Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 82 : Pergi Ke Restoran


__ADS_3

Setelah beberapa hari beristirahat, aku kembali ke rutinitasku dan kembali mengikuti beberapa pertemuan bersama dengan Ray. Setelah masa cutiku berakhir, banyak jadwal pertemuan yang harus aku lakukan. Karena diagnosis dokter, Ray selalu ikut denganku bahkan dimanapun aku pergi Ray selalu menemaniku.


"Ray tumben kau selalu menemani Sani? Bukannya kamu ada urusan?" tanya Viu.


"Ya hanya ingin saja."


"Hanya...ingin?" tanya Viu bingung.


"Ya memang hanya ingin saja, memang tidak boleh?"


"Boleh saja sih, lalu urusanmu?"


"Aku bisa sekalian melakukannya." gumam Ray mencium pipiku dan merangkulku erat.


"Bagaimana bisa kamu lakukan urusan yang sangat..."


"Apa yang tidak bisa aku lakukan? Aku bisa melakukan apapun sesuai dengan keinginanku. Apa itu mengganggumu?" ucap Ray memotong pembicaraan Viu.


"Tidak, itu terserah kamu... cuma kau membuatku iri tahu!" gerutu Viu kesal.


"Makanya cari istri sana..."


"Kau kira cari istri mudah apa!" protes Viu kesal.


"Ya begitulah, itulah kenapa aku tidak ingin meninggalkan dia. Dia lebih sempurna dari pada wanita manapun."


"Hilih, saingan cintamu juga ada banyak Ray."


"Aku tahu, tenang saja...aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan."


"Masa? Sani wanita yang sangat labil dan juga hati-hati saja Han masih mencintai Sani loh!"


"Aku tahu, tenang saja..."


"Apa sih kak jangan ucapkan nama dia!" gerutuku kesal.


"Nanti di pertemuan kamu juga ketemu dengan dia Sani."


"Kenapa harus ada dia sih!" gerutuku kesal.


"Mau tidak mau dia ketua dewan keadilan, jadi dia pasti akan datang..." gumam Fadil memainkan handphonenya.


"Ya aku tahu itu..."desahku menatap keluar jendela mobil, bertemu dengan Han sangat membuatku muak. Walaupun aku sudah bisa melukainya tapi belum bisa membuatku puas untuk membalas dendam kematian anak-anakku. Kalau saja hari ini tidak ada pertemuan dengan beberapa mafia dan ada tetua mafia juga, pasti aku akan menolaknya mentah-mentah.


"Kenapa wajahmu terlihat kesal adikku?" tanya Xiao Min menatapku serius.


"Tidak ada kak."


"Sani...kamu harus menahan dirimu tahu!" gumam Fadil menatapku serius.


"Kalau tidak, lakukan tugasmu kak Fadil!"


"Kau kira menahan Ray yang lebih kuat dariku bisa aku lakukan dengan mudah? Kalau kau tidak terikat dengan dia, aku sudah bebaskanmu melakukan apapun mau kau mengamuk atau apapun itu terserah kamu tahu!" gerutu Fadil kesal.


"Tapi kan..." protesku menatap Ray serius.


"Apa?" tanya Ray bingung.


"Sudahlah...tidak ada apapun" desahku pelan.


"Apa rencanamu akan sia-sia Sani?" tanya Fadil pelan.


"Tidak, aku tahu apa yang harus aku lakukan kok."


"Melakukannya? Kau terikat dengan Ray tahu!" protes Fadil kesal.


"Aku tahu," desahku membuang mukaku.


"Apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Viu bingung.


"Tidak ada, tidak penting!" gerutu Fadil membuang muka.


"Sudahlah, kalian ketua dan wakil seharusnya kalian tidak bertengkar seperti itu!" gumam Soni memasukkan handphonenya.

__ADS_1


"Sudahlah Soni kau juga sukanya ceramah!" protes Fadil kesal.


"Hei!! Aku memberitahukan kalian kalau..."


"Ya kami tahu kok kak...." gumamku memotong pembicaraan Soni.


"Haish kamu juga sama saja Sani kayak Rina dan Sina yang menyebalkan, untung aku anggap kamu adikku kandung..." desah Soni pelan.


"Tidak perlu membandingkanku dengan mereka, aku berbeda dengan mereka!" protesku kesal.


"Rina itu kembaranmu Sani!" ucap Viu serius.


"Aku tidak mau tahu, aku tidak akan menganggap keluarga Li sebagai saudaraku ataupun keluargaku walaupun ibuku berasal dari keluarga Li!" protesku kesal.


"Sudahlah kalian, jangan buat istriku kesal tahu! Dari tadi dia mencakar tanganku sampai tanganku memerah!" gumam Ray pelan, aku menatap tangan Ray yang terluka di balik genggaman tanganku.


"Eehh mmm ma...maaf aku tidak sengaja..." gumamku segera mengobati tangan Ray dengan obat merah yang aku bawa.


"Sayang...apa aku terlalu mengekangmu?" bisik Ray pelan.


"Lumayan..."


"Oh benarkah? Aku punya penawaran yang bagus untukmu..." gumam Ray menatapku serius.


"Penawaran apa?" tanyaku bingung.


"Aku akan mengizinkanmu melakukan apapun sesuka hatimu tapi dengan satu syarat."


"Apa itu?"


"Kamu harus mengikuti apapun perkataanku."


"Tapi kan aku selalu mengikuti perkataanmu!" protesku kesal.


"Meskipun begitu kamu selalu menentang apa perkataanku tanpa kamu sadari..." ucap Ray dingin.


"Masalah semua rencana dan tugasku mana bisa aku katakan padamu!"


"Eehh mmm baiklah, aku akan melakukannya..." desahku pelan.


"Baguslah...aku akan mengizinkanmu melakukan apapun, mau mengamuk atau membunuh Han, Hans atau siapapun... suka-suka kamu..." gumam Ray mengangkat tangannya dan menatap perban di tangannya.


"APA?" teriak Fadil dan aku terkejut.


"Kenapa? Apa kalian tidak percaya ucapanku?" tanya Ray serius.


"Ke...kenapa mengatakannya dengan tiba-tiba mengizinkan Sani boleh melakukan apapun?" tanya Fadil serius.


"Selama Sani melakukan syaratku aku akan mengizinkannya melakukan apapun."


"Syarat apa?" tanya Fadil penasaran.


"Biasalah syarat liciknya, apalagi..." gumamku membuang mukaku kembali.


"Dan kamu menyetujuinya?" tanya Fadil serius.


"Ya begitulah,"


"Haish...terserah kamu sajalah, asalkan tugas kita cepat selesai!" gumam Fadil pelan.


"Ya sudah kita sudah sampai di restoran, mari kita makan, aku sudah lapar..." gumam Soni turun dari mobil.


"Oh sudah sampai ya..." desah Ray menggandeng tanganku keluar dari mobil.


"Apa kamu langsung pergi ke pertemuan Sani?" tanya Viu menatapku serius.


"Pertemuannya masih nanti malam, apa kalian ikut juga?" tanyaku menatap Viu di sampingku.


"Tidak, tidak ada hubungannya dengan kami."


"Lalu kenapa kalian ikut?" tanyaku terkejut.


"Kami ada pertemuan tersendiri, Ray juga ikut pertemuan itu."

__ADS_1


"Pertemuan apa?" tanyaku penasaran.


"Kamu, tidak perlu tahu."


"Kenapa? Kenapa kamu hanya menyuruhku untuk..." protesku kesal.


"Kenapa kamu ingin tahu?"


"Aku istrimu jadi aku juga harus tahu!"


"Tidak bisa, itu pertemuan.."


"Kalau begitu..." gumamku menarik kerah kemeja Ray dan menatapnya dingin.


"Aku tidak masalah tidak boleh melakukan sesuka hatiku tapi...kamu juga tidak boleh melakukan apapun!" gerutuku menatap Ray dingin.


"Kenapa kamu jadi mengaturku?" protes Ray dingin.


"Lalu apa itu salah? Aku...istrimu kak Ray, apa kamu kira aku terima dengan penawaranmu barusan?" gumamku menatap Ray dingin.


"Haish sudah ku duga kamu akan membalikkan perkataanku. Dengan suami kamu sangat licik ya istriku?" desah Ray tersenyum dingin.


"Kau dengan istri sendiri juga licik kak Ray...apa kamu kira aku gadis yang sangat polos sehingga kau bisa semena-mena kak Ray?" gumamku membalas senyuman Ray.


"Hmmm baiklah, aku akan memberitahukanmu apapun rencanaku dan tugasku padamu walaupun harus melanggar peraturan mafia bayangan sama sepertimu, semua rencana dan tugasmu beritahukan kepadaku..." gumam Ray melepaskan tanganku dari kerah kemejanya dan menggenggam erat tanganku.


"Tunggu, apa kalian gila!!" protes Soni dan Fadil bersamaan.


"Memang kenapa? Apa itu salah?" tanya Ray pelan.


"Ya... salah lah, kamu tidak bisa memberitahukan itu kepada Sani!" protes Soni kesal.


"Yaaah mau bagaimana lagi, adikmu lebih licik dariku Soni. Walaupun aku memberitahukannya juga tidak masalah, hanya memberitahukannya saja tidak sampai memberitahukan secara detail kepadanya."


"Tidak bisalah...kamu harus memberitahukan sedetail mungkin!" gerutuku kesal.


"Baiklah, tapi...kamu juga memberitahukanku sedetailnya bagaimana?" ucap Ray kembali tersenyum dingin.


"Heei mana bisa seperti itu!!" protes Fadil kesal.


"Memberitahukan sedetail mungkin, tidak bisa lah!" protesku menatap Ray serius.


"Kalau begitu, kamu juga tidak boleh meminta penjelasan sedetail mungkin...itu adil, benarkan?" gumam Ray mengusap pipiku dan menciumku lembut.


"Terserah kamu saja lah!" gerutuku menepis tangan Ray dan berjalan masuk ke dalam restoran di depanku.


"Astaga, dia benar-benar licik!" gerutuku duduk di kursi pojok restoran sambil meminum sebotol wine yang sudah ada di atas meja.


"Kenapa kamu terlihat sangat kesal?" tanya Ray duduk di sampingku.


"Ya lah, dapat mengetahui semua tugas dan rencanamu yang sangat misterius itu adalah suatu harta karun bagi semua mafia tahu!" gerutuku kesal.


"Kalau kamu mau tahu, kamu harus mau bekerjasama dengan kami." gumam Viu santai.


"Kan sudah aku menyetujuinya kak!"


"Tapi kamu menolak untuk seutuhnya berada di pihak kami jadi kami tidak bisa memberitahukanmu secara detailnya..." gumam Viu santai.


"Aku pemimpin mafia tertinggi apalagi banyak mafia penting dan tetua mafia yang berada di pihakku, aku tidak mungkin dengan tiba-tiba berada di pihak musuh..." gumamku kembali meminun wineku.


"Ya itu semua ada di keputusanmu Sani..." gumam Viu santai.


"Yaah memang...aku masih harus melihat yang sesungguhnya terjadi, kejadian dan pola perang mafia kali ini membingungkan ditambah...kehadiran Wili dan Bintang yang tidak terduga, jadi aku harus berpikir berulang kali untuk itu..." desahku pelan.


"Lakukan saja tugasmu, kamu sudah mendapatkan kekuasaan istimewa jadi masalah lainnya bisa diatur belakangan..." gumam Ray mengusap lembut rambutku.


"Aku tahu..." desahku pelan.


"Ya sudah kamu mau pesan apa istriku?" tanya Ray memberikanku buku menu.


"Terserah padamu, aku tidak selera makan..." gumamku kembali meminum wine di gelas yang aku genggam ditanganku.


Sebenarnya tidak terlalu penting apa tugas dan rencana Ray itu tapi kalau dia licik aku juga harus licik. Di pikiranku saat ini hanya terus menghubungkan semua kejadian di dunia mafia yang sangat tidak jelas dan terus berubah-ubah apalagi aku tidak bisa mengikuti apa yang terjadi dengan cepat ditambah tugasku sebagai mafia tertinggi yang dipercaya seluruh mafia membuatku bebar-benar terbebani.

__ADS_1


__ADS_2