
Aku berjalan menyelusuri lorong sambil berpikir tentang ucapan yang diucapkan Freya tadi, disaat aku akan berjalan keluar menuju balkon dengan cepat tanganku di tarik dan terjatuh di pelukan seorang pria di belakangku.
"Sani... jangan tinggalkan aku!" Ucap Sanjaya pelan, pelukannya benar-benar kuat saat ini.
"Eehhh?" gumamku menatap wajah Sanjaya yang dipenuhi percikan darah.
"Ada apa?" Tanyaku pelan.
"Jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu!" Ucap Sanjaya pelan.
"Mmmm apa yang dikatakan wanita itu benar?" Tanyaku pelan.
"Tidak! Aku mencintaimu! Aku tidak mencintai dia!"
"Benarkah? Tapi kenapa dia berkata kalau..."
"Itu tidak benar, jangan percaya perkataannya! Aku sangat mencintaimu!" Ucap Sanjaya serius.
"Oh mmm lalu aku boleh tanya..."
"Tanya apa?"
"Siapa anggota keluargamu yang pernah aku bunuh?" Tanyaku pelan tapi sanjaya hanya terdiam tanpa kata.
"Katakan Sanjaya!" Ucapku menatap Sanjaya serius, Sanjaya melepaskan pelukannya dan menekan kedua pipiku dengan kedua tangannya.
"Kalau itu... aku tidak bisa mengatakannya padamu."
"Kenapa? Aku berhak tahu! Kata wanita itu kau membenciku karena aku membunuh anggota keluargamu jadi kau ingin membunuhku. jadi katakan padaku!"
"Aku memang membencimu tapi aku tidak bisa membunuhmu dan aku tidak bisa menceritakannya padamu."
"Kenapa? Apa yang membuatmu tidak mau menceritakannya padaku!" Ucapku serius.
"Karena suatu hal aku tidak bisa menceritakannya padamu sekarang."
"Tapi aku..."
"Sayang dengar, aku minta maaf kalau aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Suatu hari kamu akan tahu kok tapi mungkin kau akan membenciku."
"Membencimu? Kenapa kau yakin kalau aku membencimu?" Tanyaku serius.
"Karena aku memang yakin kau pasti akan membenciku, tapi untuk saat ini... ijinkan aku memberikan seluruh cintaku padamu istriku, aku hanya ingin bersamamu saat ini, aku tidak ingin kehilanganmu, aku sangat mencintaimu..." gumam Sanjaya kembali memelukku yang membuatku terdiam. "Haish sabar Sani, sabar... belum waktunya melakukan semua rencanamu!" gumamku dalam hati.
"Hmmm baiklah, lalu kemana wanita tadi?" tanyaku penasaran.
"Dia... sudah ku bunuh."
"Eehh kenapa kau bunuh?"
"Dia mengganggu hubungan kita jadi aku membunuhnya..." gumam Sanjaya pelan.
"Padahal kau tidak perlu melakukan itu sayang..." gumamku melepaskan pelukannya dan langsung menciumnya.
"Aku harus melakukannya, aku tidak mau kehilanganmu sayang!" Ucap Sanjaya membalas ciumanku.
"Sayang mari istirahat, sudah hampir menjelang pagi..." gumam Sanjaya menggendongku masuk ke dalam kembali.
"Mmm Sanjaya apa petarungan di bawah sudah selesai?" tanyaku pelan.
"Hanya pertarungan kecil pastinya sudah selesai."
"Benarkah? Apa kau yakin ini pertarungan kecil?" Tanyaku pelan.
"Ya, hanya bebeeapa ketua mafia saja yang bertarung. Apa kau tidak tahu?"
"Ohh mmm tidak, aku dari tadi bersembunyi..." gumamku pelan.
"Tenang saja sayang, ada aku... aku akan menjagamu."
"Benarkah?"
"Yaahh jadi lebih baik kamu tidur malam ini..." gumam Sanjaya membaringkanku di tempat tidur.
"Kamu mau kemana?"
"Aku tidak kemana-mana, hanya.."
"Tidak boleh! Kau juga harus tidur!" Ucapku dingin.
"Ohh mmm baiklah..." desah Sanjaya berbaring di sebelahku dan aku tertidur juga di sebelahnya.
__ADS_1
Disaat aku hampir benar-benar tertidur, aku merasa Sanjaya beranjak pergi dari tempat tidur. Aku sedikit melirik Sanjaya dan ternyata Sanjaya sedang membaca sebuah buku di tangannya.
"Jadi apa yang kau dapatkan Ryu Lucian?" Ucap seorang pria dari luar, aku mencoba sedikit membuka mataku dan ternyata Alvaro yang ada di luar kamar. Aku segera berpura-pura tertidur kembali saat Sanjaya menatapku dari kejauhan.
"Haish sudah ku bilang jangan panggil sebutan itu!" Gerutu Sanjaya dingin.
"Kenapa memang?" Tanya Alvaro bingung, Sanjaya memberi kode kepada Alvaro yang membuat Alvaro bingung.
"Memangnya dia belum tahu?" Tanya Alvaro serius.
"Tidak, tetua menyuruhku untuk menyembunyikan identitasku."
"Kenapa?" tanya Vica masuk ke dalam kamar.
"Yaahh tetua bilang... dia seorang ketua regu satu tepat dibawah tetuanya bisa dibilang dia ketua organisasi tersembunyi sedangkan aku tepat di bawahnya bahkan dia berada setara denganmu Alvaro!" Ucap Sanjaya dingin. "Eehhh... kakak... dia ketua organisasi misterius?" gumamku dalam hati.
"Gadis itu? Setara dengan Alvaro? Itu tidak mungkin!" Ucap Vica serius.
"Eehh benarkah? Kenapa aku baru tahu? Kenapa tetua tidak mengatakannya padaku?"
"Ini urusanku dengan dia bukan urusanmu, lagi pula kau tidak mungkin tega melukainya..." gumam Sanjaya membaca buku di tangannya dengan serius.
"Memangnya kau berani melukai adikku?" Tanya Alvaro menatap Sanjaya serius dan Sanjaya menatap Alvaro dengan serius.
"TIDAK..." gumam Sanjaya menutup buku itu.
"Haish kau masih saja tidak bisa melukainya."
"Dia jodohku bahkan tanpa kau tahu, benang merah jodoh ditanganku terhubung dengannya semenjak aku bertemu dengannya. Bagaimana bisa aku melukai orang yang aku cintai?" gumam Sanjaya mengusap lembut rambutku.
"Eehhh nanti dia bangun gimana?"
"Tenang saja, kalaupun dia sadarpun dia tidak mengerti apapun yang kita bicarakan."
"Apa kau yakin?" tanya Alvaro mengangkat alisnya tinggi.
"Tidak juga sih, hanya saja yang aku tahu dia selama ini pura-pura bersikap bodoh dan polos saja... benarkan istriku..." gumam Sanjaya dingin yang membuatku terkejut. "Eehh dia tahu aku tidak tidur?" gumamku dalam hati.
"Kau masih saja berpura-pura tertidur istriku, benar-benar menggemaskan..." gumam Sanjaya mencubit pipiku yang membuatku membuka kedua mataku.
"Bagaimana kau tau aku belum tertidur?" Gumamku dingin.
"Yaah alasannya karena aku suamimu jadi kau tidak bisa sama sekali membohongiku bahkan aku tahu kau tadi mendengarkan pembicaraanku dengan tetua kan dan berpura-pura bersembunyi..." ucap Sanjaya dingin yang membuatku terkejut, aku menghela nafas panjang dan kembali memejamkan kedua mataku.
"Tunggu jadi selama ini kau tahu kalau dia musuhmu?" Tanya Vica terkejut.
"Aku sudah tahu dari dulu tapi mungkin istriku baru tahu karena baru bertemu denganku."
"Aku malah baru bertemu denganmu..." gumamku dingin.
"Tunggu, aku ingin bertanya padamu Sani!" Ucap Alvaro serius.
"Apa?"
"Kau... ketua regu satu? Apa kau Raelyn?" Tanya Alvaro menatapku serius.
"Apa itu pertanyaan penting?" Tanyaku menatap Alvaro dingin.
"T-tatapannya mirip dengan wanita yang saat itu membunuh adik kecil kita Sanjaya!" Ucap Vica menatapku terkejut.
"Adik? Heeehh aku tidak ingat."
"Apa kau benar-benar tidak ingat Sani?" tanya Alvaro serius.
"Tidak, terlalu banyak orang yang kubunuh jadi... aku tidak mengingat apapun..." gumamku dingin.
"Tapi apa kau benar-benar Raelyn?" Tanya Alvaro kembali.
"Kenapa kakak selalu menanyakan itu?" Tanyaku dingin.
"Aku bertanya padamu Sani! Aku kakakmu, jadi jawab aku!" Ucap Alvaro kesal.
"Untuk apa kakak tanyakan masalah itu?"
"Hei ini menyangkut kerjasama organisasi apa kau tahu!"
"Kerjasama apa?" Tanyaku dingin.
"Apa Tuan Ben tidak mengatakannya padamu?"
"Tidak dan..." gumamku dingin, tiba-tiba ponselku berdering dan aku langsung mengangkatnya dan ternyata yang menelepon adalah tetua Ben.
__ADS_1
"Raelyn, aku ada tugas penting untukmu..."
"Apa tuan?"
"Kau tetap lakukan tugasmu tapi selain itu kau memiliki tugas mengintai dan membunuh orang-orang yang ada di organisasi musuh jadi kita akan bekerjasama dengan organisasi misterius untuk melakukannya."
"T-tapi kenapa bisa aku harus..."
"Yaaah aku harus menyetujui kerjasama ini tapi kau tetap harus berhati-hati dengan mereka, apa kamu mengerti?"
"Ohh mmm baik tuan."
"Ya sudah jaga dirimu Raelyn..." ucap tuan Ben menutup teleponnya.
"Haish menyebalkan... kan jadi tidak seru!" gerutuku kesal.
"Sani jawab pertanyaanku!" Ucap Alvaro serius, aku menghela nafas panjang dan terduduk di sebelah Sanjaya sambil menatapnya serius.
"Yaahhh... aku Raelyn... ketua regu satu... ketua organisasi tersembunyi..." ucapku menatap Alvaro dingin.
"A-apa? Apa kau bercanda?" Tanya Vica terkejut.
"Tunjukan kalau kau benar-benar Raelyn!" Ucap Alvaro serius, aku melemparkan lencana asliku yang membuat Alvaro dan Vica terkejut.
"Astaga kau benar-benar Raelyn!!!" Ucap Alvaro terkejut.
"Yaaahh kakak sudah tahu kan jadi jangan beritahu siapapun tentang identitasku..." gumamku beranjak dari tempat tidur dan mengambil kembali lencanaku.
"Kalau ada yang tahu kenapa?" Tanya Vica serius.
"Pastinya... harus ku bunuh."
"Kenapa?"
"Itu peraturan yang ku buat sejak dulu, jadi jangan kalian beritahu siapapun kalau tidak kalian benar-benar ku bunuh!" ucapku dingin, Sanjaya menarik tanganku dan memelukku erat.
"Memang kau berani membunuhku istriku?"
"Berani! Buat apa aku takut padamu yang..."
"Aku suamimu loh!" Ucap Sanjaya dingin.
"Kau saja ingin membunuhku juga jadi buat apa aku tidak takut membunuhmu?"
"Hmmm kau benar-benar pintar memata-matai ya istriku yang menyebalkan, pantas saja tetua benar-benar menginginkanmu menjadi anggotanya."
"Eeehh? Aku? Apa maksudmu?" Tanyaku terkejut.
"Eeehh mmm tidak ada, lupakan saja ucapanku..." Ucap Sanjaya mengigitku pelan.
"Oh jadi kau sebenarnya ingin membunuhku kan tapi tetua kalian melarangnya karena kamampuanku benarkan?" tanyaku pelan.
"Yaahh tebakanmu benar. Tetua ingin memasukkanmu di organisasiku tapi tetuamu melarangnya dan terus menolak untuk memberikanmu kepada kami."
"Untuk apa juga, kau dan kakak juga hebat dan pastinya tidak sepadan denganku."
"Kekuatan kami malah tidak sepadan denganmu adikku, kamu terkenal terkejam dan terkenal hebat di seluruh organisasi atau bahkan di mafia biasa."
"Kejam ya... tidak juga aku hanya gadis biasa..." gumamku memainkan jari tangan Sanjaya.
"Oh ya... jika kalian ingin bekerjasama denganku... jangan sampai kalah ataupun mempermalukanku, apa kalian mengerti!"
"Kalah atau tidak juga tidak tahu dan juga..."
"Raelyn sangat benci dengan kekalahan, dia pernah kalah sekali dan dipermalukan sampai harga dirinya terus diinjak oleh orang lain, itulah kenapa padahal dia sehebat ini Raelyn sama sekali tidak sombong..." gumam Fadil berjalan masuk ke kamarku dan memberikanku sebuah buku yang sama dengan buku yang dibawa Sanjaya tadi.
"Apa ini?"
"Tugas dari tetua..." gumam Fadil pelan, aku membaca buku itu dan mengembalikannya kepada Fadil.
"Akan aku pikirkan caranya nanti..." gumamku pelan.
"Wajahmu masih sangat pucat, kamu harus benar-benar istirahat untuk saat ini. Kalau tetua tahu kau sakit ataupun terluka pastinya tetua tidak akan diam dan memaksa organisasi misterius bertanggung jawab, yaah kau tahulah akan serumit apa!" ucap Fadil serius.
"Yaaah aku tahu kok, apa yang kamu dapatkan di pertemuan kak Fadil."
"Hal yang tidak menarik untukmu."
"Oh begitu ya..." desahku bersandar di dada Sanjaya dan memejamkan kedua mataku pelan.
"Aku lelah, kak Fadil urus permasalahan itu ya. Nanti laporkan padaku..." gumamku pelan.
__ADS_1
"Baiklah tidak masalah."
Aku menggenggam erat tangan Sanjaya saat Sanjaya memimum darahku sedangkan Sanjaya hanya mengusap rambutku dan sesekali menggenggam erat tanganku. Aku sebenarnya bingung kenapa aku bisa harus bekerjasama dengan musuhku sendiri untuk mengalahkan musuh tapi yang aku bingungkan siapa musuh yang menjadi tujuan kerjasama ini?