Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 123 : Fakta Dari Ayah Kandung


__ADS_3

Ayah terus menyuapiku sampai makanannya habis, ayah memberikanku minum dan tersenyum manis kearahku. Aku mencoba terduduk dan ayah membantuku terduduk.


"Hati-hati anakku..." gumam ayah pelan.


"Huuffttt..." desahku menatap tubuhku yang masih penuh dengan bekas luka.


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih terasa sakit?" Tanya ayah khawatir.


"Mmm tidak terlalu ayah, oh ya jadi ceritakan padaku ayah..." ucapku serius dan ayah hanya terdiam menghela nafas panjang.


"Yaah baiklah ayah akan menceritakannya padamu, jadi sebenarnya... kamu ayah jodohkan dengan dua pria."


"APA!!!" Teriak kedua kakakku dan Fadil terkejut sedangkan aku hanya terdiam menatap ayah serius.


"Ya memang ayah menjodohkan Sani dengan dua pria dan... kamu pasti mengenal nama Stevan dan Stevano?" tanya ayah menatap Fadil serius.


"Stevan? Stevano? Bukannya mereka kembaran hebat dari keluarga Lim?" tanya Fadil serius.


"Ya benar, dan dia juga sepupumu kan?"


"Mmm oh ya benar, aku ingat! Tapi apa mereka yang..." gumam Fadil serius.


"Bukan mereka berdua tapi kakak kandung mereka..."


"T-tunggu... ka...kakak kandung mereka... jangan bilang Sanjaya!" Ucap Fadil terkejut.


"Ya benar, memang Sanjaya yang aku jodohkan dengan Sani."


"Tu...tunggu Sanjaya? Pria yang menyebalkan itu? Kenapa ayah menjodohkan Sani dengan dia!" Protes Alvaro dingin.


"Alasannya karena... Sanjaya mampu menjaga Sani apalagi Sanjaya yang memiliki obat untuk penyakit Sani."


"Tapi kenapa ayah menjodohkanku dengan Vincent juga?"


"Ya saat itu ibumu yang menjodohkanmu dengan Vincent sedangkan ayah yang menjodohkanmu dengan Sanjaya, Vincent dan Sanjaya adalah saudara tiri."


"Tapi ayah bilang..."


"Kalau dipikir-pikir... Walaupun ibumu yang memjodohkanmu tapi secara tidak sadar ayah juga menyetujuinya benar kan?" gumam ayah pelan.


"Jadi pria yang ingin menghancurkan hidupku itu..."


"Sanjaya, ayah yakin pasti dia yang ingin melakukannya."


"Kenapa Sanjaya ingin melakukannya tuan?" Tanya Fadil serius.


"Karena dia sakit hati, kebodohan Sani dan tidak terimanya dia saat tahu Vincent juga dijodohkan dengan sani membuat dia murka. Ayah yakin Sanjaya melakukannya karena tidak terima jodohnya di jodohkan dengan orang lain."


"Tapi ayah, apa mungkin Sanjaya melakukannya karena hal sepele?" tanya Alvaro serius.


"Ya ayah yakin, tapi ayah ingin bertanya padamu anakku.." gumam ayah menatapku serius.


"Tanya apa ayah?"


"Apa kau pernah melakukan taruhan dengan seseorang?" tanya ayah menatapku serius.


"Taruhan? Mmm ada, tapi dengan Vincent."


"Apa kau yakin dengan Vincent?" tanya ayah yang membuatku terkejut.


"Ayah serius, aku melakukan taruhan dengan Vincent saat pertemuan rahasia dulu dan kak Fadil tahu kalau dia Vincent!" Ucapku serius.


"Waktu itu Sani?" tanya Fadil serius.


"Iya yang waktu di kamar itu!"

__ADS_1


"Yaaah awalmya aku berpikir kalau dia itu Vincent tapi saat aku turun kembali ke pesta aku menemui Vincent yang sedang bertarung dengan musuh, melihat hal itu membuatku terkejut dan segera berlari menuju kamarmu lagi."


"Ja...jadi kak Fadil tiba-tiba berlari kearahku karena..."


"Karena aku sadar pria yang bersamamu itu bukan Vincent..." ucap Fadil serius yang membuatku terkejut.


"Oh astaga..." desahku pelan dan menggenggam erat kedua tanganku. "Siapa pria itu? Apa dia benar-benar Sanjaya tapi..." gumamku dalam hati, tiba-tiba Vincent masuk ke dalam kamar dan menatap Alvaro dan Elvaro serius.


"Alvaro sudah waktunya!" Ucap Vincent serius, aku menatap Vincent dan mencoba mencari tahu sendiri.


"Vincent!!" ucapku dingin.


"Ada apa?"


"Bisa buka pakaianmu sebentar..."


"Untuk apa?"


"Ini permintaanku, apa kamu keberatan?" ucapku dingin, Vincent menghela nafas pelan dan membuka pakaiannya.


"Coba berbalik..." gumamku pelan dan Vincent membalikkan badannya. Di punggung Vincent sama sekali tidak memiliki bekas luka ataupun bekas pedang yang di miliki pria pada malam itu bahkan benang merah kami sama sekali tidak terhubung.


"Ada apa memangnya?" tanya Vincent penasaran.


"T...tidak ada, terimakasih..." gumamku pelan dan menggertakkan gigiku kesal. "Astaga suaranya bahkan tubuhnya berbeda dengan pria saat itu, apa jangan-jangan pria itu Sanjaya ya..." gumamku dalam hati.


"Ayo Vincent!" ucap Alvaro pergi menarik Vincent leluar kamar.


"Ada apa Sani?" tanya Fadil bingung.


"Kak Fadil... pria malam itu... benar-benar Sanjaya!!" Ucapku serius yang membuat Fadil terkejut.


"Apa kau yakin?"


"Vera memang kakak kembarnya tapi berbeda ayah. Vera sangat membencimu karena kamu melukai hati dan perasaan adik kembarnya."


"Tapi kenapa Vincent juga menganggap dia kakak kembarnya?"


"Tidak, dia hanya memanggil Vica kakak karena Vica kakak kandungnya sedangkan Sanjaya tidak pernah memanggil Vica kakak karena Sanjaya kembaran Vica. Wajah Sanjaya dan Vincent sama hanya yang membedakan adalah bentuk anting dan kedua matanya saja."


"Jadi... bagaimana aku membedakan mereka?" Tamyaku serius.


"Kau tahu kan Vincent jarang memakai anting panjang sedangkan Sanjaya akan memakai anting panjang, untuk warna mata Vincent berwarna merah biasa tapi kalau Sanjaya merah darah."


"Tunggu.. tapi kak Fadil bilang kalau..."


"Kalau dipikir-pikir aku pernah mengira kalau pria berjubah waktu itu adalah Vincent tapi saat aku amati pria di malam itu dan Vincent mereka berbeda yang membuatku sadar kalau Sanjayalah yang salama ini menemuimu."


"Oohh astaga..." desahku pelan.


"Emang apa kau benar-benar bertaruh dengan dia?" Tanya Fadil menatapku serius.


"Ya dan aku... kalah bertaruh dengannya."


"Tunggu... APA!!" teriak Fadil, ayah dan Elvaro terkejut.


"Apa yang kalian pertaruhkan?" Tanya ayah menatapku serius.


"I...itu..."


"Kau jangan bisa bertaruh aneh-aneh Sani! Vera kalah bertaruh dengan Sanjaya yang membuat Vincent menikah dengan wanita lain loh!" Ucap Fadil serius.


"Oh benarkah? Jadi Vica bertaruh dengan Sanjaya juga?"


"Ya benar, jadi apa yang kalian pertaruhkan?"

__ADS_1


"Mmm ya awalnya aku bertaruh jika dia kalah maka dia harus mengikhlaskan aku dengan pria lain dan jika aku kalah maka aku akan menikah dengannya."


"Jadi karena kamu kalah maka kamu..."


"Tidak, pertaruhan kami berbeda dari kesepakatan kami diawal..." Ucapku pelan.


"Lalu apa?" tanya Fadil serius.


"Ya karena aku kalah maka... aku harus ikut bersama dia di wilayah terlarang dan aku menjadi asisten pribadiku seumur hidupnya..." gumamku pelan.


"Astaga apa kau gila melakukan itu!" Protes Fadil serius.


"Kan aku bilang pertaruhan kami berbeda dengan pertaruhan awal!" Ucapku serius.


"Tunggu dulu... wilayah terlarang? Apa dia pernah mengatakan dia ketua mafia?"


"Ya, dia berkata kalau dia tetua dewan keadilan dan ketua mafia bawah tanah..." gumamku pelan.


"Bawah tanah bukannya... itu tugas kita dulu Sani?" tanya Fadil serius


"Ya memang benar..." gumamku pelan.


"Mafia bawah tanah? Apa kau melakukan kebodohan lagi dengannya?" Ucap Alvaro berjalan masuk ke dalam rumah sambil menatapku dingin.


"Dia kalah bertaruh dengan jodohnya sendiri kak..." gumam Elvaro pelan.


"Astaga kau masih saja bodoh Sani!" Protes Alvaro kesal.


"Tenanglah Alvaro, dia bertaruh dengan jodohnya sendiri..." gumam ayah pelan.


"Tapi ayah! Ayah tahu kan Sanjaya seperti apa!" Protes Alvaro dingin.


"Ayah tahu, tapi ya mungkin hanya cara itu yang Sanjaya lalukan demi bisa bersama dengan Sani, lagi pula Sanjaya nampaknya hanya ingin memantai Sani lebih dekat dan dia tidak mungkin membunuh Sani."


"Kenapa ayah begitu yakin? Ayah tahu sendiri kan Sanjaya sering mengancam ayah dan selalu bertarung denganku!" Protes Alvaro kesal.


"Ayah tahu, tapi ayah yakin Sanjaya tidak akan berani melakukan itu. Walaupun ayah tidak terima anak ayah dibuat menderita sementara olehnya tapi ayah anggap itu hukuman untuk Sani karena kebodohannya dimasa lalu, mana tahu Sanjaya bisa merubah kehidupan Sani dan Sani dapat merubah kehidupan Sanjaya..." gumam ayah pelan, Alvaro masih terus memprotes dan terus tidak terima keputusan ayah.


Aku menatap benang merah di tanganku dan menghela nafas panjang, kalau yang dikatakan benar tentang Sanjaya mungkin aku akan di buat menderita sementara tapi... aku takut jika apa yang Sanjaya lakukan berbeda dengan apa yang ayah katakan pasti akan benar-benar menyiksa hidupku lebih dalam lagi. Jika dipikir-pikir kalau aku juga yang salah kepadanya jadi aku mau tidak mau aku harus melakukan taruhanku dengan Sanjaya itu.


"Ayah..." gumamku pelan.


"Ya ada apa anakku?" tanya ayah pelan.


"Aku akan melakukan taruhanku dengan Sanjaya itu."


"Apa kau gila?" Protes Alvaro kesal.


"Aku mengatakan yang sebenarnya lagi pula... saat di hutan kemarin... aku merawat Sanjaya yang terluka parah."


"Tunggu? Sanjaya terluka?" Tanya Alvaro dan Elvaro bersamaan.


"Ya, tapi saat aku bermimpi kalau Vincent memiliki istri dan aku kira pria itu Vincent membuatku kesal dan mengusirnya pergi..." gumamku pelan.


"Benarkah? Kalau begitu... astaga pantas saja Stevan mendatangiku dan memberitahu keberadaanmu ternyata Sanjaya yang menemukanmu..." desah Fadil memukul keningnya pelan.


"Jadi ayah bolehkah aku melakukannya? Anggap saja anakmu melakukan hukumannya..." gumamku pelan.


"Hmmm baiklah, nanti setelah kamu sembuh ya ayah ajak kamu ke wilayah terlarang."


"Ayah apa ayah gila mengijinkan dia!" Protes Alvaro kesal.


"Tenanglah Alvaro, kau juga membutuhkan Vera kan? Jadi yaah mungkin ini caranya."


"Haish terserahlah, tapi... kalau sampai adikku kenapa-napa aku akan membunuh mereka semua tanpa sisa!" Gerutu Alvaro kesal dan terduduk di sofa kamar. Aku terdiam menatap benang merahku kembali, aku berfikir apa selama ini semua orang menganggap Sanjaya itu Vincent seperti yang aku alami ya tapi kenapa dia sama sekali tidak terlihat marah saat aku menganggap dia Vincent?

__ADS_1


__ADS_2