
Sambil menunggu Ray keluar kamar mandi aku terduduk di balkon kamar sambil menatap gelas wine di depanku. Tidak tahu apa yang aku pikirkan tapi pikiranku benar-benar kosong.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" gumam Ray serius.
"Eee... mmm tidak ada, hanya pikiranku yang kosong."
"Apa ada yang membebanimu?"
"Tidak ada kok, biasa saja sih sebenarnya cuma terkejut kalau Nana itu adikmu."
"Ya begitulah kenyataannya. Jadi beri tahu aku kenapa kamu ada di kapal pesiar!"
"Aku hanya melakukan tugas tidak lebih kok."
"Lalu kenapa kamu membakar kapal mewah itu?" tanya Ray serius.
"Hanya untuk menghilangkan jejak saja."
"Menghilangkan jejak?" tanya Ray terkejut.
"Ya kan aku mengambil dokumen perjanjian mereka dan perjanjianmu dengan kak Viu."
"Lalu apa harus membakarnya?"
"Tidak juga, hanya saja karena kapal itu membuat ayahku jadi mati sia-sia jadi aku harus menghancurkannya!" gerutuku meminum wine sampai habis.
"Oh karena alasan itu?"
"Ya karena alasan itu sih..." gumamku pelan.
"Kalau dulu ayah tidak melakukan hal yang bodoh pasti ayah tidak akan mati seperti dulu. Teringat bagaimana ibu mati ditembak kakakku di depanku membuatku...masih trauma..." gumamku menundukkan kepalaku.
"Kan kakak sudah meminta maaf kepadamu Sani?" ucap Soni di belakangku.
"Aku tahu...aku hanya ingin tahu siapa yang menjadi otak pembunuhan ayah dan dimana makamnya saja, hanya itu...aku mencoba mencari informasi di dalam kapal itu tapi mereka semua bungkam yang membuatku sangat kesal."
"Pasti tidak ada yang mau mengakui walaupun mereka tahu, itu kapal milik keluarga Li dan tentunya mereka tidak mau mengatakannya..." gumam Ray serius.
"Katanya kamu sudah menduga tuan Li yang melakukannya?" tanya Soni menatapku serius.
"Walaupun begitu belum ada buktinya kakak dan kamu yang bertahun-tahun menjadi mata-mata keluarga Li juga tidak tahu kebenarannya kan?" tanyaku dingin.
"Mmm benar juga sih, aku yang mendengar kalau ayah dibunuh juga terkejut padahal aku tidak memintanya." gumam Soni bingung.
"Ya sudahlah, ngomong-ngomong kenapa kakak disini?" tanyaku pelan.
"Tidak ada hanya menyerahkan surat untuk Ray saja..." gumam Soni menyerahkan surat kepada Ray dan segera pergi dari kamar.
"Surat dari siapa?" tanyaku pelan.
"Dari Nana..."
"Nana? Apa isi surat itu?" tanyaku penasaran.
"Dia bilang akan ada pesta khusus mafia dan dia bilang ingin bertemu denganku."
"Oh benarkah..." gumamku merebut surat itu dan membacanya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya sayang, aku tidak akan berbohong kepadamu."
"Hmmm jadi apa yang membuat kak Ray membenci Nana?" tanyaku menggenggam kertas itu dengan kuat.
__ADS_1
"Karena dia hampir mengajakku berhubungan.."
"Tu...Tunggu apa?" tanyaku terkejut.
"Ya itu yang terjadi, kamu tahu kan wajahku sayang. Dia menyukaiku karena aku tampan dan dia ingin menikah denganku, sudah berbagai cara aku lakukan agar dia bertobat tapi dia tetap berusaha untuk menjebakku. Saat itu Nana hampir menjebakku kalau bukan Soni yang mencegahnya aku sudah bermain dengan adikku sendiri. Itulah kenapa aku sangat kesal!" gerutu Ray serius.
"Kenapa dia suka melakukan itu?" tanyaku terkejut.
"Sepertinya karena dia kebanyakan menonton film dewasa dan dulu aku ataupun kedua adik bodohku itu tidak mampu mengawasinya. Mmm tidak juga sih mungkin karena hasutan mantan teman baikmu yang membuatnya seperti itu."
"Mantan teman baik? Siapa?"
"San dan Steven?"
"Mereka mantan pacarku bukan mantan teman baik" gerutuku kesal.
"Apa kamu masih memiliki rasa dengan mereka?"
"Tidak, aku tidak memiliki rasa apapun hanya aku ingin membunuh mereka saja..." gumamku mendorong Ray yang membuatnya terjatuh di Sofa.
"Ada apa sayang?" tanya Ray bingung.
"Kenapa Nana ingin bertemu denganmu?" tanyaku dingin.
"Aku tidak tahu, aku tidak peduli juga..." gumam Ray mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Apa kau kira aku percaya kata-katamu? Paling kau sering berkirim pesan kan Ray?" tanyaku dingin.
"Tidak, ini pertama kalinya Nana mengirimiku surat."
"Apa kau kira aku percaya kata-katamu?" tanyaku dingin.
"Kamu boleh menghukumku kalau aku berbohong istriku!"
"Cantika? Ke..kenapa kamu tanyakan itu?" tanya Ray terkejut.
"Di surat ini Nana menyebutkan kalau akan ada Cantika dan ingin bertemu denganmu!" gerutuku menunjukkan kata-kata dari surat yang aku rusak itu.
"Untuk apa dia ingin bertemu?" tanya Ray terkejut.
"Mana aku tahu? Siapa Cantika itu?" tanyaku dingin.
"Cantika itu...mantan kekasihku, dia dulu seakademi denganmu dan dia wanita di urutan kedua setelah kamu."
"Mantan kekasih atau kekasih!" tanyaku dingin.
"Aku menganggapnya mantan kekasih, setelah tahu kamu sekarang aku sudah tidak peduli dengan dia!" ucap Ray serius.
"Awas saja kamu bermain wanita dibelakangku suamiku yang nakal...aku akan benar-benar marah!" gerutuku menarik kerah pakaian Ray sambil menatap Ray serius.
"Tidak akan, sudah aku katakan kan kalau banyak wanita yang menyukaiku bahkan berusaha mendekatiku jadi jangan..."
"Jangan apa? Apa kau kira aku memberikanmu toleransi Ray Khun? Kau menghukumku karena Bintang tapi kau ingin bermain dengan wanita lain apa kau kira aku..."
"Aku tidak bermain dengan wanita lain sayang, sekarang kamu sedang hamil anakku, aku tidak mungkin bermain dibelakangmu!" ucap Ray serius.
"Kalau begitu...kemanapun kau pergi aku harus ikut!"
"Tapi kan?"
"Ya sudah kalau begitu menikahlah dengan Cantika sana!" gerutuku beranjak pergi tapi Ray menggenggam erat tanganku dan menarikku kembali.
__ADS_1
"Aku tidak menginginkan dia, aku hanya ingin kamu dan anakku saja. Kalau kamu inginnya seperti itu baiklah kamu boleh mengikuti kemanapun aku pergi!" ucap Ray serius.
"Awas saja kalau kau menyakitiku seperti pria yang lain Ray Khun!" gerutuku menggenggam erat tangan Ray.
"Uuuugghhhh...sa...sakit banget...kamu...kamu benar-benar marah sampai aku bisa merasakan sakit seperti ini?" rintih Ray menekan dadanya.
"Ya aku benar-benar marah! Aku bosan disakiti! Masa mudaku hilang dan menjadi seorang janda dengan terus berganti pasangan apalagi aku sudah kehilangan tiga anak yang membuatku memendam marah kau tahu...kalau bukan karena kamu menahanku, aku sudah mengejar Han dan membunuhnya! Aku mengikuti semua perkataanmu dan kau ingin bermain dengan wanita lain, dimana otakmu!" gerutuku melepaskan genggaman Ray.
"Terserah mau bermain dengan wanita lain aku tidak peduli!" gerutuku keluar kamar melalui balkon kamar.
"Sani...Dengarkan aku Sani!" teriak Ray mengejarku. Belum sampai keluar gerbang Ray menangkap tanganku dan menarikku ke pelukannya.
"Sani...dengar.... aku tidak akan bermain dengan wanita lain, aku tidak tertarik dengan wanita manapun. Aku terikat denganmu, aku mencintaimu, aku tidak mungkin mengkhianatimu!" ucap Ray memelukku erat.
"Tapi kata kamu..."
"Aku kan berkata...banyak wanita yang menginginkanku dan banyak wanita mendekatiku tapi aku sama sekali tidak tertarik, aku memilih wanita juga pilih-pilih, aku tidak mau punya istri lemah dan kamu tahu akan hal itu. Aku dulu mencintai Cantika karena dia kuat tapi melihat wanita yang di jodohkan denganku lebih kuat dari pada Cantika membuatku melepaskan Cantika dan memilihmu istriku..." gumam Ray mengusap lembut rambutku.
"Kebohonganmu tidak lucu Ray!" gerutuku kesal.
"Aku mengatakan yang sebenarnya sayang, kalau kamu ingin kemanapun bersamaku baiklah aku izinkan kemanapun aku pergi kamu ikut denganku. Bagaimana?" tanya Ray pelan.
"Hmmm..." desahku pelan.
"Sayang jangan khawatir aku mencintaimu, aku memang kejam tapi sangat setia dengan wanita yang aku cinta. Aku benar-benar mencintaimu istriku tersayang..." gumam Ray terus meyakinkanku.
"Baiklah...hoooeeekkk..." tiba-tiba aku merasa benar-benar mual, tidak biasanya aku bisa semual ini.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ray khawatir.
"Ti...tidak ada, hanya terasa mual saja."
"Ya sudah aku panggilkan dokter ya sayang..." gumam Ray segera menelepon seseorang dan segera menggendongku masuk ke dalam rumah.
"Aku tidak apa sungguh!"
"Sudah tunggu dokter di kamar bersamaku, sebentar lagi dokternya akan datang..." gumam Ray merebahkanku di tempat tidur.
Tidak berapa lama datang seorang pria berjas putih masuk ke dalam kamar, pria itu memeriksaku dengan teliti tanpa terlewat sedikitpun.
"Bagaimana istriku dokter?" tanya Ray khawatir.
"Nyonya Khun baik-baik saja tuan muda, hanya harus banyak istirahat, butuh banyak makan sayur dan kurangi minum wine atau whisky. Kehamilannya masih sangat muda jadi harus jaga pola makan, nanti setiap bulan saya akan datang mengecek kesehatan Nyonya Khun tuan muda..." gumam pria itu menundukkan kepalanya.
"Huft baiklah terimakasih dokter, nanti hubungi saja kalau mau ke rumah."
"Baik tuan muda, saya pamit tuan muda..." gumam pria itu keluar kamar.
"Kan sudah aku bilang aku tidak apa-apa, kenapa kamu begitu khawatir?" tanyaku pelan.
"Kamu sangat pucat sayang, aku khawatir denganmu apalagi aku baru pertama kali menjadi seorang ayah aku takut kenapa-napa..." gumam Ray pelan.
"Tenang saja sayangku, selama ada kamu aku akan baik-baik saja."
"Baiklah mulai sekarang kemanapun kamu harus denganku, kamu tidak boleh lepas dari pandanganku dan jangan melakukan hal aneh. Apa kamu mengerti?"
"Ya aku mengerti suamiku..." desahku tersenyum ke arah Ray.
"Baiklah, kamu harus istirahat sayang. Nanti aku masakan makanan untukmu.." gumam Ray mengusap lembut rambutku sambil terduduk si sampingku.
"Baiklah...." desahku menutup kedua mataku.
__ADS_1
Padahal saat ini masih siang hari tapi Ray malah menyuruhku untuk tidur, melihat Ray yang sangat khawatir membuatku senang ternyata semenyebalkan apapun Ray tapi dia sangat peduli denganku.