Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 153 :Hanya Mimpi


__ADS_3

Suara ombak kencang terdengar jelas di telingaku yang membuatku terbangun, aku membuka kedua mataku dan ternyata aku tertidur di samping makam Satria. Aku terduduk dan menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tidak bertemu dengan siapapun, aku menghela nafas dan mengusap nisan milik Satria.


"Bukannya tadi ada Han dan Satria ya? Tapi... kenapa aku bisa ada disini sendirian? Kemana mereka pergi?" gumamku bingung.


"Hmmm..." desahku kembali memeluk gundukan tanah di depanku.


"Sani!!! Sani!!!" teriak seorang pria dengan kencang. aku kembali terduduk dan melihat Fadil yang berlari kearahku.


"Astaga kamu disini rupanya!" Ucap Fadil dengan nafas terengah-engah.


"Yaah ada apa kak Fadil?"


"Tidak ada, hanya saja kau menghilang dari rumah sakit tahu!"


"Eehh rumah sakit?" Tanyaku bingung.


"Ya, kamu baru tersadar tahu, aku tinggal membuat makanan kau menghilang."


"Benarkah? Tapi dimana Saputra?"


"Saputra? Kenapa kau tahu tentang pria itu?" Tanya Fadil menatapku serius.


"Kan aku..." gumamku menceritakan semuanya tapi Fadil hanya tertawa terbahak-bahak.


"Apanya yang lucu?" Tanyaku dingin.


"Hahaha ya tentu saja kaulah! Kau saja baru sadar terus pergi menghilang dan aku baru menemukanmu kok! Dan lagi kamu saja tidak pernah tahu bagaimana wajah Saputra apalagi kita tidak pernah mendengar kabarnya setelah kejadian itu!" Tawa Fadil kencang.


"Tapi kan... mmmm..." gumamku mengambil ponselku dan ternyata hari ini hari minggu dan tanggalnya sama seperti saat aku sadar.


"Ha...hari ini... eehh kenapa bisa seperti nyata?" Tanyaku terkejut.


"Penyakitmu sangat parah, badanmu sangat panas, otakmu sedikit terganggu, dan kau benar-benar seperti orang yang hampir mati tau. Eeh kau setengah sadar malah pergi menghilang."


"Oh begitu ya..." gumamku melihat kebelakang Fadil dan terlihat sebuah kerajaan yang sangat besar dan megah.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Fadil menatap sekitarnya.


"Itu.. " gumamku menunjuk kerajaan di depanku itu.


"Oh itu Kerajaan Arre, ya bisa dibilang musuh dari semua organisasi. Mereka sepihak dengan organisasi kemiliteran jadi ya mereka akan menangkap mafia yang melakukan tugas organisasi karena mereka membenci tugas organisasi yang tidak masuk akal, jadi kamu harus berhati-hati dengan mereka."


"Apa rajanya si Saputra?"


"Aku tidak tahu, tidak ada yang tahu wajahnya. Lagi pula aku tidak pernah mendengar nama Saputra setelah kejadian masa lalu sih.."


"Apa sama sekali kak Fadil tidak tahu?"


"Tidak, apalagi kerajaan Arre. Tidak ada siapapun yang tahu."

__ADS_1


"Kalau ingin tahu kita harus kesana!"


"Apa kau gila? Untuk masuk ke wilayah kerajaan Arre akan sulit apalagi banyak penjaga yang sangat hebat di sana."


"Tapi aku tahu celahnya."


"Tidak! Itu hanya mimpimu Sani! Kau jangan bertingkah aneh-aneh! Lebih baik sembuhkan dirimu dulu dan kita bisa mencari tahu tentang masalah kerajaan Arre!"


"Mencari tahu? Apa kak Fadil serius?"


"Ya, dan ini berhubungan dengan tugas kita. Kerajaan Arre memiliki semua data yang kita butuhkan dan kita membutuhkan data itu!" Ucap Fadil serius.


"Baiklah, mmm ngomong-ngomong apa ada pertarungan Rhys dengan Raechan?" Tanyaku pelan.


"Ada, tapi sudah berakhir."


"Sudah berakhir?" Tanyaku terkejut.


"Yaah kan itu pertarungan anak kecil dan tidak sebesar perang mafia, mereka berdua sama-sama terluka jadi ya pertarungan dihentikan."


"Oh astaga..." desahku pelan, "Kenapa berbeda dengan yang aku lihat, apa aku benar-benar sedang bermimpi tadi?" gumamku dalam hati, aku menatap nisan Satria dan mengusapnya lembut.


"Kenapa kau tahu kalau mereka bertarung? Padahal mereka bertarung saat kau masih kritis."


"Aku ya... entah di mimpiku seperti itu dan... entahlah aku tidak tahu... tapi itu seperti nyata!" Ucapku serius.


"Haish lebih baik kau istirahat dulu, otakmu masih linglung!" gerutu Fadil menarik tanganku pergi.


"Tentu saja... tidak! Itu hanya cerita dongeng saja."


"Tapi kenapa bisa seperti nyata dan... aku benar-benar seperti memeluk satria secara langsung.


"Yaah entahlah aku tidak tahu."


"Mmm kak Fadil apa benar kak Revaro sudah meninggal?" Tanyaku serius.


"Revaro ya? Entah, dengar-dengar dia sih sudah meninggal tapi aku tidak yakin jika dia sudah meninggal. Lagi pula dia sangat hebat dan ya bisa dibilang sangat licik sepertimu, dia sering menghilang dan bersembunyi yang membuat siapapun tidak tahu dimana dia berada."


"Tapi saat kematian ibu? Apa Revaro juga ada?"


"Kalau itu... ada... dia datang juga, dia hampir terbunuh tapi melihatmu yang masuh kecil membuatnya langsung pergi melarikan diri meninggalkan ibumu dan aku."


"kak Fadil ada di kejadian itu?" Tanya terkejut.


"Ya, luka dipunggungku karena aku berusaha menyelamatkan ibumu, seharusnya aku sudah mati waktu itu tapi Revaro melindungiku yang membuat Revaro terluka parah. Mungkin karena itu banyak orang yang beranggapan Revaro sudah meninggal."


"Oh begitu ya... aku kira mimpiku itu benar-benar kenyataan tapi ternyata itu hanya mimpi ya..." desahku menatap lenganku dan benang merah sama sekali tidak terlihat.


"Kak Fadil sejak kapan aku tidak sadar?" Tanyaku pelan.

__ADS_1


"Sejak... mmm kapan ya? Aku lupa, mmm oh ya saat di organisasi kegelapan, ya lebih tepatnya setelah keluar dari kapal pesiar waktu itu. Apa kamu tidak ingat?"


"Organisasi kegelapan?" Tanyaku terkejut, aku mengambil ponselku dan ternyata aku sudah tidak sadar selama dua bulan semenjak dari kapal pesiar itu."


"J-jadi aku pingsan sebegitu lamannya?" Tanyaku terkejut.


"Ya memang."


"Kenapa aku bisa pingsan?" Tanyaku serius.


"Kau terluka di lengan dan ternyata kauterkena racun seorang misterius di pertemuan organisasi, tidak hanya kamu sih tapi semua orang terkena juga tapi... kamu berbeda dengan yang lain, badan kamu tiba-tiba sangat panas dan pucat yang akhirnya kamu di bawa ke rumah sakit buat pengobatan. Kata dokter, racun itu berlawanan dengan penyakitmu sehingga penyakitmu kambuh dan kamu tidak sadarkan diri. Padahal itu pertama kalinya kau hadir di pertemuan organisasi."


"Jadi aku tidak sadar saat di pertemuan organisasi?"


"Tidak, aku yang menemukanmu tergeletak di kamar. Aku kira kau sudah mati ternyata kau masih kritis."


"Di kamar? Eehh aku sedang bersama Rhys waktu itu!" Ucapku serius.


"Dengan Rhys? Apa kau gila? Kenapa bisa kau dengan Rhys? Rhys dan Raivyes itu musuh tahu apalagi Raechan ketua organisasi kemiliteran mafia tahu!"


"Eehh b-benarkah?" Tanyaku terkejut.


"Iya Sani! Astaga pantas saja kau tidak sadar seperti itu!" gerutu Fadil mengenggan erat lenganku.


"Tapi... aku tidak yakin kak Fadil. Tapi seingatku hanya itu, selain itu.. ingatanku hanya seperti di mimpiku itu."


"Haish kau tidak perlu berkhayal aneh-aneh Sani! Kau masih muda, jangan sampai kau melakukan kesalahan lagi!"


"Yaah aku mengerti kak Fadil, tapi apa aku masih tahanan organisasi..."


"Tentu saja, tapi organisasi kemiliteran mafia menganggap kesalahan Rhys membunuh Lani itu setimpal dengan kesalahanmu jadi kamu bebas dari hukuman."


"Benarkah? Lalu?"


"Ya hukumanmu di organisasi kemiliteran mafia sudah selesau katanya."


"Tunggu? Selesai? Kenapa?"


"Aku tidak tahu, katanya sudah selesai gitu... mungkin ada yang menggantikanmu."


"Menggantikanku? Siapa?" Tanyaku terkejut.


"Entah aku tidak tahu, aku mencoba mencari tahu tapi tidak pernah mendapatkan jawabannya. Yaah organisasi kemiliteran mafia di bawah kerajaan Arre jadi mereka memegang kendalinya atas semua keputusan."


"Benarkah? Tapi... ini tidak mimpi kan?" Tanyaku serius, Fadil menghentikan langkahnya dan langsung menamparku kuat.


"Adduuuhhh sakit kak Fadil!" Rengekku pelan.


"Kau merasakan sakit kan? Lalu kau masih menganggap ini masih mimpi?" Tanya Fadil serius tapi aku hanya menundukkan kepalaku dan terdiam.

__ADS_1


"Sudahlah mari pergi! Kau harus istirahat total!" Gerutu Fadil dingin dan kembali menarikku pergi.


Aku tidak menyangka kalau perjalananku selama ini hanya mimpi bahkan kejadiannya berbeda dengan kehidupan nyata ini, walaupun itu hanya mimpi tapi membuatku penasaran apalagi dengan Saputra... apa dia benar-benar mencintaiku atau tidak ya? Tapi aku takut kalau mimpiku itu tidak menjadi kenyataan yang membuatku kembali sakit hati di permainkan pria.


__ADS_2