Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 137 : Mencoba Mencari Rani Shin


__ADS_3

"Sani! Sani!" Teriak seorang pria membangunkanku, aku membuka kedua mataku dan melihat wajah Rhys yang tertidur dengan wajah aslinya, ternyata semakin dewasa Rhys benar-benar semakin tampan walaupun terdapat sebuah tanda kutukan di wajahnya.


Tanda kutukan itu adalah sebutan untuk orang lahir dengan kondisi aneh sama sepertiku, tapi berbeda denganku. Tanda kutukanku tidak terlihat sedangkan Rhys itu terlihat pada bagian leher dan separuh wajahnya terdapat pola hitam yang aneh. Di tangannya terdapat sebuah topeng wajah yang sangat elastis yang membuatku tahu kalau topeng iru adalah benda yang menjadi penutup wajah Rhys.


"Heeii Sani!" Gerutu seorang pria di belakangku, aku mencoba terduduk dan melihat Fadil menatapku serius.


"Ada apa?"


"Astaga! Ada pria lain di kamarmu dan kau terdiam saja!"


"Pria? Eehh..." gumamku langsung menutupi tubuhku dengan selimut tapi ternyata Rhys telah memakaikanku pakaian semalam.


"Astaga! Kau selalu saja lupa menutup kamarmu!"


"Aku kunci kok semalam hanya saja dia datang semalam."


"Datang? Emang kau tahu dia siapa?"


"Apa kak Fadil tidak mengenalinya?" Tanyaku dingin. Rhys membuka kedua matanya dan terbangun dari tidurnya.


"Di...dia kan... dia kan sebastian!!" Teriak Fadil terkejut.


"Eehhh astaga..." gumam Rhys mencoba mencari topeng miliknya.


"Apa yang kau cari?"


"Topengku... jangan melihat wajahku!" Ucap Rhys mengambil bantal dan mencoba menutupinya.


"Kenapa? Apa hanya ada tanda itu?"


"Jangan melihat wajahku...jangan!" Ucap Rhys ketakutan, aku menarik bantal itu dan membuangnya.


"Kenapa kau begitu takut jika aku melihat wajah aslimu?"


"Tidak boleh, kamu tidak boleh tahu!" Ucap Rhys ketakutan, aku mendorongnya dan menatap Rhys serius.


"Ini bukan pertama kalinya aku melihat wajah aslimu Sebastian, aku masih ingat semua goresan tanda di wajahmu ini dan aku benar-benar jatuh cinta padamu saat melihat wajah aslimu..." gumamku mengusap pipi Rhys dan Rhys hanya terdiam meneteskan air matanya dan memelukku erat.


"Istriku... terimakasih..." gumam Rhys pelan.


"Eheeemm jadi apa yang kalian lakukan semalam?" Tanya Fadil menunjukkan surat pernikahan kontrakku dengan Rhys di atas meja.


"Menurutmu?" Tanya Rhys menciumku lembut dan aku hanya terdiam mengusap air mata Rhys.


"Hei tunggu sebentar, kalian kan bermusuhan bisa-bisanya kalian.."


"Aku sudah menceritakan kejadian sesungguhnya pada Sani jadi apa aku salah melakukannya dengan Sani?"


"Jadi... astaga Sani... aku tidak percaya kau benar-benar wanita yang sulit di tebak!" gerutu Fadil dingin.


"Aku sendiri tidak tahu kak Fadil, tapi..." gumamku menunjukkan tanda di leherku dan gelang di tanganku yang membuat Fadil terkejut.


"Tanda itu? Apa kau gila? Sani memiliki banyak tugas organisasi yang belum selesai dan kau mengikatnya? Bagaimana Sani melakukan tugasnya!"


"Dia milikku dan dia tahanan organisasi tertinggi jadi dia harus melakukannya."


"Tahanan? Tahanan apa?"


"Kelakuannya yang bermain dengan banyak pria dan mencoreng nama organisasi tertinggi.


"Tapi dengan itu dia mendapatkan informasi! Kalau kau ikat seperti itu bagaimana dia melakukan tugasnya?"

__ADS_1


"Tidak masalah, aku bisa mentoleransinya jika Sani meminta ijin padaku atas semua tugasnya jika tidak dia akan kesakitan!"


"Astaga kau benar-benar kejam Sebastian!"


"Aku memang kejam dan istriku juga tapi dia milikku sekarang jadi suka-suka aku mau melakukan apapun..." gumam Rhys mengusap pipiku dan menciumku lembut.


"... lagi pula aku tidak akan melarang Raelyn melakukan tugasnya, aku hanya takut dia tidak kembali padaku saja. Aku benar-benar jatuh hati padanya, hanya Raelyn yang mencintaiku dan menerimaku apa adanya."


"Awas saja kau sampai menggagalkan tugas Sani!" gerutu Fadil berjalan pergi.


"Tenang saja... asalkan kamu tetap berada disisiku maka aku tidak masalah apapun tugasmu istriku..." gumam Rhys tersenyum manis kepadaku dan aku hanya terdiam membenamkan wajahku di bahu Rhys.


"Ada apa sayang?"


"Sebastian... bantu aku..."


"Bantu apa?"


"Cari keberadaan Rani."


"Untuk apa?" Tanya Rhys serius.


"Ingin... menghukumnya!" Ucapku dingin.


"Tapi itu butuh waktu."


"Tidak masalah, sebelum aku menyelesaikan semua tugasku."


"Baiklah, emang tugas apa?" Tanya Rhys serius, aku menunjukkan semua kertas tugasku pada Rhys.


"Mencari tahu organisasi kegelapan?"


"Yaah kau mengambil barang langka kami!" Ucapku dingin.


"Ya! Kenapa kamu mengambilnya?" Tanyaku serius.


"Aku? Aku yang menemukannya dari tangan seorang mafia jalanan, dia berkata kalau seorang wanita dari organisasi tersembunyi yang menjualnya kepadanya, aku ingin mengembalikannya pada kalian saat pertemuan kemarin tapi ya aku terlupa karena terfokus padamu."


"Jadi bukan kamu yang mengambilnya?"


"Bukan, buat apa aku mengambilnya!" Ucap Rhys dingin.


"Oh mmm terimakasih..." gumamku mengambil kotak itu dan menyimpannya ke dalam tasku.


"Hanya terimakasih saja? Hanya itu?"


"Ya kan itu tugasku dan aku memberitahukannya padamu kan, kamu marah?"


"Menurutmu?"


"Mmmm maaf aku menuduhmu suamiku..." gumamku mencium lembut Rhys dan Rhys membalas ciumanku.


"Hmmm tidak apa, hanya kamu yang mengerti aku dan percaya padaku istriku."


"Aku mengenalmu melebisi siapapun Rhys..."


"Benar juga, kamu satu-satunya teman yang kupunya Raelyn..." desah Rhys menciumku lembut.


"Yaaahh dan kamu juga temanku yang ku cinta Rhys..." gumamku pelan.


Disaat kami berdua asik bermesraan tiba-tiba datang seorang wanita yang aku temui dengan Rhys kemarin sebelum masuk ke dalam gedung.

__ADS_1


"Kau! Kau wanita murahan! Beraninya kau menggoda kekasihku!" Teriak wanita itu kesal.


"Wanita murahan ya? Apa tidak ada kata lain selain... mu-ra-han?" Gumamku dingin.


"Kau memang murahan! Pergi kau!" Teriak wanita itu mencoba menyerangku tapi dengan cepat Rhys melukai wanita itu sambil menyembunyikan wajahnya.


"Ckckck aku tidak berbuat apapun loh, tapi priamu yang menyerangmu... aduh kasihannya..." sindirku dingin.


"Awas kau! Akan aku aduin nona Rani!" Ucap wanita itu berusaha kabur, mendengar dia menyebut nama Rani membuatku segera menghalangi dia pergi.


"Tunggu dulu! Kau bilang apa? Rani?" Tanyaku terkejut.


"Aahh ya benar juga, kau kembarannya nona Rani ya. Ciihh benar kata nona Rani kalau kau selalu merebut siapapun dan mempermainkannya hahaha!" Tawa wanita itu kencang.


"Ciiihh, katakan dimana dia berada?" Tanyaku dingin.


"Hahaha kau tidak perlu tahu. dasar wanita murahan yang..." mendengarnya terus menerus berbicara benar-benar membuatku muak, tanpa berpikir panjang aku langsung membunuhnya.


"Ciiihhh menyebalkan! Awas kau Rani! aku akan benar-benar membunuhmu!" Gerutuku kesal.


"Aaakkkhhh kesalnya aku!!" teriakku kesal.


"Hei astaga kenapa kau teri... eehh kenapa kau membunuhnya?" Tanya Fadil terkejut menatapku.


"Kak Fadil carilah Rani! Cepat!"


"Eehh memangnya kenapa?" Tanya Fadil bingung.


"Dia benar-benar keterlaluan, aku sangat muak kak fadil!" teriakku kesal, tiba-tiba Rhys memelukku erat dan mencoba menenabgkanku.


"Tenanglah istriku, aku akan membantumu jangan khawatirkan hal itu."


"Tapi dia menyebarkan gosip yang.."


"Memang dia salah tapi dia tidak salah menyebutmu..."


"Aaahh kau sama saja menyebalkan! Aku muak sebutan itu!" Teriakku berusaha melukau Rhys tapi dengan cepat Rhys menangkap senjataku dan membuangnya.


"Maaf, aku tidak akan mengatakannya lagi jika tidak suka..." gumam Rhys memelukku erat.


"Hei ada apa ini sebenarnya?" Tanya Fadil serius, Rhys menceritakannya semua dan Fadil menghela nafas dalamnya.


"Hmmm sudahlah Sani, jangan pikirkan perkataan orang. Kalau rencanamu tidak melenceng pasti tidak akan benar-benar merugikanmu."


"Tapi tetap saja melenceng kak Fadil dan Haaaahh aku benar-benar benci keluarga Li dan Rani sumpah... aku akan membunuh mereka nanti!" gerutuku kesal berusaha melepaskan pelukan Rhys tapi Rhys dengan kuat memelukku yang membuatku tidak bisa melawannya.


"Fadil, coba kau cari tahu keberadaan Rani."


"Rani? Rani Shin?"


"Ya, coba cari mana tahu Sani punya rencana yang lebih bagus..."


"Yaah nanti aku cari informasi, mmm ngomong-ngomong wanita yang kau bunuh itu adalah targetmu Sani."


"Target?" Tanya Rhys bingung


"Ya tugas dari tetua Ben..." gumam Fadil menunjukkan kertas tugasku.


"Coba lihat!" Ucap Rhys mengambil kertas itu dsn membacanya.


"Hei kau tidak boleh melihatnya!" Protes Fadil kesal.

__ADS_1


"Semua orang-orang di kertas itu adalah orang penting dalam mafia apalagi wanita yang dibunuh Sani ini. Aku berpikif mungkin mereka tahu dimana Rani berada..." gumam Rhys pelan sambil mengusap rambutku lembut sedangkan aku hanya terdiam di pelukan Rhys.


__ADS_2