani, apa lagi mereka..." desah Han pelan, aku mendorong Han dan menatap Han serius


"Ya mereka mantan kekasihku lalu kenapa? Itu hanya mantan dan tidak lebih, tidak ada nama mereka di hatiku!!" gerutuku menatap Han serius


"Tapi nama Fiyoni adakan Sani?" gumam Han menatapku sedih, aku menatap Han dengan serius. Tatapan sedih Han membuat tatapan seriusku berubah menjadi desahan panjang pengakuan, aku memeluk Han erat dan memejamkan mataku


"Ya, aku masih mencintainya" gumamku pelan, mendengar perkataanku Han hanya terdiam dan nafasnya tidak beraturan. Aku menatapnya tapi Han hanya memejamkan kedua matanya yang sudah teraliri air mata di setiap sudutnya sambil tersenyum kearahku


"Kenapa kamu tersenyum kepadaku?" gumamku menghapus air matanya


"Tidak ada"


"Apa kamu sedih?"


"Tidak" desah Han pelan, dibibirnya dia bilang tidak tapi di matanya air mata terus menetes perlahan


"Han apa kamu sedih?" gumamku pelan


"Tidak"


"Tidak? Tapi kamu dari tadi menangis"


"Tidak, aku tidak menangis" desah Han pelan


"Apa aku bisa percaya perkataanmu? Kalau kamu sakit bilanglah" gumamku memeluk Han


"Tidak, aku tidak... Uuukkkhhh" rintih Han kesakitan saat aku gigit kuat lehernya


"Ke... Kenapa kamu menggigitku Sani?" tanya Han menatapku terkejut


"Kalau kamu mengucapkan janji setiamu yang kedua kalinya kepadaku apa aku tidak boleh mengucapkan hal yang sama" gumamku menatap Han serius, Han terus menatapku dengan tatapan dinginnya yang khas dan memejamkan lagi matanya


"Janji setia apa yang ingin kamu ucapkan Sani?" gumam Han pelan


"Aku tidak hanya mengucapkan janji setia saja tapi aku juga ingin membuat pengakuan"


"Pengakuan apa?" gumam Han penasaran


"Ya aku mengakui di hatiku masih ada Fiyoni tapi dengan kehadiran Satria dan kamu dimanapun aku berada, aku benar - benar mencintaimu Han. Walaupun terkadang aku masih tidak percaya akan cintamu karena kamu sering dengan wanita lain tapi aku sedikit demi sedikit menerimamu saat kamu benar - benar manja kepadaku saat kita hanya berdua Han..." desahku pelan


"Aku tidak tahu, semua janji setiamu yang kamu ucapkan padaku benar atau hanya bualan aku tidak tahu tapi hatiku selalu merasa janji setiamu dan perkataanmu adalah benar Han... Aku yang dari dulu tidak percaya siapapun dan hanya percaya Fadil saja tapi sekarang kepercayaanku juga tertuju kepadamu Han, aku sangat mempercayaimu" gumamku memejamkan kedua mataku


"Walaupun aku masih belajar untuk menerimamu di hatiku tapi aku sudah benar - benar mencintaimu Han, hatiku sudah terjatuh dan terpenjara ke dalam jurang cintamu yang penuh dengan permainan ini. Sebagaimanapun aku berusaha menghindar darimu kamu selalu berada di sekitarku, seberapa usahanya kamu membuatku sakit hati tapi aku tidak bisa jauh darimu" gumamku mengigit kuat leher Han


"Aaakkhhh..." rintih Han pelan


"Aku memang masih mencintai Fiyoni tapi aku juga dilema dengan kehadiranmu Han apalagi anak Fiyoni sangat dekat denganku dan selalu menganggapku ibu kandungnya, apa kamu tahu Han di hatiku sering di bingungkan untuk memilih diantara kalian berdua. Aku tidak tahu dimana akhirnya hatiku berlabuh tapi aku benar - benar mencintaimu Han aku benar - benar cemburu melihatmu dengan wanita lain, aku benar - benar sakit..." gumamku mengeluarkan air mataku diam - diam, Han mengusap lembut rambutku dan itu membuatku sangat sedih


"Aku... Aku tidak tahu lagi Han aku benar - benar sakit melihatmu berdua bersama wanita lain, terkadang aku yang tidak pernah jatuh hati kepada siapapun kecuali Fiyoni ini benar - benar sakit melihatmu berjalan dengan wanita lain apalagi aku benar - benar sakit melihatmu sekamar dengan wanita lain Han!!!" teriakku yang membuat Han menghentikan usapan di rambutku


"Hatiku sangat sakit Han, walaupun aku hanya terdiam tapi di namamu di hatiku semakin lama semakin menghilang. Dan saat namamu hampir menghilang kamu selalu kembali ke kehidupanku dan membuat namamu di hatiku kembali muncul Han, aku.. Aku tidak tahu lagi aku tidak tahu lagi ingin berkata apa tapi aku benar - benar tidak ingin kehilanganmu!!" gerutuku mengigit leher Han dengan sangat kuat


"Aaaaaaaakkkhhh!!!" teriak Han kesakitan, Han tanpa berkata apapun hanya memelukku erat yang membuatku sedikit tenang


"Aku... Aku mencintaimu Han, aku mencintai anak kita juga, aku... Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua sampai kapanpun aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. Walaupun aku masih punya kakak kandung tapi aku benar tidak mau sendiri Han, aku tidak mau kehilangan seseorang yang aku cinta lagi, aku... Aku tidak ingin sendiri lagi..." desahku terus menangis di pelukan Han


"Tidak hanya kamu yang mengatakan janji setiamu padaku saja tapi aku juga mengatakan janji setiaku kepadamu Han... Walaupun di hatiku masih ada Fiyoni tapi aku benar - benar mencintaimu Han, dihatiku benar - benar ada namamu. Aku benar - benar takut kehilangan orang yang aku cintai, aku akan menjaga kalian berdua dan akan membalaskan dendam atas penderitaan kalian selama ini, aku akan membunuh siapapun yang berani menyakiti suami dan anakku dan akan aku bahagiakan keluarga kecilku ini..." desahku melepaskan gigitanku dan menjatuhkan tubuhku di samping Han. Setiap melakukan janji setia tubuhku selalu lemas, tidak tahu kenapa aku bisa lemas tapi tidak masalah bagiku yang terpenting aku sudah mengatakan semua yang aku pendam di dalam hatiku


Aku terus meneteskan air mataku, Han melepaskan pelukannya dan berbaring menghadap kearahku, Han mengusap air mataku yang membasahi wajahku dan mengusap darahnya di bibirku dengan tangannya. Aku menatap Han dan Han hanya menatapku, Han menghembuskan nafasnya dalam - dalam dan tersenyum kearahku


"Ya aku tahu sayang, terimakasih dan maaf aku sering membuatmu sakit sayang..." desah Han memelukku erat, pelukannya membuat tangisanku menjadi - jadi. Han mengusap punggungku dan menciumku dengan lembut


"Aku berjanji sayang aku tidak akan meninggalkanmu, aku tidak ingin kehilanganmu dan aku benar - benar mencintaimu istriku" gumam Han pelan


"Aku senang mendengarkan pengakuanmu, aku jadi tahu apa yang kamu rasakan selama ini sayang. Aku hanya menjalankan tugas saja, tapi tidak aku sangka malah membuat istriku sakit hati... Maafkan aku sayang" desah Han menatapku serius


"I.. Iya tidak apa" desahku pelan


"Kalau suatu hari nanti aku melakukan hal itu lagi hanya karena tugas jangan sakit hati ya sayang, kalau kamu sakit hati kamu boleh menghukumku dengan hukuman apapun bahkan kamu boleh membunuhku. Aku lebih merasa terhormat terbunuh oleh istriku sendiri dari pada aku terbunuh oleh orang lain" gumam Han serius


"Hmmm baiklah" desahku pelan

__ADS_1


"Sudah jangan bersedih sayang, aku akan selalu untukmu. Jiwa dan ragaku hanya untukmu. Cintaku hanya untukmu. Dan hatiku dan tubuhku hanya untukmu..." gumam Han memelukku erat


Aku memejamkan kedua mataku dan merasakan pelukan yang erat dari tubuh Han, perkataannya dan pelukannya seperti sihir bagiku untuk tidak bisa jauh dari Han tapi aku benar - benar mencintai pria dingin ini sekarang


__ADS_2