Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 181 : Sedikit Ingatan


__ADS_3

Setelah selesai bertemu dengan tetua, aku dan Fadil berjalan kembali ke pertemuan tapi belum sampai aku di keluar hutan, di bawah pohon aku melihat Lyraen yang sedang berdiri melipat tangannya dan menundukkan kepalanya.


"Sani..." ucap Fadil memberiku kode, aku langsung memberikan kertas tugasku kepada Fadil dan memberikannya kode agar Fadil segera pergi.


"Oh baiklah, aku akan memberitahukan tugas kita kepada bawahan kita..." gumam Fadil pergi menghilang sedangkan aku kembali melangkahkan kakiku keluar hutan dengan cepat.


"Kenapa kau lama?" Ucap Lyraen menghentikan langkahku.


"Hanya keluar beberapa jam dan pertemuan belum di mulai saja kok..."


"Memang tapi kenapa kau lama?"


"Hanya membahas beberapa masalah saja dengan tetua."


"Apa itu menyangkut aku juga?"


"Tidak."


"Benarkah?"


"Ya." aku kembali melangkahkan kakiku pelan.


"Kalau tugasmu menyangkut tentangku juga maka aku akan memberitahukanmu secara cuma-cuma!" Ucap Lyraen dingin yang membuatku menghentikan langkah kakiku kembali.


"Bagaimana kau tahu?"


"Aku suamimu, apa yang tidak aku ketahui?"


"Hmmm kalau kau beri tahu aku secara cuma-cuma maka tidak akan seru dan menantang bagiku."


"Oh benarkah? Padahal jika kamu tahu lebih awal kamu akan lebih mudah menyelesaikan tugasmu."


"Hmmm apa kau kira aku percaya dengan tawaranmu? Kau licik lebih licik dariku jadi aku tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu Lyraen!" Ucapku serius dan Lyraen menarik tanganku kembali menggigit leherku.


"Ada apa?"


"Tidak ada, aku hanya haus."


"Kamu bisa haus juga?"


"Tentu saja, obat penyakitku hanya kamu dan obat penyakitmu hanya aku."


"Oh benarkah? Kalau begitu minumlah."


"Baiklah..." desah Lyraen pelan sedangkan aku menatap langit dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Tidak ada."


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"


"Tidak ada."


"Lalu kenapa kamu terlihat tertekan?"


"Hanya... sedikit lelah."


"Sedikit lelah? Mau aku pijit?"


"Tidak, terimakasih..." gumamku pelan.


"Oh ya Raelyn, setelah pertemuan ini kamu mau pulang bersamaku tidak?"


"Eehh pulang kemana?" Tanyaku terkejut.


"Ke Kerajaan Terkutuk."


"Tidak, aku ada urusan."


"Lalu kapan kamu akan kembali?" Tanya Lyraen pelan.


"Kamu istriku jadi kamu harus..."


"Walaupun aku istrimu dimasa lalu tapi aku juga musuhmu Lyraen, Organisasi kita berbeda di tambah lagi tujuan kita berbeda. Bisa jadi kamu memiliki keinginan membunuhku seperti di masa lalu."


"Tidak! Aku tidak mungkin melakukan itu!" Protes Lyraen kesal.


"Aku tahu, cuma bisa jadi kan lagi pula kamu pasti punya urusan mengenai wanita, benarkan?" Tanyaku pelan.


"Aku... mmm bagaimana kamu tahu?"


"Aku istrimu dimasa lalu, bagaimana aku tidak tahu!"


"Hmmm ya aku ada sedikit urusan dengan seseorang, mungkin itu juga membutuhkan waktu untuk melakukannya..." gumam Lyraen pelan.


"Urusan apa?"


"Nanti kalau sudah selesai aku akan memberitahukanmu."


"Kenapa tidak sekarang?"

__ADS_1


"Karena.. ucapanmu benar organisasi kita dan tujuan kita berbeda."


"Hilih kau hanya mengikuti ucapanku Lyraen!" Protesku kesal dan Lyraen hanya tersenyum kearahku.


"Tapi walaupun begitu kamu tetap istriku, jika urusanmu selesai dan kau hamil anak kita maka, datanglah ke kerajaan terkutuk. Tanda yang aku berikan adalah tanda kau permaisuriku."


"Tapi.. lencana?"


"Pakai saja lencanaku tidak masalah."


"Oh mmm baiklah, tapi jangan protes jika namamu tercoreng karenaku!" Ucapku serius.


"Yaaah itu juga berlaku buatmu, jangan protes jika namamu juga tercoreng."


"Heeii! Emang apa yang akan kau lakukan!" Protesku kesal, Lyraen membungkam bibirku dan menatapku dingin, bulan diatasku kembali mengeluarkan cahaya merah yang membuatku terdiam.


"Dengar Raelyn, aku melakukan apapun yang kau lakukan dan itu adil kan?" Ucap Lyraen dingin.


"Lagi pula... lencanamu hanya sebuah alat untukku balas dendam dengan seseorang dan juga alat untukku agar aku tidak akan kehilanganmu, apa kau kira aku akan terkecoh dengan kelicikanmu? Kau akan mengandung anakku dan juga kau tidak akan bisa jauh dariku..." gumam Lyraen kembali menggigitku dan melepaskan bungkamannya.


"Ternyata kau memiliki niatan tersembunyi ya Lyraen, kau memang sangat licik..." gumamku dingin dan Lyraen menatapku dingin.


"Yaah bisa dibilang begitu, jika orang lain tahu kau istriku dan kita kerjasama pasti banyak orang yang takut apalagi kau sekarang sangat hebat dibanding Raelyn yang lemah dan cengeng seperti dulu."


"Kerja sama ya? Untuk apa kau berpikir agar kita bekerja sama?" Tanyaku dingin.


"Tidak, hanya perumpamaan saja. Lagi pula aku tahu kau tidak akan mau melakukan kerja sama apalagi jika kau bekerja sama dengan aku yang dari organisasi misterius yang bekerja cepat hanya membutuhkan beberapa detik saja, pasti kau akan..."


"Kalau begitu mari kita bekerja sama dengan syarat jangan ganggu urusanku!" Ucqpku dingin dan Lyraen mendorongku ke sebuah pohon sambil menatapku dingin.


"Hei gadis kecil dengar, organisasi kita berbeda dan tujuan kita berbeda... bekerja sama tidak akan bisa dilakukan jika tujuan kita saja berbeda!"


"Lalu? Apa kau kira aku memperdulikan hal itu? Kau menganggapku istrimu kan jadi setujui kerja sama ini atau aku akan membencimu di seumur hidupku di seluruh kehidupanku karena kau membunuhku hanya karena wanita lain menginginkanmu!" Ucapku dingin dan tiba-tiba hujan darah turun dengan deras dari langit, Lyraen menghela nafas panjang dan menciumku lembut yang membuat hujan darah berhenti dengan cepat.


"Baik-baik aku akan bekerja sama denganmu istriku! Haish ternyata hujan darah turun saat itu karena kau marah denganku ya..." desah Lyraen memelukku erat. Saat turun hujan merah aku langsung mengingat kejadian masa lalu dimana Lyraen bersama dua wanita cantik yang salah satunya membunuh anakku dan wanita yang lain mengelabuhi Lyran agar membunuhku saat aku menangisi anakku yang mati karena terbunuh itu.


Aku saat ini seperti berdiri di atas lantai dua, dengan penglihatan yang samar aku melihat dua wanita itu berparas cantik dan terlihat sangat kejam, salah satunya terus menggoda Lyraen sedangkan wanita yang lain menggendong seorang bayi di gendongannya sedangkan di sampingku aku melihat seorang wanita berpakaian sederhana dengan bola mata merah keunguan berdiri menatap tiga orang itu dari atas.


Saat salah satu wanita di bawah mencoba membunuh bayi itu dengan cepat wanita di sampingku berlari menuruni tangga mencoba menghentikannya tetapi wanita itu kurang cepat dan bayi itu mati di tangan wanita di lantai atas itu.


Melihat kejadian itu aku langsung menuruni tangga dan melihat Lyraen beberapa kali menampar wanita itu dan sesekali menyiksa wanita itu dengan kejam.


"Kau hanya wanita lemah dan gara-gara kau anakku mati! Gara-gara kau!! Benar-benar tidak tahu diri!!" Ucap Lyraen terus menerus menyiksa wanita itu tapi wanita itu hanya terdiam menangis dan memeluk bayi itu erat.


"Kau memang wanita tidak berguna! Lebih baik kau mati saja!!" Teriak Lyraen kencang dan membunuh wanita itu dengan tanpa bersalah.

__ADS_1


"Jadi... ini ya saat sebelum aku mati... kenapa... kenapa mirip dengan masa laluku dengan mantanku di kehidupan kedua..." gumamku pelan dan tanpa sadar aku menangis melihat kematian wanita itu dan juga bayi yang wanita itu peluk, ternyata lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan anakku Satria.


__ADS_2