
Valentino, Fadil dan Raelan terus berusaha mengobatiku sedangkan aku hanya membuang wajahku dan tidak memperdulikan mereka. Jarum infus menancap di tangan kananku dan beberapa dokter yang memeriksaku dengan serius, wanita yang menganggap dia sebagai adik kandungku terus berdiri di pintu sambil menatapku sedih, walaupun dia menunjukan wajah sedihnya tapi aku tidak memperdulikannya sama sekali.
"Haish kenapa kamu bunuh diri?" Tanya Fadil dingin tapi aku tidak memperdulikannya.
"Hey Sani! Jawablah!" Protes Fadil dan aku hanya menatap Fadil dingin lalu kembali membuang wajahku.
"Jawab Sani!" Teriak Fadil kesal.
"Bunuh aku."
"Apa?"
"Bunuh aku! Apa kau tidak mendengarnya!" Protesku kesal.
"Bunuh? Kenapa kau ingin aku membunuhmu?"
"Hanya ingin saja..." gumamku pelan.
"Astaga, kau kira Valentino akan membiarkan aku melakukan itu! Kenapa kau berpikir seperti itu!" protes Fadil kesal tapi aku hanya terdiam membuang wajahku.
"Sani kenapa kau seperti itu? Kenapa kau..."
"Aku dengar kembaranku berusaha untuk bunuh diri lagi, ada apa?" Tanya Raesya yang masuk ke dalam kamar bersama dengan Raetya yang membuat Fadil menghentikan ucapannya. Wajah Raesya nampak dingin menakutkan sama seperti Raesya sebelumnya.
"Hanya ingin!" Ucapku dingin dan Raesya menatap wanita yang berdiri di depan pintu itu.
"Apa karena dia?" Tanya Raesya dingin dan aku menganggukkan kepalaku.
"Oohh dia ya... dia hanya adik tiri atau bisa dibilang tidak ada hubungan darah dengan kita."
"Tidak, aku adik kandung dia!" Protes wanita itu kesal.
"Heeh adik kandung ya? Raelyn kembaranku dan aku lebih tahu tentang silsilah keluarga dibanding Raelyn, kau hanya membujuk pria itu agar mau memungutmu dan menghancurkan adik kembarku, benar kan?" Ucap Raesya menunjuk Raelan dengan kesal.
"Tidak! Aku adik kandungnya!!" Protes wanita itu kesal dan wanita itu langsung berdebat dengan Raesya.
"Sudahlah! Kenapa kalian meladeni dia sih!" Gerutuku kesal dan duduk di atas tepat tidur.
"Jangan terlalu banyak bergerak!" Ucap Valentino berusaha menahan tubuhku.
"Terimakasih, oh ya kenapa kakak kemari?" Tanyaku pelan dan memberikanku sebuah kertas yang membuatku terkejut, aku langsung membaca kertas itu. Kertas itu berisi informasi mengenai musuh dan keputusanku untuk bekerja sama dengan mereka berdua mengenai penyerangan kepada musuh.
"Tidak! Aku tidak akan mencelakainya!" Protes wanita itu kesal tapi Raesya tersenyum dingin kearah wanita itu.
"Kau kira aku sebagai kakaknya akan percaya dengan ucapanmu?" Gerutu Raesya dingin.
__ADS_1
"Haish kakak, sudahlah!" Ucapku dingin yang membuat Raesya menghela nafas pelan.
"Aku tunggu keputusanmu Raelyn!" Gumam Raesya berjalan menjauhiku.
"Aku akan memikirkannya lagi..." gumamku menghidupkan lilin di sebelahku dan membakar kertas itu.
"Diskusikan dulu kepada penguasa wilayah bayangan yang menyebalkan itu dulu, jika sudah kabarkan keputusanmu! Oh ya satu lagi... Dia bukan anak kandung Raelan tapi anak kandung Ravaro dan Revaro dengan wanita rendahan itu!" Ucap Raesya dingin sambil membuka pintu kamar.
"Apa?" Teriakku terkejut yang membuat Raelan dan Ravaro terdiam.
"Memang seperti itu, ya sudah ya aku akan..."
"Tunggu!" Teriakku kencang yang membuat kedua kembarku berhenti.
"Ada apa?"
"Aku memiliki permintaan kepada kalian..." gumamku pelan.
"Apa?"
"Yaaahh aku hanya ingin minta maaf atas kesalahanku selama ini dan... Bisakah kalian menikah dengan Lyraen dan Ryraen?" Tanyaku pelan.
"Oh kamu tahu masalah itu ya..." gumam Raesya pelan dan mengangkat sedikit bahunya.
"Jika itu keinginanmu, nanti... bisa kami pertimbangkan!" Ucap Raesya dingin dan pergi bersama Raetya.
"Apa?" Tanya Fadil dingin.
"Kak Fadil tahu kan apa yang harus kak Fadil lakukan?"
"Ya aku tahu kok..." gumam Fadil menelepon seseorang dan aku berusaha melepaskan infus di tanganku tapi Valentino dengan cepat menahan tanganku.
"Apa yang akan kamu lakukan!" Protes Valentino menatapku dingin.
"Aku malas bertemu dengan wanita itu!" Gerutu kesal.
"Hmmm baiklah, aku juga ada urusan di wilayah bayangan... Mau kesana?" Tanya Valentino pelan dan aku menganggukkan kepalaku.
"Oh mmm baiklah..." desah Valentino menggendongku dengan erat.
"Oh ya... Urusan masalah wanita itu masih belum selesai... Kakak!" Ucapku menatap Ravaro dingin.
"Tapi Raelyn..."
"Ucapanku tetap sama, aku tidak akan datang kemari jika masih ada wanita itu apalagi aku tidak akan menginjakkan kaki di kerajaan ayah atau bahkan aku tidak akan menganggap kalian sebagai ayah dan kakak kandungku sendiri jika wanita itu masih ada di sini!" Ucapku dingin dan Valentino melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Tapi kan..."
"Suasana hatinya sangat buruk, nanti aku bicarakan dengan istriku..." Ucap Valentino pelan dan membawaku pergi dari kerajaan Kim.
Di dalam mobil Fadil sibuk dengan telponnya sedangkan aku hanya menyembunyikan wajahku di pelukan Valentino.
"Sayang, ada apa?" Tanya Valentino pelan tapi aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Kenapa kamu tidak mau menganggapnya?" Tanya Valentino pelan dan aku menatap kedua matanya serius.
"Apa benar wanita itu anak dari kakak?" Tanyaku dingin dan Valentino menganggukkan kepalanya pelan.
"Benar, tes DNA menunjukkan kalau dia anak kandung Ravaro sedangkan kembarnya anak kandung Revaro."
"Tapi bagaimana bisa? Kak Ravaro kan..."
"Ceritanya panjang dan agak sulit menjelaskannya padamu. Kamu dengannya selisih 8 tahun hanya saja karena tubuhnya sedikit gemuk dan wajahnya sedikit tua jadi terlihat seumuran denganmu."
"Tidak mungkin!"
"Aku mengatakan yang sebenarnya Raelyn!" Ucap Valentino serius dan aku hanya menghela nafas pelan.
"Walaupun begitu, aku masih tidak mau menganggapnya!" Ucapku pelan dan kembali menyembunyikan wajahku.
"Kenapa kamu tidak mau menganggapnya?"
"Karena... Tidak ingin saja."
"Tapi dia masih ada hubungan darah denganmu."
"Kenapa kau memaksaku untuk menerimanya? Apa kau ingin bersamanya?" Tanyaku dingin dan Valentino mencubit pipiku dengan gemas.
"Tidak, aku mencintaimu dan kau adalah istriku. Aku tidak akan mencintai siapapun!"
"Ya kan mana tahu kalau kamu mencintainya..."
"Kau dengan dia berbeda, kau lebih unggul di bandingkan dia dan lagi dia bukan seleraku!" Ucap Valentino dingin dan aku hanya menghela nafas pelan.
"Yaahh aku tahu kok."
"Apa kamu khawatir?"
"Tentu saja aku khawatir!"
"Hmmm sudahlah jangan khawatir, aku suamimu sayang. Aku menunggumu di dua kehidupan dan tidak akan aku sia-siakan kamu kehidupan ini!" Ucap Valentino serius.
__ADS_1
"Baiklah aku mengerti, oh ya... Valentino nanti aku ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu."
"Sekarang saja..." gumam Valentino pelan dan aku mulai mendiskusikannya dengan Valentino. Selama diskusi Valentino banyak memberi masukan dan keputusan untukku bahkan dia memberiku beberapa solusi dan informasi kepadaku yang membuatku tahu harus melakukan apa nantinya.