
Selama seharian aku dan Valentino saling bercerita dan memikirkan strategi untuk menghadapi musuh, walaupun organisasiku dan Valentino bertentangan tapi mau tidak mau aku harus bekerjasama untuk membalaskan dendamku. Aku kira kalau Valentino akan menyusahkanku dalam hal rencana tapi ternyata Valentino sangat cerdas dalam membuat rencana sama sepertiku.
"Bagaimana?" Tanya Valentino menatapku serius.
"Boleh... Rencanamu sangat bagus suamiku..." gumamku senang dan Valentino kembali memelukku erat.
"Benarkah? Yaah aku hanya terpikir rencana itu saja."
"Tidak apa, aku yang akan menyempurnakannya..." gumamku menulis sesuatu di buku catatanku.
"Ibu..." ucap Satria mengusap kedua matanya sambil berjalan kearahku.
"Kamu sudah bangun anakku?" ucapku pelan dan Satria langsung memelukku erat.
"Huum, ibu kenapa disini?" Tanya Satria pelan.
"Ya, ibu hanya berbincang-bincang saja."
"Mmm ibu, apa dia ayah baruku? Kata paman Fadil dia ayah baruku?" Tanya Satria pelan dan Valentino menggendong Satria sambil mengacak rambut Satria lembut.
"Ya aku ayah barumu nak."
"Benarkah?"
"Ya benar, namaku Kim Valentino Permata, kamu bisa memanggilku Valentino."
"Mmm boleh kah aku memanggilmu ayah?" Tanya Satria pelan.
"Boleh, apapun ayah tidak akan memarahimu karena aku menganggapmu anakku sendiri..." ucap Valentino memeluk Satria erat yang membuatku sangat senang melihatnya.
"Andaikan di masa lalu aku tidak menitipkanmu pada Han karena tugas, pasti kamu hidup bahagia Satria..." gumamku dalam hati pelan dan kembali menulis di catatanku.
"Oh ya.." gumamku mengambil sebuah kotak berisi senjata milikku dan aku berikan kepada Satria yang membuatnya bingung.
"Ini apa ibu?"
"Senjata, kamu harus belajar memakai senjata berukuran kecil Satria, itu bisa membuatmu menjadi ketua mafia yang ditakuti siapapun."
"Hmm tidak perlu ibu, senjata itu untuk ibu saja."
"Tapi kan..."
"Ibu dengar, musuh ibu ada banyak bahkan sampai sekarang jadi jika senjata ibu untuk Satria maka bagaimana dengan keselamatan ibu?" Ucap Satria pelan.
"Ibu hanya takut kamu terluka lagi Satria, kehilanganmu membuat ibu sangat sakit."
"Ibu Satria berjanji pada ibu bukan untuk terus menjaga ayah dan ibu jadi Satria akan melakukan sepenuh hati Satria ibu!" Ucap Satria serius yang membuatku terharu.
"Aaahhh ibu sayang Satria..." gumamku memeluk Satria erat dan mengusap lembut rambutnya.
"Oh ya, ibu semalam tidak tidur kan dengan ayah?" Ucap Satria pelan.
"Tidak apa, ibu tidak mengantuk dan..."
"Ibu harus jaga kesehatannya! Ibu harus istirahat!" Ucap satria dingin yang membuatku terkejut.
"Ayah... Tolong temani ibu tidur ya, Satria tidak ingin ibu sakit..." gumam Satria pelan.
"Lalu kamu mau kemana Satria?" Ucap Valentino serius.
__ADS_1
"Satria mau berlatih dengan paman Fadil, ayah dan ibu jangan khawatir..." gumam Satria pelan dan berjalan pergi menemui Fadil yang berada di kamar.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya! Nanti temani ibu ya!" Teriakku kencang dan Satria menganggukkan kepalanya pelan.
"Dia sangat imut ya sayang, semoga anak kita bisa sehebat Satria..." gumam Valentino pelan dan aku menganggukkan kepalaku.
"Ya sudah kamu belum tidur seharian maka mari kita tidur!" Ucap Valentino menggendong tubuhku masuk ke dalam kamar dan langsung menguncinya dari dalam.
"Tapi aku tidak mengantuk Valentino!"
"Mengantuk atau tidak tapi kamu harus istirahat, aku tidak mau penyakitmu kambuh..." gumam Valentino memelukku erat sambil memejamkan kedua matanya sedangkan aku hanya terdiam menatapnya.
"Kenapa kamu tidak tidur sayang?" Tanya Valentino pelan.
"Aku tidak mengantuk."
"Tapi kamu harus tidur!"
"Aku tahu tapi aku tidak bisa tidur."
"Hmmm..." desah Valentino mengusap rambutku pelan dan aku hanya memainkan kancing pakaiannya.
Selama beberapa jam Valentino tertidur sedangkan aku hanya terus memainkan kancing pakaiannya sampai Valentino terbangun dari tidurnya.
"Kamu tidak tidur sayang?" Ucap Valentino pelan.
"Ya, aku tidak bisa tidur."
"Hmmm kenapa kamu susah untuk di beritahu sayang!" Ucap Valentino dingin dan aku hanya menyembunyikan wajahku dadanya yang membuatnya memelukku erat.
"Hmmm setelah pertemuan kamu harus tidur ya, apa kamu mengerti?" Ucap Valentino dingin dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Sekarang?"
"Ya, biar lebih cepat selesai."
"Oh mmm baiklah..." desahku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi, aku segera mengisi air hangat dan sabun di bathtub lalu merendamkan seluruh tubuhku sampai ke dasar bathtub
Cekreeekk....
Terdengar suara orang menutup pintu kamar mandi, aku segera terduduk di bathtub dan mengusap wajahku lembut tapi aku merasa ada orang yang masuk ke dalam bathtub dan memelukku dari belakang.
"Ada apa Valentino?" Tanyaku pelan tapi Valentino terdiam sambil menyembunyikan wajahnya di bahuku.
"Apa ada yang membuatmu khawatir?" Tanyaku lagi.
"Ya ada."
"Apa itu?"
"Kehilanganmu, aku takut itu terjadi dan..." gumam Valentino meraba tubuhku pelan yang membuatku geli.
"V-Valentino geli..." gumamku pelan tapi Valentino tidak memperdulikannya.
"Aku takut... pria lain merasakan tubuh indahmu ini, aku tidak mau..." bisik Valentino pelan yang membuatku merinding.
"Apa kamu akan menjaga dirimu dan tubuhku demi aku?" bisik Valentino dan aku menganggukkan kepalaku pelan.
"Jawablah sayang..."
__ADS_1
"A-aku akan melakukannya."
"Benarkah? Kenapa kamu terlihat ragu?" bisik Valentino pelan.
"A-aku tidak ragu hanya saja... Ahhkkk...aku..."
"Hanya saja apa sayang..." bisik Valentino pelan dan aku hanya menggigit bawah bibirku agar tidak bersuara.
"Bagaimana sayang?" bisik Valentino mengendus leherku lembut.
"Aaahhh aku tidak tahan Valentino... Hentikan..." gumamku pelan tapi Valentino terus meraba tubuhku sampai aku tidak merasa kalau air di dalam bathtubku habis.
"K-kamu kenapa membuang airnya dan..." protesku kesal tapi Valentino mendekapku erat dari belakang yang membuatku terkejut.
"Aku hanya ingin bermain denganmu."
"Tapi kan... Uugghhh..."
"Melihat tubuhmu aku tidak bisa menahan hasratku, pantas saja banyak pria yang suka bermain denganmu istriku.. Kau begitu cantik istriku!"
"Benarkah? A-apa kau pernah bermain dengan ibuku?"
"Dulu... Pernah..."
"B-benarkah?"
"Ya, semua ketua mafia dan organisasi pernah merasakan tubuhnya dan hanya tujuh orang itu yang membuatnya hamil."
"B-benarkah?"
"Benar, tidak hanya yang muda tapi dia juga melakukannya dengan pria tua jadi jangan heran kalau ayah kandungmu ada yang muda dan tua."
"Kapan kamu bermain dengan ibuku?" Tanyaku pelan.
"Di dua kehidupan sebelumnya saat kamu bermain dengan banyak pria yang membuatku kesal jadi aku melakukannya juga."
"Apa kamu menikmatinya?"
"Tidak, aku lebih menikmati jika denganmu."
"Di kehidupan ini... Apa kamu melakukannya juga?"
"Tidak."
"Benarkah?" Tanyaku dingin dan Valentino membaringkan aku di dasar bathtub yang telah mengering.
"Ya aku mengatakan yang sesungguhnya, alasan aku memberimu obat penggugur kandungan karena aku tidak mau kamu memiliki anak bukan denganku lagi!" Ucap Valentino dingin.
"Tapi aku aaahhhkkk..."
"Aku masih mentoleransi Satria tapi tidak dengan anak yang lain apa kamu mengerti!" Ucap Valentino dingin.
"Aku mengerti dan uuggghhh..."
"Dan apa?"
"Dan... Aku tidak akan membiarkanmu bermain dengan ibuku lagi Valentino!"
"Ya, aku sudah memilikimu jadi aku hanya bermain denganmu istriku..." bisik Valentino pelan dan aku hanya terdiam memeluknya erat. Mendengar pengakuan Valentino membuatku sedih tapi aku juga melakukan hal yang sama dan aku berpikir mungkin itu karma untukku.
__ADS_1