
Pertemuan berjalan dengan kondusif bahkan semua orang terlihat takut untuk bergerak disaat setelah mengetahui identitasku padahal aku berfokus pada pertemuan mereka dan tidak melakukan hal yang lainnya.
"Kenapa wajahmu pucat Sani? Apa kau ingin istirahat?" Tanya Fadil bingung dan batukku kembali muncul.
"Uuuhhhuuukkk... Uuuhhuukkk..."
"Kak Fadil lanjutkan saja dulu, aku mau ke toilet..." gumamku berjalan pergi keluar ruang pertemuan dan masuk ke dalam toilet. Aku menggigit tanganku dan meminum darahku tapi batukku tetap ada.
"Jadi ternyata ketuanya itu kamu ya gadis kecil!" Ucap seorang pria di belakangku, aku menatap kearah kaca depanku dan melihat Lyraen berdiri di belakangku dengan tatapan marah.
"Lalu kenapa... Uuugghhh..." rintihku pelan saat Lyraen mencekik leherku dengan kuat.
"Kenapa? Ciihh kau berbohong padaku tentang identitasmu dan..."
"K-kan sudah aku bilang kalau tujuan kita dan organisasi kita berbeda dan... Uugghhh.."
"Aku suamimu! Seharusnya kau menceritakannya padaku dari pada kau tutupi seperti itu!" Protes Lyraen terus mencekik leherku dengan kuat, walaupun terasa sangat sakit bahkan nafasku terasa sangat tertahan tapi aku terdiam menahan sakit itu.
Tidak berapa lama tiba-tiba ada seseorang yang memukul Lyraen kencang yang membuat cekikannya terlepas di leherku, aku terus terbatuk-batuk dan berusaha untuk kembali bernafas.
"Kau!! Sudah berapa kali kau hampir membunuh adikku!!" Protes Ravaro kesal.
"A...aku... M-maafkan aku... Aku hanya..." gumam Lyraen mencoba mendekatiku tapi Ravaro menghalangi Lyraen dan memukul habis-habisan Lyraen.
"Sifatmu tetap saja dan tidak berubah! Apa kau ingin membunuhnya kedua kali! Kau benar-benar membuatku murka!!" Teriak Ravaro terus memukul Lyraen, melihat Lyraen tidak berdaya membuatku langsung memeluk Lyraen dan Ravaro menghentikan pukulannya.
"Kakak sudah cukup!!" Teriakku kencang.
"Kenapa kau terus melindunginya?"
"Dia suamiku kak dan..."
"Dan kau ingin terbunuh lagi? Ingat Raelyn! Dia membunuhmu di kehidupan pertama! Dia tidak pernah bisa menjagamu! Tahu seperti ini aku sudah melarangmu menikah dengannya dan seharusnya aku menyetujui kau menikah dengan Ryraen saja dari pada Lyraen!!!" Protes Ravaro kesal.
"Kakak sudahlah! Tidak perlu dibahas masa lalu!" protesku kesal.
"Kau masih saja keras kepala Raelyn! Awas saja kau sampai membunuh adik kecilku lagi!" Protes Ravaro kesal dan pergi dari toilet wanita.
"Maaf Raelyn aku tidak sadar aku mencekikmu aku..."
"Tidak apa kok, kembalilah aku mau buang air kecil..." gumamku melepaskan pelukanku dan berusaha berdiri tapi dadaku terasa sakit yang membuatku kembali terbatuk-batuk.
"Raelyn minumlah!" Ucap Lyraen melukai lengannya dan aku langsung meminum darahnya.
"Raelyn maafkan aku ya. Penyakitku membuatku tidak bisa untuk menahan diri menyakiti seseorang, aku harus di sadarkan dulu baru tahu apa salahku dan maafkan aku Raelyn..." desah Lyraen pelan.
"Aku tahu, aku tidak akan menyalahkanmu jika kau membunuhku tapi malah aku sangat berterimakasih..." gumamku pelan tapi Lyraen mendorongku dan menatapku serius.
"Tidak Raelyn! Kau harus menyadarkanku jika aku menyakitimu. Aku mohon padamu!" Ucap Lyraen serius dan aku hanya terdiam menganggukkan kepalaku pelan.
"Berjanjilah padaku tetap bersamaku dan menemaniku di kehidupan ini Raelyn!" Ucap Lyraen mengarahkan jari kelingkingnya ke depanku.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku takut Ryraen merebutmu dan kakakmu serta ayahmu menjodohkan Ryraen kepadamu. Aku takut kalau aku kehilanganmu!" Ucap Lyraen pelan dan aku hanya tersenyum pelan.
"Lyraen dengar, jika kau suamiku dan aku masih terikat denganmu percuma saja mereka menjodohkanku dengan orang lain. Di kehidupan ini aku hanya ingin balas dendam sama seperti ucapanku pertama kali bertemu denganmu, aku... Hanya... Ingin... Balas... Dendan... Paham!!" Ucapku dingin dan Lyraen menganggukkan kepalanya pelan.
"Bagus, kau sudah mengikatku dan cincin pernikahan kita masih terpasang di jari manisku jadi apa kau masih ragu denganku?" Ucapku serius.
"Tidak, aku hanya takut, aku takut kehilanganmu, aku takut kalau..."
"Lyraen dengar kita sudah saling berjanji bukan, kita akan saling menghukum jika kita melakukan kesalahan dan apa kamu masih takut?" tanyaku serius dan Lyraen terus menganggukkan kepalanya pelan dengan tangan yang bergetar.
"Ya, aku masih takut Raelyn! Aku masih mmmmpphhh..." aku langsung mencium bibirnya yang membuat Lyraen terdiam membalas ciumanku.
"Jangan takut, aku akan menjaga hatiku dan menjaga kalian semua dari musuh jadi jangan khawatir suamiku..." gumamku pelan dan Lyraen menganggukkan kepalanya pelan.
"Janji ya. Janji jangan meninggalkanku!" Ucap Lyraen kembali mengarahkan kelingkingnya di depanku dan aku langsung melingkarkan kelingkingku di kelingkingnya.
"Yaaah aku berjanji asalkan kamu berjanji untuk menjaga dirimu."
"Aku akan selalu menjaga cintaku padamu Raelyn, kaulah malaikatku dan kau jantung hidupku!" ucap Lyraen memelukku erat dan kami kembali berciuman.
"Yaah baiklah sayangku... Mmm ngomong-ngomong kamu memakai wajah palsu?" Tanyaku serius saat bibirku terkena pipinya yang terasa kenyal.
"Ya aku memakainya."
"Tunggu... Apa?" Tanyaku terkejut.
"Malam kapan?" Tanyaku terkejut.
"Malam saat berduaan denganmu!" Gumam Lyraen mempermainkanku.
"L-Lyraen jangan ini di toilet wanita jadi jangan mmmppphh..."
"Jangan apa? Kau istriku jadi suka-suka aku melakukannya dimana."
"Tapi kan Lyraen..." gumamku pelan dan saat terdengar suara beberapa wanita di luar toilet Lyraen menarikku ke dalam bilik toilet dan kembali mempermainkanku.
"Lyraen ja... Mmmppphhh..." Lyraen membungkam bibirku dan mendengar ucapan beberapa wanita di luar toilet.
"Benar tidak aku sangka ya kalau ketua tertinggi sangat cantik."
"Benar juga, pasti karena kecantikannya banyak pria yang ingin menjadi kekasihnya!"
"Tapi aku dengar dia sudah menikah dengan ketua organisasi misterius itu."
"Menikah? Tidak mungkin!"
"Beneran loh lihatlah tanda permaisuri kerajaan terkutuk ada di tubuh ketua tertinggi bahkan kalung khusus kerajaan terkutuk juga wanita itu memakainya!"
"Mungkin saja sih, tapi dengar-dengar ketua organisasi misterius itu terkenal sangat kejam dan pernah membunuh istrinya di kehidupan sebelumnya."
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu apa mereka suami istri di masa lalu?"
"Entahlah tidak ada yang tahu, hanya aku dengar-dengar seperti itu. Yaah semoga ketua tertinggi di beri ketabahan menghadapi ketua organisasi misterius yang terkenal kejam itu jika mereka benar-benar menikah..." gumam beberapa wanita di luar bilik toilet.
"Lyraen hentikan nanti... Uuuggghhhh..." rintihku pelan dan Lyraen langsung membungkam bibirku.
"Heei kau dengar suara apa itu?" ucap seorang wanita terkejut.
"Ya, eehh mmm jangan-jangan ada yang sedang berduaan di bilik..." ucap beberapa wanita itu terlihat membuka satu persatu bilik toilet sedangkan Lyraen terus mempermainkanku. Disaat pintu bilik depanku seperti ada yang membukannya, aku langsung menguncinya dan menahan pintu itu sekuat tenaga.
"Halo? Apa ada orang?" Ucap seorang wanita serius.
"Aku... Aku sedang buang air!" Ucapku bersikap biasa.
"Oohh mmm m-maaf nona!" Ucap wanita itu dan mereka langsung pergi meninggalkan toilet.
"Huuuhh kau... Kau memang menyebalkan Lyraen!" desahku pelan.
"Menyebalkan ya? Kau istriku apa itu terlihat menyebalkan di matamu?" Gumam Lyraen terus mempermainkanku.
"Uuugghhh kau memang... Uugghhh..." rintihku pelan.
"Bagaimana sayang? Nikmat bukan?" Gumam Lyraen terus mempermainkanku dan aku terdiam mencoba menikmatinya.
"Kau memang nakal suamiku!" Ucapku menggigit pelan Lyraen tapi Lyraen terus mempermainkanku.
"Ternyata ada beberapa orang yang tahu hubungan kita ya istriku..." gumam Lyraen pelan.
"Entahlah aku tidak peduli!"
"Ohh aku kira kau akan terganggu dengan masalah itu."
"Tidak juga, aku hanya... Mmmpppphhh..." Lyraen langsung menciumku saat mendengar beberapa orang wanita berada di dalam toilet.
"Heeiii masa ketua tertinggi organisasi tersembunyi dan ketua organisasi misterius pergi tanpa pamit bahkan sampai sekarang sih!" gerutu beberapa wanita itu serius.
"Benar juga. Pertemuan jadi di tunda kan! Ciihh kalau aku bertemu dengan mereka sudah ku potong-potong saja mereka!" gerutu wanita itu kesal dan mereka kembali bergosip sedangkan Lyraen terus mempermainkanku.
"Lyraen sudahlah aku... Aku.... Uugghhhh..." desahku pelan dan Lyraen memelukku erat dan kembali menciumiku lembut.
"Kamu benar-benar nikmat sayang..." desah Lyraen pelan dan memakaikan pakaianku kembali.
"Mari kita ke kamar dan kita lanjutkan kemesraan kita!" Ucap Lyraen serius.
"T-tunggu tapi kan ada..." gumamku pelan tapi Lyraen membuka pintu bilik yang membuat wanita-wanita itu terkejut, dengan tatapan dinginnya Lyraen menggandeng tanganku pergi dari toilet.
"Astaga gila-gilanya kau secara terang-terangan menunjukkan hubungan kita!" Protesku kesal.
"Semua sudah tahu dan apa peduliku!" Gumam Lyraen mendorongku masuk ke dalam sebuah kamar dan kembali mempermainkanku sedangkan aku benar-benar menikmatinya bersama Lyraen.
Sebenarnya jika dipikir maka benar perkataan Ravaro, lebih baik aku mencari pria lain dari pada Lyraen tapi mau tidak mau dia adalah suamiku bahkan aku juga sangat menyayanginya dan aku tidak mungkin meninggalkannya hanya karena masalah sepela ditambah tujuanku di kehidupan ini hanya untuk balas dendam.
__ADS_1