
Disaat aku sedang berduaan dengan Saputra, tiba-tiba Fadil masuk ke dalam kamar dengan wanita dan pria yang pernah aku temui di jalan bersama dengan Saputra itu, tatapan Fadil serius dan tanpa berkata apapun hanya memberikanku sebuah kertas di tangannya.
"Apa ini kak Fadil?" Tanyaku bingung, aku membaca kertas itu dan ternyata surat dari tetua organisasi tersembunyi yang memintaku ikut ke sebuah pertemuan penting dan ada informasi mengenai tugas yang akan aku lakukan nantinya.
"Apa itu sayang?" Tanya Saputra merebut kertas milikku dan membacanya dengan serius.
"Tugas? Tugas apa?" Tanya Saputra serius.
"Hanya tugas yang..."
"Kamu tidak perlu tahu!" Ucap Fadil dingin.
"Aku suaminya, untuk apa kau melarangku mengetahui tentang tugas istriku?" Tanya Saputra dingin.
"Kau raja kerajaan Arre dan kau selalu menjatuhkan hukuman berat bagi mafia yang menjalankan tugas, jadi untuk apa kau ingin tahu!"
"Aku tidak akan mengurusi tugas kalian, aku hanya ingin tahu saja."
"Tidak! Hukumanmu sangat berat Redgar! Aku tidak akan membiarkan Sani terbunuh karena hukumanmu!"
"Hukumanku ya... itu tergantung apa tugas dari istriku."
"Tugasku intinya... Aku hanya ingin membalas dendam kematian Lani! Aku sangat membenci Rani! Aku sangat membencinya! Apa itu salah!" Teriakku kesal, aku menatap Saputra dan saputra hanya menghela nafasnya.
"Rani ya? Aku pernah mendengar nama itu..." gumam Saputra mengambil buku hitam di balik pakaiannya dan membuka satu persatu lembar buku itu dengan tatapan serius.
"Rani Putri Shin? Emang ada apa dengan dia?" Tanya Saputra serius.
"Dia kembaranku, aku memiliki tiga kembar dan aku kembar pertama. Dulu dia mengelabuhi adik kembarku yang bernama Lani agar Lani mau bermain dengan Rhys sedangkan Rani bermain dengan Ryu Lucian bahkan saat ini.. Rani menyebarkan aibku dan membuat semua orang membullyku! Apa kau menyuruhku harus biarkannya? Aku membencinya! Aku..."
"Aku mengerti, kalau itu alasanmu aku tidak akan ikut campur."
"Benarkah?"
"Tentu, malah aku ingin bekerjasama denganmu."
"Bekerja sama? Apa kau serius?" Tanya Fadil serius.
"Tentu saja, dia masuk ke dalam daftar hitam kerajaan Arre dan organisasi Kemiliteran mafia. Kami berusaha melakukan apapun tapi hasilnya tetap saja nihil."
"Benarkah? Kamu memiliki informasi tentang Rani?" Tanyaku serius
"Tidak, adik kecilku yang memilikinya..." ucap Saputra menatap Raechan yang terduduk di jendela.
"Raechan?" Ucapku terkejut.
"Ciihh kau masih saja menyebalkan Redgar! Dia milikku!" Gerutu Raecan kesal.
"Aku bertemu dengannya sebelum kau dan dia milikku!" Ucap Saputra dingin.
"Tidak bisa! Dia milikku!"
"Dia milikku! Kau tidak berhak memilikinya! Hanya aku yang boleh memilikinya!" Protes Saputra kesal dan mereka berdua berdebat hanya demi memilikiku.
__ADS_1
"Sudah! Rehan! Saputra! Kalian masih saja seperti anak kecil!" Gerutu seorang pria paruh baya masuk ke dalam kamar.
"Dia yang memulainya ayah!" Protes dua pria tampan itu kesal.
"Hmmm Rehan, sudah ayah bilang kan kalau kakakmu membutuhkan Sani dan Sani yang selalu menyelamatkan kakakmu. Kalau bukan karena Sani pasti kakakmu akan mati dari dulu!"
"Mau mati atau tidak! Rehan tidak peduli!" Gerutu Raechan dingin.
"Haish Rehan ingat..." ucap pria paruh baya itu menatap Raechan serius.
"Tapi... haish terserahlah!" Gerutu Raechan kesal.
"Oh ya mmm lama tidak bertemu denganmu Sani? Bagaimana keadaan ayahmu?" Tanya pria paruh baya itu menatapku serius.
"Kabarku baik saja, ternyata kau selama ini berada di kerajaanmu saja ya..." ucap seorang pria berjalan dari arah balkon, aku membalikkan badanku dan melihat ayah yang sedang berjalan masuk bersama kedua kakakku.
"A-ayah?" ucapku terkejut.
"Yaaah begitulah, mengurus anak laki-lakiku membuatku tidak berani untuk keluar dari kerajaan."
"Apa penyakit dia kambuh?"
"Yaah menurut bawahanku kalau kemarin penyakitnya kambuh tapi untung ada Sani jadi tidak menambah korban jiwa yang banyak lagi. Yaaah andaikan saja Sani bisa menjadi istri Saputra."
"Oh benarkah? Tapi anakku sudah aku jodohkan dengan..."
"Ini juga demi hidup anak kesayangan kita Valo Shin, apa kau lupa perjanjian kita?" Ucap pria paruh baya itu serius.
"Perjanjian kita ya? Perjanjiannya kalau Rani akan menikah dengan Rehan dan Lani akan menikah dengan Saputra. Itu perjanjian kita."
"Yaaahh aku saja sudah lama tidak bersama anakku Sani setelah bertengkar hebat dengan istriku. Aku pikir kalau Revaro akan menjaga Sani tapi dia malah memilih untuk melindungi ibunya dan yaah selama tidak denganku anakku ini sangat menderita dengan ayah tirinya..." ucap ayah pelan.
"Dan itu yang membuatku menyesal selama aku berada di surga ayah, penderitaan adikku benar-benar tidak akan aku maafkan sampai kapanpun!" Ucap seseorang yang terduduk do jendela, aku menoleh ke jendela dan terkejut melihat pria yang memiliki wajah seperti Revaro.
"Siapa kamu?" Tanya semua orang serius, aku melepadkan pelukan Saputra dan berlari memeluk pria itu
"K-kakak!" teriakku kencang dan memeluk pria itu erat.
"Eehh kakak?" Tanya ayah dan kedua kembarku terkejut.
"Ya, dia kak Revaro ayah!"
"Revaro sudah lama mati. Bagaimana bisa..."
"Dia inkarnasi kak Revaro, saat aku mati suri teerakhir kalinya... aku bertemu kak Revaro dan ibu, asalnya aku tidak tahu tapi ibu mneveritakan dengan kak Revaro bahkan kak Revaro memilih berinkarnasi untuk menjagaku dari pada hidup bahagia di surga. " gumamku pelan.
"Melihat kau terus menderita membuatku tidak terima Sani! Aku sangat dendam dengan orang-orang yang menyakitimu, kadang aku berpikir apa yang membuatmu tidak berani melawan mereka? Aku benar-benar gemas ingin menarik telingamu disaat kau hanya mengalah ketika banyak orang-ornag yang menyakitimu!" Gerutu Revaro menarik telingaku.
"A-Aduuhh sakit kakak!" Rengekku kencang tapi tiba-tiba Saputra menepis tangan Revaro dan memelukku erat.
"Beraninya kau menarik telinga istriku!" Gerutu Saputra dingin.
"Yaah kau kira melihat adikmu menderita tidak membuatmu kesal ya Saputra? Kalau kakakmu tahu kau sangat bodoh tidak menjaga seseorang yang kau cintai dan menjadi pengecut selama hidupmu pasti dia akan marah besar."
__ADS_1
"Kakak ya? Kakakku sudah lama menibggal jadi buat apa dia memarahiku?"
"Kau kira hanya aku yang melakukan inkarnasi? Kakakmu juga. Lagi pula..." gumam Revaro menatap seorang wanita di sebelahnya dan wanita itu langsung menarik telinga Saputra.
"Kau masih saja lemah ya adik kecilku!" gerutu wanita itu kesal.
"A-aduuhh..." rintih Saputra pelan.
"Tunggu dulu... b-bagaimana kalian bisa hidup lagi?" Tanya ayah terkejut.
"Dan kalian... kenapa bisa menggunakan tubuh kalian? Apa ini mimpi?" Tanya pria paruh baya di depanku dengan terkejut.
"Yaah sebenarnya kami bisa saja inkarnasi di tubuh bayi yang baru lahir tapi... mayat kami di curi dan diawetkan oleh seseorang yang membuat kami bisa inkarnasi di tubuh kami sendiri..." ucap Revaro pelan.
"Benarkah? Siapa yang mencurinya?"
"Seorang pria tua, dia benar-benar merawat tubuh kami dengan baik dan kami berterimakasih padanya. Tapi saat melihat kami kembali hidup, pria tua itu terkejut dan meninggal seketika..." ucap wanuta di samping Revaro serius.
"Ya karena kau selalu bertanya berulang kali dimana senjata yang bisa membunuh orang kepadanya pastinya dia ketakutan bodoh!" Ucap Revaro dingin.
"Kau tahulah bagaimana aku, kau mencintaiku juga karena sikap bodohku kan?"
"Idih sejak kapan aku mencintaimu!" Gerutu Revaro kesal dan mereka berdua kembali berdebat.
Aku menarik pakaian Revaro dan memberikan kertas tugasku dari tetua kepada Revaro, Revaro hanya menghela nafas panjangnya dan menatapku serius.
"Apa kamu benar-benar ingin membunuhnya?"
"Ya."
"Apa kau yakin bisa melakukannya? Dia kembaranmu loh!"
"Aku tidak peduli!"
"Hmmm oh ya sebelum inkarnasi aku bertemu dengan Lani saat di surga."
"Benarkah?"
"Yaah dan dia bilang kalau dia sangat menyayangi kalian dan meminta agar aku tidak membiarkanmu membunuh Rani."
"Tapi aku tidak peduli! Aku harus membunuhnya!"
"Tapi Sani..."
"Kalau kakak tidak bisa melajukan janji kakak untuk melindungiku dan membantuku untuk balas dendam, maka... aku akan melakukannya sendiri dan aku tidak akan menganggap kak Revaro sebagai kakakku!" Teriakku kesal, mendengar ucapanku Revaro langsung menarikku dan memelukku erat.
"Haish baik-baik kakak akan membantumu seperti janjiku padamu adikku, jangan kau buang kakakmu ini..." rengek Revaro pelan.
"Eehh kau takut dengan Sani?" Tanya Saputra terkejut.
"Bukan takut sih lebih tepatnya... aku hanya merasa bersalah padanya. Aku membuat adik kecilku menderita seumur hidupnya, semenjak kematianku dan ibu... Sani benar-benar hidup sendiri dan menderita. Apapun penderitaannya Sani hanya terdiam tanpa melawan sama sekali, dia gadis kecil yang lemah, aku benar-benar bersalah meninggalkannya dan bahkan kedua adikku yang bodoh itu sama sekali tidak berusaha mencari dimana Sani dan membiarkannya hidup menderita!" Gerutu Revaro kesal.
"Kami aja baru menemukannya ya kak!" Protes Alvaro kesal.
__ADS_1
"Baru menemukannya? Banyak musuh yang mengincar kematiannya dan kau tidak becus untuk mencarinya Alvaro!" Gerutu Revaro kesal dan mereka berdua kembali bertengkar dan Elvaro mencoba melerai mereka berdua.
Melihat pertengkaran Revaro dengan Alvaro mengingatkanku saat aku pernah bertengkar dengan Rani disaat aku kecil dan Lani sering melerai pertengkaran kami. Entah pertengkaran apa tapi aku ingat kalau aku sering bertengkar dengan Rani dan sama sekali kami tidak pernah akur.