
Disaat aku sedang menikmati waktu tidurku ini, aku terkejut mendengar suara Pangeran yang berbincang-bincang di sekitarku. Aku membuka kedua mataku dan melihat Pangeran yang berbincang-bincang dengan Ray dengan santainya.
"Ibu...ibu sudah bangun?" ucap Pangeran mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Mmm ya, bagaimana kondisi Pangeran?"
"Pangeran sehat ibu, oh ya baru saja Pangeran bersama ayah membuatkan sup ayam buat ibu. Ibu makan ya..."
"Benarkah?" Gumamku mencoba terduduk dan Ray membantuku terduduk.
"Hati-hati sayang."
"Mmm, terimakasih kak Ray..." gumamku pelan.
"Pangeran suapi ya ibu!" gumam Pangeran menyuapiku perlahan-lahan.
"Bagaimana rasanya ibu?" Tanya Pangeran pelan.
"Rasanya enak, Pangeran pintar memasak ya..." Pujiku pelan yang membuat Pangeran sangat senang.
"Ibu mau tambah lagi?" tanya Pangeran serius.
"Tidak, ibu sudah kenyang anakku..." gumamku pelan.
"Baiklah ibu istirahat lagi ya, Pangeran mau belajar dulu!" Ucap Pangeran berjalan pergi dari kamar meninggalkan aku bersama dengan Ray.
"Sayang kenapa kamu terlihat lemas seperti itu?" Tanya Ray khawatir.
"Mmm tidak ada kak Ray, aku hanya lelah saja."
"Oh ya sayang, aku ingin memberitahukanmu sesuatu."
"Tentang apa?"
"Tentang ini..." gumam Ray memberitahukanku sebuah surat yang menyatakan aku keguguran.
"K-keguguran? Bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut.
"Saat kamu pingsan terkena bubuk racun itu, kamu terkena pendarahan hebat... kamu menolak semua darah bahkan darahku jadi kamu selama dua hari seperti orang mati kehabisan darah, tapi tidak aku sangka kamu bisa sadar sayang, benar-benar membuatku khawatir!" Ucap Ray memelukku erat.
"Oh mmm begitu ya..." desahku pelan, "Sebenarnya apa niatmu Vincent?" Gumamku dalam hati.
"Ada apa sayang?"
"Mmm tidak ada, aku hanya bersedih saja."
"Hmmm yang sabar ya istriku..." gumam Ray mengusap pipiku lembut dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Oh ya kak Ray bolehkah aku bertemu ayah?"
"Ayah kandungmu?"
"Ya benar, boleh kan?" tanyaku pelan.
"Kalau itu..."
"Tentu saja boleh, ayah ingin bertemu denganmu malam ini!" Ucap Alvaro memotong pembicaraan Ray.
"Hei, aku belum menyetujuinya" Protes Ray kesall.
"Dia adikku! Buat apa dia menunggu persetujuanmu jika hanya ingin bertemu ayah!" Protes Elvaro menatap Ray dingin.
"Aku suaminya jadi dia harus menunggu keputusanku!"
"Lebih baik kau urusi urusanmu yang belum selesai itu!" Ucap Alvaro dingin.
__ADS_1
"Dia baru sadar, tidak baik jika bepergian!!"
"Kak Ray aku tidak apa, aku hanya ingin bertemu ayah saja."
"Tapi kamu baru sadar dan aku ada pertemuan seminggu ini!"
"Tidak apa, aku hanya di rumah bersama kakak dan ayah aja."
"Nanti kalau musuh datang bagaimana?" Tanya Ray serius.
"Tenang saja ada kakak kok."
"Apa kamu yakin mereka bisa melindungimu?"
"Aku yakin, mereka kakak kandungku jadi mereka akan melindungiku!!"
"Oh mmm baiklah, aku akan mengijinkanmu tapi awas saja kalau sampai kamu terluka!"
"Tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri..."
"Hmmm baiklah, aku yang akan membawa Pangeran jadi kamu jangan khawatir."
"Baiklah."
"Kapan kalian akan berangkat?" Tanya Ray serius.
"Nanti, kau pergi sana. Pertemuan itu penting tahu!"
"Ciiihhh itu pertemuanmu juga!"
"Kan aku bilang tidak setuju dan kau yang setuju jadi tanggungjawablah!" Gumam Alvaro tersenyum dingin.
"Kau masih saja bawel!" Gerutu Ray kesal.
"Aku mungkin akan mengikuti pertemuan selama seminggu atau mungkin lebih sayang..." gumam Ray menggenggam erat tanganku.
"Baiklah..." gumam Ray mencium keningku dan berjalan pergi.
"Haaaahhh..." desahku memejamkan kedua mataku.
"Ada apa adikku?" Tany Alvaro bingung.
"Kakak ayo berangkat."
"Tidak perlu, ayah sudah ada disini..." gumam Alvaro membuka pintu balkon dan muncul seorang pria paruh baya berjalan ke arahaku dan memelukku erat.
"Ayah? Apa anda ayahku?" Tanyaku pelan.
"Ya aku ayah kandungmu, aku sangat merindukanmu nak!" Ucap ayah bahagia.
"Aku juga merindukan ayah..."
"Tidak aku sangka kakakmu bisa menemukanmu sebelum aku mati..."
"Ayah, kenapa ayah berkata seperti itu?" Tanyaku serius dan ayah hanya terdiam.
"Jawab ayah! Kenapa ayah mengatakan kalau...."
"Itu karena kebodohanmu!" Ucap Alvaro menatapku dingin.
"S-Salahku? Kenapa?"
"Kenapa? Astaga! Kau bermain dengan pria sedangkan kau dijodohkan dengan pria lain yang...ya sudahlah percuma saja kalau kamu..."
"Aku tahu, jodohku Vincent kan? Sania yang mengatakannya padaku!"
__ADS_1
"Sania?" Tanya ayah terkejut.
"Ya ayah, aku bertemu dengan Sania saat aku mati suri kemarin dan... ayah apa benar aku ayah jodohkan dengan Vincent?"
"Ya benar. Ayah menjodohkanmu dengan Vincent."
"Kenapa ayah menjodohkanku dengan dia?" Tanyaku serius.
"Alasan balas budi... yah itu alasannya, Vincent memang dari mafia misterius, dingin, menakutkan, dan sulit di cari tapi dia sangat baik. Ayah berhutang budi padanya karena pernah menyelamatkan ayah saat kamu masih di dalam kandungan."
"Menyelamatkan ayah?"
"Ya, ayah terkena racun dan saat itu musuh terus menyerang ayah, yaah ayah benar-benar merasa akan mati saat itu, tapi tiba-tiba Vincent datang menyelamatkan ayah."
"Hanya menyelamatkan ayah saja? Dan menjodohkanku dengan Vincent?" Tanyaku
serius.
"Yaah kelihatannya sepele tapi racun itu adalah racun level tertinggi dan tidak ada obat penawarnya..."
"Kalau begitu, bagaimana Vincent menyelamatkan ayah?" Tanyaku serius.
"Dengan bubuk yang ada di gulungan itu Sani..." gumam Fadil berjalan masuk ke dalam kamar.
"Siapa kamu?." Tanya ayah serius.
"Dia wakil mafiaku, namanya Fadil ayah..." gumamku pelan.
"Salam kenal tuan Shin!"
"Oh begitu ya, salam kenal juga nak. Terimakasih ya sudah menjaga gadis kecilku ini..." gumam ayah senang.
"Tidak masalah tuan Shin, ini sudah tugas bagi saja pribadi."
"Oh ya ayah tahu tidak Vincent dimana?" Tanyaku serius.
"Beberapa jam lagi akan ada pertemuan rahasia."
"Pertemuan rahasia? Seperti apa itu?"
"Yaaahh tidak tahu, tapi ayah punya undangannya."
"Ayah, biar Sani yang berangkat, ayah tidak perlu ikut pertemuan itu."
"Apa kau gila? Kau menyakiti hatinya, kalau dia akan membunuhmu bagaimana?" Ucap Alvaro menatapku dingin.
"Aku memang salah padanya tapi, aku akan mencoba meluluhkannya yah mana tahu berhasil."
"Kalau tidak bagaimana?"
"Ya aku akan berusaha apalagi ini juga kesalahanku."
"Baiklah, ini beberapa pembahasan penting dipertemuan itu dan ini lencana ayah..." gumam ayah memberikanku sebuah kotak dan beberapa lembar kertas.
"Ini kak Fadil, aku memiliki rencanaku sendiri..." gumamku memberikan beberapa lembar kertas itu pada Fadil.
"Laah kan kau ketuanya, masa dia yang..." gumam Elvaro serius.
"Aku malas membahas sesuatu di pertemuan yang membosankan, lagi pula aku lebih suka langsung ke target dari pada mendengarkan pertemuan itu..." gumamku santai.
"Haish kau sama kayak Alvaro saja, ya sudah kamu harus hati-hati. Nanti setelah selesai datang saja ke rumah, ini alamatnya..." gumam ayah memberikanku alamat rumahnya.
"Eeehh dimana ini ayah? Aku tidak mengerti!"
"Ya sudah nanti telepon kakak saja biar kakak jemput." gumam Alvaro mengambil ponsel milik Fadil dan mengembalikannya.
__ADS_1
"Baiklah terimakasih kak..." gumamku senang, yah entah akan berhasil atau tidak tapi aku ingin mencobanya untuk kali ini saja.