Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 81 : Penyakit Lupa Ingatan


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa aku menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilku dan juga untuk Fadil dan Soni yang tinggal bersama dengan kami. Sama seperti biasanya Ray membangunkan Pangeran di kamarnya sedangkan aku sibuk dengan urusan dapur, ya pasti paham lah ribetnya mengurus dapur seperti apa.


Saat aku menata makanan di atas meja, aku melihat Ray menggendong Pangeran yang masih setengah sadar, terlihat wajahnya yang benar-benar mengantuk berat.


"Pagi ibu!" sapa Pangeran yang terus menguap di gendongan Ray.


"Oh pagi juga sayang, ini makananmu..." gumamku meletakkan piring berisi sup hangat di meja makan.


"Baik ibu terimakasih..."


"Oh ya kemana kak Soni dan Kak fadil?"


"Baru bangun, mereka bergadang bersamaku semalam." gumam Ray menurunkan Pangeran.


"Bergadang? Membahas apa?" tanyaku terkejut.


"Membahas salah satu mafia saja."


"Mafia siapa lagi?"


"Mafia musuhmu yang pastinya."


"Oh..." desahku terduduk di samping Ray.


"Aku kira kamu akan penasaran tapi ternyata kamu hanya mengatakan...oh?" gumam Ray terkejut.


"Ya, lalu apa aku harus bilang...benarkah? Kenapa? Apa yang terjadi? Hmmm ini masih pagi aku malas berpikir..." gumamku melahap makananku.


"Ternyata kamu masih saja seperti gadis biasa ya istriku..."


"Ya...memang itu yang aku inginkan dari dulu."


"Tapi aku menginginkanmu menjadi wanita yang hebat loh sayang!"


"Haish...ya terserah kamu saja..." gumamku pelan.


"Kenapa ayah dan ibu bertengkar?" tanya Pangeran polos.


"Eehh mmm kami tidak bertengkar kok, benar kan sayang..." gumam Ray memgacak rambutku dan aku hanya mengangguk pelan sambil melahap makananku.


"Pangeran kira ayah dan ibu bertengkar."


"Tidak kok, sudah habiskan makananmu dan bermain dengan paman Fadil ya."


"Baik ayah..." gumam Pangeran melahap makanannya dengan cepat.


"Jangan makan dengan terburu-buru sayang!" ucapku menatap Pangeran yang terus melahap makanannya.


"Pangeran mau meminta mainan yang dijanjikan paman Fadil ibu, Pangeran pergi dulu ibu!" ucap Pangeran meletakkan alat makannya dan berlari keluar ruang makan.


"Haish anak ini sama sepertiku waktu kecil..." gumam Ray pelan dan terus melahap makanannya.


"Kak Ray, siapa mafia yang kalian bahas semalam?" tanyaku pelan.


"Katanya tidak peduli?


"Pangeran sudah pergi kak Ray, jadi beritahu aku!"


"Jadi kamu menghindari Pangeran agar dia tidak tahu apapun?"

__ADS_1


"Ya, belum waktunya dia untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak mau dia tahu tentang apapun untuk saat ini..." gumamku pelan.


"Oh mmm ya kami membahas mafia misterius milik bintang itu dengan keluarga Li, walaupun dulu mereka saling bekerjasama tapi sebenarnya mereka...tidak ada hubungannya sama sekali, niatan mereka juga sangat berbeda."


"Oh ... ya memang, Bintang pernah memberitahukanku saat itu..." desahku meletakkan alat makanku.


"Saat kamu di cekik itu?"


"Ya, hanya beberapa saja yang dia katakan padaku...selebihnya...dia menyembunyikannya..."


"Yaaah aku mengerti kok sayang."


"Kak Ray tidak mau tambah makan?"


"Tidak, aku sudah kenyang..." gumam Ray meletakkan alat makannya.


"Ya sudah, biar untuk makan kak Fadil dan kak Soni saja..."" gumamku mengambil3 piring kotor di depanku dan mencucinya.


"Kamu mau melakukan tugasmu kapan?"


"Nanti...kalau sudah waktunya, jadi jaga Pangeran yang benar tahu!"


"Ya tenang saja, dia akan aman bersamaku."


"Awas! Jangan sampai..."


"Iya iya sayang, tenang saja. Dia anakku jadi aku akan menjaganya!!" ucap Ray terus meyakinkanku.


"Hmmm baiklah, terserah kamu saja kak Ray..." desahku meletakkan piring yang baru aku cuci di rak piring.


"Oh ya kak Ray, ngomong-ngomong...kapan kak Ray akan menikahiku?" gumamku pelan.


"Iyalah, siapa wanita yang...eehh mmm lupakan saja..." gumamku menundukkan kepalaku, Ray memelukku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Tenang saja sayang, kamu...tetap menjadi milikku sampai kapanpun. Besok lusa kita menikah? Bagaimana?"


"Be...Besok lusa?" tanyaku terkejut.


"Ya, aku sudah mempersiapkan semuanya setelah kelahiran Pangeran. Cuma aku belum sempat mengatakannya kepadamu, tapi ternyata kamu sendiri yang memintanya."


"Ta...tapi, apa kamu bersungguh-sungguh?" tanyaku terkejut.


"Ya...atau kamu mau sedikit mengundur waktunya?"


"Ee...mmm ya aku harus menyelesaikan tugasku dulu kak Ray, aku tidak mungkin jika sudah menikah denganmu tapi aku malah sedikit meninggalkanmu untuk tugasku."


"Oh mmm oke baiklah, tidak masalah. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap istriku..." bisik Ray berjalan keluar ruang makan.


"Kak...kak Ray marah?"


"Tidak, aku ingat aku harus berdiskusi dengan Soni dan Fadil sebentar."


"Oh mmm baiklah..." desahku pelan.


"Astaga... sebegitu mendadak mana bisa aku menerimanya..." gumamku membersihkan ruang makan dan juga membersihkan dapur.


"Aaah akhirnya selesai juga..." desahku pelan sambil berjalan keluar ruang makan.


Belum sampai membuka pintu ruang makan, tiba-tiba kepalaku terasa benar-benar sakit. Aku terduduk di lantai sambil memegang kepalaku.

__ADS_1


"A...aduuh sakitnya..." rintihku pelan.


"Pu...Putri...kamu kenapa?" ucap Fadil masuk ke dalam ruang makan dan membantuku berdiri.


"Aku...aku tidak tahu, kepalaku terasa sakit."


"Coba liat...mmm mungkin bekas kepalamu terbentur batu saat itu." ucap Fadil memeriksa kepalaku


"Oh mmm..." desahku menggelengkan kepalaku kuat dan mencoba biasa saja.


"Kamu tidak apa?"


"Tidak, sudah sedikit baikan kok kak Fadil. Mmm kak Fadil makanlah nanti makanannya sedikit dingin loh..." gumamku berjalan pergi keluar kamar sambil memegang kepalaku.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Ray yang berdiri di depan balkon lantai dua sambil memegang wiski di tangannya.


"Tidak ada, tadi kepalaku sedikit pusing saja."


"Pusing? Aku panggilkan dokter ya!" gumam Ray serius mengambil handphonenya dari saku jasnya.


"Ti...tidak perlu..." ucapku serius tapi Ray benar-benar menelepon dokter pribadi kami.


"Aku sudah menelepon dokter, bentar lagi dia datang!" gumam Ray menggendongku sambil membawa segelas wiski di tangan kirinya.


"Ka...kak Ray..."


"Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang..." gumam Ray pelan.


"Hmmm..." desahku pelan. Ray menggendongku ke kamar dan menidurkanku di tempat tidur. Sambil menunggu dokter, Ray terus mengusap rambutku dan sesekali mencium keningku.


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya dokter datang dan memeriksaku dengan teliti. Ray menunggu di sampingku sambil memegang tangan kiriku erat.


"Bagaimana dokter?"


"Nyonya Khun masih memiliki cidera sedang di kepala, walaupun tidak terlalu berat tapi cideranya bisa membuat nyonya Khun menjadi melupakan sesuatu apalagi menurut riwayat kesehatan nyonya Khun adalah hilang ingatan."


"Jadi istriku bisa jadi nanti hilang ingatan ya?" tanya Ray terkejut.


"Ya kemungkinan besarnya tuan muda, tapi tenang saja hilang ingatannya hanya sementara, jika tuan ada di sisinya atau jika nyonya Khun tiba-tiba teringat sesuatu pasti nyonya akan ingat apa yang telah nyonya lupakan sebelumnya tuan muda."


"Apa tidak ada obatnya?"


"Ada tuan muda, hanya saja akan sedikit lama. Tuan muda tenang saja nyonya tidak akan benar-benar lupa. Ini resep untuk nyonya Khun, tuan muda." gumam dokter itu memberikan secarik kertas kepada Ray.


"Baiklah terimakasih dokter."


"Saya pamit dulu tuan muda..." gumam dokter keluar dari kamar. Aku melihat wajah Ray yang terlihat sangat sedih, aku terduduk di sebelah Ray dan memegang tangan Ray erat.


"Tenang saja suamiku, aku akan selalu milikmu. Aku tidak akan melupakanmu."


"Tapi sayang..."


"Kalau aku sampai melupakanmu...aku meminta tolong padamu...ingatkanlah aku, entar dengan cara apapun, buatlah aku teringat padamu. Apa kamu mengerti sayang?"


"Ohh mmm baiklah, aku akan melakukannya istriku..." desah Ray menciumku dan tersenyum manis kearahku.


"Oh ya, minumlah obatnya dan istirahatlah. Pasti kamu capek bersih-bersih rumah dan memasak dari pagi buta..." gumam Ray membantuku meminum obatku dan membaringkanku lagi.


"Oh mmm baiklah suamiku..." gumamku memegang erat tangan Ray dan memejamkan kedua mataku.

__ADS_1


"Aku akan selalu mencintaimu istriku tercinta..." gumam Ray mencium keningku dan mengusap kembali rambutku yang membuatku tertidur di pagi ini.


__ADS_2