
"Nah jadi...kenapa kau bisa berani datang menemui adikku? Apa kamu memiliki informasi buat kami?" gumam Soni terduduk di depanku sambil meletakkan gelas kopi di atas meja.
"Sebenarnya aku hanya ingin memberitahukan Sani saja, tapi kau juga ikut-ikutan."
"Melihat mobilmu terparkir di halaman rumah sakit, kau kira aku tidak akan waspada Han? Kau hampir saja membunuh adik kecilku tahu."
"Ya walaupun begitu, aku tidak bisa melakukannya. Aku masih mencintainya."
"Walaupun begitu dia sudah milik Ray dan kamu tahu itu Han!"
"Aku tahu, tapi aku masih mencintainya. Aku benar-benar masih mencintai Sani, aku pernah bilang kepadamu kan kalau aku benar-benar jatuh hati kepadanya."
"Ya aku ingat tapi kan sudah aku katakan dari awal kalau Sani milik Ray tapi kau masih saja tidak terima."
"Aku tahu, tapi...aku mencintainya sejak akademi dan aku..."
"Han, dia saudara tirimu juga. Sudah pernah aku ingatkan kalau kau memiliki anak dengan Sani pastinya anakmu tidak akan berumur panjang dan kalian keluarga Li tidak mendengarkan ucapanku!" gerutu Soni kesal.
"Tapi kan..."
"Sudahlah kalian berdua, jadi apa yang ingin kamu katakan Han!" gerutu Fadil kesal.
"Mmm ya... tidak hanya Samuel saja yang menjadi perencana tapi ada dua orang pria kembar yang menjadi perencana cadangan Alan, walaupun kurang bagus seperti Samuel tapi itu juga menjadi ancaman Sani apalagi mereka menargetkan Sani sebelum membunuh semua mafia terkuat bahkan aku sendiri."
"Apa Alan melakukan semua ini hanya untuk balas dendam penderitaannya kepada keluarga Li dan Khun?"
"Tidak, dia juga ingin balas dendam penderitaannya kepada seluruh keluarga tertinggi mafia dan terutama keluarga Shin juga. Apalagi dulu tuan Shin sering membuatnya menderita."
"Apa ayah ada di bawah laut Han?" tanyaku serius.
"Ya, letak persisnya hanya Alan yang tahu. Kami hanya tahunya di bawah laut saja."
"Apa kamu sama sekali tidak memiliki informasi lainnya?" tanyaku serius.
"Tidak, Alan tidak akan mudah memberitahukan semua rahasianya kepada kami dan bahkan sampai saat ini..." gumam Han pelan.
"Siapa pria kembar itu?" tanya Soni serius.
"Aku tidak begitu tahu, diantara kami tidak ada satupun yang tahu nama aslinya dan mereka hanya dipanggil angka saja... kalau tidak salah mereka berdua 65 dan 66 sih."
"Lalu kau dipanggil apa?" tanya Soni penasaran.
"Aku 90, ya lebih dulu mereka bergabung dari pada aku."
"Oh lalu apa kemampuan mereka?"
"Mereka hanya perencana tidak bisa bertarung seperti Samuel, kalau Samuel mau bekerja sama dengan kalian pasti kalian yang diuntungkan."
"Diuntungkan ya? Tidak juga, dia sama sekali tidak mau berbicara!" gerutu Fadil kesal.
"Ya pastilah, dia hanya mau mengobrol dengan Sani seorang sama sepertiku apalagi kami sama-sama mantan kekasihnya."
"Oh ya aku ingin bertanya...apa Bintang dan Alan bekerjasama dan membentuk kelompok yang bernama mafia misterius untuk perang nantinya?" tanyaku menatap Han serius.
__ADS_1
"Ya benar, akan ada lima kelompok mafia terkuat yang akan memimpin jalannya perang nantinya dan Soni juga salah satunya."
"Sebenarnya aku malas saja ikut-ikutan dan Ray juga sama tapi demi melindungi adikku jadi kami mau tidak mau akan melakukannya."
"Melindungiku untuk apa?" tanyaku terkejut.
"Kamu tidak tahu masalahnya?" tanya Han terkejut.
"Tidak, coba jelaskan!" ucapku serius.
"Haish jadi begini... kamu adalah anak keturunan ketujuh dari keluarga Li dan dari keluarga Shin, sejak zaman leluhur keluarga Li dan keluarga Shin memang tidak boleh menikah karena kami percaya anak kami tidak akan bertahan hidup lebih lama, sama seperti Satria yang pasti banyak yang mengincarnya."
"Tunggu, kenapa bisa begitu!" tanyaku terkejut mendengar penjelasan Han.
"Ya karena memang itu kenyataannya, anak yang lahir dari keluarga Shin dan Li akan menjadi penguasa mafia di seluruh dunia mafia. Sama sepertimu yang saat ini menjadi penguasa dunia mafia."
"Tapi kan berbeda dengan Satria..."
"Sani, Satria juga sama. Hanya saja dia laki-laki dan dia di usia kecilnya saja sudah hebat apalagi kalau dewasa nantinya. Makannya Alan menginginkan Satria mati karena Alan tidak mau Satria bisa mengusai mafia seperti leluhur kita dulu."
"Tapi Han kenapa aku..."
"Apa kau tidak sadar kenapa kehadiranmu membuat keluarga Shin tidak menyukaimu dan kamu banyak musuh di dunia mafia? Itu karena kamu keturunan Shin dan Li."
"Rina juga sama tapi kenapa Rina..."
"Walaupun kalian kembar tapi kalian berbeda, Rina sudah resmi jadi keluarga Li sedangkan kamu masih keluarga Shin walaupun Rina masih keluarga Shin tapi dia tetap tidak akan menjadi target apalagi..kau tahulah Rina seperti apa? Dia sama sekali tidak kuat dan bisa dikatakan benar-benar pecundang, jadi siapa yang mau melawan Rina."
"Oh ya Han kau sudah mendapatkan dimana letak keluarga Khun sebenarnya?"
"Tidak seluruhnya, tapi kebanyakan mereka menjadi tahanan Alan. Tapi karena Ray bisa mengalahkan Alan jadi mereka bisa bebas keluar masuk dari wilayah Alan."
"Hanya itu?"
"Ya hanya itu, tapi jangan beritahukan dia, takutnya..."
"Ya aku tahu. Apa hanya itu yang ingin kamu katakan?" tanya Soni serius.
"Tidak sebenarnya aku hanya ingin memberitahukanmu masalah lainnya tapi sepertinya aku telah kehabisan waktuku..." gumam Han memberikan sebuah buku kepada Soni.
"Oh ya Sani, walaupun kamu milik Ray tapi aku masih mencintaimu. Kalau saja kamu bukan saudara tiriku dan aku bisa lebih hebat darimu aku benar-benar akan merebutmu, tapi aku akan berusaha merebutmu kembali malaikat kecilku..." gumam Han menciumku dan pergi turun dari balkon.
"Astaga dia selalu seperti itu!" gerutuku pelan.
"Apa itu Soni?" tanya Fadil penasaran.
"Catatan Han."
"Ohh nanti jelaskan saja, aku malas membaca buku yang segitu tebalnya."
"Kau masih saja malas Fadil!" sindir Soni dingin.
"Ya kau tahu lah aku emang malas dari dulu."
__ADS_1
"Eehh kakak aku boleh tanya tidak?" tanyaku pelan.
"Tanya apa?"
"Dulu saat menghilangnya keluarga Khun apa kak Fiyoni, Kak Sino dan Nana diumur masih anak-anak?" tanyaku pelan.
"Ya benar, kedua kembar itu diumur 7 tahun dan Nana diumur 5 tahun, seumuran denganmu."
"Tapi kenapa Nana seumur itu bisa bermain dengan ayahnya sendiri?" tanyaku penasaran.
"Kenapa kamu bertanya itu Sani?" gumam Fadil serius.
"Hanya penasaran saja."
"Ya benar, Nana saat itu umur 5 tahun. Sebenarnya hanya gadis polos tapi karena ayahnya yang dulu memang seperti suka bermain dengan wanita entah dewasa maupun anak-anak makanya ayahnya di kenal sebagai pedofil, jadi ya seperti itu apalagi ditambah keluarga Khun takut dengan Alan dan mencoba agar Ray yang menyelamatkan mereka semua dari Alan tapi Ray sendiri yang mengatakan kepada Alan untuk membunuh saja mereka dan dia tidak ingin bertemu keluarganya."
"Kenapa?"
"Dia sudah benar-benar sakit hati, saat dia sudah memaafkan keluarganya tapi malah keluarganya menghilang dan membuatnya di sangkakan menjadi anak yang membawa bencana yang membuatnya sangat membenci keluarga Khun."
"Jadi begitu ceritanya ya?"
"Ya, itulah kenapa Nana selalu suka bermain dengan pria karena dia benar-benar sudah pernah melakukannya dengan ayahnya di masa anak-anaknya."
"Oh mmm..." desahku pelan.
Krriiinnnggg....
Terdengar handphoneku berbunyi kencang, aku mengambil handphoneku dan melihat Ray yang meneleponku dengan video call.
"Ya kak Ray...ada apa?" tanyaku menatap wajahnya yang tampan.
"Sayang kamu kemarilah sebentar tetua ingin bertemu denganmu."
"Tetua siapa?"
"Tetua mafiamu dan juga dengan tuan Rendi."
"Tapi kan aku."
"Biar Soni dan Fadil yang menemanimu, baiklah aku tunggu sayang."
"Baiklah..." desahku menutup telepon itu.
"Tetua dan guru Rendi ingin bertemu?" tanya Fadil terkejut.
"Ya, jadi Ray menyuruh kita kesana."
"Haish emang guru selalu merepotkan!" gerutu Fadil mengganti kantong infusku dengan kantong infus yang kecil jadi bisa di bawa kemanapun.
"Baiklah pasti ada hal yang penting makanya mereka yang bertemu dengan kalian. Ya sudah mari kita pergi..." gumam Soni menggandeng tanganku keluar dari ruang perawatan itu.
Sebenarnya aku ingin tahu lebih lanjut mengenai informasi dari Han tapi dia selalu saja bilang kehabisan waktu yang membuatku kesal dan membuat rasa penasaranku yang belum ku tanyakan belum bisa ku sebutkan tapi nanti saja saat bertemu dengannya lagi nantinya.
__ADS_1