Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 105 : Seperti Bermimpi


__ADS_3

Entah bagaimana bisa terjadi tapi aku merasa sekarang aku berada di sebuah taman yang sangat indah, banyak bunga yang bermekaran dan berwarna warni disekitarku. Aku menatap sekitarku dan tidak melihat siapapun yang ada di sekitarku kecuali seorang gadis yang sedang duduk di tengah taman. Saat ini aku benar-benar seperti sedang bermimpi indah.


"Siapa gadis itu?" gumamku pelan, aku berjalan menuju gadis itu dan melihat ternyata gadis itu adalah diriku saat masih kanak-kanak.


"Sani!" ucap seorang wanita di belakangku, aku melihat ibu dan ayah di belakangku.


"Ayah! Ibu!" teriakku kencang dan memeluk ayah dan ibu.


"Bagaimana belajarnya anakku?"


"Sani bisa kok ibu!"


"Oh baguslah, mari ayah dan ibu temani Sani belajar..." gumam ayah terduduk di depanku.


"Baik ayah!" ucapku senang.


aku melihat ayah dan ibu sedang mengajariku belajar, walaupun tidak ingat jelas tapi suasana ini benar-benar aku ingat.


"Kamu sangat pintar anakku..." ucap ayah senang.


"Terimakasih ayah."


"Oh ya anakku, nanti kalau dewasa temui pria yang bernama Ray Khun ya!" ucap ayah serius.


"Ray Khun? Kenapa dengan pria itu?" tanyaku polos.


"Dia akan menjadi suamimu kelak anakku!" ucap ibu senang.


"Apa itu suami ibu?" tanyaku polos.


"Suami itu pria yang akan menikah dengan Sani dan pria yang selalu membahagiakan Sani."


"Oh benarkah ibu? Sani tidak tertarik, Sani lebih tertarik menguasai mafia ibu!" ucapku serius.


"Ya baiklah ibu doakan semoga Sani bisa menguasai seluruh mafia ya!" ucap ibu mengusap lembut rambutku.


"Baik ibu!" teriakku kencang.


Melihat kejadian itu membuatku yang sekarang mengerti kenapa ayah nampak sangat senang saat melihat Ray bersamaku saat terakhir melihat ayah.


"Jadi memang Ray ya yang dijodohkan denganku..." gumamku pelan.


Tiba-tiba lingkunganku berubah seperti berada di dalam ruang khusus milik ayah, di depanku aku melihat semua kakakku terduduk kursi depan ayah bahkan Fadil juga hadir di pertemuan itu.


"Kapan kejadian ini ya?" gumamku terkejut.


"Baiklah, terimakasih kalian mau bersedia datang ke rumah anak-anakku..." gumam ayah terlihat serius.


"Ada apa ayah meminta kami datang?" tanya Viu serius.


"Yaa firasat ayah, entah itu akan terjadi atau tidak tapi ayah rasa kalau Sani bisa menguasai mafia pasti akan ada perang besar-besaran nantinya."


"Kan itu tidak pasti akan terjadi ayah!" ucap Xiao Min serius.


"Ya benar, tapi ayah mengumpulkan kalian disini hanya ingin meminta agar kalian bisa melindunginya, dia anak perempuan ayah dan adik perempuan kalian satu-satunya di keluarga Shin jadi ayah minta kalian bisa menjaganya."

__ADS_1


"Tapi kami hanya saudara tiri dengan dia buat apa kami harus menjaganya? Kami sendiri saja tidak pernah menjaga satu sama lain!" protes Soni dingin.


"Ya ayah tahu, kalian dari marga keluarga yang berbeda-beda tapi ayah tetap menganggap kalian anak ayah yang paling ayah sayang, ayah tidak ingin kalian terpecah belah dan bertengkar satu sama lain. Saudara tiri perempuan kalian ada banyak tapi ayah hanya menyayangi Sani saja jadi kalian harus menjaga dia sebaik-baiknya."


"Kalau untuk Sina dan Rina bagaimana ayah?" tanya Soni serius.


"Mereka bukan dari keluarga Shin jadi..."


"Tidak bisa! Sani juga bukan dari keluarga Shin malah Sani juga termasuk keluarga Li, musuh keluarga Shin dan Min ayah!!" protes Viu memotong perkataan ayah.


"Memang, tapi hanya Sani yang ayah anggap sebagai keluarga Shin."


"Walaupun begitu, Sampai kapanpun Viu akan membencinya!" protes Viu terlihat kesal.


"Kenapa kak Viu seperti sangat kesal ya?" gumamku pelan.


"Jangan salahkan Sani, salahkan keluarga Li yang membunuh ibumu Viu!" ucap ayah serius.


"Ciih ayah selalu membela gadis berpenyakitan itu mulu!" gerutu Viu kesal.


"Dia adik perempuanmu Viu, jangan menyakiti dia apa kau paham!" ucap ayah dingin.


"Tapi ayah!"


"Udahlah, ikuti aja kata ayah..." gumam Xiao Min menenangkan Viu.


"Haish terserahlah!" gerutu Viu kesal.


"Yang penting sekarang bagaimana mengalahkan keluarga Li dan juga anak yang tidak dianggap keluarga Khun dan Li itu."


"Ya, ayah rasa bukan hanya keluarga Li saja tapi anak itu juga menjadi musuh terberat kita ditambah Sani yang akan menguasai mafia pasti akan ada perang besar-besaran nantinya!" ucap ayah serius.


"Mungkin saja ayah, tapi saat ini kami belum memiliki rencana apapun..." gumam Soni pelan.


"Masalah rencana, ayah yakin kalau Sani akan mempunyai rencananya sendiri dan pastinya kalian yang akan dilindungi Sani suatu hari nanti!" ucap ayah serius.


"Dilindungi Sani? Apa ayah gila? Dia saja anak yang berpenyakitan ditambah umurnya tidak akan panjang ayah!" protes Viu kesal.


"Yaah itu firasat ayah dan firasatku selalu tepat, kalian juga tahu kan!" ucap ayah serius.


Walaupun terlihat pendapat ayah tidak masuk akal dan semua kakakku kadang berdebat hebat tapi aku bisa menarik kesimpulan kalau sebenarnya ayah sudah mengutarakan pandangannya sendiri kepada semua kakakku dan tanpa sepengetahuanku.


"Oh ya Soni, kau harus bisa mengawasi Ray agar dia tidak menyakiti hati dan tubuh Sani, dia pengguna racun alami jadi ayah takutnya Ray akan membunuh Sani dengan racunnya!"


"Baik ayah, Sani adikku jadi aku tidak akan melukainya walaupun Soni sangat membenci Sani!" ucap Soni dingin.


"Oh ya untukmu Fadil, tolong jaga Sani terus. Dia gadis lemah jadi kamu harus menjaganya sebagai wakil ketua!"


"Baik tuan, saya akan berusaha menjaga Sani yaah walaupun saya juga membencinya..." gumam Fadil dingin.


"Eehhh ternyata semua kakakku dan bahkan kak Fadil sangat membenciku juga ya? Emang aku tidak pantas hidup..." desahku pelan.


"Ayah percaya dengan kalian anak-anakku!" ucap ayah serius dan semua kakakku terlihat akan melakukan apa yang diinginkan ayah. Walaupun tidak semua yang aku mengerti tapi setidaknya aku mendapatkan kesimpulanku sendiri.


Tiba-tiba dadaku terasa sangat sakit dan kepalaku sangat sakit, aku terjatuh di tanah dan melihat ayah dan kakak-kakakku yang terlihat sangat kabur dan semua menghilang dan sekitarku berubah menjadi sangat gelap.

__ADS_1


Aku membuka kedua mataku dan melihat aku berada di sebuah kamar dengan infus yang terpasang di tangan kiriku. Aku melihat sekelilingku dan melihat Kakak-kakakku serta Ray yang sedang tertidur pulas.


"Kamu sudah sadar Sani?" tanya Fadil disebelahku.


"Oh hmmm ya, aku dimana?"


"Di rumah, kamu sudah tiga bulan tidak sadar."


"Ohhh benarkah? Seharusnya kak Fadil membunuhku sekalian..." gumamku memejamkan mataku.


"Apa kau gila? aku tidak mungkin membunuhmu tahu!" protes Fadil kesal.


"Kenapa juga tidak mungkin? Aku sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi."


"Aku yakin Tuan Shin masih hidup Sani!"


"Masih hidup ya? Dia tertembak tepat di depan mataku bagaimana bisa ayah masih hidup!"


"Samuel masih ditangan kita dan..."


"Aku tidak peduli dengan Samuel, aku hanya peduli dengan ayah!"


"Haish sudahlah Sani, sekarang kamu harus makan ya. Aku ambilkan makanan untukmu..." gumam Fadil keluar dari kamar.


"Makan ya? Aku tidak tertarik untuk makan..." gumamku mencabut infusku dan berusaha pergi.


Dengan berjalan tertatih-tatih aku pergi dari rumah melalui jendela kamar dan berjalan masuk ke dalam hutan, walaupun kepalaku sangat pusing dan tubuhku sangat lemas tidak aku pedulikan sama sekali.


Di ujung hutan terlihat jurang yang sangat dalam dihiasi matahari terbit yang berwarna kuning kemerahan, aku memejamkan kedua mataku dan melangkah ke jurang itu tapi belum saja aku melangkah ada seseorang yang merangkulku dari belakang dengan erat. Rangkulannya benar-benar membuatku tidak bisa bergerak sama sekali.


"Apa yang kamu lakukan disini Sani? Kau baru saja sadar tahu!" Protes Ray kesal, "Ciiih kenapa dia bisa tahu sih!" gerutuku dalam hati kesal.


"Iihhh lepasin!"


"Ayo pulang!"


"Enggak mau! Lepasin aku!!"


"Udah ayo pulang!" gerutu Ray berusaha membawaku pergi sedangkan aku terus berusaha melepaskan rangkulan Ray.


"Haish..." desah Ray menggigit leherku yang membuat tubuhku benar-benar lemas.


"Apa kamu pikir aku akan mengizinkanmu mati istriku yang bandel!" gerutu Ray melepaskan gigitannya dan menggendongku menjauhi jurang.


"Aku...aku hanya ingin mati, kehilangan ayah membuatku sangat depresi..."


"Kamu tidak boleh mati Sani!" Protes Ray kesal.


"Kenapa juga tidak boleh? Semua membenciku bahkan wakil dan kakak-kakakku juga membenciku..." gerutuku menggenggam pakaian Ray dengan kuat.


"Kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu Sani?" tanya Ray bingung.


"Tidak ada!" Gerutuku kesal. "Percuma saja bilang ke kak Ray, dia pasti dulu juga membenciku!" gerutuku dalam hati.


Walaupun aku masih bingung dan tidak mengerti tentang yang aku lihat di mimpiku tapi aku merasa itu yang ingin diungkapkan ayah tapi belum semuanya ayah beritahukan kepadaku.

__ADS_1


__ADS_2