Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Season 2 : Episode 1 :Terlahir Kembali


__ADS_3

Meninggal ketika tahu semua hal yang membuatku menderita diseumur hidupku. Merasakan seperti orang yang tidak berguna membuatku sangat dendam. Aku membuka kedua mataku dan menatap sebuah cahaya terang di depanku yang membuatku terkejut.


"Raelyn! Kau mendapatkan dua pilihan, inkarnasi dan tidak, pilih salah satu!"


"Saya... Ingin inkarnasi, saya ingin membalas dendam kesakitan yang saya alami selama hidup!" Ucapku dingin.


"Baiklah karena keinginanmu di masa lalu maka aku akan memberikanmu kesempatan untuk merubah takdirmu sendiri!!"


"Terimakasih..." gumamku pelan dan tiba-tiba aku merasakan rasa sakit yang luar biasa dan jantung yang berdetak kencang yang membuatku langsung membuka kedua mataku.


"Haaahhh..." desahku menatap sekitarku ternyata aku berada di perapian tempat kami bersembunyi saat perang mafia pertama ketika kecil.


"Ini... Aku kembali ke masa kecil..." gumamku menatap sekitarku dan melihat sebuah kalender di depanku, aku langsung berlari dan menatap kalender dengan serius.


"Aku bertemu Ray di musim dingin berarti aku harus mencari Rayan disekitaran wilayah dimana aku menemukan Ray!" Ucapku serius.


Kreeekkk...


Terdengar suara pintu terbuka dan aku melihat Fadil kecil yang sedang mengumpulkan kayu bakar sama seperti diingatanku.


"Eeehh Sani, kamu sudah bangun?" Ucap Fadil pelan dan aku langsung berlari memeluk Fadil.


"Eehhh!!" Ucap Fadil terkejut dan menjatuhkan kayu bakar di lantai.


"Kak Fadil maafkan Raelyn, Raelyn tidak waspada saat itu jadi kak Fadil berperang sendiri dengan Ray dan kak Fadil terbunuh saat itu, kak Fadil maafkan Raelyn!!"


"T-tunggu! Raelyn? Aku mati saat berperang? Apa maksudmu? Kita sudah menang tahu!"


"Di saat dewasa karena kebodohanku, aku menjadi wanita yang banyak memiliki pria yang membuat aku diracuni mantan suami dan kamu mati ketika aku tidak sadar dan akupun mati dibunuh musuh."


"T-tunggu! Aku tidak mengerti, coba kau jelaskan padaku!" Ucap Fadil bingung. Astaga berarti hanya aku yang ingat ya. Batinku. Aku menjelaskan semua yang aku tahu yang membuat Fadil terkejut.


"Jadi... Kamu bermimpi seperti itu?"


"Bukan bermimpi kak Fadil!! Itu nyata! Aku kembali ke masa kecilku dan sekarang... Aku ingin membalas dendam atas penderitaanku!" Ucapku dingin.


"Kalau memang keinginanmu seperti itu maka baiklah kita akan melakukan pembalasan dendam."


"Tapi kak Fadil, aku harus mencari pria yang bernama Rayan dulu!"


"Kenapa?" Tanya Fadil bingung.


"Dia suami yang berjodoh denganku, kita harus mencegahnya mati terlebih dahulu jika tidak aku akan mengulang kesalahan yang sama!" Ucapku serius.


"Baiklah, katakan dimana tempatnya kita kesana sekarang!" Ucap Fadil serius.


"Tunggu dulu, ini musim apa?" Tanyaku serius.

__ADS_1


"Ini musim gugur tapi ya kita sudah memasuki musim dingin sih."


"Benarkah? Baiklah mari kita pergi!!!" Ucapku langsung menarik tangan Fadil.


Di salju yang turun dari langit tubuhku terasa sangat dingin tapi aku harus mencari keberadaan Rayan sebelum dia meninggal lagi seperti kehidupan yang lalu.


"Astaga kau mau mengajakku kemana sih!"


"Di lembah terpencil gunung Agung!" Ucapku dingin.


Aku menarik tangan Fadil menyusuri lembah yang berada di bawah gunuh Agung, di bawah sebuah pohon kami bertemu dengan seorang pria kecil yang wajahnya mirip Ray saat kecil.


"Sani lihat!" Teriak Fadil kencang dan kami langsung berlari ke pria kecil itu, Fadil segera mengecek kondisi pria itu dengan serius.


"Sani dia masih hidup!" Ucap Fadil serius. Ray di temukan pasti Rayan tidak jauh dari sini. Aku harus segera mencarinya! Batinku.


"Baguslah, kak Fadil bawa dia pulang dulu."


"Kamu mau kemana?" Tanya Fadil bingung.


"Aku masih harus mencari orang lain dulu..." gumamku berjalan pergi.


Aku melihat sekitarku tapi tidak ada petunjuk apapun yang aku temukan yang membuatku sangat bingung, aku bersadar di dinding dan menatap salju yang hampir menutupi jalanan.


"Haaahh dimana Rayan?" Gumamku pelan.


"Darah! Tapi warnannya kenapa sama sepertiku?" Gumamku mengambil sebatang kayu dan mengacak-acak salju di tanah yang membuat salju berubah menjadi merah


"Mungkin cara ini lebih efektif untuk mencari Rayan!"


Aku berjalan mengikuti jejak darah itu sampai ke ujung sebuah gua, aku masuk ke dalam gua itu dan terkejut melihat seorang pria penuh dengan darah duduk di dinding gua. Aku segera pergi ke pria itu dan menatapnya serius.


"Wajahnya sangat mirip dengan Rayan..." gumamku langsung menghampirinya dan mengecek kondisinya.


"Jadi kamu terkena racun di panah ini ya..." gumamku mencabut panah itu.


"Uugghhh..." rintih pria itu pelan.


"Astaga darahnya keluar banyak!" Teriakku terkejut dan pria itu menatapku terkejut.


"R-Raelyn?" Ucap Rayan terkejut.


"Huuhh untung kamu bisa sadar..." gumamku pelan, aku membuka pakaian luarku dan menyobeknya lalu membalut tubuhnya. Aku menyayat tanganku dan membungkam bibirnya.


"Minumlah biar kamu tidak kehabisan darah..." Rayan meminum darahku seperti orang kehausan dan terus menatapku terkejut. Tidak lama dia melepaskan tanganku.


"Kamu sudah mmpphhh..." Rayan langsung menciumku yang membuatku terkejut.

__ADS_1


"Raelyn terimakasih..." gumam Rayan tersenyum dan menciumku kembali.


"Eee k-kamu... Kamu menciumku?" Tanyaku terkejut.


"Tentu kenapa juga?"


"T-Tapi itu ciuman pertamaku!" Ucapku malu-malu.


"Lalu kenapa? Kamu milikku Raelyn..." gumam Rayan menggenggam tanganku dan benang merah kami bersinar sebentar lalu menghilang.


"Oh mmm Rayan kenapa hanya kamu yang ingat denganku? Bahkan nama asliku?" Tanyaku pelan.


"Kamu menciumku yang membuat kita berinkarnasi"


"T-Tunggu bagaimana bisa seperti itu?"


"Entahlah aku tidak tahu, yang pasti aku tidak menyangka kamu menyelamatkanku Raelyn."


"Aku tidak mau bernasib sama seperti kehidupan itu!" Gerutuku memberikan sebuah botol penawar racunku.


"Apa ini?"


"Penawar racunku."


"Tapi aku terkena racun langka yang..."


"Kamu kira aku tidak tahu kamu terkena racun apa setelah kamu menciumku Rayan? Uhhuukkk..uuhhuukk" Ucapku dingin dan aku langsung batuk darah.


"Astaga mmmm maaf aku tidak sengaja Raelyn aku..."


"Tidak apa jangan salahkan dirimu..." gumamku meminumkan obat itu kepada Rayan dan meminum obat itu sedikit.


"Hmmm..." desahku bersandar di dinding dan menatap Rayan serius.


"Rayan mulai sekarang kau ikut denganku dan kau harus jelaskan padaku kenapa kamu bisa seperti ini ya!" Ucapku serius dan Rayan menganggukkan kepalaku pelan.


"Baiklah Raelyn aku akan menceritakannya padamu."


"Hmmm baiklah..." desahku pelan.


"Rayan nanti temani aku untuk mencari ayah kandungku ya..." gumamku pelan.


"Baiklah aku nanti akan menemanimu dan bahkan..." Rayan menekan kedua pipiku.


"...aku akan selalu menjagamu istriku..." gumam Rayan menciumku lembut dan tersenyum kearahku.


"Terimakasih Rayan, mari diluar cuaca sangat dingin..." gumamku memapah Rayan keluar dari gua.

__ADS_1


Aku sudah bertemu dengan Rayan, aku tahu kelemahan pria-pria itu sehingga mudah untukku balas dendam, tapi aku harus hati-hati kali ini. Batinku


__ADS_2