Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 210 : Memutuskan Kembali


__ADS_3

Setelah kegiatan yang tidak manusiawi itu membuatku benar-benar tidur karena kelelahan, saat terdengar suara dengkuran di telingaku membuatku terbangun, aku terduduk dan melihat dua kembarku sedang tidur bersama Valentino di tempat tidur sedangkan aku tertidur di sofa dan Fadil serta Cakra yang tertidur di bawahku. Kebanyakan meminum obat perangsang membuat kepalaku sedikit pusing, aku melangkahkan kakiku keluar ruang bawah tanah menuju ke lantai atas dengan terhuyun-huyun. Aku pergi ke kamar Satria dan membangunkannya.


"Eehh i-ibu ada apa?" Tanya Satria mengusap kedua matanya.


"Kamu mau tetap disini atau ikut dengan ibu?"


"Kemana ibu?"


"Pergi yang jauh, kalau kamu tidak mau ibu akan pergi sendiri..." gumamku pelan dan berjalan pergi.


"T-tidak ibu! Aku ingin pergi bersama ibu!!" Teriak Satria mengikutiku dari belakang, dengan tubuh setengah sadar aku melangkahkan kakiku pergi disaat penjagaan lengah. Aku dan Satria melangkahkan kaki ke tengah-tengah hutan yang lebat.


"Ibu... Ibu mau kemana?" Tanya Satria bingung.


"Ibu ingin menyendiri."


"Tapi ayah dan paman bagaimana?"


"Nanti mereka akan menyusul. Mereka ada pertemuan penting!" Ucapku berbohong.


"Oh baiklah ibu, Satria akan menemani ibu!" Ucap Satria pelan dan aku hanya terdiam melangkahkan kakiku.


Tidak lama matahari muncul dari arah timur dan jalanan sedikit terang karena disinari cahaya matahari terbit. Aku menghentikan langkah kakiku dan berdiri di sebuah salah satu markasku yang baru aku dapatkan yang membuat siapapun tidak tahu bahkan Fadilpun tidak tahu.


"Untuk sementara kita menginap disini saja ya!" Ucapku pelan dan mengantarkan Satria ke sebuah kamar untuknya.


"Baik ibu, ibu nampak lelah jadi ibu istirahatlah nanti Satria akan menghubungi paman Fadil kalau..."


"Tidak perlu biar ibu saja, untuk saat ini jangan berkomunikasi dengan siapapun biarkan tugas mereka selesai dan kita jangan ganggu mereka!" Ucapku dingin dan Satria menganggukkan kepalanya.


"Baik ibu Satria mengerti."


"Bagus... Istirahatlah!" Ucapku dingin dan aku pergi dari kamar Satria menuju ke kamar mandi. Di depan kaca aku melihat tubuhku yang penuh dengan gigitan pria-pria menyebalkan itu dan ingatan saat Valentino bermain dengan kembarku membuatku kesal. Aku mengertakkan gigiku kesal dan sesekali memukul-mukul dinding tanah dengan perasaan marah.


"Ciihh apa kalian ingin membuatku sangat dendam apa?" Gerutuku kesal.


"Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kejadian itu dan tidak akan memgakui bayi yang aku kandung sebagai anakku!" Gerituku kesal dan segera mandi. Setelah selesai mandi aku berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit yang berasal dari tanah, markas yang aku dapatkan ini baru saja aku mau meresmikannya tapi ternyata aku gunakan sebagain tempat persembunyian dan tempatku menenangkan diri untuk saat ini.


"Haaah sungguh menyebalkan bukan?" desahku pelan. Aku mengambil ponselku dan memanggil dua bawahanku yang terpercaya yaitu Caca dan Cici ke markas baruku. Aku menyita ponsel mereka dan mereka membantuku hidup di markas baruku ini.


"Untuk saat ini jangan beritahu apapun dan siapapun tentangku, kalian berdua anggaplah kalau kalian bukan bawahanku jika di luar rumah dan jangan beritahu identitas kalian kepada orang lain!" Ucapku dingin dan mereka berdua hanya terdiam menundukkan badan mereka ke arahku.

__ADS_1


Hidup di tempat baru yang dimana aku sama sekali tidak keluar benar-benar membutuhkan bantuan tenaga, aku berpikir menghilang dalam waktu yang lama akan membuatku lebih tenang setelah kejadian yang menyakitkan itu.


Sudah setahun lebih aku hidup di markas baru dan Satria terus berlatih di dalam markas selama aku melarangnya keluar markas bahkan karena kejadian itu aku melahirkan dua bayi laki-laki dimana bayi satunya mirip Fadil dan bayi yang lain mirip dengan Cakra, kalau boleh.... ingin sekali aku membunuhnya tapi aku sadar mereka tidak salah hanya aku yang salah membuatku bersedia mengurus mereka berdua sampai mereka berdua umur dua tahun.


"Ibu!! Adik hampir memecahkan vas bunga!!" teriak Satria kencang. Dua anak laki-laki itu belum aku beri nama karena hanya ayahnya yang berhak memberikan nama untuk mereka.


"Singkirkan vas bunga itu Satria!" Ucapku dingin.


"Baik ibu." Ucap Satria pelan dan Satria kembali mengawasi kedua anak itu.


:Mengurusi kedua anak itu membuatku lelah dan pusing, aku berpikir umur mereka sudah dua tahun dan seharusnya mereka diasuh ayah mereka karena aku tidak akan menganggap mereka sebagai anakku.


Aku menghidupkan ponselku yang telah aku matikan selama tiga tahun dan secara ajaib baterai ponselku masih penuh dan banyak pesan masuk dari Fadil maupun Valentino. Aku menuliskan sebuah pesan singkat kepada Fadil agar dia mengambil anak yang diinginkannya ke markas baru, karena aku masih tidak ingin bertemu siapapun membuatku memutuskan berpindah markas lagi ke sebuah markas yang aku dapatkan selama aku bersembunyi.


"Satria untuk saat ini... Tempat ini akan menjadi tempat kita hidup sementara."


"Tapi ibu, bagaimana dengan adik yang ditinggal disana!"


"Nanti biar pamanmu yang mengambilnya..." gumamku melihat ponselku dan melihat pesan baru Fadil yang menanyakan tempatku saat ini tanpa membalas pesan itu, aku mematikan kembali ponselku dan kembali menyimpannya.


Selama pelarian aku memotong rambutku yang membuat orang lain akan salah paham dan tidak mengenaliku apalagi umurku yang masih muda membuatku nampak bukan seorang Sani atau Raelyn lagi.


"Ibu kenapa ibu nampak menghindari ayah dan paman? Tanya Satria membuyarkan lamunanku, aku menatap Satria dan tersenyum kearahnya.


Sudah tiga tahun lamanya aku meninggalkan dunia mafia dan terus menyembunyikan diriku dan bahkan aku juga merubah penampilanku agar tidak ada yang mengetahuinya.


Selama kami bersembunyi, Satria berlatih di akademi tempat aku belajar dahulu. Setiap hari aku mengantar dan menjemput Satria. Pagi ini setelah aku mengantar Satria, aku mampir ke sebuah kedai kecil dan memesan wisky terbaik, aku terduduk di pojok ruangan melihat suasana kota yang sangat ramai.


"Ternyata kamu menyembunyikan identitasmu ya Kim Raelyn Valentina Shin!" Ucap seorang pria berdiri di sampingku, tanpa mengatakan apapun aku meminum wisky sambil menikmati suasana pagi. Pria itu terduduk di depanku dan merebut botol wisky milikku.


"Apa yang kau inginkan?" Tanyaku pelan yang membuatnya kesal, pria itu memukul meja dan menarik kerah pakaianku yang membuat mataku menatap kedua matanya yang teelihat kesal itu.


"Kau menghilang selama bertahun-tahun dan menutupi dirimu bahkan kau memotong rambutmu!" Protes Fadil yang terlihat sangat kesal, aku menepis tangannya dan merebut botol wisky dari tangannya.


"Lalu kenapa? Aku sudah memberikan anak yang kau inginkan sejak dulu bukan? Apa itu tidak cukup!" Ucapku dingin dan kembali meneguk wiskyku.


"Jika akhirnya kau benci kepadaku seperti itu aku memilih tidak menginginkan anak darimu Sani!"


"Yaahh itu sudah terjadi bukan? Lagi pula untuk apa kau mencariku? Apa kau ingin menambah anak lagi?" Gumamku dingin, Fadil menghela nafas dan memberikanku sebuah foto.


"Setelah kau menghilang beberapa tahun, Raelan jatuh sakit dan anak dari Ravaro itu berbuat ulah. Kedua kembarmu dan Valentino tidak bisa mengobatinya."

__ADS_1


"Sakit apa?"


"Penyakit yang sama sebelum dia bertemu denganmu sedangkan anak dari Ravaro itu bersama dengan anak dari Revaro menguasai kerajaan Raelan dan memperbudak Ravaro, kedua kembarmu bahkan Valentino karena jika mereka membantah maka dia akan membunuh anak-anak mereka!" Ucapku dingin.


"Oh.... Aku tidak peduli dan..."


"Nyawa Raelan terancam, mereka berdua memberikan racun langka yang sewaktu-waktu bisa menghentikan kerja organ dalam walaupun dia hidup pasti dia akan menderita!" Ucap Fadil serius, aku meneguk wisky terakhirku dan berjalan pergi.


"Aku mau menjemput anakku..." gumamku pelan dan Fadil mengikutiku dari belakang.


"Kenapa kamu tidak peduli seperti itu?" Tanya Fadil dingin tapi aku tetap melangkahkan kakiku pergi. Selama kami berjalan Fadil terus mengoceh hal yang tidak jelas dan aku hanya terdiam melangkahkan kakiku ke tempat Satria menungguku.


"Sani kau dengar tidak!" Ucap Fadil memutar bahuku yang membuatku menghela nafas panjang.


"Lalu apa yang kau inginkan?"


"Selamatkanlah Raelan, jika kau membenciku kau bisa membunuhku karena perbuatanku tidak menjagamu dan malah ikut merusakmu..." gumam Fadil pelan dan aku terdiam kembali melangkahkan kakiku.


Di depan akademi aku melihat Satria yang sudah menungguku, Satria beelari ke arahku dan memelukku erat.


"Ibu...!"


"Sudah pulang?"


"Sudah ibu. Eeeh ada paman Fadil disini." gumam Satria terkejut.


"Iya Satria, kamu sudah makin dewasa ya."


"Iya paman, aku ingin melindungi ibu!" Ucap Satria memeluk Fadil erat.


"Antarkan aku ke kerajaan Kim..." gumamku pelan yang membuat Fadil terkejut.


"Baiklah. Satria mari!" Ucap Fadil menggandeng tangan Satria masuk ke dalam mobil sedangkan aku hanya terdiam menatap keluar jendela.


"Sani, kenapa aku sulit menghubungimu?"


"Aku tidak menggunakan ponsel lagi."


"Kemana ponselmu?"


"Aku membuangnya."

__ADS_1


"Astaga, sampai seperti itu kau..."


"Memang..." gumamku dingin dan menatap keluar jendela mobil dan kembali melamun. Di dalam pikiranku apakah Valentino sudah memiliki anak dengan kedua kembarku? Apalagi aku sudah melahirkan setahun yang lalu.


__ADS_2