Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 91 : Penyesalan


__ADS_3

"Heei kalian berdua apa tidak capek terus menangis di makam Satria!" gerutu Soni berjalan kearah kami berdua, tanpa memperdulikannya Han terus berteriak memanggil nama Satria sedangkan aku, aku hanya terdiam sambil terus menangis.


"Astaga, aku tidak dipedulikan!" gerutu Soni kesal.


"Percuma kau protes kalau mereka sesedih itu..." gumam Fadil menyelimuti tubuhku dengan jas hitamnya.


"Haish padahal kalian bermusuhan tapi di makam Satria kalian berusaha seakur mungkin ya, sikap kalian masih saja seperti dulu..." desah Soni terduduk di antara aku dan Han.


"Satria...paman juga menjengukmu, apa kamu tenang di sana? Benarkan ucapan paman kalau ayah dan ibumu akan menjengukmu walaupun kamu tiada, ayah dan ibumu dan semua orang mencintaimu Satria. Kamu anak yang baik, kamu benar-benar anak yang sangat baik. Satria... paman akan menepati janji paman untuk menjaga ayah dan ibumu ini, kalau mereka bertengkar agak susah untuk paman melerainya dan Satria tahu akan hal itu kan? Satria...tenang saja ibumu makan dengan baik kok kalau ibumu tidak makan paman yang akan memarahinya, jangan khawatir dengan ayah dan ibumu, ada paman Soni dan paman Fadil yang akan menjaga mereka. Kalau terjadi sesuatu dengan ayah dan ibumu...paman meminta tolong padamu... jaga mereka juga ya, paman takut kalau paman tidak bisa menjaga ayah dan ibumu jadi... jaga mereka juga ya...Satria..." gumam Soni pelan dan menaburkan bunga di atas makam Satria.


"Huufftt baiklah... apa acara kalian sudah selesai?" gumam seorang pria di belakang Han. Aku menoleh ke belakang Han dan melihat Wan berdiri dengan tatapan dinginnya bersama seorang anak perempuan yang digenggamnya. Wan adalah wakil dari Han yang sejak dulu.


"Aah kamu juga datang ya Wan..." gumam Soni beranjak dari duduknya.


"Ya mau bagaimana lagi, dia mengajak anaknya dan aku jadi di suruh menjaganya."


"Hahaha kamu menjadi baby sister sekarang ya, bagus juga... berhentilah jadi wakil ketua saja kau!" tawa Soni kencang.


"Kamu masih saja suka mengejek orang Soni!" gerutu wan kesal.


"Mengejekmu...adalah hal biasa untukku..." gumam Soni menghidupkan rokoknya.


"Ngomong-ngomong... dia siapa?" tanya Soni dingin.


"Dia Putri Li...anaknya Han dengan Lia."


"Oh anaknya Han ya..." desahku dalam hati.


"Oh ya... Sani... lama tidak berjumpa denganmu."


"Yaah... lama tidak berjumpa Wan..." gumamku beranjak dan berlutut di depan Putri.


"Siapa namamu?" tanyaku pelan.


"A...aku Putri Li..." gumam Putri bersembunyi di kaki Wan.


"Oh Putri ya, aku Sani Shin, senang bertemu denganmu Putri..." gumamku mencoba tersenyum ke arah Putri.


"Mmm paman... bagaimana aku harus memanggilnya?" tanya Putri pelan.


"Panggil dia tante saja."


"Mmm paman bolehkah aku memanggilnya ibu..." gumam Putri yang membuat semua orang terkejut.


"Kenapa?" tanya Wan terkejut.

__ADS_1


"Karena...Putri... sayang dengan ibu..." gumam Putri memelukku erat.


"Eeehh...hmmm..." desahku mengusap rambut Putri.


"Baiklah, kamu boleh memanggilku siapapun. Kalau ayahmu jahat... beritahukan padaku ya."


"Baik ibu... ibu sangat cantik, kalau ibu adalah ibuku pasti Putri akan sangat senang."


"Hmmm kenapa Putri sangat senang?"


"Karena... ibu berbeda dengan ibuku yang jahat, ibuku selalu menyakiti ayah dan sering kali membuat ayah menangis. Putri pernah mendengar ayah selalu berbicara sendiri dengan sebuah foto yang disembunyikan oleh ayah di bawah meja. Saat Putri melihat foto itu dan Putri melihat wajah ibu di foto yang di sembunyikan ayah."


"Foto...fotoku?" tanyaku terkejut. "Han masih menyimpan fotoku? Kenapa dia masih menyimpannya?" gumamku dalam hati.


"Iya ibu, apa Satria itu anak ibu dan ayah?" tanya Putri polos.


"Mmm ya Satria anak ayah dan ibu, kenapa kamu tahu?"


"Ayah yang menceritakannya kepada Putri ibu."


"Oh begitu ya...hmmm jadilah anak yang kuat ya Putri... ibu percaya kamu bisa sehebat ayah. Jangan lupa berlatih ya."


"Baik ibu..." gumam Putri menciumku lembut.


"IBBBUUU!!" teriak Pangeran berlari kearahku yang membuat Putri terkejut.


"Oh mmm dia Pangeran Khun, dia anak ibu... oh ya Pangeran, dia Putri Li..." gumamku mengenalkan Pangeran dengan Putri.


"Aku Putri...salam kenal Pangeran."


"A...aku Pangeran...mmm salam kenal juga..." gumam Pangeran pelan dan mereka berdua saling mengobrol bahkan tampak akur seperti layaknya teman.


"Ternyata mereka bisa seakur itu ya Sani, bahkan memanggilmu Ibu padahal Putri baru pertama kali bertemu denganmu..." gumam Han mengusap air matanya.


"Ya aku juga tidak tahu..." desahku pelan, ini bukan kali pertama aku dipanggil ibu. Putri Khun...anak dari Fiyoni juga memanggilku Ibu tanpa disuruh siapapun, aku juga sangat menjaga Putri dari pada Satria... benar-benar kesalahan seorang ibu, lebih mementingkan anak orang lain dari pada anak sendiri yang membuat anak sendiri meninggal seperti yang dialami Satria.


"Baiklah, mari pergi Putri. Sudah waktunya pergi!" ucap Wan menatap jam di tangannya.


"Oh mmmm Pangeran, aku pergi dulu ya. Semoga kita bertemu lagi... Ibu Putri pergi dulu ya..." gumam Putri memelukku dan berjalan pergi. Tiba-tiba Han membungkukkan badannya dan mengusap rambut Pangeran.


"Jadilah kuat ya, jaga ibumu...jangan sampai ibumu terluka...apa kamu mengerti..." gumam Han tersenyum pelan dan berjalan pergi mengikuti Wan dengan Putri.


"Mmm ibu dia siapa?" tanya Pangeran pelan.


"Dia... ayahnya Satria."

__ADS_1


"Satria anaknya ibu itu?" tanya Pangeran serius.


"Ya... dia ayahnya dulu. Makanya dia datang kemari juga..." gumamku mengusap air mataku dan berjalan ke makam Satria.


"Satria... ibu pergi dulu ya... ibu akan menjengukmu lagi nanti, jadi jangan khawatir ya..." gumamku pelan dan menggandeng tangan Pangeran pergi dari pinggir tebing itu.


"Ayah!" teriak Pangeran melepaskan genggamanku dan berlari ke arah Ray.


"Sudah selesai?" tanya Ray menatapku dingin.


"Ya...sudah..." gumamku pelan.


"Ayah...ayah... tadi Pangeran bertemu dengan Putri."


"Putri? Gadis kecil tadi?"


"Ya ayah, dia baik tapi dia sangat cerewet. Tadi Putri memanggil ibu dengan sebutan ibu juga sama seperti Pangeran."


"Oh benarkah? Apa Pangeran tidak marah Putri memanggil ibu sama seperti Pangeran."


"Tidak, yang penting ibu tetaplah ibuku..." gumam Pangeran senang.


"Hmmm.." desah Ray mencium Pangeran lembut.


"Di dekat sini ada taman bermain, Pangeran mau kesana?" tanya Ray serius.


"Ya, Pangeran mau ayah!" ucap Pangeran senang.


"Baiklah, mari kita kesana!" ucap Ray menggendong Pangeran dan berjalan mendahuluiku. Sesekali aku menghentikan langkahku dan menatap makam Satria, meninggalkan Satria kembali walaupun Satria sudah tiada membuatku benar-benar sedih. Mengetahui aku terus terhenti membuat Soni menepuk bahuku dan menarikku pergi dari jalan setapak ini menuju ke dalam mobil.


Di dalam mobil Pangeran terus bercerita dengan Ray tentang Putri dan tentang Han. Mungkin karena Pangeran sebelumnya tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya dan pertemuan dengan Putri adalah kali pertama Pangeran bertemu dengan orang asing yang membuatnya sangat senang.


Aku menatap keluar jendela mobil dan sesekali meneteskan air mataku, benar... kehilangan anak membuat aku benar-benar rapuh kembali, walaupun sekarang sudah memiliki Pangeran tapi... aku sangat merindukan Satria yang sering manja kepadaku. Satria dan Pangeran benar-benar berbeda bagiku. Pangeran lebih dekat dengan Ray sedangkan Satria lebih dengan denganku dan dengan Han, andaikan aku bisa menyelamatkan Satria. Aku pasti sudah menjaganya dengan baik untuk terakhir kalinya, tapi mau bagaimanapun semua sudah terlambat dan aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.


"Baiklah kita turun Pangeran..." gumam Ray mengagetkanku, Ray kembali menggendong Pangeran bersama dengan ketiga kakakku turun dari dalam mobil.


"Kamu gak turun Sani?" tanya Fadil menatapku.


"Tidak...aku tidak berselera..." gumamku menatap keluar jendela dan kembali melamun.


"Hmmm baiklah, aku turun ya, aku lapar ingin makan.." gumam Fadil kekuar dari dalam mobil.


"Hmmm... taman bermain ya, dulu...aku tidak sempat mengajak Satria pergi ke taman bermain..." gumamku pelan.


"Oh astaga ..memang aku bukan ibu yang baik..." gumamku membenturkan kepalaku di jendela.

__ADS_1


Rasa penyesalan terus datang menghantui hati dan pikiranku, aku benar-benar ingin balas dendam atas kematian ketiga anakku juga, aku tidak peduli aku akan mati atau tidak yang terpenting, aku harus membalaskan dendam atas kematian seluruh keluarga Shin dan kematian tiga anakku serta menyelamatkan ayah dari genggaman Alan itu.


__ADS_2