
Aku melangkahkan kakiku ke kamarku dan mengambil buku catatanku yang aku simpan dam berjalan ke kamar anak-anakku yang membuat merela bertiga terkejut.
"Ibu?" Ucap Satria bingung.
"Satria bisa ikut dengan ibu sebentar?" Gumamku pelan.
"Aku mau ikut ibu!" Ucap Adelia serius.
"Adelia dengan kakak dulu ya disini, Kak Satria mau ibu ajak pergi sebentar."
"Yaaah baik ibu..." gumam Adelia pelan dan aku langsung menggandeng Satria keluar kamar.
"Mmm ada apa ibu?" Tanya Satria bingung.
"Nanti ceritakan bagaimana kehidupanmu di kehidupan sebelumnya kepada tante dan ayah Valentino ya."
"Tentang apa ibu?"
"Ya bagaimana kamu bisa terbunuh oleh ayahmu dan bagaimana kehidupanmu dulu."
"Baik ibu..."
Aku membuka pintu ruangan dan melihat Cakra, Valentino, Fadil, Raesya dan Raetya duduk membahas sesuatu dengan serius.
"Nih tanya sama anakku kalau kalian tidak percaya!" Ucapku dingin dan mereka berlima menatap kami bingung.
"Tanya apa ibu?" Tanya Satria bingung.
"Satria siapa nama ayahmu dan siapa nama pamanmu?" Ucapku dingin.
"Eehh mmm nama ayahku Han Li dan pamanku bernama Fadil, pastinya paman Fadil mengenalku sejak kecil kan..." ucap Satria serius.
"Yaah aku mengenalmu dari lahir sampai kamu mati dibunuh Han..." gumam Fadil santai.
"Kak Fadil, apa benar aku berada di pelelangan dan menjadi alat pemuas nafsu Alan?" Tanyaku serius.
"Haah? Tidak, kamu selama hidupmu dengan banyak pria demi sebuah tugas tapi bisa memiliki anak dengan Han karena setelah pembantaian keluargamu Han membawamu pergi dan dijadikan istri kontrak oleh Han tapi Han membunuh Satria karena Han takut mafia musuh menculik Satria lagi dan menjadikan Satria alat pembunuh untukmu dan... Astaga kenapa aku ceritakan semuanya..." gumam Han terkejut dan memukul mulutnya dengan kencang.
"Tunggu... Menculik Satria... Lagi? Apa dia pernah diculik?" Tanyaku terkejut.
"Eehh l-lupakan saja..."
"Kak Fadil katakan padaku siapa yang..."
"Ibu sudahlah mafia musuh itu mafia yang licik dan pastinya ibu akan terluka apalagi Satria tahu seperti apa mereka jadi Satria selalu berpesan kepada paman Han untuk menjaga ibu dan ayah."
"Apa kamu dilukai mereka?" Tanyaku menatap Satria serius.
"Iya ibu tapi tidak apa-apa saat itu Satria hanya luka kecil saja, melihatku terluka ayah meminta maaf kepada Satria untuk membunuhku karena Satria tidak ingin membunuh ibu..." gumam Satria pelan yang membuatku terkejut.
__ADS_1
"Ayahmu melakukan itu?"
"Iya ibu, ayah berkata jangan beritahu pada ibu karena ayah ingin ibu membenci ayah karena ayah merasa bersalah membunuhku ibu." jelas Satria yang membuatku terkejut.
Mendapatkan penjelasan Satria membuatku sedikit merasa bersalah karena menuduh Han tanpa mendengarkan penjelasan Han apalagi setiap Han ingin menjelaskannya aku selalu menolak dan membuat dendamku terus timbul. Aku menatap gelang yang diberikan Han dulu saat aku masih bersama dengan Han yang membuat rasa bersalahku tetap ada sampai sekafang.
"Jadi kenapa kamu menyuruh Satria kemari dan menjelaskan masa lalu?" Tanya Fadil menatapku serius tapi aku tetap saja melamun menatap gelang di tanganku.
"Sani! Sani!!" Teriak Fadil mengagetkanku.
"Haah? Ada apa kak Fadil?" Tanyaku terkejut.
"Kenapa kau menyuruh Satria kemari?" Tanya Fadil serius.
"Oh mmm ya tadi kakak berkata kalau di kehidupan kedua kakak bertemu aku di pelelangan dan kak Fadil bermain dengan kakak saat di kehidupan kedua."
"Haaah? Tidak begitu... Kau melahirkan Satria di kehidupan kedua! Aku ingat dua kehidupan sebelumnya loh!" Ucap Fadil serius.
"Lalu cerita kak Raesya itu?"
"Cerita Raesya itu benar tapi wanita yang di pelelangan itu bukan kamu tapi wanita lain yang mirip denganmu, wanita yang mengaku menjadi adik kandungmu itu."
"Eehh wanita itu?" Tanyaku terkejut.
"Ya, anak dari Revaro dan Ravaro."
"Itu bukan adikku?" Tanya Raesya terkejut.
"Bukan, aku tidak memberitahukan kalian karena aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku tahu dia di genggaman musuh saat dia menghubingi aku pertama kali setelah menghilang bertahun-tahun setelah berkata akan pensiun dari mafia yang membuatku mengatur mafia sendirian bahkan sampai sekarang pun aku yang mengurus semuanya padahal aku hanya wakil saja."
"Aku percaya padamu kak Fadil..." gumamku pelan dan menulis sesuatu lalu menyerahkan kepada Fadil.
"Apa ini?" Tanya Fadil bingung.
"Tugas untukmu."
"Eehh apa kamu serius?" Tanya Fadil terkejut.
"Yaaahh aku serius, aku akan mengajak Satria juga."
"Oh begitu ya... Baiklah..." gumam Fadil berjalan pergi.
"Satria kamu boleh istirahat dengan kedua adikmu..." gumamku pelan dan Satria pergi dari ruangan.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan Satria?" Tanya Valentino serius.
"Tidak ada, hanya ingin pergi ke akademinya untuk melihat perkembangannya. Aku tidak mau dia diinjak-injak oleh teman-temannya yang lain."
"Kapan itu? Apa aku harus ikut?"
__ADS_1
"Besok, memang kamu bisa ikut?" Tanyaku serius.
"Mmm besok aku ada pertemuan dengan Raesya."
"Ya sudah aku kesana saja sendirian, nanti Fadil akan menggantikanku."
"Kamu tidak apa-apa sendirian?" Tanya Valentino serius.
"Tidak apa, hanya ingin mengontrol dia bersekolah saja nanti aku akan pergi menemui seseorang."
"Menemui siapa?" Tanya Valentino serius.
"Yaaah ada pertemuan dengan ketua mafia lain."
"Membahas masalah apa?" Tanya Valentino serius.
"Aku ingin membahas masalah tugasku saja tidak lebih dan mmm ya mungkin aku akan menemui ayah untuk membahas beberapa hal."
"Kenapa mereka tidak ikut denganmu?"
"Yaah kakak masih membenci ayah jadi tidak mungkin aku membiarkan mereka bertemu dengan ayah."
"Tapi nanti kamu akan bertemu dengan wanita murahan itu!"
"Aku tahu, aku akan membahas masalah itu dengan Ravaro."
"Masalah keberadaan wanita itu?" Tanya Raesya serius.
"Ya, jadi besok petang kakak datanglah ke kerajaan ayah, bersedia atau tidak kalian kakakku dan kita harus menyelesaikan bersama."
"Aku malas bertemu dengan pria itu."
"Aku tahu kakak tapi kakak harus ikut demi aku, kakak ingin aku bunuh diri lagi?" Gumamku santai dan Raesya menghela nafas panjang.
"Yayaya baiklah kami akan kesana.
"Baiklah jaga diri baik-baik kalau ada masalah beritahu aku."
"Ya baiklah tidak masalah, kami akan datang dengan Valenrino juga."
"Baiklah, lagi pula dia juga masih ayah kita kak dan banyak yang ingin membunuhnya, kalau aku tidak masalah sudah biasa menjadi incaran musuh tapi kalau ayah... Tidak dulu, ayah masih sangat lemah."
"Dia bukan ketua mafia hebat jadi hanya Ravaro yang menemaninya walaupun mafianya tidak sejaya mafiaku..." gumam Valentino pelan.
"Yaah itu masalahnya, aku hanya punya ayah dan kalian jadi tidak mungkin aku harus kehilangan oeang yang aku sayang lagi."
"Ya aku mengerti maksudmu adikku, aku akan mengikuti semua keinginanmu selama masih sejalan dengan pemikiran kami." gumam Raesya santai.
"Baik kakak terimakasih." Aku tersenyum manis kearah Raesya senang. Mendengar penjelasan Satria membuatku ingin bertemu dengan Han dan meminta maaf padanya, walaupun aku sudah menikah dengan Valentino tapi tanpa disadari kalau aku sekarang terikat kontrak kawin dengan dua pria yang berbeda organisasi denganku.
__ADS_1