
Selama perjalanan ke gedung tadi aku memiliki rencana untuk berakting kesakitan apalagi aku yakin Nana dan Cantika pasti menyerang perutku sama seperti di akademi dahulu. Selain itu aku juga berencana membakar gedung itu ketika semuanya selesai apalagi aku yakin Ray akan membawaku pergi kalau melihatku kesakitan, aku berharapnya aku tidak benar-benar merasa sakit.
"Kau masih saja jahat Sani!" protes Nana kesal.
"Jahat ya? Tidak juga, aku melakukan apa yang harus aku lakukan saja. Aku muak melihat milikku direbut wanita rendahan mulu, lagi pula...kasihan juga ya kamu menjadi orang tidak dianggap oleh Han apalagi musuh cintamu sekarang si Lia itu..." sindirku dingin.
"Mulutmu masih saja licin ya Sani membuatku muak mendengarnya!" gerutu Putri kesal.
"Kakak ceraikan dia kenapa sih! Menyebalkan banget!" gerutu Nana kesal.
"Tidak akan..." gumam Ray memelukku erat.
"Tapi kakak dia menyebalkan tahu! Apa kakak tega adikmu di rendahkan seperti itu!" protes Nana kesal.
"Sudah aku katakan kan, aku tidak menganggapmu adikku!" gerutu Ray kesal.
"Jangan bilang karena dia kan? Dasar wanita menyebalkan... kenapa kau tidak mati saja sih! Kau selalu mendapatkan sesuatu yang aku inginkan tapi aku selalu tidak mendapatkannya!!" teriak Nana kesal sambil menendang perutku.
"Heeei!!!" protes Ray melihat Nana menendang perutku.
"Ya benar, kenapa kau suaminya sih, aku harus membunuhnya agar aku memilikimu! Aku sangat kesal dengan Sani! Tidak pernah mati dari dulu!" gerutu Cantika mengikuti Nana menendang perutku keras yang membuatku terjatuh.
"Uggghhh...uuuuhhuukk...uuuhhuukkk..." rintihku pelan, aku mencoba berakting kesakitan seperti rencanaku tapi perutku benar-benar sakit. "Astaga kayak sinetron saja sih aku, tapi ini benar-benar sakit dua kali tendangan, kenapa sih dua orang ini suka menendang perut ya ampun!" gerutuku dalam hati.
"Sayang...kamu tidak apa?" gumam Ray terkejut.
"Sa...sakit..." gumamku pelan, melihatku kesakitan wajah Ray benar-benar sangat marah.
"Beraninya kalian melukai istriku yang sedang hamil!!" teriak Ray kesal.
"Apa....hamil?" teriak semua orang terkejut bahkan aku melihat Han juga terkejut.
"A...apa kenapa bisa kakak..." guamm Nana ketakutan, tanpa berkata apapun Ray mengeluarkan senjata yang ternyata dia sembunyikan di jasnya. Dari pada Ray yang memulai pertempuran dan membuat misi Victory dan Wahyu gagal, akupun menahan tangan Ray.
"Tenanglah sayang, aku tidak apa..."
"Aku tidak peduli, Soni jaga istriku!" teriak Ray kesal dan Soni benar-benar menahanku.
"Kakak...dia..." gumamku terkejut melihat Ray merusak apapun disekitarnya kalau marah.
"Kan sudah Fadil dan kakak katakan kalau kalian berdua itu sama...sama-sama menakutkan, kalau bukan karena kamu terikat dengan Ray paling juga kamu sudah dibunuh olehnya..." gumam Soni pelan.
"Oh..." desahku menatap Ray benar-benar terlihat sangat marah.
"Sudah sering kali aku katakan kan jangan pernah datang kembali di hidupku, disaat aku mulai memaafkanmu kamu malah melukai istriku dan kau juga ikut-ikut melukai istriku!" gerutu Ray kesal.
"Ka...kakak ma...maaf aku tidak sengaja..." gumam Nana ketakutan.
"Kakak apa yang kau lakukan, dia adikmu juga!!" ucap Sino dan Fiyoni menghalau Ray.
"Minggir kalian!"
__ADS_1
"Kakak tenanglah!!"
"Sudah ku bilang minggir ya minggir, dia hanya adik tiri, apa yang kalian banggakan dari dia!" teriak Ray kesal.
"Kakak ini di pesta jangan memulai pertarungan.
"Kau kira hanya aku? Banyak yang memulai pertarungan apa kau tahu!" gerutu Ray kesal.
Melihat Ray benar-benar sangat marah aku menjadi mengerti bagaimana Ray kalau marah, Ray benar-benar mirip denganku kalau marah. Aku melihat kode Wahyu yang sudah mendapatkan dokumen yang diinginkan jadi aku harus menghentikan Ray, aku berusaha berdiri tapi ditahan Soni.
"Jangan kemanapun!"
"Kakak tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan..." gumamku berjalan ke arah Ray dan memeluknya erat.
"Sayang tenanglah, aku tidak apa beneran..." gumamku pelan.
"Tapi kamu..." gumam Ray menatapku dengan tatapan menakutkan. Benar-benar kalau Ray marah sama persis denganku.
"Sayang...jangan menatapku kesal seperti itu. Aku kan jadi sangat takut kepadamu..." gumamku pelan, melihatku menundukkan wajahku Ray memasukkan senjatanya sambil menghela panjang dan menggendongku pergi.
"Kalian...tahan dua wanita itu dan jangan sampai meloloskan diri!" ucap Ray dingin dan bawahan Ray langsung membawa Nana dan Cantika pergi, sekencang apapun teriakan mereka berdua tidak ada yang berani menolong mereka berdua.
"Uhhhuukk...uuuhhhuukkk..."
"Kamu tidak apa sayang?" tanya Ray khawatir.
"Tidak apa hanya masih sedikit sakit."
"Ya aku mengerti kok suamiku..." gumamku merangkul leher Ray dan menatap Han masih menatapku terkejut dari atas balkon. Mungkin Han benar-benar terkejut aku berada di genggaman pria misterius dan menakutkan ini, kalau tadi aku tidak menghentikannya pasti identitas Ray terbongkar.
Di dalam mobil aku terduduk di kaki Ray, aku ingin duduk sendiri tapi Ray benar-benar menolak aku melakukannya.
"Sudah kamu duduk di pahaku saja."
"Tapi kak Ray..."
"Sudah ikuti saja!" gerutu Ray menatapku dingin.
"Hmmm baiklah." desahku bersandar di dada Ray.
"Huuuh akhirnya..." desah Fiyoni dan Victory masuk ke dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Soni bingung.
"Memang sangat sulit, kalau bukan karena mereka fokus melihat mereka melakukan hal bodoh pastinya kami sudah di gebukin!" gumam Fadil menghela nafasnya.
"Bukan hal bodoh, mereka benar-benar menendang perutku. Sama seperti saat di akademi..." gumamku pelan.
"Haish kenapa bisa? Kau kan sedang hamil!" gerutu Victory terkejut.
"Ya biasalah...ketua sendiri tahu kan apa yang akan dilakukan kedua wanita itu kalau aku ada di depan mereka."
__ADS_1
"Hmm benar juga, kamu sampai berulang kali di obati tetua karena pingsan setiap hari...untungnya kamu tidak pingsan kali ini."
"Kalau aku pingsan aku tidak mungkin bisa menghentikan kemarahan kak Ray..." gumamku pelan dan Ray hanya terdiam sambil terus mengusap rambutku.
"Oh ya Sani aku mendapat dokumen penting. Nanti aku beritahu kepadamu..." gumam Fadil serius.
"Baiklah nanti saja..." gumamku memejamkan kedua mataku, tiba-tiba aku merasakan tubuh Ray terasa sangat dingin. Aku menatap Ray yang hanya terdiam seperti menahan dingin.
"Sayang kamu mau darah?" tanyaku pelan.
"Tidak."
"Badanmu dingin tahu, kamu sudah lama tidak minum darah."
"Tidak apa."
"Sudahlah minumlah!" ucapku serius.
"Tidak mau, kamu sedang hamil tahu!"
"Tidak apa lagi pula tidak akan mengurangi darahku..." gumamku terduduk di kaki kanan Ray dan Ray langsung menggigitku.
"Untung tadi Sani bisa menahan Ray kalau tidak pasti orang lain melihat aneh jika melihat Ray memainkan darah mayat..." gumam Soni menggelengkan kepalanya.
"Oh ya dia kan lama tidak meminum darah ya? Pantas saja dia sangat diam beberapa bulan ini..." gumam Fadil memainkan handphonenya.
"Hmmm..." desah Ray memelukku erat.
"Tidak apa, kalau mau ya minum saja sayang..." gumamku tersenyum pelan dan Ray hanya menganggukan kepalanya pelan. Aku menjentikan tanganku yang membuat mereka terkejut.
"Apa yang kamu lakukan Sani?" tanya Soni terkejut.
"Hanya memberikan pertunjukan menarik untuk mereka..." gumamku pelan.
"Tunggu jangan bilang..." gumam Wahyu membuka acara berita di handphonenya dan terkejut.
"Haish kamu tadi melemparkan mereka jarummu?" tanya Wahyu menatapku serius.
"Ya, itu racun khusus seperti yang ada di makanan itu."
"Hahaha memang adikku ini jahil..." desah Soni memasukkan handphonenya.
"Salah sendiri ingin menjebak suamiku? Kalau tadi suamiku memulai peperangan pasti mereka akan menganggap Ray yang melakukannya tapi untungnya Ray tidak jadi melakukan apapun..."
"Apa karena kamu di curigai keluarga Li akibat kapal mewah terbakar yang dulu?"
"Ya pahamlah mereka selicik apa tapi mereka akan kalah licik denganku..." gumamku mengusap rambut Ray lembut.
"Hahaha begitulah memang benar adikku!" ucap Soni senang.
Aku terus mengusap rambut Ray, walaupun dia hanya terdiam meminum darahku tapi tanggannya terus menggenggam tanganku erat.
__ADS_1
Sebelum kembali ke rumah Ray benar-benar membawaku ke rumah sakit dan memeriksakan kehamilanku. Saat dokter menyatakan aku baik-baik saja dan hanya sedikit ada memar di pinggangku membuat Ray sedikit khawatir, tapi saat dokter juga bilang kalau aku mengandung anak laki-laki, mendengar itu Ray benar-benar senang. Ray terus memelukku bahkan sampai di rumah, dari wajahnya terlihat sangat senang dan bahagia berbeda dengan wajahnya tadi saat di pesta. Melihat Ray senang aku juga ikut merasakan senang