Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 99 : Tersadar Lagi


__ADS_3

Rasa sakit benar-benar terasa di tubuhku, terkena racun dua kali benar-benar menyakitkan. Aku kira aku akan mati kali ini tapi ternyata aku masih diberi kesempatan hidup, aku bisa merasakan jari-jariku yang kaku dan rasa sakit di kepalaku. Aku berusaha membuka kedua mataku tapi tetap tidak bisa terbuka, walaupun begitu aku tetap berusaha membuka kedua mataku dan untungnya masih bisa aku buka dengan pelan.


Saat mataku terbuka, aku melihat sebuah ruang perawatan dengan infus yang menancap di tangan kiriku. Kedua mataku menatap sekeliling dan aku tidak menemukan siapapun di dalam ruang ini.


"A.. aku dimana?" gumamku pelan.


Aku berusaha terduduk di tempat tidur, di sampingku ada tas milikku. Aku mengambil handphone dan obat milikku lalu meminum obat milikku.


"Hhuuhh benar-benar menyiksa..." desahku pelan, aku menatap wajahku di cermin dan ternyata wajahku hanya pucat saja berbeda dengan waktu itu.


"Oh ya kata Samuel ayah ada di bawah laut ya? Laut mana yang dimaksud..." desahku pelan, aku beranjak dari tempat tidurku sambil membawa infus di tanganku, aku berjalan pelan menuju ke balkon ruangan perawatan yang terbuka. Di pinggir balkon aku melihat banyak ambulance yang terparkir dan banyak perawat yang sedang berjalan dengan pasien di sekitar gedung, sepertinya aku berada di sebuah rumah sakit pusat Asia.


"Ini tanggal berapa sih...oh ternyata sudah tiga bulan ya aku tidak sadar, pantas saja terasa kaku semua badanku malah kedua mataku tidak bisa terbuka tadi..." gumamku terduduk di kursi balkon, walaupun ada banyak ribuan pesan di handphoneku aku benar-benar tidak memperdulikannya.


"Hmmm..." desahku menatap pemandangan pagi hari di depanku.


Beberapa jam berlalu aku masih terduduk di kursi balkon ruang perawatan ini tanpa belakukan apapun. Tiba-tiba aku mendengar suara beberapa pria yang terdengar berbicara sesuatu di luar kamar, tanpa memperdulikannya aku hanya terdiam dan menatap pemandangan kota di depanku.


Cekreekk...


Suara pintu ruangan terdengar keras, aku menatap Ray dengan ketiga kakakku, Fadil, dan seorang pria masuk ke dalam kamar, sepertinya mereka keluar untuk membeli sesuatu.


"Eeeh dimana Sani!" teriak Fadil yang membuat semua orang terkejut.


"Sa...Sani...." gumam Ray mencari di semua sudut ruangan perawatan, dengan tatapan khawatir Ray di bantu ketiga kakak tiriku mencariku disetiap sudut sedangkan aku hanya terduduk santai di kursi balkon.


"Kenapa sih mereka itu..." gumamku kembali menatap pemandangan kota di depanku.


"Tuh dia disana!" teriak Fadil kencang dan dengan cepat aku merasa ada seseorang yang memelukku erat, aku menolehkan kepalaku dan melihat Ray lah yang memelukku erat.


"Eehh mmm hai kak Ray..." gumamku pelan tanpa ucapan apapun Ray memelukku erat dan terdengar suara sesenggukan pelan di telinga kiriku.


"Ada apa?" tanyaku pelan dan Ray hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Syukurlah kamu baik-baik saja Sani."


"Ya begitulah...lebih lama dari perkiraanku..." gumamku mengusap rambut Ray pelan.


"Bukan hanya lebih lama tapi sangat lama tahu! Kau benar-benar seperti orang mati!" protes Fadil kesal.


"Tapi tidak separah sebelumnya bukan..." gumamku pelan.


"Ya juga sih tapi sama aja Sani, kali ini kau kena racun dua kali tahu!"


"Ya aku tahu, buktinya aku tidak apa kan."


"Memang tapi apa kau tahu... Ray menunggumu selama tiga bulan tanpa mau makan dan minum, dia memikirkanmu tahu! Kalau kau punya rencana gila tidak masalah bagiku tapi kau harusnya katakan kepada Ray, dia suamimu! Dia tidak sekuat kamu Sani!" protes Fadil dingin.


"Tidak makan? Tidak sekuat aku? Tapi kan dia..." gumamku pelan.


"Walaupun dia monster bagi semua orang tapi dia hanya monster yang paling lemah di dunia khayalan. Dimanapun dia harus meminum darahmu walau setetes tapi dia harus makan. Sedangkan Ray, dia tidak makan sama sekali dan dia tidak berani meminum darahmu, dia hanya menangis di sampingmu dan beberapa kali mencoba bunuh diri setelah dokter bilang kemungkinan kamu hidup tujuh puluh persen..." jelas Soni serius.

__ADS_1


"Oh..."


"Kau masih saja tidak peduli kepada orang lain Sani! Ya sudahlah aku masakan buat kalian saja..." gerutu Fadil berjalan pergi bersama dengan ketiga kakak tiriku.


"Hmmm tidak peduli ya? Kenapa banyak orang yang menilaiku tidak peduli jika aku...hmmm" desahku meremas pakaian Ray kuat.


"Kak Ray, kenapa kamu tidak makan?" tanyaku pelan tapi Ray hanya terdiam.


"Kalau kak Ray tidak mau menjawabnya nanti Sani gak mau makan!" gumamku dingin tapi Ray tetap diam saja.


"Haish baiklah Sani lepas infus nih!" gerutuku mencoba melepaskan infus di tanganku, dengan terus memelukku Ray menahan tangan kananku.


"Gak boleh, kamu gak boleh melakukannya!" gumam Ray pelan.


"Kenapa gak boleh? Kak Ray saja tidak menjawabku!"


"Aku...aku tidak mau kamu melihatku menangis, hanya itu..."


"Hmmm..." desahku menggenggam erat tangan Ray.


"Sudah aku katakan kan... untuk apa aku tidak boleh melihatmu marah atau menangis, apapun itu kalau kamu bersamaku... kamu harus menunjukkan dirimu yang asli, apa kamu mengerti..." gumamku mengangkat wajah Ray yang sudah di penuhi air mata.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi, kak Ray suamiku oke jadi kak Ray... harus menunjukkan apapun kepadaku!"


"Hmmm ba...baiklah.." gumam Ray tersenyum pelan.


"Jadi, kenapa kak Ray tidak makan?"


"Kak Ray kenapa?" tanyaku terkejut.


"Penyakitnya kambuh!" ucap Soni dingin sambil membawa steak daging di tangannya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


"Beri saja darahmu."


"Jangan, jangan berikan..." gumam Ray pelan sambil menggenggam tanganku erat.


"Hmmm..." desahku mengambil pisau makan milik Soni dan melukai lenganku.


"Sa...Sani sudah aku bilang jangan!" protes Ray dingin, tanpa memikirkan ocehannya aku segera membungkam bibirnya dengan lenganku.


"Kau masih saja tidak peduli orang lain ya Sani, kau memaksa orang lain dengan keinginanmu sendiri..." gumam Fadil meletakkan beberapa makanan dimeja balkon, tidak lama aku sedikit terkejut saat melihat Ray menggigit leherku dan meminum darahku seperti vampir yang benar-benar haus darah.


"Ray awas kalau kau meracuni adikku lagi! Aku akan benar-benar membunuhmu!" gerutu Viu berjalan ke arah balkon tapi semua orang malah tertawa kencang.


"Widih tumben nih peduli yang kesekian kalinya kepada adik kecilnya..." sindir Soni dingin.


"Iihh apaan, aku hanya tidak mau Sani terkena racun lagi. Melelahkan tahu!" gerutu Viu dingin.

__ADS_1


"Alasan saja, bilang saja kau takut kehilangan adik kecilmu kan..." sindir Soni dingin.


"Eeh mana ada!" protes Viu kesal tapi Soni terus menerus mengejek Viu.


"Sudahlah kalian berdua, cepat makan keburu dingin!" gerutu Xiao Min melerai Viu dan Soni.


"Makan? Yeay makan!!" teriak Viu segera melahap makanannya.


"Sani kamu mau makan apa?" tanya Xiao Min berdiri di depanku sambil menatapku.


"Makanlah dulu kak, aku tidak lapar."


"Kau harus makan Sani, kau koma selama tiga bulan dan kau bilang tidak lapar?"


"Aku memang tidak lapar kakak, aku nanti akan makan kok dengan kak Ray..." gumamku mengusap rambut Ray lembut.


"Baiklah, kau harus makan. Jangan sampai anak di dalam rahimmu kelaparan."


"Eehh...maksudnya...aku hamil?" tanyaku terkejut.


"Ya, mungkin kalau kau tidak hamil kau akan sadar lebih cepat tapi ternyata kamu hamil dan malah membuatmu sadar lebih lama!" jelas Xiao Min berjalan masuk ke dalam ruangan perawatan.


"Oh mmm baik kak, kakak jangan khawatir..." gumamku terus mengusap rambut Ray.


"Ka...kamu mau makan istriku?" tanya Ray pelan.


"Nanti saja, kamu mau makan?" tanyaku pelan dan terdengar suara perut Ray yang sangat keras.


"Eeh hehehe.." tawa Ray pelan.


"Kalau kamu mau makan, makanlah dulu kak Ray."


"Oh mmm baiklah, kamu juga harus makan juga!" ucap Ray melepaskan gigitannya dan berjalan masuk ke dalam ruangan perawatan.


"Hmmm..." desahku memegang leherku yang terus mengeluarkan darah.


"Kamu makan juga ya!" ucap Ray tersenyum senang kearahku.


"Makanlah dulu, aku belum lapar."


"Kamu harus makan!" protes Ray menyuapiku sup hangat di tangannya.


"Hmmm hanya beberapa suap saja ya."


"Baiklah, yang penting kamu makan..." ucap Ray terus menyuapiku dan sesekali memakannya sendiri.


"Hmmm..." desahku menatap ke pemandangan kota di depanku.


"Ada apa sayang?" tanya Ray pelan.


"Tidak ada kak Ray, kapan boleh pulang?"

__ADS_1


"Nanti kalau kamu sudah pulih kita pulang ya."


"Mmm baiklah..." desahku kembali memandang kota di depanku. Hamil anak kedua dengan Ray sedikit membuatku terkejut tapi ya mau bagaimana lagi anak adalah anugerah jadi aku harus berusaha menjadi ibu yang baik.


__ADS_2